
"Apa yang kamu inginkan tidaklah semanis yang kamu bayangkan, Bulan."
Kata-kata Eclair terus memenuhi kereta pikiranku. Ingatan akan senyum hangat yang Mutter tunjukan pada Eclair membuatku menolak perkataan itu. Apakah gadis manja itu hanya ingin memberontak kecil, karena dia dituntut menjadi sempurna dan mengemban titel sebagai Putri Mahkota? Jika begitu.. siapa yang lebih bodoh sebenarnya? Seorang anak yang dibunuh oleh ibunya sendiri... ataukah bocah puber yang memasukin fase pemberontaknya?
Menyebalkan sekali.
Pangeran Axel Leonardo Gremory, nama itu pun terdengar menyebalkan. Dalam perjalananku yang panjang, aku telah bertemu banyak Pangeran yang berusaha meminangku demi mendapatkan Mutterbeweisen. Semua memiliki sifat yagn sama, sombong, terlalu percaya diri dan menganggapku sebagai alat demi tujuan ketamakan mereka. Tipe yang membuatku mual.
“Luna, tolong ceritakan tentang si Axel ini,” kataku berpangku dagu melihat pemandangan pegunungan indah dari dalam kereta, menuju benteng tempat Axel berada.
Luna, pelayan itu menghela nafasnya, “Cara berbicaramu itu loh, bisa gak sih lebih sopan? Kelak Nona Clair akan berhadapan dengan laki-laki yang disebut cerminan Raja George saat muda,” katanya yang kemudian berdehem,
“Tampan dan penuh karisma, dengan senyum menawan yang dapat meluluhkan hati paling beku sekalipun. Dengan pedang mitologi Astrea, Pangeran Axel dengan gagah berani memimpin pasukan Kinje memenangkan berbagai pertempuran sengit. Hanyalah dirinya satu dari jutaan manusia di dunia ini yang berhak menyandang nama sebagai ‘Sang Pahlawan’.”
“Terdengar seperti Pangeran manja yang tak pernah merasakan kekalahan,” komentarku tak peduli, “Lebih dari itu, si Axel adalah sepupu pertama Putri Eclair bukan? Haah, perjodohan keluarga Kerajaan benar-benar aneh. Membayangkannya saja, aku sudah geli sendiri, iiiih.”
Tendangan keras mengenai tulang keringku, dengan wajah tegasnya, Luna menunjuk hidungku berkali-kali dan mengomel, “Dengar ya, pertunangan Putri Eclair dan Pangeran Axel adalah buah bibir masyarakat. Putri yang sempurna menikah dengan Pangeran Pahlawan. Ah, betapa indahnya. Seolah cerita dari negeri dongeng saja.
Karena itu, aku harap Body Double sepertimu tidak mengacaukannya.”
Kutepis tangan itu dan berkata, “Emang, pendapat Putri Eclair sama si Axel itu gimana?”
“Putri Eclair terklepek-klepek dengan Pangeran Axel. Saking cintanya, dialah yang meminta Axel bertunangan dengannya… melawan perintah Ratu Noctis.”
“H-H-Ha?! J-J-Jadi, kamu berharap aku bertingkah seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta, pada orang yang tak pernah kutemui sekalipun?!”
Luna mengangguk, “Lah, tentu saja to? Itu kan, tugasmu sebagai pengganti Mentari.”
U-Ugh, benar-benar ya si Mentari…! Dari dulu tak pernah dia kehabisan ide mengerjai adiknya ini. Pergi berlibur dan menyuruh sang adik menggantikan perannya, kengawurannya itu sungguh tak pernah berubah. Baiklah, baiklah, jika itu yang ia inginkan maka akan kujalankan peran ini.
Aku akan menjadi tunangan terburuk di dunia!
“Ke-Kenapa kamu ketawa gitu, Nona? Pasti kamu merencanakan yang tidak-tidak, bukan?” tegur Luna.
Menahan tawaku aku memalingkan mataku ke pemandangan luar lagi, “Omong-omong, menurut Luna, seperti apa Putri yang sempurna itu?” tanyaku.
__ADS_1
Luna mengelus dagunya, “Hmmm, sulit sih. Tapi kalau luna berpendapat, Putri yang sempurna itu layaknya neraca yang seimbang. Kamu boleh bertingkah imut dan menggemaskan, tapi disaat yang sama elegan dan penuh perhitungan. Pada akhirnya, dengan pesona dan kecantikanmu, kamu harus bisa menyihir para lelaki untuk tunduk dan mengikuti kehendakmu… tanpa mereka sadari.”
“Ara, sinis sekali. Aku kira kamu penyuka dongeng tapi nyatanya, Luna orang yang realistis ya,” gumamku.
Luna memijit keningnya dan berkata penuh rasa lelah, “Haaaah, dua tahun meluruskan Putri penuh tingkah itu… sepertinya mengubah pandanganku.”
Hmm, sepertinya benar dugaanku. Luna diciptakan persis setelah Putri Bulan menghilang. Dalam pengembaraanku, aku mendengar berbagai kisah tentang Putri Bulan, tetapi kabar yang paling dipercaya ialah Putri Bulan tewas dibunuh para bandit dalam perjalanannya ke Hilfheim. Kisah itu tak pernah menjadi sensasi, sebab dunia tak pernah mengenal si Bulan.
Nama Putri Bulan hanyalah satu dari rentetan keluarga kerajaan yang bernasib malang, yang hidupnya berakhir secara misterius.
Luna dan Bulan, ironisnya nama kami memiliki arti yang sama… Hahaha. Sepertinya Mutter punya selera humor yang buruk.
—————+—————
Tempat pertemuanku dengan Pangeran Axel adalah Benteng Villenburg, sebuah titik pertahanan di Barat Daya Kinje yang berbatasan dengan negeri musuh bernama Freimadchen Cattleya. Karena lokasinya yang strategis, banyak personil yang dikerahkan untuk menjaga titik ini dari serbuan pasukan Daemon. Luna bilang kebetulan Pangeran Axel dikirim ke tempat ini untuk melakukan inspeksi bersama Putri Eclair.
“Romantis sekali,” cibirku yang turun dari kereta kuda, berhenti di gerbang benteng perkasa itu.
Sepi sekali, berbeda dari bayanganku akan benteng yang sibuk. Kukira mereka akan melakukan penyambutan meriah untukku. Bahkan setelah Luna mengetuk pintu penjaga, tidak ada yang menjawab dan membukakan pintu.
Kulipat tanganku kesal, apa-apaan ini. Seorang Putri Mahkota sepertiku mereka biarkan menunggu di tengah terik matahari? Menyingsingkan lengan gaunku aku pun melangkah mendekati gerbang besar benteng itu.
“U-Uh, Nona mau ngapain ya?” tanya Luna yang segera pucat pasi dan berlari menghentikanku.
Tetapi dia terlalu lamban.
BRAK!!
Kutendang gerbang itu hingga terpental, lepas dari engselnya. Para ksatria yang berjaga di dalam pun terbangun dan segera mencabut pedang mereka. Ada yang menyerukan terompet, ada yang menembakkan kembang api peringatan di langit, dan banyak yang menghadang jalanku. Tetapi mereka semua terkejut dan berkata,
“Putri Mahkota?”
Kupicingkan mataku dan bertanya, “Apa yang terjadi disini?”
Benteng yang harusnya menjadi titik strategis, hanya dilindungi oleh belasan Ksatria saja. Itu pun dalam keadaan mengenaskan, kurus dan kurang gizi. Ada dari mereka yang bahkan batuk begitu hebat hingga mengeluarkan dahak berdarah. Dari balik baju mereka aku dapat mendengar suara nafas mereka yang kotor dan cepat. Merah wajah mereka menunjukan tubuh mereka yang menyelam dalam demam panas yang tinggi.
