
Salju putih menyentuh ujung jemari telunjukku. Jauh dari lembut, sentuhannya membakar jariku, yang kemudian sembuh tanpa jejak. Payung yang bersandar di pundakku melindungi kulitku dari sentuhannya, menggantikan pelindung sihir Einhenjarr yang didirikan si Nenek Tua. Jauh dari kota Pei Jin, di kedalaman hutan yang menyusuri sungai Arisia kutemukan sebuah sihir ilusi kuat yang menghalau mata.
“Solemn Nightmare.”
Kusentuh sihir ilusi itu dan mengirimkan api hitam yang melesat menuju pemiliknya. Dan hanya menunggu menit, sihir ilusi itu pun runtuh. Dari kabut ilusi itu munculah gua yang besar, yang menjadi tempat persembunyian para Matrovska.
Aku bukanlah seorang yang sabaran. Bila ada kesempatan untuk menyelesaikan masalah atau ancaman yang mengganggu hidupku, akan kulakukan dalam satu sapuan. Untungnya baru saja keberuntungan berpihak padaku, seorang Matrovska berkhianat dan membeberkan posisi persembunyian mereka dengan cuma-cuma padaku. Setelah ‘membereskan’ pengkhianat itu, aku pun segera melesat di tempat ini… untuk menyelesaikan semuanya.
Tiba-tiba bayangan hitam pun melesat padaku, seperti kilat yang terang dia menebaskan pedang hitamnya padaku. Namun kekecewaan segera mewarnai matanya ketika pefang itu menebas api hitam yang kelak menelan dan membakar tubuhnya dalam satu teriakan histeris.
Saat Matrovska itu tersungkur di hadapanku, aku pun meninjak kepalanya dan menatap ke dalam gua, “Arthur… sampai kapan kamu bersembunyi dari Kakakmu tersayang ini, hmm?” tantangku.
Arthur pun menjawab tantanganku dengan wajah penuh amarah. Di sisinya, delapan Ksatria dengan jubah dan pedang hitam pun hadir. Kuhela nafasku, masih ada sembilan lagi. Tertawa kecil diriku… aku sudah gila ya, melawan sembilan spesialis pemburu penyihir sendirian. Tapi, aku harus membeli waktu sepanjang mungkin hingga Lumina berhasil menginfiltrasi markas mereka dan mencuri rencana busuk Matrovska.
Benar, aku hanyalah umpan yang terlalu menggiurkan untuk ditolak. Saat ini, Lumina mengendap-endap dalam kegelapan hutan, mengendalikan mayat hidupnya yang merayap dari bawah tanah menuju markas Matrovska. Dengan harapan, kami mendapatkan setidaknya jurnal tentang detil rencana mereka. jika beruntung… alat yang mereka gunakan untuk menyebarkan Wabah Nyght.
“Bagaimana kamu bisa menemukan kami, Daemon Bulan?” tanya Arthur dengan dingin.
“Salah satu anak buahmu yang cantik, Claudya dengan senang hati memberitahu tempat ini…. Yah, setelah aku merusak sedikit otaknya. Nasibnya.. hmmm, kruang lebih sama dengan dua onggok daging disini. Pikiran mereka begitu rusak hingga tak lagi hidup, tapi juga tidak mati,” jawabku dengan senyum sinis.
“I-Iblis, apa yang kau lakukan pada Claudya?!” teriak Arthur, tetapi terbelalak matanya ketika melihatku menghilang di depan matanya. Lantas tertawa kecil aku pun berbisik di telinganya,
“Iblis, katamu?” kataku yang kemudian menggoreskan jemari belatiku di lehernya, “Katamu engan aroma darah orang tak berdosa tercium pekat di tanganmu itu?”
Arthur mencoba menebasku, tetapi hanyalah api kegelapan yang menyambutnya. Pintar bocah itu melepaskan jubahnya sebelum tubuhnya termakan oleh api kegelapan itu. Dengan sigap, Arthur segera berteriak memperingati para bawahannya,
“Hindari api gelap itu! Dia bukanlah penyihir yang menyerang tubuhmu, tetapi pikiranmu. Sedikit saja api gelap itu menyentuh kalian, Daemon bulan akan segera menghancurkan pikiran kita!”
“Siap, Kapten!” jawab Matrovska lainnya yang kemudian memasang kuda-kuda mereka, mencari-cari diriku di tengah gelapnya malam.
Tertawa dirikuyang menyusun diri dari api kegelapan yang membakar korbanku sebelumnya. Dengan anggun aku pun menunduk memperkenalkan diri seperti seorang putri, “Salam kenal hai Ksatria terhormat dari Kinje. Aku, Clair sang Penyihir Putih dari Pei Jin,” kataku yang kemudian mengulurkan tanganku pada mereka,
“Adakah dari Tuan-tuan terhormat yang ingin berdansa denganku malam ini?”
__ADS_1
Tak kusangka tiga dari Matrovska segera menyerangku. Segera kuambil tangan seorang dan mematahkannya, lantas meminjam pedangnya untuk kulesatkan menembus perut partnernya. Dalam satu kesempatan aku pun menangkis tebasan dari Pedang raksasa seorang Matrovska dengan tubuh laki-laki di tanganku. Lantas kupanggil pedang api dari tanganku dan menyemburkannya pada Matrovska terakhir, membakar pikirannya hingga tak tersisa.
Tapi tentu saja Matrovksa yang kukalahkan hanyalah bayangan pengecoh, sebab sinar terang pun muncul dari langit. Sebuah lingkar sihir raksasa, dengan tombak api muncul dari tengahnya. Tertawa hampa aku, mereka memanggil Longinus? Sihir penghancur tingkat tinggi yang dapat menghancurkan satu kota dengan mudah? Sepertinya selagi aku sibuk melawan bayangan itu, ke sembilan Matrovska itu mengitariku dan memanggilnya.
Sial, sepertinya aku terlalu meremehkan para Matrovska itu.
“Bahkan seorang Monster sepertimu takkan selamat jika terkena sihir tingkat tinggi ini secara langsung,” kata Arthur yang menghunuskan pedangnya padaku.
Hmmm, sepertinya kalau aku bertarung sebagai seorang penyihir… hidupku akan tamat disini. Kulihat sebagian besar dari matrovska itu tampak lusuh dan kurus, bahkan Arthur pun demikian. Telah lama aku tak meninggalkan Pei Jin, namun melihat kondisi mereka.. aku dapat membayangkan betapa prihatinnya kondisi rakyat Kinje.
“Bagaimana jika, aku membeli kesetiaan kalian dari Arielle senilai sepuluh ribu koin emas?” kataku yang melipat tangan dan berpangku dagu, “Setidaknya, jika kalian semua mengabdi padaku, kalian takkan tidur di dalam gua yang dingin itu,” tawarku.
Arthur mendengus kesal, “Kamu kira bisa menggoda kami, Iblis?”
“Hmm, menggoda? Gini ya, aku tidak pernah mengerti. Mengapa ada orang-orang seperti kalian yang dengan senang hati membuang nyawanya untuk seorang Ratu yang pun… tak mengingat nama kalian,” kataku yang kemudian membentangkan tanganku,
“Bukankah kalian melihatnya? Betapa indahnya kota Pei Jin? Semua orang hidup dengan tenteram, terbebas dari ancaman Salju Superadikal. Kebetulan aku adalah penguasa Clariyastra, dengan mudah aku bisa mengundang kalian untuk tinggal di dalamnya. Beserta... sanak saudara yang ingin kalian bebaskan dari dunia yang kejam ini.”
“Matrovska, lepaskan sihir Longinus!!” teriak Arthur yang ingin melesatkan sihir tinggi itu pada kami, tetapi dia terkejut dan menghentikannya. Sebab tiga Matrovska yang kukalahkan bayangannya tadi, mendekatiku dan berlutut menyerahkan hidupnya padaku.
“M-Maafkan kami Kapten… t-tapi, kami merasa, perintah Ratu Arielle tidak masuk akal,” kata seorang laki-laki berambut pirang bersembah sujud dihadapan Arthur. Penyesalan jelas terlihat di awajhnya saat melanjutkan,
“S-Saya ingin keluarga saya bahagia.”
Oh.. kini kulihat jelas wajah ketiga Matrovska itu. Mereka adalah ksatria yang dahulu bekerja sebagai tantama di medan perang. Si pirang adalah Leon, putra dari pengrajin besi di plosok emperan junon. Perempuan manis berambut hijau itu... eh, dia kan Aleina? Penyihir yang mengikuti pelatihan alkimia sihirku di dunia simulasi? Dan satu lagi adalah laki-laki yang memiliki wajah sangar seperti bapaknya. Grigory putra dari jenderal Taiga yang dahulu menemaniku dalam ekspedisi ke Hilfheim.
Mata ketiga Matrovska itu tampak lelah sekali dengan kemalangan hidup mereka.
“K-Kalian? T-Tidakkan kalian paham, sosok itu adalah Iblis yang akan menghancurkan dunia ini? Mengapa kalian justru berpihak padanya?” tanya Arthur tak percaya.
Sembari Arthur menegur anakbuahnya, di kepalaku terdengar telepati dari Lumina, “Putri, aku sudah mendapatkannya.”
Kukirim telepati padanya, “Kerja bagus. Oh ya, Lumina. Aku boleh minta tolong satu lagi? Tolong angkut dua Matrovska yang tumbang dalam pertarungan ini. Mereka belum mati. Aku mau membujuk mereka untuk berpihak padaku, sama seperti tiga lainnya.”
__ADS_1
“H-H-Ha?! K-Kok bisa? Jangan bilang Putri mencuci otak mereka?”
“Nanti aku cerita,” kataku yang memotong telepati itu. Kemudian aku pun melangkah mendekati Arthur dan mengulurkan tangan padanya,
“Semua itu hanyalah propaganda Arielle. Untuk apa aku menghancurkan dunia ini, Arthur? Adakah aku menyebarkan Wabah Nyght ini, seperti yang kalian rumorkan? Adakah aku memberi eprintah perang tak bermakna pada negeri lain, hanya untuk kalah menyedihkan dan menyengsarakan hidup banyak orang?”
“Kamu hanyalah pembohong. Semua perkataanmu tak dapat dipercaya! Bila kamu tidak berniat untuk menghancurkan dunia ini, mengapa kamu justru tidak menyelamatkannya?! Kamu memiliki kekuatan yang sangat besar untuk melakukannya, Daemon Bulan!!”
Namun tak kusangka perkatanku justru membuat Arthur sangat marah. Aku... bisa merasakan api dendam yang sangat besar dari tatapan matanya. Api yang begitu familiar bagiku. Entah mengapa, saat melihat Arthur sekarang, aku seolah melihat diriku di masa lalu.
“Arthur… aku tidak sehebat itu hingga bisa menyelamatkan dunia ini,” jawabku jujur.
“Pembohong! Hanya tunggu waktu saja sebelum kamu ingkari semua kata-kata manismu itu!” teriak Arthur yang kemudian kehilangan kendali akan emosinya, dan menyerangku dengan gegabah.
Segera kutepis tebasan pedangnya itu dengan mudah dan hanya dengan satu gerakan... aku bisa memotong kepala bocah itu dengan jemari belatiku. Tetapi, Grigory mencegahnya walau tangannya berdarah-darah tersayat oleh jariku.
Kuhela nafasku, “Apa yang harus kulakukan.. agar kamu percaya padaku Arthur? Ideal White tidak akan menyelamatkan dunia ini. Sudah terlambat untuk menyelamatkan dunia yang telah rusak ini.”
Sebab Ideal White adalah kekuatan dari Dewi Kematian. Si dewi kesepian yang menginginkan akhir dari dunia itu sendiri.
Arthur pun melompat mundur, sadar bahwa kemungkinan ia menang turun drastis ketika tiga Matrovska berpihak padaku. Apalagi ketika ia menyadari kehadiran Zombie Fenrir yang mengangkut para Matrovska yang telruka ke sisiku. Seorang penyihir dapat dengan mudah ia kalahkan, tetapi Fenrir lain ceritanya. Mereka adalah senjata yang didesain khusus oleh Black Company untuk melindungi penyihir dari para Matrovska. Yah, meskipun sekarang mereka cuma zombie dibawah kendali Lumina.
Arthur menggunakan sihir terakhirnya dan membuka petir portal. Sebelum keenam Matrovska itu tertelan oleh portal, Arthur berkata padaku,
“Semua ini belum berakhir. Aku akan menghentikanmu sebelum kamu menyelesaikan rencana busukmu itu, Daemon Bulan!”
Rencana busuk…? Emang aku ada rencanain apa? Aku kan cuma ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya dari pabrik baru yang akan kudirikan? Atau mungkin dia mendengar rencanaku memanipulasi Lifebane dan mencuri sihir dari dunia? ... Apa mungkin Nenek Tua itu mempermainkanku?
Sebelum aku dapat membersihkan kesalahpahaman itu, Arthur pun menghilang. Meninggalkanku lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Sesungguhnya siapa yang telah memanipulasi Arthur, hingga menjadikannya boneka buta yang tak mau melihat kebenaran?
Kuhela nafasku dan melihat ketiga pengikutku yang baru. Tersenyum pahit diriku dan berkata, “Araraa, sepertinya kita berempat akan berbincang dalam waktu yang sangat lama. Ksatria-ksatriaku yang terhormat.”
__ADS_1