
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Tubuh Sandra bergetar hebat menanti kehadiran seseorang. Sudah dua jam lebih dia menunggu tapi sang tamu tidak kunjung datang.
Sementara di sebelahnya Grevan tengah bermain game online kesukaannya tanpa memperdulikan wajah Sandra yang sudah pucat karena ketakutan.
Sandra melirik Grevan sebal, lalu menarik dengan kasar ponsel milik pria itu dan menjauhkan benda pipih itu darinya.
Ia mendecih kesal. "Ck! Asik banget main game aku sampai gak dianggap di sini !" gerutunya kesal menatap Grevan penuh benci.
Grevan menyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia juga bosan menunggu tamu mereka yang tak kunjung datang. Dan hanya game itu yang bisa membuatnya mengalihkan rasa bosannya.
"Maafkan aku cantik! Dia datang lama sekali, aku bosan."
Sandra memutar bola matanya malas. "Kamu pikir kamu saja yang bosan ? Aku juga bosan!" ucapnya kesal.
Melihat Sandra yang sudah mengeluarkan tanduk itu, segera Grevan mendekati wanita itu dan memberikan kecupan singkat padanya.
Cup...
"Maafkan aku!" cicitnya sembari memeluk tubuh Sandra dengan lembut.
Sebelum Sandra membalas ucapan Grevan, ada suara seseorang yang menginterupsinya.
"Maaf, aku terlambat."
...o0o...
Lagi dan lagi, istri dari Leonello itu tak ikut makan malam bersama dengannya. Entah sudah berapa hari wanita itu tak makan malam bersama suaminya.
El juga sangat jarang melihat batang hidung wanita itu. Biasanya jika El tidak ke Las Vegas dan pulang ke mansion ini, Sandra sama.seksli tidak ada membuang waktunya untuk suaminya.
Sepanjang waktu Sandra akan membuntuti El dan selalu mengajak untuk melakukan hubungan.
Namun sejak beberapa Minggu ini, ada sedikit perubahan pada Sandra. Wanita itu tampak cuek dan selalu senang bermain ponsel, meskipun ada El di sampingnya.
Sebenarnya hanya memerlukan waktu 10 menit untuk meminta anak buahnya menyelidiki Sandra dan mengetahui aktivitas apa saja yang ia lakukan selama sebulan terakhir ini. Tapi untuk apa ? El sama sekali tak peduli dengan keberadaan wanita itu.
El malah semakin senang dengan perubahan sikap Sandra itu. Ia jadi semakin dekat dengan Putri. Bahkan setiap malam, tak perlu lagi El menyelundup masuk ke kamar Putri, ia bisa terang-terangan dan dengan santai memasuki tempat peristirahatan Putri itu.
Meskipun bukan untuk melakukan itu, tapi berdekatan dengan Putri membuat hatinya tenang.
Seperti saat ini, El tengah tiduran di pangkuan paha Putri sembari memejamkan matanya menikmati angin yang berhembus pada sore hari ini.
Mereka duduk di sebuah gazebo yang berada di tan bunga milik Sandra. Dengan tangan Putri yang tak henti-hentinya membelai lembut kepala pria itu.
"Kenapa tuan tidak bilang kepadaku ?" tanya Putri menatap wajah El menyelidik.
El membuka matanya dan menatap Putri dengan sebelah alis yang terangkat. "Bilang apa ?" tanya El bingung.
Putri mengembuskan nafas panjang, lalu menatap El kembali. "Tuan membelikan adik saya rumah bertingkat dengan nama adik saya, beserta para asisten rumah tangga."
__ADS_1
Jawaban Putri membuat El tersenyum, lalu ia menutup matanya kembali. Padahal ia sudah meminta Dinda, adik Putri untuk merahasiakan ini dari kakaknya. Tapi tetap saja, gadis remaja itu mengatakannya pada sang kakak.
"Tidak itu saja, tuan juga menyediakan psikolog pribadi untuk ibu saya," sambung Putri. "Ini berlebihan tuan!"
El menggelengkan kepalanya di paha Putri, hingga membuat tubuh Putri kegelian. "Berlebihan apa ? Itu tidak ada apa-apanya," jawab El. "Jika dibandingkan apa yang aku lakukan pada keluarga mu..." sambung El dalam hati.
Pria itu tampak menyesali perbuatannya pada keluarga Putri terdahulu. Andai ia bisa memutar waktu kembali, ia ingin meminta maaf pada ayah Putri.
Lama mereka berdua beradu tentang pikirannya, tiba-tiba saja El berdiri dari tidurnya lalu menegakkan dirinya untuk duduk si samping Putri.
"Put, bisa kau ceritakan kejadian yang terjadi hampir sembilan tahun yang lalu ? Satu hari sebelum kita putus, dan kejadian itu terjadi ? Aku sungguh sangat penasaran..."
El menatap mata Putri dalam, ia benar-benar sangat penasaran tentang hari ini, benarkah Putri melakukannya ?
"Apa benar kamu melakukan hal gila seperti itu ?" tanya El.
Putri menghela nafas panjang, menatap El dengan sayu. Haruskah sekarang ia katakan yang sebenarnya ? Apa ini tidak terlambat ? Lagipula jika Putri mengatakan ini sekarang tidak akan merubah apapun.
"Aku ak–"
Kring.....kring....kring....
Ponsel milik El berbunyi, pria itu segera mengambil ponsel dari saku celananya, dan mengangkat panggilan itu.
"Halo, paman...."
"Anakku sayang, jangan lupakan pertemuan kita besok. Kakek akan sangat sedih jika cucu satu-satunya tidak hadir dalam acara ulangtahunnya yang ke 82."
El menghela nafas panjang, ia benar-benar lupa jika ia memiliki seorang kakek yang masih hidup.
"Baiklah paman, aku akan datang. Maafkan aku jika tahun kemarin aku tidak datang ke acara ulang tahun kakek."
"Aku tahu bagaimana sibuknya kau sayang, jangan khawatir kakekmu pasti akan mengerti. Karena memang kamu penerus segala perusahaan milik keluarga kita."
"Yasudah, paman tutup telfonnya. Jangan lupa ajak istrimu untuk ikut. Sudah lama aku tak melihatnya, aku jadi sedikit merindukannya."
"Baiklah paman, sampai jumpa besok."
Tut....
Panggilan itu berakhir, El memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Bersamaan dengan datangnya seorang maid yang menghampiri mereka berdua.
Dengan menunduk hormat, salah satu maid itu berdiri tepat di hadapan El. "Maafkan atas kelancaran saya tuan, saat ini waktunya makan malam. Anda sudah di tunggu oleh nyonya di ruang makan."
...o0o...
Mereka bertiga makan dengan khidmat dan dalam diam. Sesekali El melirik Sandra yang terus menerus tersenyum sembari memakan makanannya.
El memicingkan mata, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Tapi ini bukanlah kabar buruk untuk El, ini adalah kabar baik yang El nanti-nantikan.
"Aku selesai," ucap El sembari membersihkan mulutnya dengan lap mulut yang tersedia.
Sandra menatap suaminya sembari tersenyum manis, ia ikut membersihkan mulutnya dan berdiri dari duduknya saat El juga berdiri untuk kembali ke kamar.
Ia berjalan mendekati El dan mencium pipi pria itu di kiri dan juga kanan sembari berjinjit karena tubuh El yang begitu tinggi.
"Tunggu aku di kamar ya, sayang..." ucap Sandra dengan senyum malu-malunya.
Tanpa memperdulikan ucapan Sandra, pria itu berjalan untuk menaiki lift meninggalkan Sandra dengan senyum manis yang masih bertengger pada wajahnya.
__ADS_1
Wanita itu kembali duduk dan menyantap makanannya, dan itu semua di perhatikan dengan jelas oleh Putri.
"Nyonya tanpa begitu senang..." ucap Putri yang melihat wajah cerah nyonya itu.
Mendengar ucapan Putri, membuat Sandra tak bisa lagi menyembunyikan raut bahagianya. Dengan sengaja ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Dengan seksama Putri memperhatikan tangan Sandra itu, lalu matanya berbinar saat melihat sesuatu yang berkilau.
"Astagaaaaaa!!!" pekik Putri.
Wanita itu berdiri dari duduknya dan segera menghampiri Sandra sembari melihat gelang yang hampir sama persis dengan apa yang El berikan untuknya waktu itu.
"Tada....." Sandra menatap gelang yang ternyata harganya sangat mahal itu dengan bangga. "Aku di berikan gelang ini oleh seseorang!" sambungnya sombong.
"Benar-benar sangat cocok jika di pakai dengan anda nyonya!"
"Tentu saja!" jawab Sandra cepat.
Wanita itu terus saja memandang gelangnya. Lalu menatap Putri bergantian.
"Aku ada satu rahasia," cicitnya pelan.
Sandra melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tidak ada orang yang menguping pembicaraannya.
Putri menatap Sandra dengan semangat, ia senang jika nyonya ini bercerita dengannya. Ia merasa bisa di percaya orang lain.
"Apa nyonya ?" tanya Putri.
Sandra mendekatkan wajahnya ke arah telinga Putri. "Tunggu sebentar lagi, dan aku akan hamil!" bisiknya dengan sangat percaya diri.
Mendengar itu Putri terkejut, ia menatap Sandra dengan jantung yang berdebar kencang. "Sa–saat ini anda hamil ?" cicitnya.
Ia benar-benar sangat terkejut dengan hal ini, anak yang di kandung Sandra bisa saja merusak rencana yang sudah ia jalani dengan Nathan ini rusak seketika.
"Belum, tapi sebentar lagi aku pasti hamil!" jawabnya yakin sembari berdiri dari duduknya. "Ini rahasia, jangan katakan pada siapapun!" ucap Sandra lagi sembari berdiri dari duduknya.
Mulut Putri terjatuh,. mendengar jawaban Sandra. "Belum hamil, tapi dia sudah sesumbar mengatakan jika akan hamil...." batin Putri.
"Baiklah, nyonya. Saya akan menjaga kerahasian anda!"
Sandra menganggukkan kepalanya pada Putri, lalu ia berjalan untuk memasuki lift dan menuju kamarnya menyusul suaminya.
Meninggalkan Putri yang masih berdiri di sebelah tempat duduk Sandra tadi. Ia menatap punggung Sandra yang semakin menjauh.
"Kenapa wanita itu sangat terobsesi dengan kehamilan ?" tanyanya sembari mengelus perutnya pelan.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE SAMA GIFTNYA KAKAK 🥺🥺
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1