
—7—
Aroma saus bolognaise yang manis menyambutku dibalik pintu kos. Waduh, jangan-jangan Seraphina sedang memasakan makanan favorit untuk merayakan kepulanganku?
Hanya saja hatiku terenyuh hingga tak mampu membuka pintu kamar kosnya. Bagaimana tidak? Tepat saat hari berganti, aku harus segera pergi dalam misi yang diberikan Pangeran. Sebuah misi yang sangat rahasia, yang tak dapat ia ceritakan pada siapapun.
“He? Tak salah lihat nih? Ruin Hunter?” tanya suara familiar di sampingku.
Tersentak kaget, dengan canggung aku pun menoleh dan mendapati laki-laki berambut pirang dengan senyumnya yang sumringah, “S-Saber? Kok kamu disini?”
Laki-laki dengan kumis tipis itu menggaruk-garuk dagunya dan berkata, “Aku diundang makan disini.”
Kutekuk alisnya heran. Apa maksudnya ini? Kenapa Saber terlihat canggung sekali? Hmmm, aku tidak heran sih kalau Kak Sera dan Saber saling mengenal, sebab mereka berdua adalah rekan Chronicler. Tapi kalau sampai dundang makan bareng… Hemmm, aku mencium bau-bau yang mencurigakan.
“Ruin Hunter adalah nama pemburuku. Kamu bisa memanggilku Chrysant, ” kataku yang pun membukakan pintu untuk Saber.
Melepas sepatu dan menaruhnya di rak, kugantung jakettku di tiang samping pintu. Tak lupa aku mengatur pula sepatu Saber yang dia lepas sembarangan itu, kebiasaanku saat tinggal di asrama bersama Seraphina dahulu.
“Jangan lupa cuci tangan dulu, Saber!” tegurku yang menjewer laki-laki yang main nyelonong masuk saja, lantas menyeretnya ke wastafel.
Tiba-tiba, Seraphina mengintip dibalik pintu dan berkata, “Oh, sudah pulang? Hari ini, aku masak yang spesial loh.”
“Emang ada perayaan apa ya hari ini?” tanyaku sambil mencuci tangan. Tetapi terbuka lebar mataku saat melihat cincin perak melingkar di jari manis Seraphina.
“C-Chrysant? O-Oi?” kata Saber melambai-lambaikan tangannya di depan mata Chrysant.
Segera kumatikan air di wastafel dan menjawab, “M-Maaf, aku kayaknya terlalu capai sampai melamun. Tadi kalian bilang apa?”
“Makanan sudah siap, yuk makan!” tegur Seraphina menarik tangan Chrysant yang basah.
Bagaikan festival raya, berbagai hidangan menantiku di meja. Mulai dari merahnya spagheti bolognaise, renyahnya ayam karaage dan tak lupa bir dingin yang semuanya adalah favoritku! Merah pipiku tak sabar untuk menyantapnya dengan lahap.
“Doa dulu, dasar tidak sabaran,” cegah Seraphina.
Kami bertiga pun duduk, dimana Seraphina dan Saber berhadapan denganku. Mengulurkan tangannya, Seraphina pun merangkul tangan Saber dan Chrysant dan mulai berdoa.
“… Amin.” tutup Seraphina yang tersenyum geli melihat mataku bersinar-sinar.
“Sudah boleh makan?” tanya Chrysant penuh semangat
“Sudah dong!!” balas Seraphina tak kalah semangat.
Dengan lahap aku pun memakan semuanya, menenggelamkan lidahku dalam gurihnya masakan Seraphina. Uuuh, dari semua hal di benteng angkasa, hanyalah masakan Seraphina yang kunantikan.
“Jadi to, minggu ini aku kan kedatangan 3 apprentice baru dari Akademi Militer. Selain lewat chat, kami tak pernah bertemu sama sekali dan kamu tahulah, Profil Picture-ku kan gambarnya waifu anime. Mereka minta janji ketemuan untuk bimbingan kemarin,” cerita Saber sembari menikmati sekaleng bir dingin bersama-sama.
“Terus?” tanya Seraphina berpangku dagu, matanya berbinar-binar saat memperhatikan Saber.
“Berhubung jam bimbingan itu deket dengan jadwalku jogging, saat main game hape sambil mendinginkan badan, datanglah 3 murid akademi itu ke aku. Sombong muka mereka pas nanya, ‘Bang, kantor Kak Saber dimana ya?’ mungkin karena mukaku kayak gini dikira cleaning service kali ya,” lanjut Saber yang kemudian berdiri dan mengacak pinggang.
“Langsunglah aku jawab, Abang, abang?! Kamu tahu siapa saya? Saya ini Rajanya barak!”
Aku menyemburkan birnya, tersedak dalam tawanya yang ngakak bersama Seraphina. Terbayang olehnya ekspresi kaget dan panik ketiga Apprentice lugu itu. Raja barak? Geli banget. Membayangkan wajah sok serius Saber yang berwajah koplak membuat Chrysant semakin tertawa.
Tapi, aku baru tahu ternyata Saber adalah seorang Ksatria yang di didik Akademi Militer. Berbeda dengan akademi sihir yang melatih para pemburu sihir, Akademi militer dikhususkan untuk melatih para ksatria sihir yang melindungi benteng angkasa dari para Malice. Berbeda dari para Pemburu yang bekerja sendiri dan mengutamakan serangan mendadak, Ksatria sering berkelompok dan terbiasa berhadapan langsung dengan para Malice.
Hmmm, jika tak salah Akademi militer memiliki penilaian yang lebih kompleks dari akademi sihir. Seorang Ksatria berpangkat Chronicler seringkali memiliki kemampuan bertarung yang sama dengan seorang Pemburu Ruinminer.
__ADS_1
Seraphina menghapus air mata tawanya dan melanjutkan, “Ngomong-ngomong soal murid akademi. Aku juga pernah cerita yang lucu di Akademi Sihir. Kamu tahu kan, di semester pertama pasti selalu ada ospek? Nah, ospek Akademi Sihir itu kan, terkenal killer dan strict banget.”
Sembari mengelap mulutnya Chrysant pun mendengarkan dengan seksama. Jarang-jarang Seraphina menceritakan masa dia sekolah dahulu. Biasanya, Kakak selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan.
“Nah, di sore hari biasanya kami dikumpulkan di lapangan upacara untuk apel sore. Tetapi waktu itu Kating-kating hanya berbaris, diam dan tidak membukan upcara sama sekali sedang anak-anak duduk menanti,” kata Seraphina yang melihat ke arah gadis di depannya yang mukanya mulai merah merona.
Aku mulai panik. “U-Uh… Cerita ini, J-Jangan-jangan—“
Seraphina pun memotong, “Terus, ada seorang anak tengil yang panik dan segera berdiri. Dia kira Kating-kating marah sama mereka karena gak disapa, padahal, semua sedang khikmat mendengar Bel Katedral jam 3 sore.
Tidak tahu tentang itu, si tengil pun berteriak menyapa Kakak kelas sendirian dan membuat semua mata tertuju padanya heran!”
Saber tertawa terbahak-bahak hingga menghentak-hentak pelan meja, melepas tawanya yang luar biasa itu. Seraphina dan Saber tampak puas sekali merundung gadis paling muda diantara ketiganya itu.
... Astaga, kapan terakhir kali aku tertawa pulas seperti ini? Bir selalu terasa lebih enak saat dinikmati dalam suasana hangat seperti ini.
“Jadi, makan malam ini kalian adakan hanya untuk mengerjaiku, ya?” kataku meneguk birnya dan melanjutkan, “Mentang-mentang aku ini jomblo, kalian mau memamerkan cincin tunangan itu kepadaku.”
“Yup, tepat sekali! Lihat ini, bagus kan? Baru tadi siang Saber melamarku di taman Bunga Olivia. Sera tak pernah berpikir ada seorang yang masih ingin menerimaku sebagai partner hidupnya,” kata Seraphina tersenyum congkak memamerkan cincin tunangannya. Segera gadis itu merangkul tangan Saber dan melanjutkan,
“Maaf banget ya, Chrysant. Sera duluan jadi istrinya Saber!”
Aku tertawa kecil sembari membuka kaleng birnya yang keempat, “Iya, iya, selamat ya,” katanya.
Satu dua teguk, kejutan listrik pun menyentak kepalaku.
“D-Duluan?”
Seraphina menekuk alisnya heran, “Oh, aku kira kamu cemburu dengan hubunganku dan Saber. Soalnya sepertinya kamu sudah mengenal Saber dan mana mungkin ada cewek yang tidak ditaklukan oleh pesonanya?” tanya gadis itu yang lalu memainkan rambutnya.
“H-Ha?!” teriakku kaget sampai-sampai meremukkan kalengku.
Seraphina terdiam sejenak melihat wajah Saber dan Chrysant bergantian. Terlihat kecewa, Seraphina pun menghela nafasnya, “Yaah, padahal aku tidak keberatan dengan poligami.”
“W-WHAT?!” teriak Chrysant dan Saber bersamaan.
Dengan tenang, Seraphina pun memegang kedua pipinya melihat keatas, seperti membayangkan utopia yang muluk,
“Soalnya kan, Aku kan sayang Saber, tapi juga sayang Chrysant. Kalau dua-duanya dikombinasikan kayaknya seru banget gitu! Kita bertiga bisa jadi keluarga sesungguhnya, hehehe,” cerita Seraphina.
“T-Tidak, tidak, tidak, sayang! Bukan seperti itu cara kerjanya!” bantah Saber.
Aku segera menambal, “Iya, betul banget! Lagipula, mana mungkin aku suka sama Saber. Seleraku, kan, bukan cowok kepedeean, teledor dan tidur ngorok keras banget seperti orang itu.”
Seperti ditampar keras, urat kesal Saber pun muncul, “Kamu ngajak berantem ya, bocah?” tantang laki-laki itu.
“O-Ohh! Sepertinya ada yang mau ke rumah sakit nih,” balas Chyrsant tak mau kalah.
Panas membara persaingan kedua pemuda itu membuat Seraphina tertawa kecil. Dengan gemas, ia pun berkata “Maaf, maaf. Aku cuma bercanda.”
Seraphina pun mengambil tangan Chrysant dan Saber lantas tersenyum dengan manisnya, “Soalnya, bisa saling canda tawa seperti ini, berarti kita sudah keluarga, bukan?”
Mata Chrysant terbuka lebar. Aku… tak pernah menyangka Seraphina merasa seperti itu. Mendengarnya langsung entah mengapa membuatku malu tapi juga membuat hatiku seolah terbang ke langit.
“Tapi, Chrysant yakin tak mau jadi istri muda Saber?” tanya Seraphina.
Astaga Kakakku satu ini, hah, mengacaukan momen saja. Dengan kesal aku pun membantah,
__ADS_1
“Iiihh!! Udah Chrysant bilang, nggak mau!”
— + —
Setelah Saber pulang, aku dan Seraphina pun tidur bersebelahan. Tetapi kalut di pikiran mencegahku untuk tidur. Berusaha mengundang kantuk, aku pun duduk di samping jendela kos dan menatap kelap-kelip lampu kota di malam hari.
“Keluarga…” gumam Chrysant mengingat perkataan Seraphina.
Keraguan menyerang hatiku.
Apakah dia sungguh dapat mempercayai kata-kata Liam? Sebab seperti para politikus lainnya, Liam mungkin saja hanya menggunakan Chyrsant sebagai bidak pion untuk tujuannya.
Apakah aku dapat menyelesaikan misi ini? Kupeluk kedua lututku berusaha menahan gemetar tubuhku. Nadja, Pathfinder paling senior saja kini keberadaannya tidak diketahui karena misi itu. Apalagi dirinya yang baru setahun menjadi Pathfinder?
Tapi haruskah aku diam ketika ada kesempatan untuk mengembalikan Ignition Kakak?
“Besok, kamu akan pergi, bukan?” tanya Seraphina tiba-tiba.
Terkejut Chrysant melihat Kakak ternyata belum tertidur.
Sembari mendekatiku, Seraphina pun berkata, “Biasanya, semalam sebelum pergi menjalankan misi, kamu pasti akan membatasi minum-mu. Seperti malam ini.”
Aku tertawa kecil, “Kakak sudah mengenalku luar dalam,” kataku yang bersandar di jendela, “Iya, aku akan pergi dalam waktu yang lama sekali.”
“Misi dari Keluarga Kerajaan?”
Aku tidak menjawab. Lebih tepatnya, tidak boleh menjawab. Tetapi sebagai seseorang yang pernah menjadi Pathfinder, pasti Seraphina mengerti maksud diamnya itu.
“Hey, kesampingkan dong rambutmu sebentar,” kata Seraphina tiba-tiba.
“He? Kamu mau ngapain?” tanya Chrysant.
“Sudah-sudah, manut aja.”
Masih bingung, aku pun menuruti kata Seraphina. Pelan ia membuka rambutku dan mengalungkan sebuah kalung perak di leherku.
“Ini, kan… Kalung ibumu?” tanyaku bingung.
Kalung itu adalah satu-satunya harta paling berharga yang dimiliki Seraphina. Ketika semua dirampas darinya, hanya kalung itu yang tak rela ia berikan ke Black Company meskipun terancam kehilangan nyawanya.
“Yoyoi. Cantik kan? Ibuku dulu bilang, kalung ini diberikan Ayahanda saat kelahiranku. Kristal dalam liontinnya mengandung sihir yang tumbuh bersamaku sejak kecil,” kata Seraphina yang mengelus lembut kepalaku dan tersenyum,
“Kamu adalah adikku yang paling berharga. Harta karun yang ingin kulindungi selalu. Kamu tahu kan, Kakak ini orangnya cemasan terutama tentang adikku yang manis satu ini.
Kalung ini adalah sebagian kecil diriku. Keinginan egoisku yang ingin melindungimu dan menyertaimu sepanjang jalan.
Jadi, demi diriku, pulang secepatnya ya, Chrysant.”
Mataku berkaca-kaca saat mengangguk menahan tangisku. Setelah kehilangan segala-galanya karena Chrysant, bagaimana bisa Seraphina masih memperlakukannya dengan lembut seperti itu?
Tapi sungguh seperti sihir, merasakan kehadiran Seraphina dalam kalung ini meredakan segala keraguan dihatiku. Tersenyum tipis gadis itu, berpikir… sudah berapa kali Seraphina menyelamatkannya?
Namun, kapan Chrysant pernah membalas kebaikan itu?
“Saat aku pulang, kita pergi cari gaun pengantin ya. Aku beliin deh!” kataku yang menghapus air mata itu dan menggantikannya dengan cengiran.
“Sombong kamu yaaa, dasar bos kecil nyebelin!” kata Seraphina mengacak-acak gemas.
__ADS_1
Dalam hatiku, Chrysant meneguhkan niatannya. Aku harus berhasil menjalankan misi ini. Sebab inilah satu-satunya caraku untuk membalas kebaikan Seraphina.