
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Trik Sandra yang di berikan oleh Putri lagi-lagi berhasil untuk mengelabuhi para reporter payah itu. Seperti biasa, saat mansion milik El sudah ramai dipenuhi dan dikelilingi oleh reporter, maka Sandra jika ingin keluar dari mansion harus menyediakan 1 mobil kosong dan membuat para reporter itu mengira jika dirinya yang berada di dalam mobil.
Saat dirasa para reporter itu telah menyingkir dari mansionnya, barulah beberapa saat kemudian mobil Sandra keluar dari mansion untuk menuju tempat yang ia kunjungi.
Seperti pada sore yang cerah hari ini, Sandra dan juga Putri sudah berada di dalam mobil untuk menuju hotel tempat Sandra dan Grevan akan bertemu.
Sesuai dengan rencana Sandra akan meminta bantuan Grevan untuk membantu dan sekaligus menjadi saksi saat Sandra melakukan klarifikasi di hadapan para wartawan.
Empat puluh menit berlalu, kini mobil Alphard milik Sandra sudah terparkir dengan cantik di basement hotel.
"Nyonya, silahkan di pakai kacamata, masker, topi sama jaketnya," suruh Putri sembari memberikan barang-barang itu pada Sandra.
"Terima kasih," ucapnya tulus lalu segera memakaikan barang-barang yang diberikan oleh asistennya itu.
Putri membantu Sandra memakaikan jaket, lalu segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Sandra.
"Wajahku sudah tersamarkan ? Aku tidak terlihat seperti diriku kan ?" tanya Sandra pada Putri.
Putri menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak nyonya, saya bahkan tidak mengenali anda," jawab Putri hiperbola.
Setelah yakin segera Sandra keluar dari mobilnya untuk masuk menuju pintu darurat yang berada di ujung basement hotel itu diikuti oleh Putri belakangnya.
Saat akan memasuki pintu darurat itu, Putri menengokkan kepalanya ke belakang. Lalu beberapa detik kemudian ia tersenyum miring tatkala melihat para paparazi yang memotret kearah mereka.
"Segera terbitkan berita ini, wahai paparazi...." batinnya memekik senang.
...o0o...
Sandra duduk dengan tidak tenang saat menunggu kedatangan Grevan, berkali-kali Putri menenangkan wanita itu tapi tetap saja tak bisa membuat nyonya itu tenang.
"Mungkin sebentar lagi Grevan akan datang nyonya, tenanglah," ucap Putri yang duduk di samping Sandra. Kini mereka tengah duduk di lobby hotel.
"Lama sekali si brengsek itu!" umpatnya dengan kesal. "Aku takut jika semakin lama aku duduk di sini, mereka akan menyadari jika aku adalah Sandra."
Putri menganggukkan kepalanya kecil, mengerti kekhawatiran Sandra. "Benar juga nyonya, saya takut jika paparazi datang dan memunculkan berita yang tidak-tidak. Bisa semakin panjang permasalahan ini."
"Bukan nama baik anda saja yang akan tercoreng, tapi anda kemungkinan bisa diceraikan oleh tuan, dan mungkin keluarga anda juga akan sangat membenci anda, karena sudah memalukan mereka," ucap Putri mendramatisir, wajah Putri terlihat sedih saat mengatakan itu, tapi tidak dengan hatinya yang sedang bereuforia senang.
"Tutup mulutmu, jangan membebani pikiranku!" jawab Sandra melirik Putri sinis dari sudut matanya.
Seketika Putri terdiam mendengar ucapan Sandra, namun meski begitu ia tetap senang melihat kesialan yang mendatangi Sandra secara berturut-turut.
Beberapa menit menunggu dalam keheningan terlihat seseorang yang menggunakan setelan sama seperti Sandra–menggunakan kacamata, masker dan juga jaket–mendatangi meja mereka dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Sandra, ini aku Grevan," ucap pria itu berbisik saat sudah sampai di meja Sandra dan Putri.
__ADS_1
"Kenapa kau lama sekali brengsek!" jawab Sandra yang sudah kesal setengah mati, wanita itu berdiri dari duduknya dan melototi Grevan di balik kacamata hitamnya.
"Karena kita sahabat yang banyak di ketahui oleh netizen, jadi aku terus di serang oleh wartawan. Mereka terus saja bertanya apakah aku tahu hubungan gelapmu atau tidak. Bahkan mereka juga mengelilingi rumahku!" jelas Grevan yang terlihat kesal pada wartawan.
"Baguslah jika kau juga di hantui oleh para reporter payah itu. Jadi aku ada teman, lagipula kan ini idemu! Jadi kau harus bertanggungjawab!" Sandra menunjuk tepat di wajah pria itu.
Grevan menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Baiklah, ayo bicarakan ini di tempat lain. Aku sudah membooking kamar," ajak Grevan.
Sandra menganggukkan kepalanya setuju, lalu berpamitan pada Putri. "Tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu yang buruk. Aku akan datang dalam beberapa jam lagi!"
Putri menganggukkan kepalanya mengerti, tanpa menunggu lagi Sandra dan juga Grevan segera memasuki lift untuk menuju kamar yang sudah di booking oleh pria itu.
Saat melihat nyonya sudah menaiki lift, segera Putri mengkode Nathan yang sudah Putri tahu kedatangannya sejak satu jam lalu untuk mendekat kearahnya.
"Maafkan sudah membuat kalian bertiga lama menunggu...." cicit Putri penuh sesal saat saat Nathan, Ash, dan seorang pria berpakaian formal yang Putri rasa itu adalah seorang notaris duduk di sampingnya.
"Hah..." Nathan menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya mengerti. "Tak apa, lagipula aku dulu juga pernah mengalami nasib yang sama dengan Sandra. Pasti di mansion milik Leonello ada banyak reporter ya ?" tebak El yang diangguki oleh Putri.
"Benar sekali Nath, aku dan Sandra harus menunggu hampir 3 jam untuk bisa keluar dari mansion tanpa ketahuan," jawab Putri.
Mereka terus mengobrol mengenai gosip Sandra dan bagaimana respon Leonello, dan dengan sedikit kebohongan Putri menjawab semua pertanyaan Nathan, yang menurutnya hanya basa-basi saja.
Iya, hanya basa-basi saja. Karena pasalnya Putri sangat tahu jika pria brengsek di hadapannya ini sudah tak sabar menginginkan saham miliknya.
"Ya jadi begitu Nath, aku juga tidak tahu kenapa Sandra bisa mengkhianati El. Tapi sudahlah, aku tidak perduli," tukasnya menghentikan pembicaraan yang membahas tentang Sandra.
"Ngomong-ngomong, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu dan juga Ash," ucap Putri menatap Nathan dan juga Ash dengan penuh haru.
"Tidak nyonya, bukan karena saya. Tapi ini semua adalah permintaan tuan Nathan yang prihatin dengan keadaan anda yang memprihatinkan," jawab Ash dengan cepat.
Putri tersenyum singkat lalu menganggukan kepalanya, ia menggenggam tangan Nathan yang berada di pangkuan pria itu.
Pria itu menengok kearah Ash, lalu Ash dengan sigap memberikan sekotak hadiah pada Nathan. Dan dengan segera Nathan memberikan kotak hadiah itu untuk Putri. "Untukmu," ucapnya.
Putri menatap kotak hadiah itu dengan tidak enak, tapi tetap mengambilnya sebagai rasa sopan. "Apa ini ?" Putri membuka tali kotak hadiah itu untuk melihat isinya.
Matanya membulat seketika saat melihat ada beberapa dokumen penting yang tak ia minta dari Nathan.
"Tapi aku kan tidak memintanya," ucap Putri.
"Itu adalah kartu identitas baru untuk adikmu, di sana ada pasport serta beberapa dokumen penting lain. Kamu dan adikmu bisa mengunakan itu untuk pergi ke luar negeri tanpa ketahuan oleh El." Nathan tersenyum ke arah Putri. "Anggap saja itu hadiah kecilku untukmu," sambungnya.
Grepp....
Putri memeluk Nathan dengan erat, ia senang karena mendapatkan kado itu. Bahkan ia lupa untuk meminta identitas baru untuk adiknya.
Untunglah Nathan memberikannya secara cuma-cuma.
Saat pelukan itu terlepas, sebisa mungkin Putro tak tersenyum miring kepada Nathan karena rencananya hampir berhasil. Ia memberikan tatapan terharunya pada Nathan.
"Baiklah, aku akan memberikan saham itu untukmu. Kamu sudah menyewa kamar hotel kan ?" tanya Putri.
Mata Nathan berbinar seketika mendengar kata saham, pria itu menganggukkan kepalanya cepat.
"Sudah! Ayo segera ke kamar hotel itu!" ucapnya sembari berdiri dari duduknya dengan semangat diikuti oleh Ash dan juga sang notaris.
__ADS_1
Bahkan saat Putri belum berdiri dari duduknya, pria itu sudah beranjak untuk menaiki lift. "Dasar bedebah!" batin Putri seraya berdiri dari duduknya.
Ia berjalan di belakang sang notaris untuk menuju lift.
Ting...
Pintu lift itu terbuka, mereka berempat memasuki lift, dan Ash memencet angka 5. Setelah lift itu bergerak Putri mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Ia mengetikkan sesuatu di sana.
"Kini akan menuju kamar hotel nomer berapa Nath?" tanya Putri. "Aku harus menghubungi Sandra," alibinya.
"Ah ya, kita akan ke lantai 5. Kamar hotel nomer 131," jawab Nathan cepat.
Putri tersenyum miring dan melanjutkan mengetik pada ponselnya secara cepat.
To : Leonello Alexander de Luca
EL TOLONG AKU!!!!
AKU DI SEKAP DI SINI
DAN MEREKA MENGATAKAN
AKAN MEM***PER****KO****SAKU
AKU TIDAK TAHU MEREKA SIAPA
TOLONG.....
HOTEL ATMADJA NO. 131
LANTAI 5
Terkirim.
Setelah melihat centang dua berwarna biru, segera Putri mematikan ponselnya dan memasukkan benda pipih itu kedalam tasnya.
Ia tersenyum miring memasuki kamar dengan angka 131 di pintunya. "Silahkan masuk, non," ucap Ash membukakan pintu utuk Putri.
"Terima kasih."
Putri tersenyum miring dan duduk dalam sofa di kamar hotel itu. "El sudah membaca pesanku, kemungkinan paling lama 20 menit dia akan datang ke kamar hotel ini." batin Putri.
"Mati kamu, Nath!"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA