WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 43 - PILIH SIAPA ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Putri berjalan menyelundup seperti malang untuk menuju ruang kerja milik El yang berada di ujung lantai ini.


Ia melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tak ada satu pun orang yang melihatnya berjalan dengan mencurigakan seperti itu.


Wanita itu tersenyum tak kala sedikit lagi, ia sudah sampai ke ruangan kerja itu. "Ayo put, sedikit lagi!" gumamnya dengan wajah waspada namun tersenyum bangga akan dirinya.


Saat ia sudah berada di depan ruangan kerja itu, perlahan tangan Putri menyentuh knop besi pintu itu dan memutarnya perlahan, dengan wajah tegangnya.


"Aku harus segera mendapatkan kontrak kerja itu, dan mengeditnya menjadi perjanjian yang sesuai dengan keinginanku," gumam Putri yang merasa puas dengan ide yang tiba-tiba muncul pada otak cerdiknya itu.


Beruntung Putri memiliki kemampuan menggunakan laptop dengan baik, sehingga ia dengan mudah membuat ulang surat perjanjian itu dan mencetaknya.


Lalu ia akan menandatangani surat itu, tak lupa ia akan mengcopy tanda tangan El, dan mengganti surat perjanjian sebelumnya dengan surat yang baru ia buat. Surat perjanjian yang lama, akan Putri buang besok pagi.


Sungguh rencana yang sempurna bukan ?


Wanita itu membuyarkan lamunannya sembari tersenyum miring, ini pertama kalinya ia berfikir lirik, Putri terkekeh kecil.


Saat ia kembali fokus dengan apa yang akan dia lakukan, terdengar suara pintu lift terbuka. Dengan segera ia berpura-pura berjalan dengan santai, meskipun ia takut di curigai oleh orang yang ada di dalam lift itu.


Putri kembali berjalan pelan, menuju tangga darurat yang berada di dekat ruang kerja itu, dan bersembunyi di sana.


"Sial! Mereka menganggu saja!' desisnya kesal mengintip kedua orang bodyguard itu yang berjalan menuju ruang kerja El.


"Tuan Fred menginginkan kita untuk memeriksa CCTV yang berada di ruang kerja milik tuan besar," ucapnya.


Salah seorang bodyguard itu menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucap rekan kerjanya. "Aku dengar-dengar ada seorang mata-mata yang mengincar dokumen rahasia tuan El. Dan ia menyamar sebagai maid di sini," jawabnya.


"Katanya sih di bagian dapur, tapi entahlah aku tidak tahu. Ayo segera cek CCTV di ruang kerja ini, ada yang rusak atau tidak."


"Iya mari kita cek, pasti ini akan memakan waktu yang lama, secara di ruangan itu terdapat 12 CCTV di setiap sudut nya!"


Mata Putri membulat tak percaya mendengar percakapan kedua orang berbadan kekar itu. Beruntung sekali ia tadi tak masuk ke ruangan kerja itu.


Jika sampai ia masuk, tamat sudah riwayatnya! "Tuhan ternyata masih menginginkan aku hidup di dunia ini!" ucapnya penuh kelegaan.


Melihat bodyguard itu sudah masuk ke dalam, segera Putri keluar dari tempat persembunyiannya dan masuk ke dalam lift. "Aku akan cari siapa yang memintaku untuk membersihkan kamar El! Maid itu juga harus merasakan apa yang aku rasakan!" cicitnya kesal dengan maid yang menyuruhnya untuk membersihkan kamar singa ganas itu.


...o0o ...


"San, aku sudah lebih baik sekarang. Kamu tidak perlu khawatir," ucap El dengan nada suara lemas yang ia buat-buat. .


Saat ini mereka tengah berada di atas ranjang dengan tubuh yang saling memeluk satu sama lain dengan erat.


Sandra menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, sejak tadi di toilet wanita itu tak berhenti menangis karena iba dengan keadaan suaminya.


Selama 5 tahun masa pernikahan mereka, baru kali ini Sandra melihat tubuh El lemas, jadi wajar saja jika Sandra se-khawatir itu pada suaminya.


