
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Brakk....
Dinda melempar kesal ponsel canggih miliknya di atas sofa. Ia melihat benda pipih itu kesal, lalu duduk di sebelahnya dan kembali mengotak-atik ponsel itu.
Di rumah hanya ada dirinya sendiri, kakaknya dan Mba Ayu pergi ke kebun yang beberapa hari lalu di beli oleh Putri, sebagai mata pencaharian barunya di kabupaten Malang ini.
"Bisa gila aku lama-lama di sini!" gerutunya kesal.
Tangannya masih setia menepuk-nepuk benda pipih itu sandaran sofa dengan keras. "Daritadi sinyalnya jelek banget sih, mau bales WhatsApp aja gak bisa," kesalnya.
Gadis remaja itu berdiri dari duduknya dengan membawa ponsel, ia keluar dari dalam rumahnya menuju pekarangan.
"Padahal gak mendung, gak ada tanda-tanda hujan. Kenapa gak ada sinyal sih!!"
"Aku udah kayak tinggal di goa!" sambungnya.
Dengan menghentak-hentakan kakinya kesal ia kembali duduk di sofa ruang tengahnya dengan air mata yang hampir menetes membasahi wajahnya.
"Aku gak betah kalo tinggal gak ada internet gini... hiks..." ucapnya lirih.
Pecah sudah tangis gadis remaja itu, ia sedih karena di desa ini ternyata sangat sudah untuk mendapatkan sinyal.
Berhari-hari ia tidak berselancar dengan bebas di semua akun media sosialnya. Contohnya saja WhatsApp, saat temannya mengirimkan pesan, maka pesan itu akan sampai beberapa hari kemudian. Dan saat sudah di balas oleh Dinda, pesan itu akan sampai ke temannya saat sinyal pada ponsel Dinda penuh.
Sungguh menyebalkan.
Sementara itu, Putri dengan perut buncitnya yang sudah menginjak usia 7 bulan datang bersama dengan Ayu yang membawa berbagai macam hasil panen yang di berikan oleh pemilik tanah yang baru saja Putri beli.
Wanita itu terkejut saat kedatangannya di sambut oleh suara tangisan sang adik. Segera ia berlari menuju ruang tengah, untuk menemui adiknya itu.
"Kamu ke dapur, Ay. Taruh semua ini di kulkas terus masak ya buat sarapan," titah Putri sebelum menyusul adiknya.
Saat sampai di ruang tengah, benar sesuai dugaannya adiknya tengah menangis dengan tangan kanan yang menepuk-nepuk ponsel dengan keras ke sandaran sofa.
"Ada apa, Din ?" tanya Putri khawatir.
Mendengar suara kakaknya, Dinda membalikkan badan, membuang ponselnya asal dan memeluk tubuh kakaknya dengan erat.
"Kak...hiks...hiks...gak ada sinyal, Dinda gak bisa ngapa-ngapain, gak ada hiburan," keluhnya.
Putri memutar bola matanya malas, baru sebulan ia tiba di sini adiknya sudah tidak betah.
Dan selalu rewel mengenai jaringan yang tidak bisa menjangkau sampai ke daerah tempat ia tinggal.
__ADS_1
"Udah ih, jangan nangis. Katanya kamu suka tinggal di sini," jawab Putri. Ia mengelus lembut surai panjang Dinda.
Dinda melepaskan pelukannya dan menatap Putri dengan mata berairnya. "Aku suka suasananya, suka sekali malah kak. Tapi di sini gak ada sinyal...hiks....hiks....aku tidak ada hiburannya."
Putri menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan sang adik.
Ia berjalan untuk mengambil remote yang berada di sebelah TV dan menghidupkan benda itu.
Siaran yang menampilkan sinetron mulai terlihat, ia menaruh remote itu kepada sang adik.
"Sementara hiburannya lihat TV dulu, nanti kakak cari cara supaya kamu bisa tetap internetan. Soalnya kakak denger dari pakde Karwo, dia pake WiFi buat internetan. Buat kamu kakak akan pasangkan WiFi, nanti biar Mba Ayu yang minta informasinya sama pakde Karwo."
Ucapan Putri membuat mata Dinda berbinar seketika, ia langsung memeluk sang kakak erat, dengan tangan kanan yang masih memegang remot.
Jika WiFi sudah terpasang di rumahnya, Dinda sudah pasti akan senang tinggal di pedesaan ini dengan damai.
"Terima kasih kak, kakak memang yang paling pengertian! I Love You!" ucap Dinda mengecup singkat pipi kanan dan kiri kakaknya itu.
Lagi-lagi Putri memutar bola matanya malas menatap sang adik. "Ya sudah kamu tonton dulu, biar kakak sudah Ayu ke rumah pakde Karwo. Terus kakak mau ke dapur buat lanjutin pekerjaan Mba Ayu. Kamu di sini aja nonton TV, jangan ganggu kakak masak!"
Dinda menganggukkan kepalanya semangat, kakaknya itu sungguh sangat pengertian.
Setelah peninggalan sang kakak, Dinda kini fokus pada sinetron yang ada di layar kaca. Tapi karena bosan ia terus mengganti-ganti channel TV itu.
"Astaga sudah lama sekali aku tidak melihat TV, aku ternyata baru tahu jika sekarang TV sudah tersambung dengan berita Internasional," gumam Dinda melihat ada seorang pembawa berita yang menyajikan informasi di luar negera Indonesia.
Ya, sejak ada ponsel. Dinda sudah sama sekali tidak pernah melihat TV. Ia menonton lewat ponsel, membaca lewat ponsel. Jadi menurutnya TV sudah sangat tidak berguna.
"Berita selanjutnya pemirsa. Ada kabar mengejutkan dari kota New York yang pastinya akan membuat kalian semua terkejut,"
"Pebisnis Leonello Alexander de Luca yang sudah merintis kembali perusahaan keluarganya yang sudah bangkit 9 tahun lalu, kini di puncak karirnya memutuskan untuk mencopot jabatannya sebagi CEO utama perusahaan itu,"
Mata Dinda tidak bisa untuk tidak membulat terkejut saat melihat mantan kekasih kakaknya berada dalam siaran TV itu.
"Astaga kak Ello ?" jeritannya tertahan. "Kakak Ello pacaranya kakak yang dulu sering datang kerumah kan ?" tanyanya lagi.
"Astaga, sejak Kak Putri dan Kak Ello putus sehari saja aku tidak pernah melihat kedatangan kak Ello ke rumah. Dan ini malah sekarang kak Ello masuk ke TV..."
"Wahhh.... sepertinya sekarang kak Ello menjadi orang kaya di luar negeri..." sambung Dinda melihat acara TV yang memperlihatkan kehidupan mewah mantan kekasih kakaknya.
Merasa kakaknya perlu tahu, Dinda segera meneriaki kakaknya yang berada di dapur.
Sekencang mungkin Dinda memanggil nama kakaknya, Putri perlu melihat ini. Dinda akan memanas-manasi kakaknya, karena ia tahu jika pria kaya itu adalah mantannya.
"Kakak cepat kemarilah!! keburu beritanya hilang!!!" panggil Dinda untuk yang kesekian kalinya dengan nada frustasi.
Terdengar langkah kaki perjalanan mendekat ke arahnya. Dinda segera berdiri dari duduknya dan menyeret Putri untuk duduk di sofa.
"Apa sih Din! Kakak lagi goreng ayam!" kesal Putri.
Dinda tak menjawab hanya tersenyum dan membesarkan volume pada TV yang masih memberitakan tentang mantan kekasih kakaknya itu.
"Sungguh sangat di sayangkan memang. Mr. Leonello sudah di atas puncak, tidak ada angin tidak ada hujan. Tiba-tiba beliau mengumumkan berita bahwa dirinya akan mencopot jabatannya dari perusahaan Xander yang didirikan oleh keluarga de Luca..."
__ADS_1
Sama seperti ekspresi Dinda, Putri juga membulatkan matanya terkejut saat mendengar berita itu.
Diam-diam Dinda tersenyum melihat wajah kaget sang kakak. "Pasti kakak nyesel udah putusin kak Ello..." batinnya tersenyum geli.
"Sekarang kak Ello udah jadi orang kaya kak, dia udah masuk TV. Nyesel ya udah mutusin ?" tanya Dinda sembari tertawa geli.
Namun Putri sama sekali tak merespon ucapan Dinda. Telinganya masih fokus mendengarkan siaran berita itu.
"Kami masih tidak tahu apa penyebabnya, entah masalah apa yang sedang di hadapi oleh Mr. Leonello. Tapi kami semua sangat menyangkan tindakannya."
"Tanggal 22 bulan Agustus mendatang, Leonello akan secara resmi mengadakan rapat yang di hadiri seluruh pemegang saham. Tentu saja ia tidak bisa sembarang mencopot jabatannya, semua sudah ada prosedurnya."
"Jika suara terbanyak setuju kepada keputusan El, maka pria kaya raya itu bisa mencopot jabatannya. Namun jika suara yang mendukungnya kurang dari setengah persen, maka dia tidak bisa turun dari jabatannya."
Putri mendengar dengan gelisah semua ucapan yang di lontarkan oleh pembawa berita itu.
Jantungnya berdegup kencang, ia sungguh tak habis pikir kenapa sampai El harus turun dari jabatannya ?
Bukannya pria itu mengatakan jika uang adalah segalanya ? Dia bisa membeli kebahagiaan dengan uang, bisa membeli wanita dengan uang.
Tapi sekarang dia malah ingin keluar dari perusahaan. Lalu dia akan bekerja apa ? Mau dapat uang dari mana ?
Mendadak perasaan gelisah menyelimuti hati Putri.
"Din, kamu ke dapur, tolong balik ayam yang kakak goreng, takut gosong," perintah Putri yang segera di angguki oleh sang adik.
"Tentu, kak."
Semetara adiknya pergi ke dapur, Putri segera berjalan untuk memasuki kamarnya. Ia membongkar koper kecil yang memang sengaja ia tidak keluarkan.
Didalamnya terdapat puluhan perhiasan dan bergepok-gepok uang dollar yang Putri bawa dari hadiah yang di berikan El padanya.
Namun fokusnya bukan pada perhiasan, ataupun uang dollar itu. Tapi pada map coklat yang terdapat selembar kertas yang berisikan kepemilikan saham pada perusahaan El.
"Aku merupakan salah satu pemegang saham di sana. Jika aku tidak datang maka polling suara itu tidak sah. Tapi jika aku datang El akan membunuh anakku..." ucap Putri mengelus perutnya yang sudah sangat buncit.
"El sudah memberikanku banyak, sudah merawat ibuku, menjaga adikku, membayar hutang-hutang keluarga ku. Jujur saja aku tidak rela jika ia meninggalkan perusahaan dan hidup miskin..."
"Tapi jika aku datang, dan dia tahu aku hamil, sudah pasti aku akan di–"
Kerongkongannya terasa kering, lidahnya terasa kelu, ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Haruskah aku datang ke perusahaan itu ?"
...o0o...
KALAU SUKA SAMA CERITA KU JANGAN LUPA GIFTNYA KAKAK 🥰🥰
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA