WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 17 - IZINKAN KAKAK!


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Putri membuka pintu kamar itu dengan perlahan, ini sudah jam 9 malam, ia berfikir jika adiknya mungkin saja sudah tertidur.


Sebentar tadi ia sudah datang 2 jam lebih awal, namun dokter Abraham dan teman-temannya memaksa Putri untuk ikut makan bersama dengan mereka.


Karena, salah satu teman rekan kerja dokter Abraham sedang berulang tahun, jadi untuk menghormati mereka, Putri akhirnya ikut pergi dengan para lelaki itu di restoran yang cukup mewah di kawasan Jakarta Selatan.


Beruntung Putri hari ini sengaja memakai salah satu dress yang di beli. Niatnya sebenarnya ingin mencoba dan memperlihatkan dress yang ia beli kepada sang adik.


Namun, malah diajak pergi makan malam bersama para dokter muda dan tampan.


Benar-benar rezeki yang sulit untuk di tolak.


Dengan perlahan Putri membuka pintu kaca itu, ia sama sekali tak ingin membuat suara berisik yang akan menganggu tidur adiknya.


Namun sepertinya dugaannya salah, adiknya belum tertidur.


Dadanya seakan diremas dengan kuat saat melihat pemandangan yang sangat menyakitkan ini.


Adiknya tengah menyanyikan sebuah lagu penghantar tidur untuk sang Ibunda yang terlihat sudah tertidur pulas dengan keringat yang membanjiri keningnya.


Bukan, bukan karena ruangan ini tak memiliki AC. Tapi itu karena Ibu Putri yang kambuh, biasanya wanita itu akan memberontak dan berteriak. Itu yang menyebabkan wanita itu berkeringat.


Nyanyian adiknya itu benar-benar terdengar sangat menyedihkan, namun Putri mencoba untuk memaksakan senyumannya.


Ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu untuk menghampiri sang adik yang duduk di tepi ranjang milik Ibunya.


"Din..." panggilnya lembut seraya menepuk bahu kanan Dinda pelan.


Remaja cantik itu berhenti menyanyi dan membalikkan tubuhnya cepat. Ia tersenyum menatap sang kakak yang sudah lama ia tunggu itu datang.


"KAKAK!!" teriaknya kencang sembari memeluk pinggang Putri erat.


"Shuutttt...." Putri menempelkan jari manisnya di depan bibir, mengkode adiknya untuk tak berteriak karena Ibu mereka sudah tertidur pulas.


"Jangan berteriak, kakak sudah bawa makanan. Ayo makan dulu," kata Putri sembari membawa adiknya untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu.


Mereka duduk, dengan Putri yang menyiapkan makanan adiknya. Dinda menatap berbinar makanan yang Putri bawa.


Nasi goreng, ayam bakar, martabak keju, dan beberapa jus buah untuknya.


"Astaga kak, ini banyak sekali," ucapnya senang.


Dengan tanpa tidak sabar, ia mengambil sepotong makanan favorit yang sudah lama tak ia makan. Martabak keju.


"Enak sekali," cicitnya dengan senang.

__ADS_1


Putri menganggukkan kepalanya setuju, ia adalah martabak langganan ayahnya dulu. Mungkin selama hidup Dinda belum pernah mencobanya, karena dulu waktu keluarganya masih kaya, Dinda masih terlalu kecil.


"Makanlah, ini semua untukmu," jawabnya dan diangguki antusias oleh Dinda.


Remaja cantik itu menghabiskan setengah kardus martabak itu sendiri. Lalu ia lanjut makan 1 masih penuh dan ayam bakar seekor tanpa sisa.


Putri menggelengkan kepalanya menatap Dinda takjub, benar-benar luar biasa adiknya ini.


"Eh maaf kak, aku lupa sisain bagian buat kakak. Nasi sama ayamnya udah habis," cicitnya sedih setelah mengetahui kesalahannya.


"Kakak sudah makan tadi kok," jawabnya cepat.


