WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 29 - MITOS ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Pagi yang teramat cerah untuk hari ini. Matahari yang bersinar terang, burung-burung yang berkicau di taman bunga mansion ini. Lalu bunga-bunga tumbuh dengan suburnya.


Tapi hari ini begitu cerah, tidak sesuai dengan suasana hati istri sang pemilik mansion.


Sandra kini terduduk di salah satu gazebo yang ada dalam taman bunga, di belakang mansion miliknya itu.


Pandangannya kosong menatap bunga Lily yang berwarna oranye itu. Padahal ada banyak sekali macam bunga di taman bunga yang dikhususkan untuknya itu, tapi ia lebih tertarik untuk memandangi bunga Lily warna oranye.


Bunga yang terlihat sangat cantik, dan juga terkesan mahal. Namun memiliki arti yang sebaliknya.


Bunga Lily oranye menggambarkan kesedihan, kebencian, dan kekecewaan yang mendalam terdalam seseorang.


Tak terasa, sudut mata kanan Sandra mengeluarkan air mata. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju bunga Lily itu.


Angin berhembus dengan kencang, membuat rambut Sandra berterbangan disekitar wajahnya yang membuatnya nampak cantik.


Langkah kakinya berhenti tepat di satu lahan Lily yang berjumlah ratusan itu. Ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan bunga itu.


"Lily yang indah, warna sungguh tampak terlihat seperti matahari yang bersinar."


Sarah mendekatkan wajahnya ke bunga itu, dan mencium wangi bunga itu sembari memejamkan matanya.


"Kenapa harus ciptaan Tuhan yang sangat indah ini memiliki makna yang sangat menyedihkan ?" tanyanya dengan suara bergetar.


Tangan Sandra menyentuh puncuk bunga Lily itu. "Apa begitu hina-nya kamu, hingga sesuatu yang sangat cantik sepertimu harus menerima sebutan sebagai lambang kebencian ?" tanyanya lirih.


"Kamu terlalu indah untuk mendapatkan sebutan itu, terlalu menawan untuk itu. Kamu harusnya memiliki arti yang sama seperti bunga Lily warna lain. Kenapa mereka malah membuatmu menjadi simbol ketidakberuntungan ?" tanyanya lagi lirih.


Ia berdiri dari posisinya sembari berjalan kembali untuk menyusuri taman bunga miliknya ini.


Sandra tersenyum senang melihat bagaimana bunga yang ia suka tumbuh dengan baik. "Hah...." ia menghela nafas, dengan senyum di bibirnya.


"Setidaknya hanya ini hiburan yang bisa aku dapatkan. Melihat bunga-bunga ini bermekaran sudah membuatku sangat senang," ucapnya.


Kakinya berhenti tepat di bagian bunga-bunga mawar. Di sana terdapat bunga mawar merah, putih, merah muda, kuning, dan juga ungu.


"Ah cantik sekali." Sandra memetik 1 tangkai bunga mawar berwarna merah.


Ia tersenyum mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Leonello, suaminya. Dulu dirinya sangat tidak suka dengan Leonello, karena menurutnya El sangat playboy dan hanya memanfaatkan ketampanan saja untuk terkenal.


Namun saat El yang notabenenya adalah rekan kerja ayah kandung Sarah main kerumah waktu itu untuk membahas masalah kerja.


Sandra melihat sendiri dengan mata kepalanya, jika El bukan hanya pria tampan saja. Tapi juga pintar dan cerdik.


Jadi dirinya sangat yakin, jika apa yang Leonello dapatkan saat ini bukan hanya karena wajah tampannya. Tapi karena dirinya yang pintar hingga bisa membangun perusahaannya Ayahnya yang dulunya sudah bangkrut, kembali naik dan kini bangkit menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh di 3 benua yang berbeda.


Itulah yang membuat Sandra jatuh cinta pada El. Sama sekali dahulu Sandra tak berminat dengan kekayaan El.

__ADS_1


Dirinya hanya ingin hidup mendampingi pria itu selamanya, hingga salah satu dari mereka sudah tiada lagi.


Namun.....


"NYONYA SANDRAAAAA....."


"NYONYA......."


Lamunan Sandra seketika buyar saat ada beberapa orang yang memanggil namanya dengan nyaring.


Ia melihat ke kanan dan ke kiri, untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dengan wajah bingungnya itu.


Tak sengaja, ia menjatuhkan bunga mawar yang sudah ia genggam sebelumnya, untuk mencari sumber suara.


"Siapa yang memanggilku ? Ada apa ini ?" gumamnya yang merasakan ada sesuatu yang tidak enak akan terjadi padanya.


"NYONYA......"


"NYONYA SANDRA...."


Teriak mereka lagi, wajar jika mereka tak dapat melihat dimana nyonya mereka. Karena taman bunga buatan El untuk istrinya ini benar-benar sangat luas sekali.


Sementara di sana Sandra sudah tampak seperti orang gila karena melihat ke sana ke sini mencari orang yang memanggil namanya.


"Ah, pasti mereka ada di depan," gumamnya.


Ia berjalan untuk keluar dari taman itu, dengan kaki yang sedikit berlari. Perasaannya jadi tak enak. Entah apa yang terjadi saat ini.


Namun tubuhnya menegang seketika saat ada sesuatu yang jatuh tepat di atas kepalanya. Dengan tubuh gemetar ia mengangkat tangannya dan mengambil sesuatu yang hinggap di atas kepalanya.


Matanya membulat seketika melihat sesuatu yang ia pegang. Hanya hitungan detik ia memegang benda itu setelah ia lempar benda itu dengan kasar.


Setelah tenang, ia memegangi jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang. "Tu–Tuhan... pertanda apa ini ?" gumamnya.


Wajahnya sudah di penuhi oleh keringat dingin. Hei, siapa yang tak kaget jika tiba-tiba tubuh kita di jatuhi oleh bintang ? Apalagi itu adalah cicak.


Orang kuno mengatakan jika cicak adalah simbol dari kesialan. Tapi kesialan apa yang akan terjadi pada Sandra ?


Sandra menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruknya.


"Percaya pada Tuhan, pasti tidak akan terjadi apa-apa!" optimisnya.


Ia kembali mendengar namanya di panggil. Dengan segera ia kembali berjalan menuju para maid yang sejak tadi meneriaki namanya itu.


...o0o...


"Apa yang terjadi ?" tanya Sandra pada keenam maid yang menjemputnya dari taman bunga.


Mereka bertujuh berjalan menuju ruang utama, seperti yang dikatakan oleh kepala maid yang memimpin jalan mereka.


"Apa yang berkhianat, nyonya!" jawab Ruby, kepala maid itu sembari menengokkan kepalanya ke belakang.


Sandra membulatkan matanya terkejut, kakinya berjalan lebih cepat dari sebelumnya. "Astaga, berani-beraninya dia datang ke mansion milik suamiku!" desis Sandra marah.


"Kita harus segera memberikan hukuman mati padanya!"


Mereka berjalan menuju tempat dimana si pengkhianat itu berada.

__ADS_1


Dalam diam Sandra tersenyum miring. "Jika nanti Ello tahu aku berhasil menangkap penghianat, pasti dia akan bangga padaku! Dan sebagai imbalannya, aku akan meminta malam yang indah pada El!" batinnya.


Sandra mengelus perutnya yang tampak rata, dengan wajah yang masih menyunggingkan senyum. "Mama berharap, kamu segera hadir, sayang..."


"Nyonya, dia ada di dalam," ucap Ruby yang seketika membuyarkan lamunan Sandra.


Wanita cantik itu berdehem sebentar untuk menghilangkan kegugupannya.


Dengan gaya bak slow mo Sandra membuka pintu itu.


Cittt.....


Pintu itu terbuka, dengan segera Sandra masuk ke dalam ruangan itu. Matanya membulat seketika dengan apa yang di lihatnya.


Asisten pribadinya tengah bersujud tepat dibawah kaki Fred, tangan kanan El.


Dengan kaget, Sandra berjalan menuju Fred. "Selamat pagi, nyonya!" ucap Fred sembari menundukkan kepalanya.


"A–arleta ?" ucapannya dengan terbata-bata.


Fred menganggukkan kepalanya cepat. "Iya nyonya , Arleta-tangan kanan anda merupakan orang suruhan dari rival tuan. Dia telah memberikan dokumen-dokumen penting milik yayasan anda yang bekerjasama dengan tuan pada musuh tuan El," jelas Fred yang membuat Sandra semakin dibuat syok.


Wanita itu menggelengkan kepalanya tak percaya. "Ti–tidak mungkin!" jawabnya.


"Bukan hanya itu, tapi gaji anda selama 7 bulan terakhir tidak masuk dalam rekening anda, tapi masuk kedalam kantong pribadi milik Arleta."


Fred tersenyum tak enak hati pada Sandra yang kini tengah syok di sampingnya. "Dana sumbangan yang akan di salurkan untuk para penerima bantuan tidak mereka salurkan selama 7 bulan ini. Arleta membuatnya dengan sangat rapi dibantu oleh para musuh tuan," sambung Fred.


"Tadi saya sudah menelfon tuan, dia mengatakan jika sudah mendapatkan asisten untuk nyonya. Anda tidak perlu memikirkan masalah ini. Karena tuan akan membereskan semuanya. Jika nanti ada berita yang membuat nama baik anda sedikit tercemar, mohon di maklumi nyonya," ucap Fred final.


Sarah terduduk lemas di sofa empuk itu sembari memijat keningnya yang berkerut. "kenapa cobaan ini selalu saja datang kepadaku ?" batinnya.


Ia melirik Fred yang berdiri di sampingnya. "Pasti nama baikku akan rusak, mereka akan menganggap ku sebagai pemilik yayasan yang menggunakan uang sumbangan untuk kepentingan pribadi," gumamnya.


"Tadi kamu bilang El sudah memberikan ku asisten ? Siapa dia ? Kenapa tiba-tiba begitu ?" tanya Sandra beruntun.


Namun Fred menggelengkan kepalanya tak mengerti. "Saya juga tidak tahu, nyonya. Karena setiap harinya tuan bersama dengan saya tidak pernah saya melihat sekalipun, tuan memiliki rekan kerja wanita. Tapi tadi di telfon, ia memiliki orang yang cukup baik untuk bekerja dengan nyonya," jawabnya.


Sandra mengigit bibir bawahnya frustasi. "Siapa wanita itu ?" gumamnya.


Ia merebahkan tubuhnya di sofa itu, sembari menghela nafas kasar. Entah mengapa perasaannya mengatakan jika akan ada masalah yang datang lagi dan lagi.


"Semoga ini hanya firasat saja."


...o0o ...


Pada percaya mitos ga kalian ?


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2