WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 72 - PENGAKUAN LEONELLO


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Makan malam tiba, Leonello kini tengah memakan makanannya dengan penuh nikmat dengan Putri yang berada disampingnya.


Entah mengapa dari 26 tahun hidupnya, masakan ini yang paling enak masuk ke dalam mulutnya. Beberapa kali Leonello memuji chef rumahnya.


"Ini luar bisa nikmat," ucapnya sembari memasukkan potongan daging ayam kedalam mulutnya.


Putri menganggukkan kepalanya setuju, mungkin ini sudah piring kedua ia memakan makanannya. Ibu hamil itu benar-benar tampak senang.


Entah mereka berdua senang karena makanan atau mendengarkan jeritan Sandra yang meraung-raung bersujud mencium kaki suaminya.


"AKU BERKATA YANG SEJUJURNYA SAYANG!!! AKU BERSUMPAH ATAS NAMA DEWA....HIKS...HIKS..." jeritan dan tangisan Sandra melebur jadi satu. Sandra benar-benar terlihat sangat depresi dan juga terpuruk saat melihat kabar perselingkuhannya itu tersebar luas di sosial media.


Bahkan Sandra sengaja menonaktifkan ponselnya karena merasa semakin depresi saat melihat banyak orang yang menghujatnya. Ia pun takut akan respon keluarga dan keluarga suaminya.


Disisi lain, Putri bukan mendengar itu dengan menyakitkan. Putri malah mendengar itu sebagai melodi-melodi indah yang membuat ***** makannya naik.


"AKU BERSUMPAH TUAN. TIDAK MUNGKIN AKU MENJALIN HUBUNGAN GELAP DENGAN PAMANMU SENDIRI.....HIKS....HIKS....HIKS...AKU BERSUMPAH...."


Tampak tidak terganggu dengan jerit dan tangisan Sandra. El melanjutkan makannya dengan lahap, sesekali ia meminum minumannya saat tenggorokannya terasa kering.


"El...kumohon percayalah padaku...hiks....hiks....." Berulangkali Sandra mencium kaki suaminya, meminta ampun.


"Ini anakmu El percayalah..." kini suara Sandra sudah mulai melemah, tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi jeritan. Hanya tersisa tangis yang begitu menyakitkan.


Terdengar suara decitan kursi, El memundurkan kursinya sembari mengelap mulutnya dengan lap.


"Aku selesai," El segera berdiri dan berjalan menuju lift meninggalkan Sandra yang masih diam mematung duduk di lantai tepatnya di samping kursi El.


Wanita cantik itu memandang tubuh suaminya yang mulai menjauh, tapi saat akan memasuki lift kaki El berhenti melangkah lalu membalikkan badannya menatap istrinya.


"Satu minggu lagi aku akan mengundang wartawan untuk memberikan mu ruang melakukan klarifikasi. Selama seminggu cari alasan yang tepat dan masuk akal yang bisa mengembalikkan nama baik mu dan menunjukkan padaku jika memang kau tidak berseling dengan paman kandungku!"


Setelah mengatakan itu El segera memasuki lift tanpa mendengarkan jawab Sandra.


Sementara di sana Sandra sudah bangkit dari posisinya lalu menatap Putri dalam.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan, Put ?" tanya Sandra.


Putri menengguk minumannya hingga tandas lalu menatap saya dengan senyum kecil. "Minta tolong pada Grevan saja, nyonya..."


...o0o...


Putri memandang wajah tampan El dari samping yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya yang menyala.


Oh jangan lupakan tangan kiri pria itu yang melakukan panggilan dengan simpanannya yang lain, siapa lagi kalau bukan Fred.


Kini mereka sedang berada di kamar Putri–tepatnya berada di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh mereka, wanita cantik itu mengira jika El ingin di bermanja-manja dengannya tapi ternyata tidak El malah membawa pekerjaannya kemari.


"Bagus Fred, segera blok semua akses dia untuk keluar dari Italia. Kita harus benar-benar mengurung kelinci kecil itu di sana," ucap El dengan telfonnya.


Putri mendengus malas, mendengarkan pembicaraan yang tak ia mengerti itu membuatnya mengantuk.


Tapi dengan setengah mati ia menahan kantuknya untuk menanyakan beberapa hal mengenai Sandra pada El.


Pria itu terus mengobrol dengan Fred hingga hampir 2 jam, lalu ia menaruh ponselnya diatas nakas dan kembali menatap layar laptopnya.


Melihat El sudah tidak mengobrol dengan orang lain, membuat Putri tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segera ia merapatkan tubuhnya pada El dan bersandar pada bahu suaminya dengan mata yang menatap layar laptop.


"Ada apa, hm ?" tanya El, "ada yang menganggu pikiran mu?" tanyanya dengan tangan yang masih berada di atas keyboard laptop.


Mendengar pertanyaan itu membuat Putri segera menganggukkan kepalanya. "Iya, ada..." ucapnya sembari berbisik pelan.


Putri menghela nafas sejenak lalu bangkit dari tidurnya. Kini ia duduk berhadapan dengan El yang masih dengan posisi setengah tidur, kepalanya bertumpu pada kepala ranjang dan laptop yang berada di perutnya.


"Tapi aku harap tuan menjawab ini dengan jujur." El menatap mata Putri dalam lalu menganggukkan kepalanya cepat. "Tentu saja."


"Beberapa hari yang lalu tuan mengatakan saat tuan sedang berhubungan dengan nyonya Sandra tuan tidak mengeluarkan itu dalam rahim nyonya Sandra karena tidak ini mempunyai anak." Putri berbicara pelan-pelan takut kata-katanya akan menyinggung El.


Pria di hadapan Putri itu menganggukkan kepalanya cepat menjawab pertanyaan Putri. "Benar, lalu kenapa ?" tanyanya.


"Tuan kan sudah menikah dengan nyonya Sandra, kenapa tidak mau punya anak dari dia ? Jika memang benar tidak ingin punya anak darinya kenapa kalian menikah ? Atau ucapan tuan yang mengatakan jika tidak ingin mempunyai anak dari nyonya Sandra hanya bualan semata untuk menyenangkan ku ?" tanya Putri menyelidiki.


El tertawa kecil mendengar penuturan Putri, bukan menjawab pertanyaan Putri, El malah mengetikkan sesuatu pada keyboard laptopnya.


Sementara Putri sudah cemberut karena pertanyaan tidak kunjung dijawab berarti memang benar kan El kemarin hanya berbohong padanya. Lagipula mana ada suami yang tidak ingin memiliki anak dari istrinya...


"Ini lihat!" titah El sembari membalikkan laptopnya yang semula menghadapnya kini mengarah pada Putri.


Dengan malas Putri menatap layar laptop itu dengan mata terkejut, namun sedetik kemudian tawanya meledak seketika.


__ADS_1


"Jangan tertawa!" sinis El sembari membalikkan posisi laptopnya kembali padanya.


Putri mengusap sudut matanya yang berair lalu menggelengkan kepalanya tak percaya melihat artikel itu.


"Kenapa kamu bisa di bilang gay ? Apa mereka tidak tahu jika kamu begitu ganas di atas ranjang ?"


El mengangkat bahunya tak tahu. "Itu karena ulahmu yang membuatku tidak percaya dengan kata cinta. Setelah putus darimu aku tidak pernah sekalipun berpacaran dengan orang lain. Karena aku masih merasakan sakit hati dengan perbuatanmu yang terdahulu. Jadi mereka mengira aku seorang gay," jawabnya.


"Lalu kenapa tiba-tiba menikah dengan nyonya Sandra ?"


"Itu terjadi saat aku melakukan rapat di salah satu kolega bisnis yang merupakan ayah kandung Sandra. Aku melihat wanita itu tampak begitu anggun, jadi aku meminta Fred untuk menyelidiki semua tentang Sandra." El terus mengetikkan sesuatu di laptop tanpa melihat ekspresi Putri.


Mendengar pujian El pada Sandra membuat ada sedikit rasa tidak enak dan juga tidak rela pada hatinya. Kenapa jadi tiba-tiba ia tidak ingin bibir El menyebut nama Sandra ?


"Setelah itu, aku terkejut saat mengetahui dia memiliki yayasan dan aktif dengan beberapa acara sosial. Jadi aku memutuskan untuk mendekatinya. Dan ternyata Sandra juga memberikan respon positif kepada ku, jadi aku tidak ingin membuang banyak waktu. Langsung aku nikahi saja, lagipula jika aku menikahi Sandra bukan hanya rumor yang mengatakan aku gay yang hilang, tapi reputasi serta nama baikku akan semakin melambung," jelas El yang membuat Putri menganggukkan kepalanya mengerti meskipun ia tidak suka dengan bagaimana El memuji Sandra.


El menutup laptopnya lalu menarik Putri untuk dipeluknya dengan erat. "Aku kira setelah menikah aku akan jatuh cinta pada Sandra. Tapi ternyata aku salah, aku masih tetap tidak bisa untuk tidak mencintaimu," bisik El lembut sembari mengecup kening Putri.


Baru akan membalas ucapan El, dering ponsel El membuat mereka melepaskan pelukan hangat itu.


Bibir Putri sudah maju beberapa centi karena kesal, El tampak sibuk dengan ponselnya.


"Telfon dari siapa ? Cewek ya ?" tanya Putri menyelidiki.


El menggelengkan kepalanya cepat sembari mengangkat ponselnya yang berdering itu dari atas nakas.


"Bukan, ini Fred," jawabnya.


"Bohong!" sergah Putri cepat. "Kalau memang bukan Fred, coba angkat terus loud speaker telfonnya!" titah Putri.


El menghela nafas panjang tapi tetap menuruti perintah Putri. Ia menekankan tombol speaker pada ponselnya dan meletakkan ponsel itu di atas ranjang. Agar Putri bisa mendengar isi telfon itu.


"Tuan, saja berhasil menemukan pelaku pembunuh ibu dari Putri."


Mata Putri dan El saling berpandangan dengan arti yang berbeda.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2