Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Predator


__ADS_3

— 14 —


Saat sampai di persembunyian, aku mendengar suara kegaduhan di dalam. Penasaran aku pun mengintip dan menemukan Dagger sedang bertengkar dengan para Pemburu senior disana.


“Tanpa Ration kita akan mati. Satu-satunya jalan agar kita semua selamat hanyalah mengalahkan Malice tipe S itu?” kata Dagger menghentakkan tangan di meja.


Terdengar suara laki-laki menggeram, “Lalu, kamu mau mengorbankan keselamatan seluruh orang di tim ini demi kesempatan konyol itu. Huh, Dagger sifat keras kepalamu itu bikin kepalaku sakit,” keluhnya yang menuding Dagger, “Memangnya si Ruin Hunter yang bahkan namanya pun tak pernah kudengar dapat mengalahkan Predator? Bahkan Nadja, Pathfinder terkuat pun bukan apa-apa dihapannya!”


U-Uhh… S-Sepertinya kemampuanku diragukan ya. Kuhela nafasku dan menyelonong masuk ke rapat itu. Kulipat tanganku dan bersandar di dinding, “Terus apa rencanamu…Eh, Saber?!” kataku terbelalak melihat pria berambut pirang itu duduk disana.


Namun, berbeda dari Saber yang kuingat, laki-laki itu memiliki air muka yang muram. Wajahnya yang dulu bodo kini penuh bekas sayatan. Matanya yang polos kini ebrubah menjadi veteran yang telah melihat dan kehilangan banyak hal. Anehnya lagi… Sebuah lencana Lightbearer tertancap di seragam ksatrianya.


Dia bukan Saber Aivelstadt yang kukenal.


“Siapa kau? Apakah kau salah satu anak Malice sial itu?” teriak Saber yang diikuti para ksatrianya menghunuskan senjata padaku.


Dagger segera melindungiku dan berkata, “Saber, dia adalah Pathfinder yang kumaksud, Ruin Hunter.”


Saber menekuk alisnya skeptis, “Pathfinder, bocah ingusan ini? Hah, candaanmu keterlaluan, Dagger. Aku dapat melihat di matanya, bocah ingusan ini bahkan tak pernah sekalipun bertarung melawan Malice tipe S, mana mungkin dia bisa mengalahkan Predator,” katanya yang mendekatiku dan mencabut paksa lencana Pathfinder-ku, melemparnya ke lantai dan meninjaknya hingga hancur.


“H-Hei!” teriakku yang meraih kerah laki-laki kurang ajar itu, tapi dengan mudah Saber menepis tanganku.


“Pergi, Pathfinder palsu. Dan Dagger, hentikan omong kosongmu tentang melawan Predator,” kata Saber membelakangiku.


Oh Dewiku… Jarang emosiku tersulut. Tapi melihat penghinaan terang-terangan ini, harga diriku terasa diremukkan. Dia kira aku mendapat posisi Pathfinder dengan mudah? Sialan. Kukeratkan tanganku dan berkata pada laki-laki itu.


“Kamu meragukan kemampuanku? Heh. hasil berbicara lebih banyak dari omongan. Beri aku sehari, dan aku akan mengantarkan kepala Predator di hadapanmu, Bocah Pirang,” kataku mengacungkan kepalku pada laki-laki sialan itu.


“Kalau kau ingin bunuh diri, silahkan. Tapi jangan seret kami bersamamu,” balas Saber yang duduk kembali di kursinya dengan angkuh.


Bocah pirang itu… Urgghhh!


Melangkah pergi diriku keluar dari persembunyianku, namun Dagger menarik tanganku. Khawatir, gadis itu berkata, “Chyrsant, kamu benar-benar mau pergi melawan Predator sendirian?”


“Memangnya aku mau ngapain lagi? Bocah pirang itu mempertanyakan posisiku sebagai Pathfinder. Aku ingin menyumpel mulutnya dengan Quartz Bulan,” omelku sebal dan melipat tanganku, “Aku tak menyangka telah menyerahkan Kakakku kepada laki-laki kurang ajar itu. Uurgh, menyebalkan.”


Dagger tertawa canggung, “T-Tunggu, maksud Chrysant, Abangku.. dan Kak Seraphina?”


“Iya, mereka bertunangan,” jawabku yang tiba-tiba terhenyak kaget,” T-Tunggu juga, maksud Dagger… kamu dan si Pirang Boy itu… Kakak adik?”

__ADS_1


Dagger menggaruk-garuk pipinya canggung, “U-Um. Kami kembar lebih tepatnya,” katanya yang pun menyentuh bibirnya berpikir sejenak, “Dia bilang datang dari lima tahun di masa depan, tapi kok aneh? Kalau misalnya Bang Saber dan Kak Seraphina menikah, harusnya kan dia kenal sama Chrysant?  Kok Saber seolah tak mengenalmu sama sekali?”


“Sepuluh tahun?” tanyaku dengan alis terangkat heran.


“Yup, distorsi waktu di area ini menyebabkan orang-orang dari berbagai masa bertemu disini,” kata Seraphina yang menunjuk seorang pemburu dengan seragam Black Company yang sudah tak jadul banget, “Orang ini, Anos Alkava, datang di masa sebelum Junon di hantam ke Underworld. Tidak hanya itu, ada beberapa orang yang datang dari 1 hingga 5 tahun ke depan. Tapi tak ada yang datang dengan perbedaan waktu lebih dari 5 tahun.”


Aku melipat tanganku mengikut Dagger, “Huh, menarik. Kalau begitu, bisa dong aku nanya ke mereka mana Cryptomagi yang harganya naik lima tahun mendatang?”


Dagger tertawa dan mengetuk kepalaku, “Ih, Chrysant, sempat-sempatnya kepikiran cari duit. Dasar,” katanya.


“Kesempatan takkan datang lagi.”


Dagger menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tapi… Saat aku bertanya tentang masa mereka, hanya tanda tanya yang kudapat. Menurut abangku, di tahun 2278 ada perpecahan dalam Black Company yang menyebabkan perang saudara yang melahap habis enam benteng angkasa dalam lautan api,” kata gadis itu mengangkat pundaknya bingung,


“Padahal seperti Chrysant tau sendiri, tak ada bau-bau perang terjadi kan? Aku… merasa berada di waktu yang berbeda dengan Bang Saber. Apalagi setelah mendengar bahwa… Dagger di lini waktunya diculik saat kecil dan mati mengenaskan,” lanjutnya.


… A-Aneh sekali, pikirku. Ingin aku berkata, Saber hanya mengarang semuanya. Tapi tatapan mata dari Bocah Pirang itu menarik kembali kata-kataku. Dia memang tampak seperti laki-laki yang kehilangan segalanya.


Tempat dimana berbagai lini waktu bersatu, hmm. Misi Khanza untuk mengumpulkan Chalice of Impurity… dan Malice tipe S Endless yang sudah lama dikalahkan. Apa mungkin Khanza sengaja mendistorsi waktu demi memanggil Endless ke dunia ini lagi? Jika benar begitu, maka Khanza… lebih berbahaya dari yang kukira.


“Chrysant jadi ingin melawan Predator?” tanya Dagger yang menyiapkan tas raksasanya.


“Ya tentu untuk membantumu dong, bodo. Aku… sebenarnya juga penasaran dengan teknologi yang digunakan White Order untuk menciptakan Predator, hihi,” kata Dagger menyentuh pipinya yang memerah.


Astaga, maniak automachina satu ini. Meskipun dihadapkan pada situasi berbahaya, Dagger tetap menerjunkan dirinya demi mendapatkan buku-buku kuno ataupun Automachina unik dari reruntuhan peradaban. Keberanian… tidak, kegilaannya itulah yang menyebabkannya tidak pernah naik pangkat menjadi Lightbearer meskipun memiliki kualifikasi yang lebih dari cukup.


“Asalkan kamu nggak jadi beban sih oke,” kataku.


Dagger adalah Pemburu yang capable. Dia memiliki bermacam-macam Automachina yang dapat membantu pertarunganku. Bahkan jurus andalannya, World Destroyer Bahamut, setara dengan sihir yang digunakan oleh seorang Pathfinder. Karenanya, aku agak lega saat mendengar sahabatku itu ikut bersamaku.


Dagger menepuk dadanya dengan bangga, “Duo Ratu jalanan tak mungkin dikalahkan, hihihi!”


— + —


Mustahil untuk membedakan malam dan pagi ketika Chrysant berada diluar Benteng Angkasa. Tapi, terang merah yang menerangi kota menciptakan pemandangan sureal yang membuat bulu kudukku merinding. Apalagi dengan distorsi waktu yang membuat bangunan meliuk-liuk dengan aneh, membentuk pohon dari aspal, tiang-tiang listrik dan berbagai puing-puing kota di sekitarnya. Aku seperti melangkah di dalam dongeng horor.


Tapi, Predator tidak kami temui sepanjang mata memandang. Aku dan Dagger pun memutuskan untuk memasuki kota lebih dalam.


Dan di tengah kota Junon berdiri pohon kristal raksasa yang bersinar merah menyeramkan. Membeku dalam keabadian, aspal berusaha keras menahan jatuhnya tanah dalam lubang  besar yang Chrysant dan Dagger lompati dengan susah payah. Karat mulai memakan tiang-tiang listrik, merubuhkannya hingga menjadi jembatan jalan.

__ADS_1


“Tunggu… ini kan,” gumamku saat melihat bangku besi kesepian yang hadir di tengah kekacauan. Disana aku dapat membayangkan sosok Chrysant kecil yang melompat-lompat dikerjai oleh Khanza… seperti dalam mimpiku.


“Ada apa Chrys?Kamu terlihat kelelahan, istirahat dulu aja sambil aku membaca peta,” kata Dagger khawatir melihatku memijit keningku yang sakit.


Aku menggelengkan kepalaku, “Tida, cuma de javu yang aneh aja. Mungkin distorsi waktu disini juga mempengaruhi pikiran kita. Dagger, kamu juga berhati-hati ya,” kataku yang duduk sejenak di bangku itu.


Dagger pun mengikuti dan membuka sebuah peta dari tasnya, “Hmmm, dari pengamatanku, sekitar jam ini, Predator selalu mengitari pohon kristal di depan,” katanya yang kemudian mencocokan peta itu dengan catatannya,


“Kalau tidak salah, dulu di kota Junon ada sebuah Automachina  besar yang mampu menghasilkan Magicite secara otomatis. Mereka menamakannya… Magic Reactor.”


“He ? Serius? Ada teknologi sekeren itu? Astaga, kalau begitu, pekerjaan Pemburu bakal punah dong!” kataku kaget.


Dagger tertawa kecil, “Yup, dan Chrysant akan jadi pengangguran!” candanya menyenggol pinggangku, tetapi kemudian sibuk membaca catatannya lagi,


“Tapi menurut catatan kuno, Magic Reactor ternyata menciptakan radiasi sihir yang besar yang memancing para Malice kesana. Ada hipotesis yang mengatakan bahwa Automachina itulah yang menyebabkan The Reaper berhasil melacak keberadaan Junon dan menghantamnya ke Underworld.”


Aku pun menutup mataku dan berusaha menahan nyeri kepalaku, “Jadi, maksudmu, Predator mengitari pohon itu karena tertarik dengan radiasi sihir itu?”


“Hanya hipotesisku saja… Mungkin saja, Predator diciptakan justru untuk melindunginya. Sebab, Magic Reactor itu… diciptakan oleh organisasi bernama White Order.”


Aku mendengus geli, “Ho, jadi… dia adalah anjing penjaga White Order ya,” gumamku yang pun melompat bangkit dan melanjutkan perjalanan, “Ayo, Dagger, waktu adalah esensial bagi seorang pemburu!”


Tapi aku segera membentangkan tanganku, menghalangi Dagger, “Ssst, tunggu. Aku mendengar sesuatu,” kataku.


Getaran di tanah semkain lama semakin jelas kurasa, bersama dengan suara sesuatu bergelinding yang semakin dekat. Kutarik tangan Dagger dan bersembunyi di salah satu puing-puing bangunan, lantas mencabut busur panahku dan bersiap.


Semakin lama, bunyi gelinding itu pun semakin jelas terdengar. Getaran hebat layaknya gempa bumi membuat ketiga penyihir itu oleng. Hingga tiba-tiba… DAR!!! Pecah aspal di hadapan Chrysant, menjadi lubang raksasa yang perlahan menghisap tanah dan tiang-tiang listri di sekitarnya. Menghujam seperti tombak, delapan kaki pun muncul dari bawah tanah. Perlahan mengangkat tubuh raksasa sang monster kepala dengan senyuman taringnya yang membuat nyali seekor singa pun ciut.


Dengan cairan merah mengalir di muluntya, menghembuskan nafas gas yang beracun, monster itu pun mengaungkan gema kematian. Terhenyak Chrysant, astaga monster itu tampak lebih menjijikan bial dilihat semakin dekat.


Malice tipe S, Predator!


Aku dan Dagger pun saling menggangguk, lantas memegang kristal sihir kami dan berbisik,


“Ignition.”


Monster Design


__ADS_1


__ADS_2