Dinda menundukkan kepalanya dalam, dan menggigit bibir bawahnya agar tak menangis menatap sang kakak. "Bohong," lirihnya.


Kakaknya itu memang selalu seperti itu, jika di tanya sudah makan selalu akan menjawab sudah. Jika di tanya ada uang atau tidak, akan selalu menjawab 'kamu tenang saja'. Putri memang sama sekali tak mau membebankan sang adik.


Karena baginya membagi masalah keuangan keluarga dengan Dinda, hanya akan menambahi beban pikiran adiknya itu.


"Mana mungkin kakak bohong sama Dinda, kakak sudah makan bersama dengan dokter Abraham tadi," ucapnya jujur.


Mata Dinda yang semula sayu langsung melotot kaget dengan ucapan sang kakak. "Kakak berkencan dengan dokter itu ?" tanyanya dengan mata melotot kaget.


Dengan cepat, Putri memukul pelan kepala sang adik sembari mendengus keras. "Kalau ngomong jangan sembarang, Din!" jawabnya kesal.


Wanita itu menyenderkan tubuhnya kesabaran sofa sembari memejamkan matanya. Sehari berjalan-jalan memutari Mall sampai sore ternyata benar-benar melelahkan untuknya sekarang.


Tapi kenapa dulu, itu adalah pekerjaan paling menyenangkan untuknya ? Apa karena di temani oleh sang mantan pacarnya dulu ?


Putri menggelengkan kepalanya untuk mengusir wajah tampan mantan kekasihnya itu dalam pikirannya. "Si brengs*k itu untuk apa aku masih mengingat wajahnya....." batinnya geram.


Ia berdiri dari duduknya untuk duduk lebih dekat dengan sang kakak. Tangannya terangkat untuk menyentuh rambut indah milik kakaknya. "Astaga ini benar-benar wangi, lembut, dan tampak sangat bercahaya kak!" ucapnya lagi.


"Kalau dilihat-lihat, rambut milikmu yang telah di warnai kecoklatan ini benar-benar membuatmu terlihat seperti bule, kak!" sambungnya semangat.


Putri memutar bola matanya malas dengan pujian berlebihan sang adik, meskipun ia tahu yang diucapkan oleh sang adik itu benar.


"Kakak tadi itu hanya makan malam biasa dengan dokter Abraham, karena memang salah satu teman dokter Abraham tuh sih dokter Rio berulang tahun, jadi kakak diajak ikut," jawabnya mencoba menjelaskan pada sang adik. "Dan untuk penampilan baru kakak ini, kakak merubahnya karena desakan pekerjaan!" sambungnya cepat.


Putri memasukan sepotong martabak keju kedalam mulutnya. Cape juga ternyata berbicara pada remaja yang hanya tahu soal cinta ini.


"Kenapa kakak gak jadian aja sih ? Kalian berdua cocok tahu!" desaknya lagi.


Sungguh, entah apa yang membuat Dinda terlihat begitu bersemangat saat Putri bercerita tentang dokter Abraham.


"Kenapa kamu sangat bersemangat sekali, ha ?" tanya Putri penasaran.


Dinda tersenyum dan menatapnya malu-malu. "Gini kak, kalau sampai kamu berpacaran dengan dokter itu, maka mungkin dia akan membiayai semua biaya pengobatan Mommy. Dan juga mungkin dia akan membayar segala hutang-hutang keluarga kita kak, sama seperti yang ada di novel-novel itu," jawabnya polos dan jujur.


Putri memejamkan matanya mendengar jawaban sang adik. Ia tahu kalau saat ini mungkin adiknya telah berputus asa, sehingga hanya sampai itu yang dia pikirkan.


"Sayang, ingat kita ini berbeda kasta dengan dokter Abraham. Kita ini miskin dan dia sangat kaya, kamu tahu kan mobil sport miliknya yang harganya bisa sampai Miliyaran itu ?" tanya Putri yang diangguki oleh Dinda.


"Nah sedangkan kita, sehari-hari kendaraannya hanya menggunakan angkutan umum. Kita harus sadar diri, siapa kita. Meskipun miskin jangan pernah mau untuk dikasihani oleh orang lain," sambungnya.


Dinda menganggukkan kepalanya mengerti dan memeluk tubuh kakaknya dengan sayang. "Aku mengerti kak, maafkan aku!" cicitnya.

__ADS_1


"Iya, ingat selalu apa yang kakak katakan!" jawabnya.


Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap adiknya serius. "Din, ada hal yang ingin kakak katakan padamu," ucap Putri.


"Apa boleh jika kakak meminta sesuatu pada Dinda ? Hanya satu dan kakak berharap banyak Dinda bisa menuruti permintaan kakak," sambungnya dengan suara memelas.


"Tentu saja kak, katakan apapun permintaan kakak. Sudah pasti Dinda menuruti semuanya!" jawabnya dengan cepat dan bersemangat.


Karena ini pertama kalinya kakaknya meminta sesuatu jadi Dinda merasa di butuhkan di sini. Setidaknya dalam pikirannya ia berguna untuk sang kakak.


Putri tersenyum mendengar ucapan sang adik. "Kakak ingin bekerja di Amerika, lebih tepatnya di Las Vegas," ucapnya dengan perlahan.


Mata Dinda melotot kaget dan tidak terima dengan ucapan sang kakak. "Hah ? Untuk apa kak ? Apa kakak akan meninggalkan aku di sini sendirian ? Lalu bagaimana ? Kakak jangan bercanda sekarang ! Ku mohon!" tanyanya beruntutan.


"Dengarkan kakak, Din!"


Bukannya menurut tubuh Dinda malah menggigil, bergetar dengan hebatnya dan menangis kencang.


"Hiks...hiks...hiks...kakak tidak sayang padaku!" ucapnya pilu.


Putri dengan sigap memeluk adiknya kembali dan mencoba menenangkan.


"Tarik nafas...buang..." ucapnya beberapa kali dan di lakukan oleh Dinda. "Kakak tidak akan meninggal Dinda," sambungnya.


Setelah beberapa menit, tubuh Dinda tak lagi bergetar, dan tangisannya juga ikut reda. "Tenang sayang, kakak tidak akan meninggalkan mu seperti Ayah," ucapan itu seperti sihir untuk Dinda.


Remaja itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Putri melepaskan pelukan itu dengan perlahan. Kedua tangannya memegang kedua pipi Dinda, hingga mata mereka saling menatap dalam.


"Kakak hanya 1 bulan di sana sayang, setelah itu kakak janji akan pulang. Dalam waktu 1 bulan di sana, kakak bisa menghasilkan uang 1 milyar. Itu bisa untuk membantu biaya rumah sakit ibu," jelasnya.


Putri melepaskan tangannya dari wajah Dinda, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya untuk sang adik.


"Ini adalah uang 100 juta untuk Dinda membeli sesuatu yang Dinda suka, dan membayar tagihan rumah sakit selama kakak tidak ada di Indonesia." Ia meletakan setumpuk uang itu pada pangkuan sang adik.


Lalu ia juga menyerahkan satu kartu tipis berwarna putih kepada sang adik. "Ini simpan juga, jangan sampai hilang. Kartu ATM ini kata sandinya adalah ulang tahun Dinda, jika kakak mendapatkan uang, langsung akan kakak kirimkan kepada Dinda melalu kartu ini, jadi jangan ragu untuk Dinda membeli apapun yang Dinda suka!" sambungnya.


"Hanya sebulan, kakak berjanji hanya sebulan. Kakak akan selalu mengirim uang untuk Dinda. Kakak juga akan menghubungi Dinda setiap waktu, akan kakak catat nomor ponsel Dinda!"


"Jadi kakak mohon, izinkan kakak untuk berangkat!"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2