
— 25 —
Pakaian cantik yang Khanza berikan padaku kini telah berganti dengan seragam hitam Black Company, lengkap dengan pedang pendek menggantikan Twin Princess yang sedang dirawat Dagger. Liam pun melepas sihir ilusinya dan kini hadir sepenuhnya sebagai si Pangerat berambut Putih bernama Arthur. Huft, ternyata mimpi dalam negeri dongeng itu berakhir lebih cepat.
Mau gimana lagi… keselamatan Alexandria lebih penting.
Diantar Quina, kami berdua pun sampai di sebuah gudang. Disana telah ramai berkumpul para polisi yang memagari lokasi itu dari mata panitia yang penasaran. Segera mereka pun hormat saat melihat Pangeran Arthur dan mempersilahkan kami ke TKP.
“Melihat rigor mortis pada leher dan rahang korban, mungkin, Malice itu membunuhnya 2 hingga 4 jam yang lalu. Apakah ada saksi atau CCTV disekitar sini yang bisa kulihat?” tanya seorang perempuan berambut biru pucat dengan sarung tangan putih, berlutut memeriksa mayat yang terhujam di kotak kargo yang hancur. Lambang elang di seragam hitamnya yang elegan, menunjukan posisinya sebagai seorang Pathfinder.
Seorang detektif pun membuka catatannya dan melapor pada sang Pathfinder, “Semua orang di sekitar gudang ini sudah kami interogasi dan semua CCTV anehnya tak merekam apapun 2 jam ini. Hasilnya nihil.”
“Aneh. Kemungkinan pertama, kalian terlalu sibuk mencari alasan daripada bukti,” kata Pemburu bernama Nuwa, yang kemudian mengambil sebuah syringe dengan jarum yang panjang dan sembari menyuntik mayat itu lewat lubang telinganya,
“Kemungkinan kedua, mereka dibawa pengaruh sihir ilusi kuat yang merampas ingatan tentang kejadian disini. Yang ketiga, mereka bersekongkol. Yah, baik dua kemungkinan masih belum menyingkirkan kemungkinan pelaku pembunuhan ini bukan seorang Penyihir dari White Order
Tapi, bila mengatakan seekor Malice yang melakukannya, hahaha, sepertinya masa damai telah menurunkan IQ Alexandria secara signifikan. Bukankah kamu setuju denganku, Pangeran Arthur?”
Liam mengerutkan alisnya dan membalas, “Nuwa, ada batasan yang tak boleh kamu lewati.”
Nuwa tertawa geli, “Tidak membantah, tapi tidak juga setuju. Dasar politikus dengan mulut yang manis. Haah, kamu selalu mengecewakanku, Arthur.”
Lebih cepat dari Quina, segera kuhunuskan belatiku ke leher gadis itu dan berkata, “Sekali aku dengar kamu menghina Pangeran lagi, kamu akan berakhir seperti mayat itu.”
“Seram, seram. Sepertinya aku telah meninjak ekor anak kucing yang sensitif, hmm?” kata sang Putri yang berdiri tak mempedulikan ancamanku. Dengan angkuh dia melepas sarung tangannya dan memberikannya pada detektif disana, lantas menantangku.
“Seorang Lady yang selalu menempel pada Pangeran Arthur, kamu pasti Chrysant. Hmph, kenapa kamu menganggap perkataanku menghina Pangeran?” tanya Nuwa yang mengacak pinggangnya, “Aku hanya memberi masukan agar kelak Pangeran dapat menjadi Pemimpin yang layak dihormati oleh keenam Penguasa Benteng Angkasa.”
“Cukup, hentikan. Kita disini bukan untuk mencari keributan, Nuwa, Chrysant,” lerai Liam yang menghela nafasnya, “Keselamatan Alexandria harus diutamakan. Baik White Order maupun Malice, keduanya adalah ancaman.”
Nuwa tersenyum sembari memandangiku dan Arthur bergantian,
“Kalian memang dekat sekali ya, saling membela satu sama lain. Heheh, aku takkan mengurusi urusan pribadimu, Arthur. Tapi, aku lebih penasaran dengan Lady ini. Chrysant, menurutmu siapa pelaku pembunuhan ini? Apakah seekor Malice atau penyihir White Order?” tanya sang Putri.
__ADS_1
“U-ugh, mengapa Chrysant serasa diuji ya?” kataku enggan.
Nuwa membuka kipasnya dan menutup sebagian wajahnya, “Hohoho, Lady Chrysant memang lucu ya. Yah, anggap saja demikian. Ini adalah ujian yang sangat penting.”
… Ugh, baru pertama kali bertemu Nuwa, tapi aku sudah ingin menyumpel mulutnya itu dengan sambal. Dia memandangku sebelah mata rupanya. Dia tak tahu bahwa penyelidikan juga keahlianku, hmph! Dengan sarung tangan, aku pun memeriksa mayat itu.
Seorang laki-laki berambut coklat dan seragam putih menghantam kotak kayu kargo dengan hebat. Lencana burung pipit disana menunjukan dirinya seorang Pemburu setingkat Chronicler. Namun keanehan kutemukan, tak ada perlawanan sama sekali kutemukan atau setidaknya jejak sihir yang jelas. Mungkin, seseorang diam-diam membunuhnya dalam satu serangan fatal. Bagi seekor Malice, serangan mendadak sebersih ini… seumur-umur tak pernah kulihat. Tapi, bagi Penyihir White Order itu sangat mudah. Aku pun memeriksa luka yang menghujam dadanya.
