
“Duduk tegak!” tegur Lumina menepuk punggungku.
“U-Ugh… Boleh aku bertanya, siapa yang asisten sekarang?” tanyaku.
“Hmm, apa kata Putri? Bicara lebih lantang Putri! Kamu adalah penguasa distrik ini, tunjukan wibawamu!” tegur Lumina lagi.
K-Kukh, apalagi yang kuperbuat hingga pantas dipermalukan seperti ini? Aku yang dahulu menggantikan Kakakku sebagai Putri Pertama Kinje, kini mendapat lagi pelatihan tata krama?
Sungguh, dewa-dewi suka sekali bercanda!
Setelah pengakuan Lumina di laboratoriumnya, kini kudapati diriku duduk di dalam tenda seadanya, memandangi deretan manusia yang mengantri untuk menemuiku. Di antara bau keringat yang menyengat dan pula becek tanah yang masih membuat kepalaku pusing, rasanya musim panas datang terlalu cepat ke negeri Pei Jin. U-uugh, rasa rinduku pada tokoku yang nyaman dan dingin menggebu-gebu… Daripada mengerjakan omong kosong ini, aku ingin pulang!
Yah, meskipun pekerjaan omong kosong ini… adalah ideku sendiri.
Sebelumnya, terbebas dari ancaman sihir ilusiku, Lumina langsung menuliskan selebaran baru padaku. Selebaran itu kurang lebih sama dengan ideku sebelumnya, tetapi dengan jumlah uang yang turun menjadi satu keping emas. Selain itu, kata ‘menangkap pelaku’ kini Lumina ganti menjadi ‘menunjuk orang yang dicurigai untuk di interogasi’. Tanpa menunggu persetujuanku, wanita itu segera mengecap selebaran itu dengan cap resmiku dan pergi menyebar luaskan kabar itu.
Dan kini… di hadapanku, telah hadir semua warga distrik Clariyastra yang saling menunjuk satu sama lain demi mendapatkan satu keping emas! Haah, agar mereka tak terlalu ketakutan denganku, aku pun mengenakan cadar hitam yang menutupi wajahku, terutama kedua pasang mata iblisku.
“Duuuhh, tidak-tidak-tidak! Aku ini sejenis introvert yang lebih suka bekerja dengan tenang di lab, daripada harus ketemu banyak orang seperti ini! ” keluhku memberontak di depan seorang anak kecil yang melihatku tak percaya.
Lumina menjentik keningku dengan sangat keras dan berkata, “Hayo, mengeluh bukan kebiasaan baik seorang Putri! Kan, Putri sendiri yang sudah memilih mengemban tugas ini, maka putri harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.”
“Memilih? Lebih tepatnya, dijebak.”
“Huussh! Bagaimana pun, seseorang sudah mempercayai Putri. Itu artinya, Putri Noctis tidak boleh mengecewakan kepercayaan itu. Bukankah menjaga kepercayaan itu adalah kredo seorang pedagang?”
U-ugh, bener juga perkataan wanita itu. dia dengan mudah menyekakku dan membuatku menelan perkataanku sendiri. Sungguh, wanita yang mengerikan!
“S-S-Sulit dipercaya, D-Dokter Oe benar-benar telah menaklukan Sang Daemon Bulan!” kata bocah laki-laki yang menatap kami berdua dengan mata berbinar-binar.
Mengusap hidungnya bangga, Lumina pun tersenyum lebar, “Tentu dong. Kan aku seorang Magistrat Sihir yang berhasil mengalahkan Dewi Nyghtingale sekali,” katanya menyombongkan diri.
Aku kehabisan kata-kata. Berhubung sihir ilusiku tak dapat mengendalikannya, Lumina kini bebas mengerjaiku semaunya. K-Kukh, perasaan ini… kapan tereakhir kali kurasakan? Perasaan kesal dan malu menjadi satu, tetapi diikuti pula kekaguman pada ia yang menegurku kembali ke jalan yang benar.
Ah… benar juga. Momen ini mengingatkanku saat Luna membimbingku menjadi seorang Putri.
“Terus, bisa kamu jelaskan, mengapa orang tuamu menuduh anaknya sendiri menjadi seorang pembunuh?” tanyaku berpangku tangan.
Dengan senyum polos, anak itu menjawab, “Entahlah. Yang penting, dapat satu keping emas!”
Kubekap wajahku tak percaya. Oh Dewi Nyghtingale, bolehkah kamu menjemputku sekarang ke dalam naunganmu?
“Tapi-tapi, Thomas punya informasi penting untuk Putri Noctis,” katanya yang berjingkrak penuh semangat di kursinya yang rapuh. Aku pun berdiri dan menangkap anak itu, tepat sebelum kursinya patah.
“T-terima kasih,” kata Thomas yang syok. Sebab baginya yang telah mendengar seribu satu cerita tentang Daemon Bulan, pasti tak pernah ia sangka akan ada hari tangannya akan menyentuh kulitku yang sedingin es. Alih-alih, menolongnya.
“Santai. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai pelindung distrik ini,” kataku. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri dan segera kumenoleh ke belakang, melihat seluruh mata warga Clariyastra menatapku tak percaya.
__ADS_1
Uhh.. apakah aku melakukan sesuatu yang salah? M-Mengapa mereka menatapku seperti itu? Astaga, apakah mereka curiga aku akan memakan anak ini?
Dengan ramah Lumina mengambil sebuah kursi untuk Thomas, “Lain kali hati-hati ya. Kalau terlalu semangat, kamu tu suka sekali melukai diri sendiri. Bukankah dokter sudah mengingatkanmu?” katanya yang mengelus lembut kepala Thomas.
“Hehehe, tapi kalau Thomas jatuh lagi kan, dokter Oe akan menyembuhkanku!” balas Thomas manis, sebelum duduk kembali.
GIla ya, sihir apa itu? Bagaimana bisa Lumina membuat Thomas nyaman dan aman meskipun berada di dekat monster mengerikan sepertiku? Jika kuingat, sebelum menjadi Ratu, Mutter juga seorang dokter… Namun, ia tak pernah membuatku menunjukan senyum seriang Thomas.
Ah, lagi, pikiranku melayang. Fokus-fokus! Pikirku yang kembali duduk di atas meja, tidak mempedulikan kicauan Lumina yang menegurku.
“Terus, informasi apa itu? Aku harap dia seharga satu keping emas,” kataku menyilangkan kaki.
Thomas pun bercerita bahwa sebulan sebelum kematian temannya Verrel, ia teringat bahwa di suatu malam tiba-tiba Verrel mengetuk pintu jendela kamarnya. Bocah itu bilang bahwa dia baru saja melihat sosok hitam berdiri di tepi sungai dan menuangkan sesuatu disana. Merinding ngeri, takut bahwa sosok gelap itu adalah monster atau hantu, Verrel pun merengek untuk menginap di rumah Thomas. Kebetulan kedua ortunya sedang pergi bekerja sampe malam.
“Menuangkan sesuatu? Dia ada bilang seperti apa benda yang sosok itu buang ke sungai?” tanyaku melipat tangan, penasaran.
Thomas melihat ke langit-langit dan berusaha mengingat, “Heeemm, seingatku. Dia bilang sosok itu membuang suatu hal yang bercahaya merah. Lalu-lalu, seluruh sungai penuh dengan kunang-kunang berwarna merah yang mengerikan.”
“Kamu yakin dia tidak berhalusinasi?” tanyaku skeptis.
“Uuhh, halusinasi itu apa ya Putri?” tanya Thomas bingung.
Lumina tertawa cekikikan dan memberikan sekeping koin emas kepada Thomas, “Halusinasi itu artinya pikiran seseorang berada diluar kendalinya, hingga membayangkan yang aneh-aneh. Terima kasih ya, Thomas udah berani bercerita pada kami. Uang ini, tolong pesan sama Papamu, jangan dijudikan. Belilah baju atau perbaikilah rumah kalian hingga layak, oke?”
Thomas pun tersenyum meringis memamerkan gigi serinya yang ompong, “Siap, dokter!”
“Ih, Putri, aku tak punya kebiasaan membuang sampah sembarangan. Apalagi pada sumber air yang digunakan orang banyak,” jawab Lumina yang kemudian memegang lehernya dan menatap ke lantai, “Tapi, putri… ada sesuatu yang mengangguku. Dari Succubian Dream, Putri sudah paham tentang bakteri dibalik Wabah Nyght, kan?”
“Yep. Aku juga tahu tentang kesuksesanmu di desa Alliese.”
“Kalau begitu, mungkin, ini hanya mungkin ya putri. Apakah sebenarnya Wabah Nyght adalah senjata biologis yang bisa dengan mudah disebarkan?” tanya Lumina.
“Mengapa kamu berpikir demikian?” kataku mencegah Lumina mengacak-acak rambutnya yang indah itu, kebiasaannya saat berpikir terlalu keras. Aku tak ingin asistenku jadi botak karena rambut rontok.
“Sebab tak ada satu pun sumber air Pei Jin yang terhubung dengan sungai di Kinje. Bakteri itu tidak dapat muncul tiba-tiba di luar habitatnya bukan?” kata Lumina.
Diriku yang tak mengerti dunia medis pun bertanya, “Mutter pernah menegurku yang suka jajan sembarangan saat kecil. Uhh, katanya, penyakit bisa menyebar lewat rute feca-oral atau feco-oral? Uuuhhh, intinya, bukanya dari sekret dan ekresi manusia, penyakit bisa lahir?”
“Tidak mungkin Putri. Bila begitu sejak dahulu harusnya banyak orang di distrik ini yang mengidap Nyght. Tapi setelah enam bulan tanpa pendatang baru, barulah seminggu ini Verrel terkena penyakit itu,” jelas Lumina.
Kutekuk alisku bingung, “Bila Wabah Nyght adalah senjata biologis, lantas siapa yang membuatnya? Black Company? Untuk apa mereka menghancurkan negeri mereka sendiri? Lalu Uni Erites? Jika begitu, kenapa mereka justru cari gara-gara dengan menyebarkan penyakit itu di negeri bebas ini?” tanyaku.
Lumina menggelengkan kepalanya, “Bukankah Putri sendiri yang menulis dalam Chronostoria Noctis, bahwa kemungkinan… Putri Mentari-lah yang menciptakan penyakit itu di Hilfheim?”
“Itu hanya dugaanku saja. Tapi setleah kurenungkan kembali, semuanya tak masuk akal. Jika benar Eclair menciptakan penyakit itu, kenapa dia justru meracuni kota yang mendukungnya? Pun benar, apa tujuannya menciptakan penyakit itu? Balas dendam? Tidak, pembalasan dendam kakakku sudah selesai di malam ia membunuh Mutter,” jelasku meneguk habis tehku yang nikmat,
“Intinya… Untuk sekarang, aku akan memasang instalasi air bersih di kota ini. Selama itu, tolong minta semua warga disini untuk menggunakan air dari sumur kota, jauh dari sungai Arisia,” perintahku.
__ADS_1
Lumina mengangguk pelan, “Ya, aku setuju.”
Proses interogasi itu pun berlanjut hingga mentari terbenam. Banyak sekali keluh kesah yang kudengar dari semua warga Clariyastra, yang terbuka padaku karena keberadaan Lumina. Artinya banyak sekali PR yang harus kukerjakan sebagai Penguasa baru Clariyastra… Araraaaaa. Setidaknya, perjanjianku dengan George terjadi sesuai dengan Simulasi Succubian Dream-ku, aku jadi punya sepetak tanah besar disini untuk membangun pabrik.
Tapi, sama seperti dalam simulasi Succubian Dream, seluruh warga Clariyastra sepertinya sangat percaya dengan Lumina. Hal itu pun mempermudah pekerjaanku. Kukira adalah satu atau dua kali aku harus menggunakan sihir ilusiku… tapi ternyata, dengan senyuman Lumina memenangkan hati warga Clariyastra, hal itu sepertinya tidak diperlukan.
Herannya aku hanyalah satu… Mereka tidak sehisteris yang kukira saat melihatku. Malah, entah mengapa, aku merasakan tatapan lega dari mereka.
“Hmm, sepertinya hari pertama berjalan dengan baik sekali, kan, Putri?” kata Lumina yang senang hati memberikanku tumpukan kertas transkrip interogasi yang harus kutandatangai dan laporkan ke si Nenek Tua.
“Tapi tak satupun memberikanku petunjuk tentang pelaku pembunuhan. Yah, dari awal aku meamng tidak membutuhkan petunjuk itu sebab sudah tahu siapa pelakunya. Hanya saja… tak kusangka, orang-orang distrik ini mata duitan banget. Masa, mereka semua datang cuma akrena satu keping emas itu? Setelah dikasih, langsung senang banget lagi, astaga…”
Lumina tertawa kecil, “Mereka kan selama tujuh tahun dipimpin oleh calon Ratu yang mata duitan. Rakyat pasti mengikuti sifat pemimpinnya dong?”
“Maksudmu, aku membawa pengaruh buruk bagi mereka? Hahahah!” tawaku pecah.
“Bisa jadi, bisa jadi. Hanya…,” tiba-tiba Lumina menatap ke langit senja dengan mata sendu, “Kamu terlalu memandang dirimu rendah, Putri. Tidak semua rakyat Kinje memandangmu seperti monster yang kamu kira. Malah sebagian besar dari mereka, selalu menatapmu sebagai penyelamat mereka.”
“Omong kosong apa itu? Aku sendiri yang menyaksikan diriku dihukum mati oleh rakyatku sendiri,” kataku yang sibuk menandatangani dokumen, sambil sesekali memukul nyamuk nakal yang mencoba menusuk kulitku hanya untuk mendapati hidungnya patah.
“Yeah, setidaknya, salah satunya dalah aku, Putri. Bila aku tak bertemu dengan Putri Noctis di malam itu… aku tak membayangkan, apa jadinya hidupku. Nmaun, disaat keluarga Noctis melindungiku dalam sayapnya, Putri Noctis justru diusir darisana. Aku tak mengerti,” kata Lumina yang mengepalkan tangannya merasa bersalah sekali,
“Putri Noctis, mengapa di malam itu, bukannya membunuhku… kamu justru menyelamatkanku?”
“Tidak, kan kamu melihatnya sendiri, aku mengambil sebagian besar darahmu untuk penelitian egoisku. Eclair dan Mutter-lah yang menyelamatkanmu."
“Bahkan dengan kemampuan sihir mendiang Ratu, dia takkan mungkin bisa menyelamatkanku dari syok hipovolemia. Putri, apa yang kamu sembunyikan dariku?”
“Entahlah ya. Anggap saja, kamu beruntung, Lumina,” kataku berbohong.
Sesungguhnya pada malam itu, aku memang berniat membunuh Lumina. Tetapi bagi pemula yang tak tahu cara menggunakan jarum suntik, aku menusuk jemariku sendiri. Dan disaat itulah, aku menemukan kebenaran tentang kemampuan darahku yang besar. Dia dapat menyembuhkan segala penyakit… dan juga membunuh siapapun yang disentuhnya.
Sebuah ide pun terbesit di kepalaku. Aku mengambil sebagian besar darah Lumina dan menggantinya dengan setetes darahku… bertaruh ia dapat perlahan menggantikan darah gadis itu secepatnya. Aku sengaja memancing Eclair untuk menemukan tubuh Lumina yang sekarat, agar dia melaporkannya ke Mutter. Sang Ratu yang tak ingin menodai nama baik keluarga Noctis pasti akan menerima Lumina dalam sayapnya… dan pada akhirnya, mengakhiri hidup Lumina yang penuh siksa.
Tapi aku tak bisa mengatakannya pada Lumina. Sebab bila ada seorang pun yang tahu tentang kekuatan darahku ini… entah apa yang akan mereka lakukan dengannya?
“Anuu… apakah Kantor Putri Noctis masih buka?” tiba-tiba terdengar suara perempuan di depan tenda.
Kami berdua pun menoleh dan menemukan gadis berambut merah, dengan amta penuh api yang membuat silau mataku. Ya ampun, cukuplah hari ini aku bertemu dengan roang dengan kemauan yang kuat… jangan lagi.
“Ya, ada apa ya, Claudya, putri dari Paman George si botak?” tanyaku agak ketus, yang segera direspon lumina dengan menyikut pundakku.
“Hahahha, maaf ya. Ma Dame agak jutek karena cape. Kenapa ya, Ce?” tanya Lumina.
Dengan penuh kemantaban gadis berambut merah itu pergi menghadapku, tak takut bertatapan langsugn dengan mata iblisku. Dia pun memanggil pedang hitam di tangan kanannya dan berkata padaku,
“Putri, aku datang untuk meminta tolong padamu. Aku mohon, hentikan kegilaan Kapten Arthur.”
__ADS_1