Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Triad Megistus (End)


__ADS_3

—55—


Semua adalah salahku. Bila aku tidak dilahirkan mungkin saja Mentari akan hidup bahagia saat ini, ditemani oleh kehangatan keluarga yang selalu ia impikan. Tapi karena diriku, Mentari melepas segalanya untukku.


“Meskipun itu artinya, aku harus menjadi seorang Dewi, bila itu dapat membuatku menciptakan dunia penuh akan cinta… Dunia yang dapat menerimamu, bulan… aku akan melakukannya,” kata Mentari sebelum kami memulai pemberontakan kecil kami di hadapan sang Dewi.


Berbagai wabah kami taklukan, negara-negara kuat kami dirikan, dan bersama dengan bergulirnya waktu, kami pun menjadi penyihir yang sangat kuat. Tetapi kekuatan itu malah semakin menjauhkan kami dari kebenaran. Dan setelah semuanya terlambat, kami pun baru menyadarinya.


Bahwa takdir telah memilih kami berdua sebagai Sang Pahlawan dan Ratu Iblis. Kutukan yang sangat kuat membelenggu tubuh kami dan menajdikannya boneka takdir. Saling bertarung melawan keinginan hati kami, melukai satu sama lain meskipun hati kami terkoyak-koyak.


Hingga akhirnya hanya seorang yang tersisa. Menangis melihat orang yang paling berharga di hidupnya, kini semakin dingin dalam palungannya.


“… Mengapa demi impianku, aku harus melukai adik yang kusayangi?” kata Mentari dalam palunganku, “A-Aku takut, Bulan… Kutukan ini… aku takut ia akan membuatku membencimu… Itu hal yang paling tak kuinginkan.”


Kugenggam tangan Mentari dengan erat, namun tak ada kata-kata yang dapat kuucap. Sebab akulah yang telah melukai Mentari dengan pedangku sendiri.


“… Aku selalu bertanya-tanya, mengapa sang Dewi menciptakan dunia yang tak mengenal cinta? Tapi sekarang aku mengerti. Dewi Nyghtingale ingin menghancurkan dunia yang ia ciptakan,” kata Mentari yang ingin menggapai langit dengan tangannya yang penuh darah,


“Dia sendiri yang mengutuk dunia dengan Salju Superadikal, mencuri Matahari dan Rembulan dengan awan kemelutnya… dan membutakan mata ciptaannya akan keselamatan yang sangat jelas… Sebab…,” kata Mentari yang pun tersenyum pahit,


“Bagaimana kamu bisa mengerti cinta bila hidup tanpa melihat langit yang biru?”


Ingatan terakhirku tentang Mentari menguatkan tekadku. Jiwanya yang kukurung dalam kalungku kini beresonansi, mengutarakan keinginannya yang sebenarnya. Dia ingin menciptakan dunia yang dapat membuatku bahagia.


Tapi tanpa tubuh dan ingatan, keinginan itu hanyalah suara hampa yang hilang di udara. Tapi… aku tidak akan membiarkan keinginan itu hilang.


“Dunia penuh cinta yang kamu harapkan… Akan Bulan wujudkan. Meskipun aku harus menjadi jiwa terkutuk di dunia,” kataku yang menegadahkan tanganku ke langit dan memanggil lingkaran sihir kegelapan raksasa di tujuh kota terakhir peradaban.


“Nyghtingale, engkau menginginkan kehancuran dunia ini, maka aku akan memberikannya padamu. Tanpa harus bermain dalam rantai takdir omong kosongmu, aku akan mewujudkannya dengan seluruh kekuatan yang ada di dunia ini,” kataku yang memusatkan seluruh energi sihir yang telah kukumpulkan dengan mengorbankan seluruh kehidupan di dunia ini.


Di tanganku perlahan sebuah bidak catur kristal perlahan tersusun, bersama dengan energi sihir yang besar mengelupas seluruh kulitku dengan cepat dan menghancurkan tualng belulangku. Mengorbankan satu persatu tubuhku, aku melanjutkan ritual terkutuk itu dan mengucapkan mantra,


“Sejak awal yang ada hanyalah ketiadaan.


Dunia ini ada untuk tiada.


Hidup hanyalah ilusi yang tak bermakna

__ADS_1


Tapi suatu hari sebuah cahaya lahir mengumbar kebenaran.”


Sinar terang melesat dari pohon Yggdrasil menghujam lingkar sihir di atasnya. Bersamaan dengan itu gempa hebat pun muncul, menghujamkan akar-akar kegelapan raksasa yang memporak-porandakan permukaan Mars. Dengan kekuatannya yang dahsyat, akar-akar kegelapan itu mengangkat satu kota dan lainnya ke udara, mendekati kemelut awan super radikal di atasnya.


“Bersama dengan lahirnya ruang dan waktu, jaman pun bergulir.


Dari era saat dewa-dewi berjalan di dunia, hingga kemanusiaan mengambil alih dengan kenaifannya


Semua hancur dan menyisakan cerita yang fana.


Namun Sang Cahaya Pertama tetap setia menuntun kehidupan.


Kembali pada ketiadaan.”


Kristal itu pun sempurna, menjadi bidak Ratu yang sangat indah. Sang Cahaya Pertama, Ideal White. Saat tanganku menyentuhnya, dalam sekejap ia hancur menjadi debu. Sebab hanyalah sang Dewi sejati yang dapat menyentuh cahaya pertama. Tak ada satu pun makhluk lain yang pantas untuk menggenggamnya.


Drama komedi Sang Dewi yang menyukai tragedi keputusasaan. Sebab ketika Triad Megistus saling membunuh, sang pemenang pada akhirnya akan mati setelah melihat secercah kegemilangan sinar itu. Tapi… Aku bukanlah sekedar Ratu Iblis biasa.


Kubuka mataku lebar dan menodai Sang Cahaya Pertama dengan kegelapan. Hingga kegemilangan itu pun terperangkap dalam akar-akar kegelapanku, ingin membebaskan diri tetapi percuma. Sebab bahkan cahaya pun tidak dapat mengalahkan ketiadaan.


“Kami, Black Company, makhluk yang berhasil mencapai dimensi Dewa-Dewi, memerintahkanmu, Ideal White—!”


Petir ungu menghancurkan tubuhku. Dengan cepat petir itu merebut Ideal White dariku dan mengambil wujud sebagai wanita rubah. Dia adalah La Puella Dragonica, Quina. Gadis bodoh yang selalu menggangguku.


“Kamu ingin menghancurkan dunia ini?” tanya Quina yang menahan sakit yang luar biasa di tangan kanannya. Meskipun Ideal White terkurung dalam sihirku, Daemon biasa takkan mampu menggenggamnya.


“Aku tidak akan membiarkanmu memusnahkan seluruh rakyatku!” teriak Quina memanggil tombak petirnya.


Aku pun mendekati gadis itu dan mengulurkan tanganku, “Udah, jangan sok heroik gitu. Kamu sendiri paham kan, kamu tak punya harapan untuk mengalahkanku. Berikan segera Ideal White padaku,” kataku.


Berkacak pinggang heran melihat gadis itu melawanku, aku pun membalas, “Dengan atau tanpa Ideal White, rencanaku telah sempurna,” aroma familiar segera membuatku melirik pada kumpulan Matrovska yang telah mengerumuniku,


“Apapun yang kalian lakukan, semua sia-sia saja."


Di antara Matrovska itu ialah sosok yang kukenal. Arthur Arpeggio Noctis dan pedang Artemisia yang palsu.


Kujentikan tanganku dan menunjukan Ideal White kembali di tanganku. Terkejut Quina yang tak menyangka, bahkan dia, penyihir tercepat di dunia pun tak dapat merasakan aku mencuri bidak catur itu darinya.

__ADS_1


“Malevolent Gravity,” kataku yang mengayunkan tanganku dan  menghantam seluruh orang disana dengan gravitasi yang sangat berat. Mereka semua pun bertekuk lutut di hadapanku, tak berdaya.


Tersenyum tipis diriku lantas berpesan pada mereka, “Dari dulu kalian selalu salah fokus hingga membiarkan Anima lemah sepertiku, dapat tumbuh menjadi mencapai dimensi dewa-dewi. Sekarang, apakah kalian akan mengulangi kesalahan yang sama lagi?” kataku yang kemudian menunjuk ke atas langit,


“Dalam satu jam, seluruh kota akan menabrak awan Superadikal dan berusaha menembusnya hingga mencapai langit biru. Tanpa perlindungan yang mumpuni, apakah para Daemon dan manusia malang itu dapat bertahan?”


“… sampai sedalam apa kamu akan jatuh, Daemon Bulan?” teriak Arthur berusaha bangkit.


“Hingga ke ujung neraka,” kataku yang kemudian mengangkat Ideal White ke langit dan membuka portal yang mengkoyakkan langit. Tangan-tangan kegelapan pun muncul dari dalam portal itu menjemputku masuk ke dalamnya.


Sebelum menghilang sepenuhnya, aku pun menatap ke Arthur dan melemparkan Quartz Megistus milik lumina padanya.


“Kamulah Kepala Keluarga Noctis sekarang.”


— + —


Kegelapan menyambut tubuhku, saat aku tersadar sebuah Bunga Lentera kugenggam dengan erat, menyinari sampan yang berlayar di tengah danau kegelapan. Di depanku, duduk sosok gelap yang mendayung sampanku itu menuju sbeuah kastil kristal yang tumbuh dari tulang belulang yang menopangnya.


“Inikah Obsidian Theater, tempat takdir ditulis?” gumamku.


Sampanku pun tiba di dermaga. Saat kaki meninjak di tepian, seluruh bulu kudukku berdiri. Kekuatan yang sangat besar telah menantiku di balik gerbang tengkorak yang menyambutku. Menggenggam kalungku dengan erat, aku menghirup nafas panjang.


“Ayo, kita selesaikan semua ini, Mentari,” gumamku yang pun melangkah memasuk kastil tempat sang Dewi bersemayam.


Sebuah gerbang raksasa menghalangiku mencapai ruang takhta. Lingkar yang rumit menyegel pintu itu. Hmm, sepertinya, sebelum diriku, ada seorang penyihir yang telah mencapai ruangan ini dan menyegel pintu itu. Tetapi siapa? Dalam catatan sejarah, aku tak pernah mendengarnya.


“Mungkin, segel ini mencegah Nyghtingale turun ke dunia dan menghancurkannya dengan tangannya sendiri?” gumamku bertopang dagu.


Tiba-tiba terdengar di belakangku, suara familiar yang mencegahku, “Benar sekali.”


“Ma Dame Fan,” kataku tak terkejut melihat penyihir tua itu hadir di depanku. Sebab siapa lagi yang mampu mencapai Obsidian Theater jika bukan penyihir tertua dan terkuat di dunia.


“Aku sudah mengawasimu sejak awal. Tapi aku tak menyangka, seekor Anima sepertimu mampu mencapai tempat ini,” kata Ma Dame Fan yang membuka kipas angin ornamennya,


“Apa yang kamu ingin raih dengan membebaskan Nyghtingale, Clairysviel Adeola Noctis?”


Aku pun tersenyum dan menjawab, “Apalagi selain membunuhnya?”

__ADS_1


__ADS_2