
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Baru saja Putri sampai ke dalam mansion setelah diajak ke Mall oleh El, ia kini disuguhi pemandangan yang membuatnya setengah mati menahan tawa.
Sandra tengah duduk di sofa ruang tamu dengan rambut yang sudah acak-acakan. Jangan lupakan pakaiannya yang sudah kusut.
Putri berdehem agar tidak tertawa, "ekhem, jangan ketawa Put," gumamnya lalu berjalan menghampiri Sandra.
"Astaga Nyonya....." teriak Putri yang mengejutkan Sandra.
Sandra membalikkan badannya menatap Putri kesal, lalu kembali pada posisinya menatap dinding dengan tatapan yang kosong.
"Anda mengirimkan saya pesan sudah di lobby 3 jam yang lalu. Dan waktu saya turun ke lobby, eh nyonya malah sudah tidak ada," ucap Putri berpura-pura kesal pada Sandra. "Saya cape tau nyari nyonya sama tuan Thomas tapi tidak ketemu," adunya.
Wanita itu kini duduk berhadapan dengan Sandra. Sengaja memasang wajah melas untuk meledek Sandra.
"Oh, tadi itu anu," jawab Sandra tergagap-gagap.
"Anu ? Anu apa nyonya ?" tanya Putri lagi.
"Ck! Aku ada urusan mendadak! Lagipula kan aku sudah memberitahumu kalo pulang duluan. Salahmu sendiri yang tidak membaca pesan.
Dug...
Putri menepuk kepalanya keras, "ah, saya lupa tidak mengecek ponsel nyonya..." ucapnya sembari tersenyum.
Sandra memutar bola matanya malas, lalu meminta Putri untuk segera menyingkir dari hadapannya.
"Sana, masuk ke kamar! Aku ingin sendirian!" usirnya.
Lagi-lagi Putri memasang wajah melasnya, lalu berdiri dari duduknya. "Anda terlihat sangat stres nyonya...." ucap Putri yang melihat wajah kusut Sandra. "Kalau ada apa-apa cerita saja sama saya, saya bisa menjaga rahasia kok. Daripada nanti nyonya stres, saya takut akan mempengaruhi janin anda. Karena dia kan yang akan menjadi penerus keluarga de Luca..." Putri menekan setiap kata yang dia ucapkan.
Setelah melihat wajah Sandra menegang karena ucapannya, Putri segera pamit untuk naik ke kamarnya.
Namun baru beberapa langkah ia keluar dari ruangan keluarga yang berada di lantai dasar, terdengar suara teriakan Sandra yang membuat senyum lebar muncul pada wajah Putri.
"ARGHH!!!!! SIALAN!!!!!"
...o0o...
Jam kini sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Putri juga sudah melakukan segala kewajibannya yang harus mengurus Sandra dan juga El.
Kini waktunya dia untuk mengistirahatkan tubuhnya ini.
__ADS_1
Putri membuka kaos dan celana panjang yang dia gunakan. Lalu melepas perlahan korset yang ia pakai untuk menutupi perut buncitnya.
"Hah...leganya...." cicitnya saat melepas benda yang menyesakkan itu.
Ia berjalan ke lemari pakaian, dan mengambil gaun tidur tipis untuk tidur. Lalu tak lupa ia menghapus segala riasannya dan mencuci muka.
Setelah selesai ia merebahkan tubuhnya di ranjang, mencari posisi nyamannya, lalu tak lupa mengelus perutnya yang membuncit.
Memasuki usia kehamilannya yang ke 17 Minggu, atau 4 bulan 1 Minggu membuat Putri mudah merasakan kelelahan. Tapi beruntunnya sang calon bayi bisa diajak kompromi untuk bekerjasama dengan Putri.
Karen Putri tidak pernah sekalipun mual atau mengalami gejala-gejala hamil muda yang biasanya dialami oleh para ibu hamil. Dan lebih beruntunnya lagi adalah meskipun sudah memasuki bulan ke 3 tapi perut Putri masih belum terlihat jika dirinya hamil.
Jadi sampai detik ini El masih belum curiga. Dan Putri berharap untuk seterusnya El tidak mencurigainya.
"Tumbuh yang sehat ya, nak. Mama gak sabar mau lihat mukanya kamu, pasti mirip Mama banget," ucapnya terkikik geli. Putri sangat menyayangi anaknya.
Saat asik bermonolog dengan calon anaknya, tiba-tiba pintu kamar Putri di ketuk. Tanpa harus berdiri dari ranjang dan membuka pintu itu.
Sang tamu sudah memasuki kamar Putri dan tersenyum manis kepadanya. Sebelum ikut tidur bersama Putri di ranjang, pria itu tak lupa mengunci kamar Putri terlebih dahulu.
Cup...
