
Ah, aku menantikan momen ini. Saat cakarku mengkoyak-koyakkan satu persatu musuhku untuk sementara aku dapat melupakan kehampaan yang menghujam hatiku. Adrenalin membawaku sepenuhnya, ke masa kini, menikmati pertarunganku dengan seorang gadis daemon yang putus asa.
“Hanya sampai disini kekuatanmu, Puella Dragonica?” tanyaku menangkap tombak Quina.
Tiba-tiba pukulan telak kuterima di pinggang, mementalkanku hingga menghantam dinding bangunan. Tiada rasa sakit membuatku berdiri dan membetulkan tulang leherku yang patah. Kulihat tanganku bermandikan darah… jauh dari apa yang kuimpikan dahulu.
Jika seperti ini benar kata Mutter, aku telah menjadi monster yang membahyakan dunia ini.
Oh, andai saja aku tak terlahir di dunia ini, apakah kota hilfheim tidak menemui ajalnya seperti saat ini?
Andai aku tidak menciptakan Mutterbeweisen, apakah Quina dapat terbebas dari kutukannya menjadi Puella Dragonica?
Andai aku tidak bertanya dan mencari tahu apa makna cinta, apakah aku bisa melindungi dunia dari kegilaanku?
“C’les Raphael!”
Tiga kepala naga putih melesat padaku. Tak sempat menghindar, Naga itu mencabik-cabik tubuh dan membakarnya dengan api suci. Tetapi sama dengan semua luka di tubuhku, akar hitam akan menjalinnya kembali seperti sedia kala. Aku yang tak lagi merasakan sakit menerima serangan itu sembari tertawa.
Mataku pun memburu Quina yang dengan gesit mengitariku. Ingin kugapai dirinya dengan akar kegelapan, tetapi gadis itu dengan lincah menghindar dan disaat yang sama melesatkan api suci yang membakar tubuhku.
“Harusnya kau memperhatikan Danius ini!” teriak sang kucing yang telah berubah menjadi jaguar raksasa, mencakar kedua tanganku hingga terputus.
“Haruskah? Aku kira kamu masih direpotkan oleh boneka-bonekaku yang manis,” kataku yang ingin menggapai Danius, tetapi aku pun tersadar kedua tanganku tidak bersatu lagi dengan tubuhku.
Api suci itu menghalau kemampuan penyembuhanku. Setelah kuperhatikan lagi, semua luka di tubuhku pun bernasib yang sama. Ini sihir apa?
Saat Danius inign melesatkan serangannya yang kedua, aku pun melompat dan menumbuhkan tulang tajam di betisku, menyayat mata kanannya hingga buta. Tetapi, Quina segera menyambut lompatanku dengan tusukan telak di jantungku.
“Incinerate max—” teriak Quina.
“Judas anguish!” teriakku menembakkan jantungku dari tubuhku yang lama. Lantas dari jantung itu pun tumbuh daging demi daging, kulit demi kulit menjadi diriku sepenuhnya.
Quina dan Danius terkejut melihat kemampuanku itu. Pasti mereka mengira aku ini monster abadi yang takkan dapat dibunuh. Tapi sebenarnya, aku hanya dapat menggunakan kemampuan itu sekali sehari. Tak kusangka kedua Daemon itu dapat menyudutkanku seperti ini, aku terlalu meremehkan mereka.
Tapi, aku masih punya satu senjata. Aku pun bangkit berdiri dan merajut gaun putih dari sihir untuk menutupi tubuhku.
“Kalian berdua yakin ingin menghabiskan waktu melawanku makhluk abadi sepertiku?” kataku membual, lantas tersenyum sinis dan melanjutkan, “Kalian pikir dengan segitu banyak mayat yang mereka buang, aku tak menyiapkan beberapa cadangan mayat hidup di hutan?”
__ADS_1
Quina terkejut mendengarnya, keraguan jelas terlihat dari sorot tatapannya begitu juga Danius. Celah yang akan kugunakan. Tanpa mereka sadari, tubuhku yang kutinggalkan terbakar menjadi abu dan bunga-bunga api yang melayang di udara, merasuki tubuh mereka… dan menginjeksikan darahku di pikiran mereka.
“D-Daemon-daemon yang melarikan diri, kamu juga akan melukai mereka??” kata Quina.
Aku tersenyum, “Mungkin sudah. Soalnya aku juga tidak memegang kendali penuh pada pasukan mayat hidupku,” kataku.
Sihir kegelapan adalah cabang sihir terlemah dan paling tidak efisien. Butuh Mana yang besar untuk menggunaannya, itu pun untuk sihir skala kecil. Dia tak punya kapasitas untuk menghancurkan dan tidak punya manfaat sama sekali bagi masyarakat. Tetapi bila digunakan dengan tepat, sihir kegelapan adalah seni membunuh yang paling akut.
Bagaikan parasit, sihir kegelapan akan menggerogoti kelemahan pikiran seseorang, meningkatkan keraguan, kesedihan, amarah dan perasaan lainnya hingga berujung pada keputus asaan. Dan bila seseorang telah terjebak dalam keputusasaan, tanpa aku mengotori tanganku pun… mereka akan membunuh dirinya sendiri.
Kukibaskan tanganku dan berkata,
“Aventus Crimson.”
Terhipnotis oleh sihir kegelapanku, Quina dan Danius melihat seolah ada pedang api melingkar di punggungku. Tetapi semua itu hanyalah ilusi.
Selama musuhku adalah makhluk dengan pikiran, aku tidak akan terkalahkan. Bila pun sihir itu gagal, aku akan mengendalikan darahku dan menghujam jantung mereka berdua. Dengan kata lain, pertarungan ini aku sudah memenangkannya.
“Bila kalian pergi sekarang, mungkin, kalian berdua bisa menyelamatkan beberapa Daemon itu,” kataku yang kemudian melesatkan salah satu pedang api ilusi pada Quina, “Itu jika kalian bisa melarikan diri dariku, hahahaha!”
“B-Bagaimana ini… S-Sebagai Puella Dragonica.. a-aku tidak bisa meninggalkan monster ini. Cepat atau lambat.. dia akan membawa kehancuran bagi rakyatku,” kata Quina.
“Manis sekali, disaat seperti ini kamu masih memikirkan daemon lain,” kataku yang telah muncul di belakangnya dan meniru sihir yang ia gunakan padaku, “C’les Raphael,” kataku menghantam tiga kepala naga mengenai gadis itu, tetapi dengan heroiknya Danius melindungi Quina.
“Tuan Putri, sekarang bukan waktunya ragu. K-Kita harus segera kembali dan menyelamatkan semua Daemon. Itu tujuan utama kita kan?!” teriak Danius.
Quina pun tersentak kaget, “T-Tapi—“
“Apakah saat ini kau yakin bisa mengalahkannya?!” teriak Danius lagi menghabisi ketiga kepala naga itu, “Berikutnya, saat kamu lebih kuat, kita bisa mengalahkan monster ini.”
Benar, udah cepatan pergi.
“Tidak, kalau aku gagal disini, aku tak berhak menjadi penguasa Uni Erites,” kata Quina yang bangkit berdiri.
Astaga, keras kepala sekali. Haruskah aku menakut-nakutinya lebih lagi? Aku pun menunjukan wujud asliku kepada kedua daemon itu. Tulang-tulangku mencuat bagaikan taring yang ganas, otot-ototku tumbuh membuat tubuhku berkali-kali lipat lebih besar, ketiga mulutku pun terbuka lebar bersamaan dengan ketiga pasang mataku saat aku mengaung ke arah rembulan.
Bagaikan naga terkutuk, aku hadir di hadapan mereka siap menjadikan mereka kudapan malam.
__ADS_1
“Dasar bodoh. Dihadapan kekuatan absolut, kamu masih berani melawan,” kataku dengan suara berat dan bergema, “Karenamu kebodohanmu, banyak hidup daemon akan melayang!” lanjutku yang melesat menuju Quina.
Tetapi tiba-tiba, kakiku tersandung batu. Kepalaku pun tercebur di genangan air dan sekejap segala konsentrasiku buyar. SIhir ilusiku pun meledak seperti kabut asap yang menyeruak di penjuru kota. Perlahan ombak api yang melahap seluruh kota pun hilang, bangunan yang rusak pun kembali seperti semula. Luka di mata Danius pun sembuh sedia kala, beserta semua pasukan yang dia bawa. Yang tersisa hanyalah para mandor dan Prof. Oe yang tertidur mengigau.
“S-S-Semua hanya ilusi?” gumam Quina kebingungan.
S-Sial, semua aktingku sia-sia deh. Padahal untuk menggelar drama besar ini aku telah menggunakan ratusan magicite yang mahal. Semua gagal karena Quina yang keras kepala. Nyebelin.
Aku pun segera bangkit dan mendesis, “Ssst! Kita harus cepat kabur,” kataku yang melompat dan menunggangi Danius, “Ayo, tunggu apa lagi, Quina!”
—+—
Gua di tepi danau tempatku bertemu Quina dahulu, kini telah penuh dengan para budak Daemon. Quina tampak tak percaya dengan pemandangan itu lantas bertnaya pada salah satu dari mereka.
“Para mayat hidup itutu tiba-tiba dengan sopan memandu jalan kami kesini, setelah itu, pufff, ilang gitu dame, macam antu,” kata seekor Daemon tikus dengan penuh drama.
“H-He? Tunggu dulu, kok aku jadi pusing?” gumam Quina memegang kepalanya yang nyeri.
Danius pun menghela nafasnya dan kembali ke wujud kerdilnya yang lucu, “Kamu mengerjai kami benar, Daemon Bulan. Danius ini pikir kamu tak mau menolong kami, tapi… ternyata salah ya.”
Aku tersenyum polos, “Eh? Siapa yang nolong ya. Ini namanya strategi negosisasi,” kataku yang kemudian berdiri di depan para budak, “Dengan menidurkan kota hilfheim dan emnyelundupkan seluruh budak disana, aku mendapatkan picis negosiasi paling penting. Seluruh rakyatmu dan awal mula dari revolusimu.”
Quina menekuk kepalanya heran, “Negosiasi apalagi? T-Tunggu dulu, jangan bilang--segala kekacauan itu, segala darama itu, semua hanya demi hal itu?” kata putri itu tersipu-sipu malu.
Aku pun mengangguk di tengah keributan komplotan itu. Dengan senyum percaya diri aku pun mengulurkan tanganku ke Quina dan berkata,
“Quina, bila kamu menjadi sahabatku, maka semua budak ini akan menjadi milikmu.”
Bukannya berterimakasih hingga bersedu-sedu, urat emosi justru muncul di kening Quina. Dia pun mengepalkan tangannya dan mendekatiku dengan kesal. Merinding diriku saat gadis itu mengangkat tinjunya hingga memejapkan mata, tetapi ternyata yang kudapatkana hanyalah sebuah ketukan yang pelan.
“Kamu ini bodoh ya?” tanya Quina malu-malu.
“U-Uh, tiga kali mencoba pasti sukses?” gumamku bingung.
Quina menghela nafasnya panjang lantas tersenyum dengan manis. Mataku pun berbinar-benar, penuh dengan harapan akan penerimaan Quina. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa mendapatkan hal yang dapat mengisi kekosongan hatiku.
Tetapi Quina justru menjulurkan lidahnya dan berkata, “Tidak mau!”
__ADS_1