
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Sepasang manusia berbeda kelamin itu saling memeluk dengan debaran jantung yang menggila akibat aksi liar mereka beberapa jam lalu.
Keluh keringat membasahi sekujur tubuh mereka, namun tidak rasa jijik atau apapun itu. Mereka berdua terlihat sangat menikmati aktivitas panas dan liar mereka.
"Lusa kita cek ke dokter ya sayang, kita cari tahu apa ada proses pembuahan yang berhasil menempel sama dinding rahim kamu atau tidak," ucap sang Pria sembari bermain-main dengan anak rambut sang wanita yang menghalangi wajah cantiknya itu.
Sang wanita menganggukan kepalanya cepat. Dan menatap pria yang kini memeluknya itu dengan senyum harunya.
"Sandra gak tahu lagi harus bilang apa sama kamu, tapi Sandra senang banget karena kamu udah mau bantu Sandra," ucapnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Sang pria menganggukkan kepalanya kecil dan menghapus dengan lembut air mata yang mengalir pada wajah cantik Sandra.
"Setiap malam Sandra selalu menangis, Sandra ketakutan. Yang Sandra takutkan adalah El akan pergi dan meninggalkan Sandra....hiks....hiks...." sambung Sandra dengan tangisannya. "Jika....hiks..hiks...Sandra punya anak, mungkin hanya karena anak ini El tidak akan meninggalkan Sandra..." cicitnya lagi dengan sesegukan.
"Apapun itu aku akan membantumu sayang, lagipula aku juga sudah sangat lama menginginkan seorang anak," jawabnya sembari tersenyum miris.
"Ta–tapi aku takut...hiks...hiks... jika El mengetahui fakta ini, dia pasti akan membunuh anakku dan menceraikan..."
Sang pria menggenggam tangan Sandra erat, hingga mata mereka berdua saling bertatapan. "Tidak ada yang berani untuk membunuh anak dari penerus keluarga de Luca, Sandra. El pasti tidak akan mengetahui faktanya jika kamu tidak memberitahunya. Aku berjanji padamu untuk menjadikan anak ini sebagai penerus dari El."
Sandra tersenyum haru mendengar ucapan sang pria, lalu melepaskan genggaman tangan mereka dan memeluknya erat. Menyalurkan rasa terima kasih yang begitu besar, hingga Sandra tak bisa mengucapkannya.
Sama halnya dengan sang pria, ia juga tak bisa menantikan anak Sandra dan juga El, eh maksudnya adalah anaknya.
Mereka melepas pelukan mereka setelah beberapa menit berpelukan. Tak lama mereka saling tatap dan saling ber***cu**mbu.
Sang pria mengabsen satu persatu gigi Sandra dengan lidahnya secara lihai. Lalu menggendong tubuh Sandra seperti koala.
"Kita lanjutkan di kamar mandi," ucapnya menggoda Sandra dengan senyum kecil.
...o0o...
Seorang wanita berbaring di atas ranjang rumah sakit yang sudah ditutup oleh hordeng pembatas antara sang dokter beserta pasien dan juga seseorang yang menemani pasien.
Perut dari wanita itu sudah diolesi oleh sel khusus, sehingga dengan mudah dokter kandungan itu menggerakkan alatnya untuk melihat kondisi dalam rahim seorang wanita.
Dokter itu tersenyum kecil tak kala menemukan sesuatu yang ia cari. "Nah ini dia," cicitnya senang.
Jantung Putri berdebar kencang, menunggu lanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh dokter itu.
"Bagaimana, dok ?" tanya Nathan dari luar gorden. Laki-laki itu duduk di depan ruang kerja dokter yang menampilkan layar USG.
"Sudah terlihat jelas kalo ini."
Putri menatap layar USG itu dengan perasaan yang menentu. Di sana bisa ia lihat ada gumpalan yang cukup besar. Entah itu bayi atau mungkin errr–kista?
"Maksudnya, dok ?" tanya Nathan lagi.
__ADS_1
"Sudah ada janin yang hidup dalam perut ini." Mata sang dokter terus saja menatap layar USG itu dengan senyum kecilnya. "Ayo kita dengar seberapa kencang detak jantungnya."
Dokter itu mengotak-atik alat USG itu sebelum akhirnya kembali menggerakkan alat itu pada perut Putri.
Dug....dug.....dug.....
Putri menahan nafasnya saat mendengar untuk yang pertama kalinya suara detak jantung lain yang ada pada dirinya.
Ia membekap mulutnya terkejut, tak pernah ia sangka seumur hidup jika dirinya akan hamil dan menjadi seorang ibu.
Sungguh sangat luar biasa baginya.
...o0o ...
"Kandungan anda sudah berusia 7 Minggu, itu berarti 2 bulan kurang 1 Minggu jika saya menghitung dari tanggal terkahir anda mengalami menstruasi," ucap sang dokter pria paruh baya itu menatap Putri dan Nathan secara bergantian.
"Sebelum saya menjelaskan lebih jauh, saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan anda."
Putri menganggukkan kepalanya cepat, dan membalas uluran tangan dokter itu dengan rasa haru yang masih menyelimutinya.
Ia melirik ke arah Nathan yang juga kini tersenyum padanya. Tanpa sadar Nathan memeluk tubuh Putri dari samping dan mengucapkan selamat pada rekannya itu.
"Selamat atas kehamilan mu," ucap Nathan dengan tulus.
"Terima kasih, Nath!"