El, tamu Putri itu merebahkan tubuhnya di ranjang sebelah Putri lalu mengecup singkat benda kenyal dan manis itu lalu memeluk tubuh Putri dari samping dengan erat.
"Nyonya sudah tidur ?"
"Bahkan sebelum aku masuk ke kamar, dia sudah tertidur. Sepertinya takut aku akan mengintrogasinya," jawab El dengan tangan yang tidak bisa diam.
El kan kalo bermain ganas. Kasur Putri saja sebulan bisa di ganti 3 kali karena patah....
"Put, aku mau..." bisik El sembari mengigit-gigit telinga Putri. "Kamu belakang ini selalu menolak. Aku mau!"
Putri gelagapan sekarang. Apa yang harus ia jawab ? Minggu kemarin ia sudah beralasan halangan. Kalau sekarang apa lagi ?
"Ahhh...hmmm..." Putri meringis saat El membuat tanda kepemilikan di leher jenjangnya.
Saat melihat El akan menduduki perut, Putri segera bertindak. Ia menggeser tubuhnya, hingga El jatuh di ranjang, bukan di atas perut Putri.
"Hm, berani menolaku ?" geram El marah.
"Bu–bukan begitu tuan, hanya saja–"
"Hanya saja apa, ha ?"
"Milikku sejak beberapa jam lalu terasa kram, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi ini benar-benar sakit. Aku mohon jangan dulu ya, tuan...." jawab Putri dengan memelas, hingga tanpa sadar air matanya turun membasahi wajahnya.
"Aku berjanji akan memuaskan tuan, dan segera mengatakan siap jika aku tidak sakit lagi. Aku mohon kali ini jangan melakukannya tuan...." mohon Putri lagi.
El menghela nafas panjang, lalu menarik tangan Putri dan membawa tubuh wanita itu menempel sempurna padanya.
__ADS_1
"Baiklah, besok ke dokter. Supirku yang akan mengantarkan mu! Tidak ada bantahan!" titah El tak terbantahkan.
Putri menganggukkan kepalanya cepat dan membalas pelukan tubuh El erat. "Baiklah, tuan."
Dengan lembut Putri mengelus kepala Leonello yang berada di ceruk lehernya. Lidahnya terasa gatal dengan keheningan ini. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Leonello.
"Tuan..."
"Hm," jawab El yang hampir tertidur di ceruk leher Putri.
"Bagaimana bisa tuan tahu jika nyonya Sandra hamil anak tuan Thomas ? Bisa saja kan jika itu anak tuan, karena tuan dan nyonya juga masih berhubungan dengan aktif," tanya Putri perlahan.
El tersenyum singkat\, matanya masih terpejam sembari menikmati elusan kepala yang diberikan oleh Putri. "Bagiamana bisa kamu tahu kalau aku dan Sandra aktif berhubungan ?" tanya El. "Kamu mendengar suara de****sa***han Sandra ?" tanya El menggoda Putri.
Wajah Putri memerah bak kepiting terus,"sial aku terciduk menguping aksi panas mereka!" batinnya mengerang malu.
"Ti–tidak, aku tahu karena nyonya memberitahu ku!" jawabnya cepat. "Jawab pertanyaan saya tuan, bagaimana tuan yakin jika itu bukan anak tuan ?" desak Putri.
El yang sudah hampir berjalan ke alam mimpi menjadi terbangun mendengar desakan Putri. "Aku tidak pernah membuang spe****r***ma ku di dalam Sandra. Aku selalu pakai pengaman. Aku tidak ingin memiliki anak dari Sandra\," jawab El dengan sesekali menguap karena kantuk.
Senyum lebat terbit pada wajah Putri. Jika begitu berarti ini sudah sangat fiks jika Sandra tidak mengandung anak El. "Kalau begini biar saja El yang akan menghancurkan Sandra," batinnya.
Tangannya meraba-raba nakas untuk mengambil ponselnya, lalu ia mengetikan sesuatu dalam ponselnya itu.
To : Nathan
Besok aku akan ke rumah sakit
Bisakah kita bertemu ?
Aku ingin meminta tolong padamu...
Terkirim.
Ia tersenyum memandangi ponselnya, tak perlu waktu lama Nathan membalas pesan darinya. Pria itu setuju untuk bertemu dengan Putri besok.
Putri kembali meletakkan ponselnya di atas nakas dan kembali mengelus lembut kepada Leonello.
"Sandra sudah, kini tinggal giliran Nathan. Pria itu sudah membodohi ku dan mengadu domba aku dan El. Pria itu juga sudah memanfaatkan ku untuk mengerus uang El dan diberikan padanya. Kini gantian Nathan, aku yang akan memanfaatkan mu...." batin Putri.
"Tunggu tanggal mainnya, Nath!" gumam Putri seraya tersenyum miring.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA