
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Sandra kini tengah menaiki mobilnya untuk bertemu dengan teman-temannya yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Padahal rencananya hari ini Sandra akan membawa Putri ikut, karena nanti pada saat mereka pulang, Sandra ingin pergi ke salon yang kemarin mereka kunjungi karena ia ingin mengganti warna rambutnya.
Menurut perkiraan Sandra, El suaminya itu tak akan pulang dalam beberapa Minggu. Jadi saat El pulang ke mansion pria itu akan terkejut dengan perubahan diri Sandra yang mungkin akan terlihat cantik di mata suaminya.
Itu adalah rencana awalnya, tapi sekarang rencana itu harus gagal karena rasa sakit hatinya yang terdalam pada Putri hari ini.
Sungguh, istri mana yang akan sanggup dengan kehidupan rumah tangga yang ia alami ? Suami yang di cintainya membawa gadis malam ke mansion mereka lalu dengan seenak hati di naikan derajatnya dari wanita malam ke asisten pribadi CEO yayasan anak.
Sandra tersenyum miris, ia saja bahkan tak sanggup menolak perintah suaminya. Jika ia melakukan itu bisa-bisa El akan marah besar pada Sandra.
Dan bukan hanya itu, El juga memberikan perhiasan mewah yang Sandra pikir itu untuknya. Tapi kenyataannya di berikan pada wanita malam itu.
Sandra mengambil tisu yang ada di mobil yang mengelap dengan cantik setetes air mata yang tiba-tiba meluncur dari wajahnya.
"Kenapa El tak bisa mengerti perasaanku ? Kenapa juga wanita itu harus di bawa ke mansion ?" gumamnya Sandra. "Bahkan jika di bandingkan aku lebih cantik dari Putri jika di lihat dari manapun," sambungnya.
Meskipun dalam lubuk hati yang paling dalam ia merasakan iba yang teramat sangat dengan nasib Putri yang terus menerus jelek. Tapi ia juga tak bisa membiarkan Putri merebut kebahagiaannya.
"Maafkan aku Put, karena aku melakukan hal kejam padamu hari ini. Itu semua aku lakukan hanya untuk membuat mu sadar akan posisi mu!" ucapnya dengan perasaan yang bersalah.
Sejujurnya mungkin ia terlalu kelewatan pada Putri, tapi jika wanita itu tak ia tegaskan bisa saja dia akan merebut El darinya suatu hari nanti.
"Nyonya, kita sudah sampai," ucap bodyguard bersaman dengan pintu mobil yang terbuka untuknya.
Sandra menganggukkan kepalanya kecil, seraya keluar dari mobil dengan bantuan bodyguard itu.
Mobil tertutup, segera Sandra memasuki restoran bintang lima milik sahabatnya itu diikuti oleh keempat orang bodyguard.
"Di sini aman kan ?" tanyanya.
"Saya sudah pastikan berkali-kali jika tempat ini aman nyonya, tidak ada satupun paparazi yang mengikuti anda. Anda bisa bersenang-senang dengan teman anda secara bebas," jawab sang bodyguard.
...o0o...
Tubuh Putri menggigil bukan main merasakan hawa dingin menusuk tubuhnya. Bahkan giginya bergemelatuk menandakan jika dirinya benar-benar kedinginan.
Sepuluh menit yang lalu ia hampir saja bertemu dengan malaikat maut, jika dirinya yang hampir kehabisan nafas itu tidak di tolong oleh bodyguard penjaga kolam renang.
Suaranya bahkan sudah tidak ada karena terus menerus berteriak meminta tolong tapi tidak ada satupun yang datang untuk menolongnya.
Setelah di ceburkan oleh Sandra satu jam lalu, ia yang notabenenya yang tidak bisa berenang terus saja menaikkan tubuhnya agar bagian wajahnya tidak terkena air agar bisa terus bernafas dengan cara melompat-lompat.
Namun setelah setengah jam, kakinya terasa kram dan sangat sakit untuk di gerakan. Jadi Putri tak bisa mengambil nafas lagi karena wajahnya sudah sepenuhnya tenggelam di kolam renang.
Mungkin karena tak ada suara teriakan lagi, yang membuat bodyguard itu menghampiri Putri dan segera menggotong tubuhnya yang basah kuyup masuki kamarnya dan di letakan di lantai kamar mandi.
Dan di sinilah ia sekarang, sudah lima belas menit berada di dalam kamar mandi sembari menangis.