“Hmmm, tak ada residu sihir sama sekali, tapi noda hitam di sekujur dadanya ini… Jelaga?” gumamku yang pun meminta pinset dari seorang detektif dan menemukan pecahan logam di luka orang itu.
Jika tak salah, aku pernah melihatnya di bengkel Dagger. Ini kan… peluru shotgun, Automachina yang digunakan peradaban seluruhnya? Tapi, memangnya senjata itu mampu membuat kerusakan sebesar ini? Hmm, semakin kulihat… kotak kargo ini pun hancur nggak natural. Dia seperti dihancurkan dengan palu sebelum diatur untuk pas dengan mayat ini. Dengan kata lain…
“… Seseorang menanam mayat ini disini. Aku bisa memastikan 100% bahwa bukan seekor Malice yang membuat kekacauan ini. Tapi seorang manusia, entah afiliasinya dengan White Order,” gumamku
Tapi, mengapara firasatku mengatakan… Seorang Pemburu yang melakukannya?
Tunggu aroma ini, mesiu? Aku pun mengikuti arah aroma itu dan menemukan kotak kargo besar yang bertuliskan kembang api untuk malam puncak. Kalau tak salah, malam puncak dilaksanakan di malam ketujuh Festival Matahari Terbit bukan? Kubuka kargo itu… untuk menemukannya kosong lompong.
“Ini…!”
Aku pun mengusul, “Sebaiknya kita harus mengirim personil untuk mengevakuasi tamu festival segera, sembari kita memburu kelompok itu.”
“Usulan yang pragmatis, tapi tidak menyelesaikan masalah. Lebih baik kita mengikuti permainan mereka dengan sebuah perangkap menanti di *******. Dengan begitu, selain kita mencegah rencana jahat mereka, kita juga dapat menangkap mereka sekaligus. Dengan begitu… masalah ini akan tuntas,” kata Nuwa yang mengetuk kipas anginnya di tangan dan menatap Arthur,
“Kalau begitu, Arthur, kamu tahu apa yang harus dilakukan bukan?”
Arthur menghela nafasnya dan segera memerintah para polisi disana, “Ini adalah misi darurat kelas tipe S, seluruh personil yang bertugas, baik pemburu, detektif dan ksatria, segera lacak kelompok yang berusaha menyabotase Festival Mentari Terbit!”
“Siap, Pangeran!” teriak semua prajurit dan detektif disana. Disaat mereka sibuk bercengkrama, Nuwa menarikku dari keramaian.
Kami pun tiba di belakang gedung, dimana Nuwa segera tertawa geli, “Kamu lulus ujianku dengan sempurna, Lady Chrysant. Caramu memeriksa TKP itu, pasti kamu curiga seorang manusia yang melakukannya, bukan?” katanya bersandar di dinding.
“Ujian? Hey, bukankah kamu sendiri yang bilang kegawatan kasus ini? kenapa malah kita disini, sebagai Pathfinder, kita harus—“
__ADS_1
“Tidak usah, kelompok itu tidak ada. Aku yang memasang mayat itu disana,” kata Nuwa dengan santai.
“H-Ha?! K-K-Kamu pelakunya?” kataku yang segera mencabut pedangku. Tapi, tiba-tiba Nuwa pun menghilang.
TAK!!
Nuwa menyentil keningku dengan keras, hingga kepalaku terpental dan panas.
“Kamu mau apa? Menangkapku? Dengan sirkuit sihir hangus seperti itu? Heh, mau bunuh diri ya?” katanya yang melipat tangannya, “Selalu siap bertarung, menggigit seluruh ancaman bagi Black Company. Ruin Hunter, kamu adalah seorang Pathfinder paling ideal.
Tapi itu letak kebodohanmu. Bila kamu tak bisa mengutamakan antara keselamatan dirimu sendiri dan misimu, kamu hanya akan melukai orang-orang yang kamu sayangi, Chrysant.”
“A-A-Aww, kenapa sih Chrysant malah dinasehatin? Emang ada yang salah dengan menjalankan tugasku?” keluhku menggosok keningku yang pedas, “Haah, sudahlah. Jadi, Arthur dan seluruh Black Company akan mencari kelompok pengacau yang tak pernah ada? Katakan… Kamu pasti punya alasan dibalik semua permainanmu bukan?”
Nuwa tersenyum, “Wah, Chrysant, instingmu luar biasa sekali. Pantas saja kamu berhasil membawa Nadja pulang dari Zona Hitam, bonus dengan Quartz Bulan lagi.”
“Udah, jangan omong manis. Katakan saja maksudmu.”
Nuwa tertawa kecil lalntas memberikan padaku sebuah syringe berisi cairan berwarna merah yang berpendar. Tidak, ini cuma ilusikan? Cairan itu… persis sekali seperti syringe yang diberikan Luciel kepada Emilia.
“Sel The Warden?”
Nuwa terkejut, “Oh, kamu sudah tahu? Dari mana? Amazing, aku kira cuma aku yang berhasil melacak jejaknya. Pantas saja, Arthur lekat sekali denganmu,” katanya yang menepuk tangan, “Kalau begitu, aku tak perlu menjelaskan khasiat sel ini bukan?”
Aku mengangguk.
Nuwa tersenyum, “Aku memulai permainan kejar hantu itu untuk mencegah kepanikan,” kata sang Penyihir yang kemudian berbisik di telingaku,
“Chrysant, seseorang berusaha meracuni sumber air kota dengan Sel The Warden. Apakah kamu bersedia membantuku menangkap orang jahat itu?”
…. Ha? Barusan dia bilang apa?
Character Design
__ADS_1