__ADS_1
Apa mungkin mereka terkena infeksi paru-paru? pikirku. Melihat dari perawakan mereka, kondisi ini sudah berlangsung sebulan lamanya.
Semua ksatria itu pun segera bersembah sujud di hadapanku dan pemimpin mereka, seorang laki-laki separuh baya botak kinclong pun berkata,
“Mohon maaf atas kelancangan kami. Saya, Kapten Roger penanggung jawab benteng ini… memohon Putri untuk segera meninggalkan tempat ini.”
Setelah melihat berbagai tempat yang dilanda wabah, aku pun melangkah melewati deretan ksatria itu… menyadari apa yang terjadi di tempat ini. Tempat ini diserang suatu wabah. Kecurigaanku… wabah ini berasal dari udara atau artifak sihir. Menimbang lokasinya yang dekat dengan negeri Daemon, kemungkinan besar tempat ini diserang oleh sebuah senjata biologis yang keji.
Untungnya bau mayat belum kutemukan di tempat ini. masih ada waktu untuk menyelamatkan semua ksatria yang bertugas di benteng ini. Berbeda dengan puluhan desa yang gagal kuselamatkan.
“Tunjukan dimana yang sakit berada, Kapten Roger,” kataku sebelum Luna menarik lenganku dan menegurku,
“Non-E-Ehem, Putri Eclair, mohon maaf atas kelancangan Luna. Tapi saya juga setuju dengan Kapten Roger. Tempat ini jelas terlalu berbahaya untuk Putri!”
Dia pun berbisik, “Hoi, kamu ngapain hah, pengganti?”
Aku menepis tanganku dan mengacak pinggang, “Menjalankan tugas sebagai Putri yang Sempurna, kan?”
Luna mengerutkan alisnya, “Kamu berniat untuk mengatasi wabah di tempat ini? Udah gila ya. Lebih baik kita pergi dan melaporkannya ke Ratu, agar bala bantuan datang kemari.”
“Hahahahhaha!” lepas tawaku membuat semua orang disana terkejut. Segera menepuk keras pundak Luna dan berkata dengan suara lantang,
“Bagaimana aku bisa meninggalkan Rakyatku yang akan menderita sedang aku melarikan diri, Luna? Bila aku lari sekarang, artinya aku tak pantas menjadi Putri Mahkota.”
Semua ksatria tampak terharu mendengar perkataanku. Mereka segera mengerumuniku dan hampir menangis, memohon padaku untuk menyelamatkan rekan-rekan mereka. Sedang Luna hanya menatapku tak percaya, dia membekap wajahnya dan berbisik,
“Kamu sudah gila ya!”
Padahal niatanku jauh dari gila ataupun baik hati. Gini deh, bayangkan, apa yang akan Mutter katakan, bila Sang Daemon Bulan… kini berada di dekatnya? Bila aku berhasil menyelamatkan benteng ini dari wabah, tentu Mutter tidak akan mampu mengalihkan matanya dariku lagi, bukan? Lagi pula nama Daemon Bulan aan semakin besar, apalagi jika gossip mengatakan bahwa Sang Daemon Bulan adalah Sang Putri Mahkota sendiri?
… Aku akan menyelamatkan semua orang di tempat ini. Takkan kubiarkan satu pun nyawa diambil sang Dewi Kematian dari tempat ini.
“Sebagai pelayan Noctis, pasti kamu tahu sedikit tentang Alkimia sihir bukan?” kataku yang mengulurkan tangan pada Luna, “Maukah kamu mengulurkan tanganmu untuk membantuku, Luna?
Luna menghela nafas, “Haah, merepotkan sekali. Padahal kupikir aku bisa berlibur santai di tempat ini… Haaaaahh. Menyerah aku,” kata boneka itu yang kemudian mengambil uluran tanganku dan menjawab,
__ADS_1
“Bagaimana seorang pelayan sepertiku menolak perintah Putri Mahkota?”