
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Bugh....
Bugh....
Sandra memukul-mukul dada bidang Grevan berulangkali karena kesal, wanita itu menangis tanpa henti di hadapan Grevan.
Saat ini dirinya berada di salah satu kamar hotel yang sudah di booking oleh Grevan. Sengaja memang mereka bertemu di hotel karena takut akan ada paparazi yang akan semakin menggoreng-goreng berita Sandra dan akan merembet kemana-mana gosip Sandra.
Melihat Sandra yang seperti tengah kesetanan, Grevan hanya mampu diam saat dihujani oleh pukulan-pukulan kecil Sandra.
Karena ia merasa ini adalah salahnya.
"Ini semua karena kamu Van!"
"KARENA KAMU!!" bentak Sandra sembari menunjuk wajah Grevan dengan dirinya sangat sudah sangat berantakan.
Rambutnya acak-acakan, keringat membasahi wajahnya, dan air mata yang merusak make up yang ia tengah kenakan.
"Aku tahu ini adalah rencanaku, tapi tidak bisakah kamu introspeksi diri sedikit ?" tanya Grevan.
Sandra menatap nyalang Grevan, "maksud kamu apa ? Siapa yang punya ide gila untuk menggoda Thomas ?" sahutnya gak terima.
Grevan menghela nafas kasar lalu menatap Sandra dengan lembut. "Dari awal sudah aku bilang ini beresiko kan, tapi karena kamu memang sudah sangat ingin memiliki anak dari El, hanya itu yang bisa aku lakukan."
"Lagipula, apa kamu lupa dengan perkataanku waktu itu?" tanya Grevan.
Flashback on...
"Aku gak mau tahu Van! Dokter sudah bilang aku subur, dia mengatakan jika aku tidak memiliki masalah apapun, yang bisa menjadi penghambat ku untuk memiliki anak!" ucap Sandra berapi-api.
Beruntung di ruangan VVIP restoran milik Grevan hanya berisi mereka berdua, jadi mereka bebas mengatakan apapun tanpa takut di ketahui oleh orang lain.
"Sebenarnya ini susah San, kamu mengatakan jika El jarang pulang ke mansion. Dan jika pulang pria itu akan langsung menuju ruang kerjanya, terkadang juga tidur di ruang kerja. Apa tidak bisa kamu sedikit menggoda El untuk mengajaknya bermain ?" tanya Grevan.
Kobaran berapi-api Sandra perlahan-lahan meredup, ia memandang Grevan dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Dia seperti tidak minat pada tubuhku, dia lebih memilih bermain dengan wanita lain daripada dengan istrinya yang sudah menunggu di rumah."
Grevan sungguh kasian pada Sandra, tapi jika seorang Leonello sampai mengabaikan istrinya bukankah berarti permainan Sandra yang tidak menyenangkan bagi El.
"Maaf sebelumnya San, memang kamu kalau di rumah apa tidak pernah tampil se***k**si di hadapan suamimu ? Atau mungkin saat berhubungan kamu sering mengeluh ?" tanya Grevan perlahan-lahan, ia takut menyakiti Sandra.
__ADS_1
Sandra terlihat berfikir sebentar, lalu meringis menatap Grevan malu. "A–aku kalau di rumah memakai piama tidur bergambar kartun. Lalu jika bermain aku tidak tahu apakah menyenangkan bagi El atau tidak. Karena kadang saat berhubungan aku tertidur," jawabnya malu-malu.
"Pantas saja," gumam Grevan tanpa di dengar Sandra.
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu menatap Sandra dengan pandangan yang tak bisa di artikan. "Aku tahu caranya...."
Sandra menatap Grevan penasaran, namun beberapa detik selanjutnya ia tersenyum malu. "Apa kamu mau menjadi ayah dari calon anakku ? Kamu ingin bermain denganku sampai aku hamil?" tembak Sandra.
Mata Grevan serasa ingin copot saat mendengar ucapan Sandra, ternyata wanita ini bi***na***l juga.
"Tidak San, jika aku yang menghamili mu maka besar kemungkinan anaknya akan mirip denganku. Maka dari itu kamu harus berhubungan dengan salah satu dari keluarga El," jawab Grevan dengan senyum miringnya.
Sandra mengedipkan matanya beberapa kali, "siapa ?" tanyanya.
"Thomas," jawab Grevan cepat. "Dia adalah sahabat dari pamanku, mereka biasanya akan bermain golf bersama saat weekend. Jika kamu mau aku bisa mengatakan dan merayu Thomas. Tapi jika tidak mau aku tidak memaksa, dan kemungkinan kamu bisa hamil anak El akan kecil," sambungnya.
"Tapi perlu diingat San, ini sangat beresiko, kamu bisa saja ketahuan dan mungkin akan di ceraikan oleh El dan satu hal lagi. Jangan salahkan aku jika kamu ketahuan, karena ini semua adalah permintaan mu!"
Sandra menelan salivanya susah payah, ia menatap Grevan takut-takut. "Baiklah aku terima," jawabnya.
Flashback off
Sandra menutup wajahnya saat mengingat kembali percakapan yang sangat menjerumuskannya itu.
Air mata yang semula hilang, kini kembali membasahi wajah cantik Sandra.
"A–aku harus apa Van ? Ini semua adalah salah paparazi itu! Gara-gara mereka aku jadi ketahuan!" ucap Sandra tak terima.
"Aku akan membantumu, berhentilah menangis..." pinta Grevan. "Tapi maaf, aku hanya bisa membantu sedikit, jadi jangan bertumpu padaku, carilah alasan yang tepat saat klarifikasi nanti!"
...o0o...
"JAHAT KAMU THOM!!!" teriak seorang wanita dengan tubuh bergetar.
Diusinya yang sudah menginjak 47 tahun ini, ternyata Tuhan masih memberinya banyak sekali cobaan dalam kehidupan rumah tangganya.
Kini Risa–istri Thomas, berada di sudut kamar mereka sembari menangis histeris.
Siapa yang tak akan histeris, saat pertama membuka mata dan melihat handphone, ia dikejutkan dengan kabar perselingkuhan suaminya dan wanita lain.
Apalagi wanita itu adalah istri dari keponakan mereka sendiri. Malu di campur sakit hati kini yang Risa rasakan.
"BERHENTI MENANGIS SA!!!" teriak Thomas pada akhirnya saat sudah lama berdiam diri.
Tampaknya Thomas juga sangat syok saat mendengar berita perselingkuhannya itu.
Pria itu berjalan menuju istrinya dengan tampang yang tidak bersahabat. Ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan istrinya.
Dengan kuat, tangan Thomas mencekram bahu Risa. "IYA!! MEMANG AKU SELINGKUH! DAN ANAK YANG DI KANDUNG OLEH JA***L**A**NG ITU ADALAH ANAKKU!" Dengan lantang Thomas mengakui itu di hadapan istrinya.
Tak di sangka Thomas ikut menetaskan air matanya di hadapan sang istri untuk yang pertama kalinya selama mereka berdua menjadi seorang suami-istri.
__ADS_1
Dengan tubuh bergetar, Risa menatap mata suaminya itu dengan penuh kesedihan yang mendalam. "Apa salahku Thom ? Apa salah wanita tua ini ? Demi Tuhan, aku tidak pernah berkhianat sekalipun padamu..." bisik Risa pedih disertai tangisan yang cukup menyakitkan.
"KAU WANITA CACAT RISA! KAU TIDAK BISA MENGANDUNG ANAKKU! AKU BUTUH ANAK!!" teriak Thomas kencang dengan air mata yang mengalir deras pada wajahnya.
Mendengar suaminya, Risa hanya mampu menganggukkan kepalanya mengerti. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata yang mengalir pada wajah suaminya–dengan tangan yang bergetar.
"Maafkan aku, karena aku tak bisa mewujudkan keinginanmu untuk menjadi seorang ayah. Maafkan aku, karena terlahir cacat tanpa memiliki rahim," ucapnya bergerak diikuti dengan senyum tipis.
Thomas mengalihkan pandangannya, melihat istrinya yang menangis pilu apalagi dengan senyuman itu membuat hati Thomas serasa remuk.
"Dari awal aku sudah memberitahu bahwa aku tidak memiliki rahim, tapi kamu bilang tidak apa. Karena kamu ingin memiliki anak dari hasil adopsi saja. Kamu menutupi fakta aku tidak memiliki rahim dari seluruh keluarga mu." Risa mengelus surai rambut suaminya dengan lembut. "Saat kamu mengatakan ingin adopsi anak, aku tentu saja senang. Dan menerima lamaran mu saat itu. Tapi ternyata hingga usia pernikahan kita hampir 20 tahun kamu masih belum mau untuk mengadopsi anak," lanjut Risa.
Kini Thomas kembali memfokuskan dirinya pada Risa, mati-matian pria itu menahan tangisnya. "Ya, aku memang menerima mu kali itu. Wanita cacat yang tidak memiliki rahim. Aku memberitahu keluarga ku kalau kamu wanita sempurna, karena aku tidak mau mereka mengejekmu, apalagi sampai tidak merestui pernikahan kita. Karena saat ini aku masih sangat mencintai mu," jawab Thomas yang tentu membuat Risa sakit hati. Tapi tetap wanita itu membalas Thomas dengan senyumannya.
Kala itu ya ? Berarti saat ini Thomas sudah tidak mencintainya.
"Tapi sekarang aku sadar, untuk apa aku menikah dengan wanita cacat. Aku ingin seorang anak ja–"
"Husttt...."
Risa menempelkan tangannya di bibir suaminya, ia berupaya untuk menghentikan ucapan sang suami.
Sekali lagi Risa menghapus lembut air mata yang mengalir pada wajah suaminya.
"Maafkan Risa selama ini selalu membebani Thomas, sama seperti Thomas, Risa juga sangat mencintai Thomas. Tidak hanya dulu, tapi juga sampai detik ini."
"Maafkan Risa karena tidak bisa memberikan anak untuk Thomas. Maafkan Risa karena tidak bisa memberikan penerus untuk keluarga de Luca."
"Sekarang Thomas sudah ada Sandra, sebentar lagi Thomas akan memiliki anak. Jadi biarkan wanita tua ini pergi dari kehidupan Thomas."
Ucapan Risa panjang lebar itu membuat tubuh Thomas menegang seketika. Wajah cantik istrinya tersirat perasaan kecewa yang teramat sangat. Tapi senyuman pada wajah Risa mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Tolong urus surat perceraian kita ya, dengan senang hati aku akan menandatangani itu. Aku harap kamu sama Sandra bahagia selalu. Aku melepaskan mu....."
...o0o ...
DETIK-DETIK MENUJU END NIH GENGSSS
KALIAN JANGAN BOSEN YA 😭🥺🥺
NANTI RATU SEDIH 🥺
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA