WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 79 - PERUNDINGAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Plak....


Plak...


Suara tamparan berkali-kali itu menggema di sudut ruangan keluarga yang berada di mansion milik Leonello.


Dada pria itu naik turun karena meskipun sudah menampar anaknya berulang-ulang kali tapi tetap saja ia merasa tak puasa.


Anaknya ini benar-benar membuat malu keluarganya, membuat harga diri keluarganya hilang.


"Bagaimana Sandra ?" tanya Pria paruh baya itu sembari mengangkat bahu Sandra kuat-kuat, membuat tubuh Sandra yang tadinya bersujud di bawah kakinya kini berdiri dengan sempurna.


Mata pria tua itu menatap tajam anaknya yang ketakutan. "BAGAIMANA SANDRA!!!!" teriak Peter lagi.


"Am–ampuni aku Da–daddy..." cicitnya sembari menundukkan kepalanya dalam.


Malu ? Tentu saja malu. Saat ini keluarganya sudah tahu jika ia tak mengandung anak suaminya. Melainkan anak dari Thomas–paman kandung El.


"Benar San kamu tidur dengan Thomas ?" tanya Peter dengan dada yang naik turun. Nada suaranya melemah, ia tak habis pikir dengan jalan otak anaknya itu.


Sandra tak menjawab, namun tangisan Sandra yang semakin besar menjawab pertanyaan Peter.


Laki-laki paruh baya itu memegang dadanya yang terasa sesak seketika. Mata melotot karena merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian jantungnya.


Brakk...


Tubuh Peter–ayah kandung Sandra luruh ke lantai, laki-laki berumur lebih dari setengah abad itu mengalami serangan jantung.


Melihat itu Lily dan juga Leonello segera menghampiri Peter yang jatuh di lantai, dengan mata melotot.


"DADDY!!!!" teriak Sandra, El dan juga Lily seketika.


"Sayang bangun....." teriak Lily dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Secepat kilat El menyuruh bodyguard untuk membawa tubuh tegang mertuanya itu menuju mobil untuk diantarkan ke rumah sakit.


"Cepat bawa!!" teriak El nyalang.

__ADS_1


Plak.....


Bersamaan dengan tubuh Peter yang di gotong oleh beberapa bodyguard, Lily–Ibu kandung Sandra menampar anaknya kuat-kuat di hadapan seluruh keluarga de Luca.


"ANAK PEMBAWA SIAL KAMU SANDRA!! SAYA MENYESAL MELAHIRKAN KAMU! AWAS SAJA, JIKA TERJADI HAL YANG BURUK PADA SUAMI SAYA ITU SEMUA ADALAH SALAHMU!!" teriak Lily menatap tajam Sandra dengan penuh emosi dan aura membunuh.


Sandra hanya bisa menundukkan kepalanya, ibunya sudah pergi untuk menyusul mobil ayahnya yang sudah berangkat lebih dulu ke rumah sakit.


Ingin menyusul juga pasti ibunya tak akan memperbolehkan ia masuk ke dalam ruang inap ayahnya.


"Sungguh aku tak menyangka jika Sandra yang ku kenal dengan sikap dermawan dan hati yang bak Dewi ternyata adalah seorang ja***l**ang! Dan lebih parahnya lagi kau tidur dengan paman mu sendiri," ucap Theo yang sedari tadi duduk di salah satu sofa sebelah Risa—memperhatikan drama keluarga Sandra.


"Maafkan aku, grandpa.." cicit Sandra, wanita itu berdiri menghadap Theo sembari menundukkan kepalanya.


El yang dari tadi berdiri kini duduk di sofa yang berada di sebelah kiri Theo–kakeknya. El kan juga ingin melihat sampai dimana drama ini berlangsung.


"Benar itu anak Thomas ?" tanya Theo langsung tak ingin berbasa-basi.


"Iya Dad, itu adalah anakku." Bukan Sandra yang menjawab pertanyaan Theo, tapi Thomas yang dengan cepat menyela ucapan Sandra.


Pria yang tadinya duduk di sebelah Risa itu, kini sudah berdiri dan berjalan untuk mendekati Sandra. Pria tua berumur 60–an itu memeluk pinggang ramping Sandra erat.


"Aku ingin tanggung jawab Dad, tolong nikahkan aku dengan Sandra," pinta Thomas menatap Theo lalu mencium kening Sandra sedikit lama.


El yang melihat wanita yang masih berstatus istrinya itu di cium oleh pamannya sendiri setika merinding, bulu kuduknya berdiri. "Sangat menjijikkan sekali, aku pernah memasuki Sandra. Berarti aku dan paman memasuki area yang sama..." batinnya jijik.


"Kau ingin menikahi dia ?" tanya Theo menunjuk ke arah Sandra dengan senyum miringnya.


"Iya Dad, aku akan menikah Sandra. Aku baru sadar selama 60 tahun aku hidup di dunia ini bahwa aku tidak pernah mencintai seseorang teramat banyak seperti aku mencintai Sandra." Thomas mengatakan itu secara gamblang di depan keluarganya.


Sementara di sana Risa hanya tersenyum manis mendengar ucapan cinta yang suaminya berikan pada wanita lain.


Tak bisa di pungkiri, usia pernikahan mereka sudah menginjak 20 tahun sudah pasti sampai detik ini Risa masih sangat mencintai suaminya.