"Kenapa hidup ini sungguh sangat tidak adil ?" tanya Putri dengan dada yang sesak.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya harus ia lakukan ? Haruskah ia mengikuti perintah El saja ? Ah, tapi pasti ia akan mati di tangan Sandra. Tapi jika Putri menurut pada perintah Sandra, tentu saja El yang akan menghabisinya.
Jika Putri tak mempunyai tanggungan sudah pasti dirinya akan merelakan nyawanya dan tidur dengan damai di dalam tanah, menyusul ayahnya.
Tapi ini ? banyak sekali yang harus ia tanggung.
"Tuhan, ini tidak adil....hiks....hiks....hiks...." ia menangis tak tertahan. "Seandainya dulu El mendengar penjelasannya mungkin ini tak akan jadi seperti ini," sambungnya.
Ia kembali mengingat masa di mana ia berpacaran hingga ia bertengkar hebat dengan El, hanya karena kesalahan pahaman.
Putri mengucap wajahnya kasar, lalu berdiri dari simpuhnya dan melepas semua pakaiannya. Ia menggunakan bathrobe dan segera keluar dari kamar mandi.
Ia menggambil ponsel di atas nakas dan segera menghubungi sang adik.
"Halo, Dinda...." ucapnya tenang meskipun setengah mati ia berusaha menutupi suaranya yang bergetar.
"Kakak, aku merindukan mu..."
"Bagaimana keadaanmu....hiks.." Putri menutup mulutnya dengan tangan dan menjauhkan ponsel dari wajahnya.
"Aku baik kak, dan ibu juga baik. Jangan menangis....."
Putri menganggukkan kepalanya cepat, mendengar perintah Dinda, meskipun adiknya itu tak bisa melihat wajahnya.
"Kakak tidak menangis, hanya merindukan dirimu....hiks...hiks..."
"Aku juga merindukan kakak, kakak kapan pulang ? Aku....hiks....hiks..."
Sepasang kakak beradik itu menangis, merindukan satu sama lain. Namun apa daya, jarak terlalu jauh hingga mereka tak bisa bertemu.
"Kan kakak kerja sayang...hiks...nanti jika kakak sudah selesai, pasti kakak akan....hiks... secepatnya pulang."
"Kemarin kan kakak sudah mengirimkan aku uang yang sangat banyak sekali, apa kakak tidak bisa pulang sekarang ? Dinda takut kak, tidak ada yang bisa Dinda ajak mengobrol."
"Dinda main saja sama teman-teman, karena kakak tidak bisa pulang cepat. Lagi pula, uang yang kakak kirim untuk Dinda juga masih sedikit."
"Dinda tidak bisa main keluar kak, tidak ada yang mau bermain dengan Dinda. Karena Dinda jarang masuk sekolah jadi teman-teman Dinda curiga, mereka mengikuti Dinda ke rumah sakit saat menjenguk Mommy. Sekarang semua teman Dinda sudah tahu jika Mommy memiliki gangguan mental. Dan Dinda sudah tak memilik teman lagi, kecuali kakak....."
Dinda mengantungkan ucapannya saat mendengar kakaknya menangis di ujung telfon.
"Kakak tidak perlu menangis, dokter Abraham mengajak Dinda mengobrol kok. Jadi Dinda masih bisa mengobrol dengan orang lain, meskipun jarang-jarang."
Hati Putri merasakan sakit yang amat sangat setelah mengetahui fakta jika adiknya kembali di kucilkan oleh masyarakat.
"Kakak cepat pulang, uang yang kakak kirimkan sudah banyak. Aku sudah membayar hutang rumah sakit, dan juga membayar hutang ayah ke om-om yang jahat itu dengan uang pemberian kakak. Dan yang itu masih tersisa banyak."
"I–iya sayang, kakak pasti pulang. Dinda yang sabar ya! Jangan putus ada. Meskipun kakak tidak bisa pulang sekarang karena terikat kontrak, tapi kakak akan selalu ada di dekat Dinda. Jika Dinda ingin mengobrol dengan seseorang telfon kakak sayang, jam berapapun kakak akan angkat." Suara Putri bergetar hebat saat mengatakan itu.
"Iya kakak, aku akan menelfon kakak jika aku ingin bercerita. Lagipula setidaknya hutang keluarga kita sudah lunas semua, jadi aku tenang."
"Baiklah, sekarang kau tidur. Karena di Jakarta pasti sekarang sudah pukul 1 malam."
Mereka berdua berpamitan, dan segera menutup telfon.
Setelah telfon mereka berkahir tubuh Putri luruh ke lantai karena kakinya. tak kuat menopang berat badannya.
Wanita itu menangis histeris, tak kuat membayangkan menjadi Dinda. Adiknya itu sungguh sangat kuat menjalani kerasnya hidup ini.
Ia mengusap wajahnya kasar dan memasakkan dirinya untuk bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju cermin.
"Bagaimanapun aku harus bisa berjuang! Aku tidak boleh lemah hanya karena Sandra dan juga El. Setelah mendapat uang mereka dengan sangat banyak, aku akan segera kabur dari New York!" tekadnya mantap.
__ADS_1
...o0o ...
Sandra menangis histeris dalam dekapan sahabat laki-laki nya itu. Ia menumpahkan semua keluh kesalnya pada sahabatnya itu.
Grevan, sahabat Sandra tak henti-hentinya menengangkan wanita cantik itu dengan mengelus punggung Sandra lembut.
"Tenanglah San, semua ini pasti akan cepat berakhir. Dimana Sandra yang tangguh ? Kenapa sekarang menjadi cengeng ?" goda Grevan.
Di ruangan VVIP itu hanya ada mereka berdua, karena teman-teman Sandra yang lain sudah pulang sejak 1 jam yang lalu.
Kini Sandra hanya berdua dengan sahabatnya itu, dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mencurahkan segala keluh kesahnya pada rumah tangganya dengan El pada Grevan.
"Sungguh Van, aku sudah tidak kuat. Tapi di sisi lain aku sangat mencintai El. Dia adalah cinta pertama ku," adunya.
Grevan menganggukkan kepalanya mengerti. Sejak 7 tahun lalu, saat berpacaran dengan El. Sandra memang sudah tampak seperti seorang wanita yang terkena pelet.
Dimana ada El, maka di situ ada Sandra.
Maka Grevan tak akan heran lagi jika Sandra akan sangat takut untuk kehilangan El. "Mau bagaimanapun juga saat ini posisi mu adalah istri sahnya, jika El selingkuh maka tinggal saja undangan wartawan. Kamu tinggal membuat sedikit kontroversi dan menangis di depan kamera lalu berita El selingkuh akan muncul tak sampai setengah jam," jelas Grevan.
"Reputasi El akan turun, dan pria itu akan mendadak menjadi miskin," sambungnya.
Sandra menatap Grevan tak suka, lalu memukul dada pria itu berkali-kali. "Ini tak semua dengan apa....hiks...hiks...yang kau katakan."
"Dan apa tadi yang kamu katakan ? El jatuh miskin ?" tanya Sandra dengan wajah yang masih berlinang air mata.
"El bukan hanya mendirikan satu bisnis, tapi ia mendirikan ratusan bisnis yang publik tidak ia ketahui. Tidak akan mungkin jika El jatuh miskin," sambung Sandra lagi.
Grevan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, benar juga apa yang dikatakan oleh Sandra. El bukan hanya seorang pembisnis tapi juga mafia kelas kakap.
Bukan El yang akan jatuh miskin tapi malah dirinya dan Sandra yang akan miskin.
"Kau mengatakan ingin punya anak secepat mungkin, tapi El jarang menyentuhmu. Bahkan pria itu jarang pulang ke Mansion." Otak Grevan kini berputar memikirkan ide yang tepat untuk sahabat sekaligus cinta pertamanya ini.
Tangan kanan Grevan terulur untuk menyentuh tangan Sandra dan menariknya pelan, hingga membuat tubuh Sandra masuk dalam dekapannya.
Ia mengelus surai rambut panjang milik Sandra. "San, jika dulu kamu memilihku daripada El sudah pasti hidupmu akan bahagia sekarang. Meskipun aku tidak sekaya El tapi aku bisa membahagiakan hidupmu."
Sandra mencoba melepaskan dirinya dari Grevan dan menatap nyalang pria itu. "Aku tidak mencintaimu!" jawabnya dan diangguki oleh Van. "Aku tahu," jawabnya singkat.
Sandra memutar bolanya malas, lalu mengambil tasnya dan segera pergi dari ruangan VVIP itu.
Namun saat akan memutar knop pintu, suara Grevan membuatnya dirinya membantu.
"Aku bisa membuatmu hamil anak El secepatnya," ucap Grevan tiba-tiba.
Sandra membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju Grevan. Tampaknya Sandra tertarik dengan ide pria itu.
"Bagiamana caranya ?"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA