Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Noctis Labyrinthus (7)


__ADS_3

“Roaaaaarrrr!!!!” teriak beruang itu.


Merah seperti duri yang tajam, bulu beruang raksasa itu berdiri dan mengaung dengan keras. Dengan besar lebih dari lima meter dan cakar yang lebih tajam dari belati apapun, monster beruang itu telah menjadi mimpi buruk di dataran Siphon Dragonica, dua bulan perjalanan darat dari Kinje. Beruang Bloodclaw, seekor Anima yang lahir dari dendam hutan yang ditebang habis umat manusia maupun Daemon.


Dan kini monster itu hadir di hadapanku, dalam bentuk boneka mayat yang dikendalikan seorang Penyihir lebih tepatnya, seorang Necromancer.


Luka dari gigitan jari di jemariku belum sepenuhnya sembuh, tanda kemampuan regenerasiku yang tertekan setelah menggunakan Judas Anguish. Kemampuan manipulasi darahku, Sanguis Pandaemonium, tidak stabil. Kekuatan tubuhku hanya 30% dari kapasitas aslinya. Bila salah satu cakar dari beruang itu mengenai tubuhku… kemungkinan besar, aku bisa mati.


Hahahaha, bila aku Eclair, si jenius yang menguasai tiga elemen sihir, tentu aku bisa selamat dengan mudah. Tapi sialnya.. aku tak punya bakat sama sekali dalam dunia sihir. Ilusi tidak berguna pada benda yang tak punya pikiran.


“Hanya saja, ini bukan pertama kalinya aku menghadapi kematian,” gumamku membunyikan jemariku.


Mataku pun melihat senapan yang ditinggalkan Roger. Namun dia berada tepat disamping beruang itu. Menelan ludahku, aku pun mengambil ancang-ancang dan melesat mendekati beruang itu. Nyaris aku menghindari cakaran sang Beruang, aku meluncur di bawah tubuhnya dan mengambil senapan itu. Tanpa menunggu lama, kulompati pohon demi pohon menjauhi sang Beruang yang mengamuk, meruntuhkan pohon demi pepohonan mengejarku.


Hiii! Ngeri banget! Heran aku, bila satu Anima sekuat ini… Bagaimana dahulu ksatria kinje berhasil menumpas Anima dari datarannya?


DARR!! DARR!!


Tembakan demi tembakan kulepaskan sembari melompat dari pohon ke lainnya. Tetapi aku tertawa pahit, sepertinya tembakan itu sia-sia. Beruang itu masih dengan ganas mengejarku dengan raungannya yang membuat bulu kuduk berdiri.


Kalau begitu, bagaimana kita mengalahkanna dengan sedikit alkimia sihir?


Kuambil beberapa vial dari cincin spasialku, mematahkannya dengan cepat.  Yang berwarna biru kusiramkan disekujur tubuhku, sedang yang merah menyala dengan gopoh kutumpahkan mulut senapan sihirku. Mataku pun menunggu sang Beruang mendekatiku dan menyerangku dengan cakarnya yang mematikan.


“Graaarrrr!!” teriak Beruang itu saat melompat ingin menangkapku di atas pohon. Tetapi tanpa ia kira, aku justru melesat mendekatinya. Menghindari pelukan maut dari cakar beruang itu, aku pun menyebarkan serbuk Aether di sekitar kami lalu seperti seorang penari yang ulet, aku menghindari tiap serangan Beruang itu lantas menusukkan bayonet senapan itu masuk ke dadanya.


“Selamat tinggal Teddy bear,” kataku yang menarik pelatuk senapan itu dan menendang beruang itu, melontarkan diriku menjauh darinya dan senapan itu. Dan tak selang satu detik kemudian…


DUAARRR!!!


Ledakan besar muncul dari dalam tubuh sang Beruang. Lautan api pun menjilat segala dedaunan dan rantai kering, menciptakan neraka yang membumi hanguskan hutan itu. Tak terkecuali diriku, yang untungnya terlindungi oleh cairan biru yang membasahi tubuhku. Mermaid Tear, nama cairan itu. Sebuah senyawa sihir yang kugunakan untuk mengolesi setiap peralatan alkimiaku dan menjadikannya tahan api dan panas.


Sedang senyawa sihir yang bertanggung jawab menciptakan neraka ini adalah Dragon Spit. Senyawa yang terbuat dari pita suara monster naga yang kupanen saat berkelana di Heimskarr. Potensi ledakannya yang melebihi bubuk mesiu menjadikannya bahan pembuat bom yang fantastis. Berpadu dengan Aether yang kusebarkan di sekitar kami, rantai reaksi pun terjadi menciptakan ledakan yang sangat dahsyat… hingga melontarkan tubuhku sejauh seratus meter.


ZUUSSHH!


Untungnya, tubuhku menghantam sebuah danau yang dalam. Seluruh inersia itu pun terendam oleh airnya yang banyak, mengurangi kerusakan yang mungkin kuterima di tubuhku. Jika saja aku menubruk batu atau sejenisnya… duh, tulang-tulangku udah patah semua pasti!

__ADS_1


Berenang ke tepian, aku pun duduk sembari mengatur nafasku. Kulihat kekacauan yang sudah kulakukan dan tertawa konyol, “Astaga, apa kata orang jika tahu seorang Putri Mahkota membakar habis sebuah hutan?”


Lutut kananku terasa nyeri sekali, hingga sulit bagiku untuk berdiri. Kuraba lutut dan tungkai bawah kananku, merasakan bunyi kretek-kretek disana. K-Kukh… krepitasi! Tak hanya di kakiku, tapi juga beberapa rusuk yang membuatku sulit bernapas. Semua tualng itu patah dan kini tengah menyembuhkan diri. Aku pun berbaring di tepian danau dan melihat mendung langit menutupi mentari… bersama tarian asap yang mengepul.


“Ternyata membunuh seorang Noctis itu sulit juga ya,” terdengar suara wanita yang sangat familar, “Sudah kuduga sihir necromancy seperti itu takkan cukup untuk megnalahkan Putri Jenius sepertimu, Putri Mentari,” lanjutnya.


Aku pun duduk sembari menahan rusukku yang sakit, menoleh pada sumber suara itu. Cokelat rambutnya yang sangat panajng, terikat kucir kuda. Seperti api yang membakar hutan itu, jingga matanya menatapku dengan tajam. Telinganya yang panjang dan ekornya yang lebat menggemaskan, menunjukan rasnya sebagai Seekor Daemon Musang. Meski dua tahun telah berlalu… aku tak pernah melupakan wanita itu.


Qrista Oedellia, sang Penyihir Merah.


Qrista menyalakan rokoknya dan menyemburkan asap ke langit, “Kamu tak terlihat kaget melihatku. I guess, kamu sudah melakukan penyelidikan tentangku dan ‘sedikit tragedi’ yang kulakukan pada Festival Salju Pertama dua bulan yang lalu?” kata penyihir itu.


Tragedi…?


“Bila sosok bernama ‘Daemon Bulan’ itu tidak mengganggu, banyak ‘pejabat pro damai’ yang akan mati oleh kecelakaan yang sangat disayangkan. Manuver itu akan sangat bersih, sebab seekor kambing hitam sudah disiapkan untuk menanggung segala amarah massa. Lumina Aivelstadt, babu dari keluarga Noctis yang berencana memberontak,” jelas Qrista yang kemudian berjalan ke sisiku dan melihat hutan yang terbakar,


“Tch, kamu pun sudah paham kan, siapa yang paling diuntungkan dengan berlanjutnnya masa perang ini? Lantas mengapa kamu menyembunyikan Daemon Bulan itu dari kami selama dua bulan ini? Jawab aku, Mentari.”


Black Company? Bukankah itu nama dari organisasi ecek-ecek yang menjalankan perdagangan gelap di bawah tanah? Kenapa.. organisasi itu menginginkan perang berlanjut? Tunggu dulu dari awal, apa hubungannya Putri Mahkota Kinje dengan organisasi itu?


“A-Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab,” kataku yang menghadiahku sebuah todongan pistol di kepalaku.


“Kamu pasti tahu siapa yang membayarku untuk melukaimu. Ini adalah pelajaran bagimu, Mentari. jangan menghalangi Black Company, jika kamu tak mau berakhir seperti adikmu, Putri Bulan.”


Tunggu dulu… mungkin saja aku salah. Tapi dari perkataan Qrista, bukankah itu berarti dua tahun lalu, dia menjebakku pula? Dengan kata lain, Black Company tempat aku menjual Mutterbeweisen selama ini adalah Organisasi yang mencoba membunuhku dulu?


Siapa yang paling diuntungkan dengan berlanjutnya masa perang… Kekuatan yang membuat Black Company dapat mengancam bahkan seorang Putri Mahkota… dan pohak yang sangat marah dengan kesembuhan Raja George. Apakah mungkin orang yang membayar Qrista adalah… Tidak mungkin. Hanya seekor monster saja yang tega melakukan itu.


Meski begitu, hatiku ingin mengetahuinya. Kebenaran meski sepahit apapun itu.


Aku pun berdiri dan menantang wanita tinggi itu, “Aku adalah Putri Mahkota Kinje, seorang jenius yang dapat mengubah ini. Tentu saja aku lebih berharga hidup daripada mati bagi Mutter.”


Qrista mendengus lucu dan memutar pistolnya, memasukannya kembali ke saku. dia kemudian menghisap rokoknya dengan nikmat dan menghembuskan kepulan asap panjang,


“Benar sekali. Kamu lebih pintar daripada adikmu yang bodoh itu. Tapi untungnya dia cukup bodoh hingga memberikan alasan bagi kami untuk membunuhnya. lucu sekali, untuk menyelamatkan seorang yang tak ia kenal, dia tega melukai orang lain?


Memang, anak iblis tetaplah iblis. Gila seperti ibu kandungnya. Untunglah kedua iblis itu sekarang sudah mati.”

__ADS_1


…!


… Hahaha.


Jadi, sejak awal aku telah dibohongi. Permintaan Professor Oe dan Qrista hanyalah opera busuk untuk menjebakku. Pertolongan yang Mutter berikan padaku di malam itu… bukanlah pertunjukan afeksi yang selama ini kuinginkan, melainkan kepura-puraan dengan niatan sinis untuk membunuhku.


Mutterbeweisen… obat yang kupersembahkan bagi Mutter, menjadi alasannya untuk membunuhku.


… Lantas, untuk apa aku melakukan semua ini?


Untuk apa aku bersusah payah untuk menyembuhkan dan menyelamatkan banyak orang.. untuk seorang yang telah memandangku sebagai Iblis?


… Untuk apa aku percaya pada harapan bahwa akan datang hari, Penyihir itu akan memberikan aksih sayang yang sama padaku, seperti ia menyayangi Eclair?


… Apa arti hidupku ini?


Apakah aku hanya hidup untuk kemudian mati dan dilupakan?


“Jangan mencintai, jangan percaya dan terakhir jangan lupakan siapa dirimu sebenarnya,” gumamku yang mencoba meraih langit di angkasa, tapi seberapa pun aku ingin menggapainya tanganku takkan dapat menggenggamnya.


Akar-akar kegelapan pun tumbuh dari dadaku, menjalar mengikuti tiap lekuk tubuhku. Menyadari sesuatu yang tidak beres, Qrista segera melompat menjauhi. Dia mencabut tongkat sihirnya dan menatapku dengan garang.


Aku pun bangkit berdiri, bersatu dengan kegelapan bayanganku. Bunga mawar hitam pun bermekaran dari tiap ranting yang melilit tubuhku, menunjukan mata merah yang melotot menatap Qrista. Jantungku berdegup kencang ketika sosok kegelapan memelukku dari belakang.


“Benar sekali… Meine Dotter… lepasan aku… maka mimpimu akan terwujud!”


Dan ketika Qrista melihat wajah sosok bayangan itu, pucat pasilah mukanya.


“Kamu… bukan Putri Mentari…!” katanya jelas.


Sebelum penyihir itu dapat melakukan apa-apa, aku telah menghantam kepalanya di tanah. Kualirkan kegelapan menuju kepalanya, membakar seluruh ingatannya dan menuliskannya dengan yang baru. Dan bersama dengan semua kenangan indah yang ia miliki kurebut dan hancurkan, maka menangislah wanita itu mencoba menggapai leherku, menolak tubuhku… tapi tak berkuasa.


“… Aku bukan siapa-siapa, melainkan kematianmu,” kataku yang merebut seluruh ingatan dan kesadaran wanita itu. Taring-taringku pun semakin tajam, mata ketiga dan keempatku pun terbuka melihat nadi di leher Qrista yang begitu menggoda. Aku pun mencengkram pun tangan Qrista—


Dan sekejap… gelap.


Ketika aku tersadar, aku telah berdiri di kubangan darah. Masih segar di mulutku, rasa besi amis yang merangsang tubuhku. kujilat seluruh jariku, membersihkan seluruh bercak darah disana.

__ADS_1


Dari yang awalnya pahit, perlahan menjadi manis.


__ADS_2