Risa masih mengingat dulu Thomas mengatakan jika dirinya mencintainya setiap hari. "Hah, andai saja waktu bisa di hentikan. Pasti aku akan meminta Tuhan kembali pada beberapa tahun lalu. Saat suami masih sangat mencintai ku..." batin Risa menatap sendu kedua pasangan yang berdiri di hadapannya namun ia tak melunturkan senyum manisnya.


"Bagaimana denganmu Ris ? Aku ingin di madu ? Kamu mau jika suamimu menikah lagi ?" tanya Theo pada wanita rapuh di sampingnya.


Pria tua itu mengelus lembut menantu kesayangan itu. Meskipun wanita itu tak bisa memiliki anak, tapi Theo sangat menyayangi Risa seperti anak kandungnya sendiri.


"Jika Daddy bertanya kepadaku apakah aku ingin di madu, maka jawabannya tidak aku tidak ingin di madu. Kenapa ? Karena aku tidak ingin suamiku mencintai wanita lain di bandingkan dengan aku," jawab Risa dengan senyum manisnya.


Mendengar jawaban istrinya, Thomas mengepalkan tangannya dan menatap nyalang Risa. "Wanita munafik! Kemarin kau bilang ingin bercerai, sekarang malah mengatakan begitu. Kau tidak ingin pisah dariku kan ? Dasar tidak tahu diri! Aku ingin laki-laki, aku juga mau punya keturunan! Wanita cacat sepertimu mana bisa memberikan ku keturunan!" ucap Thomas sarkas menatap nyalang Risa.


"THOMAS!!!!" peringkat Theo pada anaknya yang kurang ajar itu. "JANGAN PERNAH MERENDAH WANITA, DASAR BRENGSEK KAU!!" teriaknya.


Namun berbeda dengan Risa, wanita itu masih tetap tersenyum sembari mengelus punggung mertuanya itu.

__ADS_1


"Iya Thomas, dengarkan aku dulu." Risa menatap Thomas dengan lembut, meskipun laki-laki itu menatapnya nyalang. "Aku tidak ingin di madu, jadi aku membebaskan mu sekarang. Kita akan bercerai, karena aku tidak ingin hidup dengan pria yang tidak mencintai ku. Lagipula aku tidak ingin egois, meskipun sampai sekarang aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin memaksamu untuk tetap menjadi suamiku," sambung Risa.


Kini wanita itu memfokuskan dirinya pada Theo. "Dad, aku ingi ln bercerai dengan Thomas hari ini juga. Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaan suamiku. Jika aku dan Thomas bercerai lebih cepat, maka kebahagiaan Thomas akan datang lebih cepat pula," ucapnya pada sang mertua.


El menatap iba pada bibinya itu, namun mau bagaimana lagi. Ini semua sudah terjadi, dan ia juga tak menyangka jika Sandra akan menggoda pamannya sendiri.


Jika waktu bisa di ulang, lebih baik El tak menikah saja. Agar keluarganya bisa hidup tentram selamanya.


"Kau dengar kan Dad, wanita cacat itu mengatakan ingin bercerai. Jadi aku ingin supaya Dad mengatur semua perceraian itu dan selanjutnya buatkan pesta pernikahan untukku!" pinta Theo dengan semangat kepada sang ayah.


Mendengar permintaan anak bungsunya, membuat Theo tertawa kecil. Pria tua itu menggenggam tangan Risa dan El di sisi kanan dan kirinya lalu berdiri dari duduknya.


"Aku akan mengatur proses perceraian anakku yang bernama Risa hari ini juga. Dan untuk kau Thomas, jangan pernah panggil aku Daddy lagi. Karena aku hanya memiliki 2 orang anak, yang pertama adalah Regan dan yang kedua adalah Risa. Mulai hari ini, mulai jam ini, mulai menit ini, mulai detik ini, kau Thomas bukan anakku lagi. Bukan berasal dari marga de Luca lagi!" Theo mengatakan itu dengan senyum kecil.


"Silahkan urus urusan mu sendiri, aku tidak akan perduli. Lalu untuk masalah pekerjaan, kamu sudah aku hapus dari daftar pemilik saham yang berada di perusahaan keluarga saya. Jadi mulai hari ini kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun uang dari perusahaan kita. Jika ingin bertahan hidup, silahkan bekerja. Semua asetmu akan aku ambil lagi," jelas Theo.


Mereka bertiga berjalan untuk keluar dari ruangan keluarga itu, namun baru beberapa langkah El menghentikan langkahnya dan menatap sepasang sejoli itu.


"Uncle Thomas dan Sandra tolong segera keluar dari mansion milikku. Dan untuk Sandra, besok aku akan kirimkan surat perceraian untukmu..."


Setelah itu mereka bertiga keluar dari mansion El. Meninggalkan Thomas dan Sandra yang masih mencerna apa yang di ungkapkan oleh Theo tadi.


"Sialan kau Thomas! Harusnya kau tidak mengakui ini adalah anakmu! Aku tidak ingin hidup susah denganmu!!!!" jerit Sandra dengan keras.


...o0o...


VOTE BUAT EL–PUTRI MANA NIH 🤧🤧


Ratu lagi seneng, makannya update lagi 🤣🥰🥰


...o0o...



Mampir ya ke cerita baru aku...


Masukin ke daftar Fav


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2