"Bagaimana aku tak khawatir jika suamiku sedang sakit," jawabnya dengan masih bersembunyi di dada El.

__ADS_1


El menghela nafas panjang, dan mencium puncak kepalanya Sandra pelan, seolah-olah mengatakan jika dirinya sudah lebih baik dari sebelumnya.


Sebentar El malas jika Sandra bermanja-manja begini padanya, bukan karena ia membenci Sandra.


Namun ego pria itulah yang membuat dirinya menjadi seperti ini. Berkali-kali di tolak oleh Sandra, bukan hanya kejadian kemarin, tapi sudah berkali-kali membuat El muak dengan wanita itu.


Lebih baik ia bermain dengan wanita yang bisa memuaskannya meskipun ia harus mengeluarkan uang yang sangat banyak, daripada berharap pada istrinya yang sama sekali tak bisa memberinya rasa puas.


Berkali-kali El meminta , berkali-kali juga Sandra menolak.


Berkali-kali El mengatakan apa yang ada dalam hatinya, berkali-kali juga Sandra mematahkan harapan El.


Jadi apa bisa Sandra di sebut istri yang baik ? Jika begini bagaimana bisa El membuka hatinya untuk Sandra.


Pria itu menghela nafas kasar, jika saat ini Putri yang memeluknya sudah pasti ia akan terlelap dengan tenang.


"El, kamu janji kan sama aku buat ngasih aku anak ?" tanya Sandra dalam dekapan El yang membuat pria itu harus membuyarkan lamunan.


"Aku sudah cape San, bagaimana caranya kita bisa memiliki anak jika kamu sendiri yang membuatnya tidak bisa ?" tanya El dengan maksud terselubung.


Sandra keluar dari pelukan El, dan menatap bingung suaminya itu. "Maksudnya ?" tanyanya tak mengerti maksud El.


"Tidak ada," ucapnya mengalihkan pembicaraan. "Lagipula aku juga tidak menyukai anak kecil, mereka berisik."


Jawaban El membuat Sandra kesal, wanita itu memukul dada bidang suaminya pelan. "Jangan bicara begitu, pokoknya aku mau anak dari kamu," ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya kesal.


"Lagipula, jika tidak ada anak, maka siapa yang akan melanjutkan perjuangan keluarga De Luca merintis bisnis keluarga ?" tanya Sandra yang membuat El menyadari kesalahannya.


"Benar juga apa yang dikatakan Sandra, aku membutuhkan seorang anak!" batin El menerawang jauh.


...o0o...


Putri menatap benci maid yang sudah membuatnya hampir mati di serang singa betina.


Putri yang notabenenya asisten pribadi Sandra dan juga El sudah pasti turun tangan untuk menyiapkan seluruh kebutuhan mereka berdua. Termasuk saat makan ini juga.


"Kenapa kau menatapku begitu! Kan aku sudah memberitahu siapa yang memintamu ke kamar itu. Jawabannya adalah tuan El sendiri yang minta kau membersihkan kamarnya!" ucap maid yang sedari tadi di tatap tajam oleh Putri.


Tangan Putri masih dengan lihai mengelap piring-piring yang akan di pakai tuan dan juga nyonya itu. Tapi matanya melirik sempurna ke seorang maid itu.


"Lalu kenapa kau tidak bilang jika tuan yang meminta aku untuk ke sana ?" desisnya tajam.


Maid itu memutar kedua bola matanya malas. "Memang apa bedanya aku mengatakan atau tidak ? Benar-benar tidak penting!" jawab maid itu kesal dengan sikap Putri yang memperbesar masalah kecil.


Mulut Putri terbuka karena terkejut mendengar ucapan maid itu. "Tidak penting ? tidak penting katamu, ha??" desisnya lagi dengan tajam.


Maid itu bersiap-siap untuk berlari saat di rasa Putri akan mengejarnya, namun terdengar suara pintu lift terbuka, menghentikan aksi cek-cok mereka.


Ting...


El dan Sandra berjalan bergandengan tangan menuju meja makan dengan wajah Sandra yang sumringah dan El yang menatap tajam Putri.


"Selamat malam, semuanya..." sapa Sandra riang.


Para maid termasuk Putri membungkukkan kepalanya sopan dan membalas sapaan Sandra dengan kompak.


"Selamat malam juga, nyonya."


El duduk di kursinya diikuti Sandra dari belakang. Namun sebelum Sandra ikut duduk, ia menyempatkan dirinya mendekati Putri dan berbasa-basi dengan wanita itu.

__ADS_1


"Chef masak apa hari ini, Put ?" tanya Sandra sembari merangkul bahu Putri akrab.


"Semua masakan kesukaan anda, nyonya," jawab Putri dengan senyum terbaiknya.


Sandra menganggukan kepalanya senang lalu melirik El sebentar, dirasa El tak sedang memperhatikan mereka, Sandra segera membisikkan sesuatu tepat ditelinga Putri.


"Jangan katakan apapun pada El, apalagi tentang kamu yang tadi aku ceburkan ke kolam renang."


Putri menganggukkan kepalanya mengerti, menatap Sandra yakin. "Tidak akan nyonya, saya bukanlah seorang pengadu," jawabnya cepat.


Sandra tersenyum miring dan menganggukkan kepalanya puas dengan jawaban Putri. "Aku tidak sama sekali menyesal dengan apa yang telah aku perbuat, aku akan melakukan itu lagi jika kau kembali tidak menurut kepadaku."


Putri menelan salivanya susah payah dan menganggukkan kepalanya mengerti.


...o0o ...


Mereka makan dengan lahap masakan chef itu. Di isi dengan perbicangan Sandra dan juga El yang terus berbicara mengenai pekerjaan El.


Meskipun di meja makan itu ada tiga orang, Sandra, El, dan juga Putri. Namun nampaknya kehadiran Putri sama sekali tak dianggap dalam meja makan itu.


Bukannya sedih, Putri malah bersyukur karena setidaknya jika ia tidak diajak berbicara maka ia juga tidak akan semakin dekat dengan kedua orang itu.


Ia menikmati makanan buatan chef bintang 5 itu dengan sangat senang. Tak perduli dengan pembicaraan El dan juga Sandra. Yang terpenting dirinya bisa makan enak.


"Aku selesai," ucap El yang membuat Putri mengalihkan perhatian dari makanan ke arah El yang sudah berdiri dari duduknya.


"Sayang, kenapa cepat sekali ? Apa tidak mau memakan puding dulu ?" tawar Sandra yang langsung mendapatkan gelengan dari El.


Kini mata elang pria itu menatap Putri sepenuhnya.


Putri yang merasa di tatap tajam, seketika tak bernafsu makan lagi, padahal makanan di depannya ini benar-benar sangat enak.


"Kau, jika sudah selesai makan segera ke ruang kerja. Ada yang ingin aku bicarakan!" titah El tak terbantahkan dan segera berjalan memasuki lift.


Tangan Sandra terkepal di atas meja, ia menatap punggung suaminya yang mulai menjauh darinya dan menatap kini menatap Putri bergantian.


"Jangan ke ruang kerja El!" ucap Sandra tiba-tiba, kini Putri menatap Sandra bingung. "Nanti kau langsung ke kamar ku saja, ada yang ingin aku bicarakan!"


"Jika El marah, tenang saja. Aku yang akan menjelaskan padanya!" sambungnya menatap Putri nyalang. "Kau mengerti ?" tanya Sandra yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Putri.


Wanita itu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju lift untuk menyusul suaminya yang sudah lebih dulu meninggalkan meja makan itu.


Sementara di sana Putri diam termenung sembari menjambak rambutnya frustasi. "Mana yang akan ku pilih ?" gumamnya.


"Ini pilihan yang susah Tuhan, seperti sedang memilih ikut Ayah atau ikut Mama. Aku tidak bisa memilih di antara mereka berdua....."


"Jika aku memilih Ayah El maka Mama Sandra yang akan memukulnya. Namun jika ia memilih Mama Sandra maka Ayah El yang akan memukulnya...."


Putri memejamkan matanya saat kepalanya mulai berdenyut sakit. "Aku pilih ikut mama atau ayah ?"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2