Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Unseen Truth (2)


__ADS_3

— 39 —


Reruntuhan kota melingkari menara merah, berbeda dari bangunan yang terdiri dari semen, seluruh bangunan kota Pei Jin didirikan dengan batu dan kayu. Nuansa kota itu membawaku ke abad pertengahan, saat senapan baru pertama kali ditemukan. Tetapi menjulang tinggi di antara bangunan tua, Menara-Menara Merah tumbuh melingkari sinar terang di tengah kota. Di ujungnya, aura merah mengalir membelenggu sinar merah itu.


“Sinar merah itu apa ya?” tanyaku yang was-was, sebab markas besar White Order itu… memiliki bau Malice yang pekat sekali.


“Magicite Reactor Utama. Alat yang jauh lebih besar dibandingkan yang kita lihat di Junon,” jawab Khanza yang justru menimbulkan makin banyak pertanyaan di benakku.


Penyihir itu pun melompati tebing yang runtuh dan membawaku ke salah satu Menara. disana, aku segera menarik busurku sebab puluhan Malice mengitari Menara itu. Mereka duduk bersemayam dan beristirahat, dengan nafas yang lemah… seperti kelelahan. Tapi Malice kan tak mengenal lelah?


“Kamu nggak perlu waspada begitu, di tempat ini… tak ada Malice yang akan menyerangmu,” kata Khanza yang mendekati seekor Malice dan mengelus kepalanya, “Lagipula, kamu pun tak bisa menggunakan sihir disini bukan?”


“Huh?”


Segera kucoba menarik busur cahaya, tapi anehnya… aku tak bisa menggunakannya. Apa mungkin saat menyusun ulang tubuhku, sel Deception membakar habis sihirku?


Khanza menggelengkan kepalanya seolah membaca pikiranku, dia pun mengulurkan tangannya dan mencoba memanggil sihir es kegelapannya, tapi percuma. Khanza pun tak dapat menggunakan sihirnya.


“Sihir yang digunakan manusia, sebenarnya hanyalah kekuatan pinjaman dari seekor Malice. Bahkan, para penyihir pun sama, meskipun sel yang menginfeksi tubuh kami berbeda,” kata Khanza yang menyentuh Menara Merah itu dengan lembut,


“Bagaimana jika… dahulu seseorang berhasil menemukan alat yang mampu mengendalikan Malice?” tanya Khanza.


“Mustahil, kalau begitu, kenapa masih banyak Malice berkeliaran di Underworld?” tolakku segera.


Khanza tertawa, “Apakah kamu pernah mendengar Chalice of Queen Dominance? Itu adalah kekuatan yang dimiliki oleh Deception. Katanya, dengan kekuatan itu, Deception mengendalikan pasukan Malice yang menghancurkan kota Pei Jin di masa lalu,” katanya yang menatap Menara Merah itu,


“Ada alasan… mengapa Sel The Warden sekarang digunakan pada umat manusia. Sebab dahulu, para manusia mencoba menginjeksikan sel Deception kepada yatim piatu. Apakah Chrysant dapat menebak apa yang terjadi pada anak-anak itu?”


Aku melipat tangannku, “Hmm, kalau dari cerita Khanza, sel Deception dapat membuatku menggunakan sihir tanpa mantra. Apakah maksudmu hasil dari perobaan itu… adalah lahirnya para Penyihir?”


Khanza menepuk tangannya,”Hampiiir benar, tinggal sedikit lagi Chrysant sudah menebaknya dengan sempurna. Hasil dari percobaan itu ada dua. Hanya 1% berhasil menjadi Penyihir… tetapi sebagian besarnya antara mati atau menjadi Malice yang mengarungi Underworld.”

__ADS_1


“T-T-tunggu, itu artinya—“


“Benar Chrysant, semua Malice yang kamu habisi… dahlu adalah seorang manusia,” kata Khanza.


Kubekap keningku menahan nyeri. Memang sih… aku sudah menduganya, tapi mendengarnya langsung dari Khanza mengejutkan hatiku. Apalagi saat tahu… para Malice itu hanyalah korban tak bersalah dari ambisi busuk beberapa orang.


“Untuk apa coba? Aku gak bisa ngerti lagi. Kalau selama ini penderitaan manusia disebabkan oleh Malice, kenapa… sejak awal manusia menciptakan Malice itu sendiri?” gumamku bingung.


Khanza tertawa, “Chrysant lagi menipu diri ya? Kamu pasti sudah tahu alasannya. Apalagi, jika setiap hari, akmu bekerja untuk mendapatkannya,” katanya.


“… Magicite?”


Khanza mengangguk, “Lebih tepatnya energi. Seluruh hidupmu saat ini dikuasai oleh teknologi yang menggunakan energi yagn besar. mulai dari menonton TV, bahkan sampai tidur pun, kamu menyalakan AC yang membutuhkan energi. Mungkin tujuh ribu tahun yang lalu, manusia membakar minyak bumi untuk menghasilkan energi itu… tapi setelah seribu tahun berlalu, sumber energi itu pun habis,” kata Khanza yang kemudian minum dari botol di sakunya. Dari aromanya yang manis… botol itu sepertinya minuman keras.


“Lantas seorang Peneliti mengajukan sebuah ide gila. Bagaimana jika kita menggunakan Magicite untuk memenuhi kebutuhan energi dunia? Lantas ide gila itu memercikkan penelitian-penelitian gila lainnya.


Hasil dari penelitian itu adalah Menara Merah ini atau yang dahulu kami sebut sebagai Moongazer. dengan memenjarakan tubuh Penyihir dan mengambil alih pikirannya, para manusia dapat dengan aman mengubah kaun terbuang menjadi Malice. Mereka tak perlu khawatir para Malice itu akan mengamuk, sebab Moongazer akan mengendalikan mereka menjadi ternak, membesarkannya lantas memanen jantung Magicite mereka.”


“I-Ini terlalu gila,” gumamku.


“… tapi, jika kamu tahu dibalik menara itu adalah Penyihir sepertimu, kenapa… Khanza tidak menyelamatkan mereka?” tanyaku.


“… Jika kamu tahu cara mereka membuat menara ini, kamu pasti tak akan melepaskan para penyihir itu. Jelaskan, bagaimana mungkin seorang Penyihir dapat bertahan puluhan ribu tahun tanpa makanan?” jawab Khanza.


Terbuka mataku tak percaya, “… Malifikasi?”


“Yup, dibalik menara ini… terdiam Penyihir yang telah diubah paksa menjadi Malice tipe S. Kalau mau cari mati, silahkan membebaskan mereka, Chrysant,” kata Khanza dengan sinis,


“Lagipula, membiarkan mereka tertidur disana lebih baik daripada menunjukan para Penyihir itu… wujud mereka saat ini,” lanjutnya.


Kami pun melanjutkan perjalanan kami ke pusat kota. Di sepanjang mataku memandang, puluhan menara merah tumbuh menjulang di angkasa dan bersamanya ratusan Malice yang duduk tenang… seperti binatang yang telah ditaklukan. Terbesit di pikiranku, apa mungkin… kota ini adalah ternak Malice dalam ukuran yang masif?

__ADS_1


… Kejam sekali.


“Jangan bersimpati dengan mereka. Malice tak lagi megnerti perasaanmu, Chrysant,” tegur Khanza menyentil dahiku keras, “Kamu harus fokus dengan tujuanmu, jangan goyah. Chrysant datang kemari untuk kembali ke masa lalu bukan? Seraphina sudah tak sabar ingin memilih gaun pengantinnya bersamamu,” lanjutnya.


O-Oh iya, benar juga. Khanza dan Seraphina saling mengenal. Tapi aku pun teringat, bukankah Penyihir itu dulu ingin membunuhku? Lantas megnapa saat ini aku merasa… Khanza seperti menuntunku seperti Kakak?


Aku… tak berani menanyakan hal itu padanya. Kalau-kalau Khanza bad mood, orang random sepertinya bisa saja membatalkan janjinya untuk mengirimku ke masa lalu.


Mataku pun terpukau melihat megah dan besarnya Reactor raksasa itu. Terbang di atas sebuah altar yang megah, kekuatan Reactor itu mampu mengangkat tanah dan bangunan disekitarnya. Tetapi setelah memicingkan mataku dengan benar, di tengah altar yang seperti koloseum itu… duduk seorang ksatria hitam dengan pedang merah panjang.


Sebelum aku berkata-kata, Khanza menaruh telunjuknya di bibirku. Dia pun mengambil teropong dari tasnya dan mengamati sosok ksatria itu. Tapi wajahnya segera pucat pasi.


“Gawat,” gumam Khanza panik.


“Kamu liat apa?” tanyaku.


Khanza menghela nafasnya dan menunjuk pada sisi koloseum itu. Disana seekor Malice raksasa melangkah dengang anas, menghantam ksatria itu. Tetapi dengan kilat, sang Ksatria mengayunkan pedang raksasanya dan mencabik-cabik Malice itu tak tersisa. Dia pun merampas jantung Magicite Malice itu dan melahapnya dengan rahangnya yang besar dan mengerikan.


Aku pun megnerti, ksatria itu… adalah seekor Malice.


Khanza tertawa sinis, “Pantas saja… dia pergi ke Alexandria kemarin. Dia tahu waktunya telah datang,” kata penyihir itu.


“Dia? Tunggu.. maksudmu Malice itu adalah Penyihir yang kita hadapi di depan Chrysanthemum?” tanyaku.


Khanza mengangguk, “Tepat sekali, Adrammalech. Si tua bangka yang keras kepala, tapi akhirnya… takluk juga dibawah kuasa Deception. Kalau penyihir sekuatnya menjadi Malice… kemungkinan dia jauh lebih kuat dari Malice S biasanya,” katanya yang memasang topeng tengkoraknya,


“Chrysant, apakah demi tujuanmu, kamu rela bertaruh nyawa?” tanya Khanza.


Aku menelan ludahku dan menjawab, ”Tentu saja!”


Khanza mendengus, “Kalau begitu… jangan jadi beban, oke?”

__ADS_1


Character Design



__ADS_2