Sang dokter yang melihat sepasang manusia itu bahagia, juga ikut bahagia. "Meskipun istrimu yang mengandung, tapi kehamilan ini dianggap kehamilan berdua, karena kalian sepasang suami-istri. Jadi saya ralat ucapan saya tadi yang memberikan selamat pada istri Anda saja, saya akan menggantikannya dengan, mengucapkan selamat kepada kalian berdua," ucap sang dokter itu.
Nathan dan juga Putri saling melirik lalu tersenyum canggung. Rupanya dokter ini mengira jika Nathan adalah suami Putri.
Baru saja akan membalas cepat tuduhan yang di berikan dokter padanya. Nathan lebih dulu menjawab dokter itu.
Putri melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar, baru saja ia ingin protes tapi Nathan mengkodenya untuk tetap diam.
"Berakting lah di depan dokter ini," bisik Nathan, setelah itu menjauhkan wajahnya dari telinga Putri.
Putri mendengus kesal, lalu tatapannya beralih pada dokter yang memberikannya foto USG calon bayinya.
"Lihatlah itu, calon anak kalian."
Tak bisa lagi Putri menahan tangisannya, lagi-lagi wanita itu menangis karena senang saat melihat rahimnya yang sudah terisi oleh makhluk ciptaan Tuhan yang membuatnya menjadi wanita sempurna.
"Ukuran janin anda yang baru 7 minggu mencapai 1.39 cm. Bentuk janin 7 minggu juga masih sangat kecil, yakni kira-kira sebesar buah ceri."
Nathan tertawa kecil mendengar ucapan sang dokter, "buah ceri ? Berarti bayi El masih berbentuk seperti kelereng dong ? " batinnya membayangkan.
"Sat ini lengan kanan dan kaki janin sudah mulai berbentuk. Lubang hidung juga mulai ada, mulut, lidah serta mata yang sudah mulai berbentuk. Pada Minggu ini posisi ginjal pada janin anda juga sudah mulai bekerja, lalu hati dan pankreas mulai terbentuk," jelas dokter sembari melihat foto USG yang sudah tercetak dalam layar komputernya. "Dan tali pusarnya juga mulai ada."
"Sepertinya makanan yang anda konsumsi benar-benar sangat bergizi dan berprotein tinggi. Jarang-jarang ada bayi 7 Minggu yang sudah sesempurna ini, saya ucapkan selama nona." Putri menganggukkan kepalanya senang mendengar ucapan sang dokter.
Tanpa sadar ia mengelus lembut perutnya. Sungguh tidak sabar sekali menunggu 9 bulan untuk menggendong bayi mungil ini.
"Baiklah, apa pertanyaan ?" ucap sang dokter sembari menuliskan resep pada selembar kertas.
Putri dan Nathan saling melirik lalu menggelengkan kepalanya cepat kepada sang dokter. "Tidak ada, dok.."
Dokter itu memberikan selembar kertas yang sudah ia tuliskan resep obat kepada Putri. "Itu adalah obat dan juga vitamin yang harus kau tebus."
__ADS_1
"Baiklah dok."
Mereka berdua berdiri dari duduknya, diikuti pula oleh sang dokter. "Oh jangan lupakan satu hal." Dokter itu tampak menggantungkan kalimatnya dan tersenyum misterius kepada Nathan dan juga Putri.
"Boleh saja jika ingin berhubungan, tapi jangan kasar dan jangan menindih perut. Karna itu bisa membuat kontraksi dan janin ikut keluar," sambung sang dokter yang membuat wajah Putri memerah dan Nathan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu.
"Ba–baiklah dok, hm..."
"Kami permisi dulu..." ucap Nathan lagi lalu keluar dari ruangan itu.
...o0o ...
Ting....
Ponsel Putri berbunyi, kini mereka berjalan menuju mobil Nathan sehabis keluar dari apotik yang berada di rumah sakit itu untuk menebus obatnya.
"Siapa ?" tanya Nathan memberhentikan langkah kakinya menatap Putri penasaran.
Segera Putri mengeluarkan ponsel dari tasnya dan melihat layar ponselnya itu. "Dari Sandar," jawabnya cepat.
Sandra de Luca
Aku sudah selesai
Dimana kau ?
Mata Putri membulat sempurna membaca pesan itu, segera ia memberitahukan pada Nathan dan juga Ash. Lalu mereka berlari kecil untuk memasuki mobil.
Mobil itu bergerak pergi meninggalkan halaman rumah sakit, untuk pergi kembali menuju hotel lepas anda berada.
Senyum Putri sama sekali tak lepas saat mengingat foto USG dari anaknya. Sesekali ia tertawa kecil sembari mengelus perutnya yang nampak membuncit.
Nathan sedari tadi memperhatikan Putri yang nampak bahagia, ia pun juga sama. Ikut bahagia, karena dengan anak itu ia bisa menghancurkan El.
Tanpa sadar Nathan tersenyum miring, tangannya terangkat untuk melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekiknya.
"Hm, Put...." panggil Nathan.
"Ya ?"
"Jangan lupakan perjanjian kita, aku ingin saham milik Leonello setengahnya."
Putri terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya mantap kepada Nathan.
"Setelah mendapatkan saham itu, aku akan membantumu keluar dari mansion Leonello, dan tidak akan membiarkan pria itu membunuh anakmu. Aku janji akan hal itu."
"Tapi aku ingin saham itu dulu, sebelumnya," sambung Nathan mantap. Pria itu tersenyum saat lagi-lagi Putri menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapannya.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE+GIFNYA KAKAK 🥺
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA