
10 tahun yang lalu….
“Aku bersyukur banget kamu selalu ada untuk aku, makasi ya Put,” ucap seorang pria dengan seragam putih birunya dengan tangan yang menggenggam erat wanita yang beberapa bulan ini sudah mengisi rasa kosong dalam harinya-harinya.
Wanita berparas sangat cantik itu membalas senyuman pacarnya tak kalah lebar. “Aku juga bersyukur El sudah mau suka sama Putri,” jawabnya dengan lembut.
Cup…
Laki-laki itu mencium kening pacarnya dengan sangat sayang. Meskipun baru duduk dibangku SMP, namun El, nama pria itu tampak tulus mencintai Putri.
“Sebentar lagi kita akan masuk SMA, aku mau kita nanti 1 sekolah ya, El,” pinta Putri pada pacarnya itu.
Senyum kecil muncul pada wajah El. “Gak perlu kamu minta pun, kita akan tetap selalu bersama, sayang,” jawabnya. “Setelah lulus SMA nanti kita langsung nikah,” sambungnya.
Putri melototkan mata indahnya yang berwarna hazel, turunan dari Ayahnya yang merupakan warga Negara asing dari New York, lalu memukul pundak El keras. “Otaknya ih, masa udah mikir nikah. Umur kita aja baru 15 tahun,” ucapnya dengan pipi yang menggembung kesal.
Bukannya marah karena telah dipukul sang pujaan hati, El malah tertawa dan membawa Putri yang tingginya sama dengannya dalam pelukannya. “Hahahaha….”
“Aku serius tau, aku cuma mau nikah sama kamu. Only you sayang!” El menatap manik mata kekasihnya itu dalam.
Putri mengalihkan pandangannya kearah lain dengan semburat merah yang menjalar pada pipinya. “Apa sih El, masih kecil kok udah ngomong aneh-aneh!” hardiknya.
“Nih liat, aku sama kamu aja masih lebih tinggi aku sedikit!” ucap Putri sembari mengukur tinggi tubuhnya dengan El.
El tersenyum mengejek kearah Putri. “Kamu ini memang bodoh ya!” El menyentil kening Putri pelan.
“Aw…shhh…” ringis Putri kesakitan. “Sakit tau El!”
“Tentu saja sekarang kamu lebih tinggi dari aku, karena memang perkembangan wanita jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan laki-laki,” jelasnya. “Lihat saja beberapa tahun lagi, kamu sudah pasti kaget melihat berubahan tubuh ku, karena pastinya aku akan makin tinggi dan juga tampan,” sambungnya percaya diri.
Terdengar decakan yang keluar dari mulut Putri, ia menatap El tak percaya. “Sudahlah, jangan mimpi terlalu tinggi di siang bolong begini!”
Baru saja akan membalas ucapan kekasihnya itu, Naufal, teman mereka berdua datang dengan membawa tas milik Putri ditangannya. “Eh ada 2 bule pada ngumpul nih,” ejek Naufal pada dua temannya itu.
Jika Putri adalah wanita berdarah setengah Indonesia dan Amerika, maka lain halnya dengan El yang murni bukan orang Indonesia. El mengaku kedua orang tuannya berasal dari Amerika.
Putri berjalan menuju Naufal dengan mata memicing, marah. “Apa tadi kamu bilang ha ?” ucapnya galak.
Naufal menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. “Aku tadi bilang apa ya ?” tanyanya pada diri sendiri, untuk mengejek Putri.
Saat Putri sudah mendekat kearah Naufal, pergelangan tangannya digenggam erat oleh El. Putri melirik El yang juga menatapnya, laki-laki itu menggelengkan kepala pada Putri. “Apa ?” tanyanya bingung, tak mengerti maksud kekasihnya.
“Apa sih El ? Awas aku mau kejar anak itu!” tunjuk Putri pada Naufal. Ia menyentak tangannya yang digenggam El, dan segera mengejar Naufal yang berlarian menghindar dari Putri.
“Woy!! Berhenti kamu! Bilang apa tadi, ha??”
Putri terus mengejar Naufal mengelilingi kelas yang sudah kosong itu, karena memang ini sudah jam pulang sekolah. Namun karena mereka ada jadwal piket bersama, jadi mereka harus terima membersihkan seluruh kelas sebelum pulang ke rumah.
Suara tawa dari sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu menggema dalam kelas yang kosong itu. Bahkan bangku sudah tak sejajar lagi karena didorong oleh mereka berdua.
Mereka tertawa lepas, tanpa memperdulikan ada sepasang mata yang menatap mereka berdua tajam
Rasa sakit itu datang lagi, dan selalu terasa sakit. El menyentuh dadanya yng berdenyut nyeri, entah ini nyata atau hanya halusinasinya saja. Tapi setiap Putri bermain, atau bahkan berbicara saja dengan laki-laki lain, El akan merasakan sakit hati yang luar biasa.
“Tuhan, seberapa besar rasa cintaku pada Putri ?” gumam El yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
...o0o...
“Eh ada nak El, masuk sayang,” ucap lembut wanita paruh baya, tak lupa melemparkan senyum manis untuk kekasih dari putrinya itu.
Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan mempersilahkan El masuk. Sesuai instruksi Ibu dari Putri, ia duduk di sofa sembari menunggu kekasihnya datang. “Mau minum apa kamu, sayang ?” tanya Ibu Putri.
“Gak usah ma, El mau ajak Putri dinner,” jawabnya ramah. “Yaudah tunggu sebentar ya, kayaknya dia masih siap-siap.”
El menganggukkan kepalanya mengerti, kekasihnya itu memang selalu seperti itu. Lelet, tidak disiplin dan sangat menyebalkan. “Udah biasa kan, ma…” jawabnya sembari tersenyum jahil.
Ibu Putri dan El tertawa kecil sembari mengingat tingkah buruk anak perempuan itu. “Gak tau deh itu sifat jeleknya turun dari siapa, padahal Mama, sama Daddy-nya Putri gak pernah kayak gitu,” gerutu wanita paruh baya itu heran.
“Apapun dia, aku akan tetap suka, ma!” jawabnya cepat.
Karena gemas, ibu Putri mengacak rambut El sayang. “Masih kecil juga udah cinta-cintaan aja,” ledeknya dan dibalas senyuman tampan. “Ya sudah mama mau lanjut masak buat makan malam ya, sebelum Daddy-nya Putri datang,” sambungnya sembari berlalu menuju dapur.
“Iya, ma…”
Untuk panggilan itu sendiri, Ibu Putri yang terus memaksa El untuk memanggilnya dengan sebutan itu. Awalnya tentu saja Putri melarang keras karena malu, namun El tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
__ADS_1
Diberi lampu hijau oleh calon mertua ? Ya sudah pasti El menerimanya dengan senang hati. Ia memanggil Ibu Putri sama seperti Putri memanggil Ibunya.
Namun untuk Ayah Putri, El sungkan untuk meminta lebih. Karena mereka berdua memang tak sedekat itu.
“Eh maaf, kamu nunggu lama ?” tanya Putri sembari menuruni anak tangga dan berjalan menuju kekasihnya dengan tergesa-gesa.
El menahan nafasnya saat melihat kekasih hatinya itu turun dari tangga dan menghampirinya. “Cantik, benar-benar cantik. Aku bersumpah tidak akan melepaskan mu dari genggamanku. Sampai mati!” batinnya tanpa sadar.
“Mau langsung berangkat ?” tanya Putri menyentuh tangan El.
Berulangkali El mengedipkan matanya untuk menyadarkannya dari lamunan. “Ehm, apa sayang ?” tanyanya bingung.
Putri melototkan matanya kesal, dan mencubit perut El pelan. “Hust,” ia meletakan jari telunjuknya pada depan bibirnya dengan mata yang masih melotot. “Jangan panggil sayang, nanti mama dengar! Malu!!”
El menahan tawanya melihat pacarnya itu tampak panik. Ia menarik tangan Putri cepat hingga terduduk diatas paha El. Ia melingkarkan tangannya diperut Putri erat, dan mengunci tubuhnya.
“Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Put!” ucap El sensual ditelinga Putri.
Tentu saja Putri memberontak dalam pelukan El, meski mereka berdua sering berpelukan tapi entah mengapa yang satu ini berbeda. “El jangan begini, lepas!” bisik Putri namun penuh penekanan.
“Janji dulu kalo kamu gak bakalan pernah ninggalin aku seumur hidup! Janji kalo kamu bakal selalu ada untuk aku, janji kalau dihatimu kamu tidak ada yang lain selain aku, dan kedua orangtua kamu!” bisik El lagi pelan namun mengandung makna yang sangat dalam.
Dan semakin Putri memberontak, maka pelukan diperutnya akan semakin kencang dan bertambah kencang.
“Uhukkk… El lepasin sakit,” pinta Putri memelas. “Janji dulu, sayang…”
Karena sudah tak tahan akhirnya Putri pun menyerah. “Iya aku janji kalau aku bakal−“
“Ehem…” suara berat pria membuat lilitan tangan El pada perut Putri terlepas seketika.
“Da-daddy…” ucap Putri dengan terbata-bata.
El berdiri seketika saat Putri juga sudah berdiri dari pangkuannya. Ia berjalan kearah Ayah dari kekasihnya itu. “Selamat sore, om!” sapa El dengan mengulurkan tangannya kearah Ayah Putri.
Mata mereka saling bertatapan beberapa detik, sebelum Ayah Putri memutuskannya terlebih dahulu. “Ya,” jawabnya singkat dan membalas jabatan tangan itu.
Ia berjalan melalui El, untuk memeluk anak pertamanya itu. “Sore sayangnya Daddy…” sapanya riang sembari mencium kening putrinya.
“So−sore Dad…” jawab Putri gugup.
Ayah Putri meneliti penampilan anaknya dari atas hingga ke bawah. “Mau kemana kamu sayang ? Kenapa rapi sekali ?” tanyanya.
Ayah Putri melirik sinis kearah El. “Jangan pulang terlalu malam, dan ingat usia kalian baru 15 tahun, jangan melakukan hal yang akan merugikan diri kalian sendiri nantinya.”
“Om tenang saja,” jawab El santai.
Dan tentu saja itu meningkatkan kebencian Daddy Putri kepada El. Dan El tahu itu, dengan menggenggam tangan Putri, ia tersenyum singkat kearah Daddy Putri wajah mereka lagi-lagi bertatapan.
"Jika tidak ingat kau adalah ayah dari kekasih ku, sudah pasti aku akan membunuhmu saat ini juga. Sampai mati aku tidak akan melupakan orang-orang yang telah membunuh kedua orangtuaku!" batin El menatap Daddy Putri dengan tajam.
Ia tahu jika pria brengsek itu adalah seseorang yang membunuh kedua orang tuannya.
...o0o...
Kini mereka berdua sudah berada dalam mobil milik El yang dikendarai oleh supir pribadi El. “Kita mau makan dimana sih El ? Kok aku disuruh pakai dress ?” tanya Putri bingung karena memang pasalnya mereka jika berkencan paling mahal pasti hanya makan di fastfood.
“Kamu lupa sayang hari ini tanggal berapa ?” tanya El dengan wajah muram miliknya, padahal beberapa detik sebelum menanyakan itu wajah El terlihat sangat senang.
Dengan cepat, dan tak mau membuat suasana hati El semakin memburuk ia membuka ponselnya. Dan matanya membulat seketika.
Tanggal 30….
“Tanggal 30, El…” cicitnya pelan menatap El takut-takut. “Terus ?” tanya anak laki-laki itu malas.
Putri tersenyum lebar menatap El dan memeluk tubuh kekasihnya itu dari samping. “Selamat hari jadi yang ke-6 bulan, sayangnya Putri…” bisik Putri malu-malu.
Takut didengar oleh sang supir.
Niat hati ingin marah, namun saat mendengar Putri menyebut dirinya dengan sebutan ‘sayang’ entah pergi kemana rasa marah itu.
Dengan segera El membalas pelukan Putri sebelum kekasihnya itu melepaskan pelukannya. “Selamat hari jadi yang ke e−“
Kring….kring…kring…
Putri dengan cepat melepaskan pelukannya, tapi tidak dengan El. “Siapa yang menelfon ?” tanya El kesal.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya, Putri menganggkat panggilan telfon itu.
“Halo ?”
“…..”
“Astaga aku lupa, untung kamu ingatkan aku!”
“…..”
“Baik, kamu tenang saja. Besok aku jamin gak bakalan telat dan aku juga akan membawa hadiah yang paling besar untuk adik kamu!” jawabnya dengan bersemangat diujung telfon dan justru membuat El kesal.
“…..”
“Oke, sampai jumpa Naufal…”
Deg…
Jantung El berdebar kencang. Lagi dan lagi rasa sakit ini. Rasa sakit yang sama saat Putri berdekatan dengan laki-laki lain.
“Kenapa ?” tanya El dingin.
“Besok adiknya Naufal ulang tahun aku sampai lupa, untung tadi Naufal telfon buat ingetin aku. Kamu ingatkan adiknya Naufal yang pipinya chubby itu, kemarin waktu aku ketemu beli kinderjoy di IndoApril dia itu ik−“
Panas rasanya kuping El mendengar seluruh cerita Putri. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari tubuh kekasihnya itu, dan duduk sedikit menjauh.
Berulangkali ia menghela nafas untuk meredakan emosi yang tiba-tiba menguasai tubuhnya.
“Gimana ? Nanti kamu mau temenin aku beli kado untuk ad−“
“Terserah.”
...o0o...
Mereka makan dalam hening, apalagi El. Ia sama sekali tak mengalihkan pandangnya dari kekasihnya itu.
“Kenapa ?” tanya Putri risih.
El menghela nafas panjang dan kembali menatap Putri. “Kado untuk adiknya dia biar nanti anak buah Daddy buat beli. Kamu tinggal sebut mau beli kado apa ? Boneka ? atau apa ?” tanya El pelan, berusaha membujuk Putri.
Putri menatap bingung kekasihnya. “Kenapa ? Kamu gak bisa anter aku ? Sibuk ya kamu ? Kalo itu alesannya, aku beli kalo berdua sama adik aku aja gak apa-apa,” jawab Putri tersenyum manis sembari melanjutkan makannya di restoran yang sangat mewah itu.
“Bukan itu, aku cuma gak suka kamu dekat sama cowok lain selain aku,” jujur El.
“Plis deh, kamu lebay banget. Apapun alasannya besok aku tetap mau datang ke acara ulang tahunnya adik Naufal.”
El mengetukkan jarinya diatas meja makan, beberapa menu makanan yang dibuat oleh chef ternama itu sama sekali tak membuatnya berselera.
“Kamu pacar aku, kan ?” tanya El. Putri memutar bola matanya malas. “Hm,” jawabnya singkat.
Terdengar suara decakan dari mulut El. “Jawab yang jelas, pacar atau bukan ?” tanya anak remaja itu. “Iya-iya,” jawab sang kekasih malas.
“Kamu harus turutin apa kataku !” ucapnya memerintah.
Namun namanya juga remaja yang masih labil, Putri tentu menolak permintaan El dengan tegas. Dan ya mereka beradu argumen, dan bertengkar di dalam restoran itu. Untung El, masih bisa berfikiran dingin dan tidak melanjutkan perdebatan mereka.
“Ok, fine. Terserah kamu saja,” jawab El menyudahi perdebatan mereka. “Tapi jika kamu memang benar-benar datang ke acara itu aku pastikan dia tidak akan selamat,” sambungnya.
“Apa sih, sok banget. Dasar bocah!” seru Putri meledak kekasihnya itu.
Apa tadi El bilang ? Tadi El sedang mengancam Putri ? Yang benar saja, tinggi El saja masih dibawah Putri. Memang apa yang bisa dilakukan remaja laki-laki itu.
“Kamu gak percaya sama omongan aku ? Aku benar-benar tidak suka kamu berdekatan dengan pria lain, dan aku selalu berdiam diri karena aku menghargai kamu. Tapi semakin kesini, kamu menjadi terlalu bebas, dan menghargai aku sebagai pasangan kamu,” jelas El.
Putri mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas, ia menatap El kesal. “Kamu barusan bilang ingin mengakhiri perdebatan ini, sekarang kamu mulai lagi.”
“Ok, ayo kita lanjutkan.” Putri menatap mata El dalam. “Kamu tahu usia kita berapa kan ? Tolong jangan serius dalam hubungan ini. Kita pacaran kan untuk main-main saja, dan tolong jangan berlebihan karena itu sedikit memuakkan untukku. Kamu bilang aku gak menghargai kamu ? Oh tolonglah….” Remaja itu tertawa menatap kekasihnya yang menampilkan ekspresi terkejut.
“Memang kamu siapa ? Kamu bukan orang tuaku, bukan keluargaku, juga bukan suamiku. Kita hanya remaja 15 tahun yang terikat hubungan pacaran, itu saja tidak boleh. Tolong sekali lagi jangan berlebihan!" tekan Putri.
Tangan El terkepal dibawah meja, dengan urat tangan yang sudah menonjol. Yang berarti jika remaja laki-laki itu benar-benar sudah emosi.
“Main-main ? Kamu pikir hubungan kita ini main-main ?” tanya El dengan suara bergetar dan Putri menganggukkan kepalanya cepat dengan mulut menggembung karena mengunyah makanan. “Aku tulus Put, tulus.”
El menelan ludahnya beberapa kali, air matanya ingin jatuh saat ini juga. “Asal kamu tahu saja, kita tidak akan pernah putus. Tidak akan pernah. Aku mencintai kamu sangat, sangat.”
__ADS_1
“Jadi hapus saja pikiran main-main mu itu, karena hanya aku yang akan menikahi kamu. Dan untuk melanjutkan ucapanku tadi, jika ada orang lain yang akan mendekati kamu, maka pria itu akan lenyap dari dunia ini.”
“Pegang ucapanku!” final El.