
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Putri merapikan semua baju-baju Sandra dan membawa itu masuk kedalam koper. Bukan hanya baju tapi seluruh benda-benda Sandra mulai dari perhiasan hingga jepitan rambut sekalipun.
Tuannya tadi berpesan padanya, agar tidak meninggalkan 1 barang pun di dalam kamarnya ini.
Ini sudah koper kesembilan, tapi barang-barang Sandra belum ada setengahnya Putri bersihkan.
"Banyak banget sih, nyusahin..." gumamnya.
Wanita itu tidak sendirian, ia di bantu oleh 5 orang maid yang di perintahkan oleh Leonello untuk membantunya.
Saat semua sedang sibuk mengemas baju Sandra untuk masuk ke dalam koper. Tiba-tiba pintu kamar milik tuannya itu di buka kasar oleh seseorang.
Brakkk....
"LANCANG KALIAN SEMUA!!!!" teriak Sandra kencang, dengan pakaian yang sangat berantakan. Tidak hanya itu, tapi make-upnya juga sudah hancur karena tangisannya.
Dengan angkuh dan berlinang air mata Sandra berjalan menuju walk ini closetnya. Ia semakin marah saat melihat para maid yang tidak menunjukkan kepala saat dirinya lewat di hadapan mereka.
"Berani kalian semua ya!! Udah berani angkat kepala saat nyonya rumah ini lewat ?" sentaknya menatap semua maid termaksud Putri.
Bukan malah menundukkan kepalanya takut, Putri beserta kelima orang itu semakin mengangkat dagunya tinggi.
"CEPAT RAPIKAN LAGI PAKAIAN KU KE LEMARI!! BUANG SEMUA KOPER INI!" perintah Sandra dengan teriak.
Lagi, keenam orang itu acuh pada Sandra dan melanjutkan aktivitas mereka–memasukan seluruh pakaian Sandra dalam lemari.
Melihat itu Sandra semakin terbawa emosi, ia membanting semua barang-barang kaca yang ada di walk in closet milik El seperti seseorang yang tengah kesetanan.
Pyarrrr.....
Pyarrrrrr....
Mendengar itu Putri jadi geram, ia menghentikan aktivitasnya yang sedang melipat pakaian Sandra, lalu berjalan kearahnya mantan nyonya itu dengan tegas.
"Anda sudah tidak berhak lagi untuk memerintah, sekarang anda bukanlah nyonya di rumah ini. Jadi saya mohon jangan buang waktu berharga anda, dan silahkan pergi dari kamar tuan El! Keberadaan anda di sini hanya menambahi beban pekerjaan kita saja!" sengit Putri kesal.
Melihat keberanian Putri, membuat kelima maid itu juga ikut mengusir Sandra.
"Lihat berapa banyak benda kaca yang kau pecahkan! Kita juga nantinya yang akan membersihkannya!" ucap seorang maid.
"Benar! Bikin menambah pekerjaan saja!"
"Cepat keluar dari kamar ini!"
"Dasar beban!"
Putri tersenyum menyeringai menatap Sandra yang kini tengah kaget dengan respon para maid itu yang terkesan tidak sopan padanya.
"BERANI SEKALI BABU KALIAN MENGATAKAN HAL ITU PADAKU HA!!! KALIAN TIDAK TAHU AKU SIAPA ??? AKU SAN–"
"Kita tahu, anda adalah Sandra. Seorang wanita yang meniduri paman dari suami anda sendiri. Dasar wanita ******!!" ucap Putri yang memotong pembicaraan Sandra.
__ADS_1
Dada Sandra bergerak naik-turun karena emosi, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menampar Putri, tangan saat tangannya akan terayun ke arah pipi Putri ada sesosok tangan yang mencekam kuat tangan Sandra.
"Berani kau sentuh dia ?" bisik seseorang di balik tubuh Sandra.
Tubuh Sandra menegang seketika, di lihat tangannya yang masih terangkat di udara itu sekeliling pergelangan tangannya sudah memerah.
Sementara itu Putri yang sedari tadi memejamkan matanya karena merasa akan di tampar Sandra seketika membuka matanya saat hampir semenit tangan Sandra tak sampai pada pipi Putri.
Matanya membulat terkejut, karena El mencekram kuat tangan Sandra dari belakang.
Sontak ia dan kelima maid itu menundukkan kepalanya pada tuannya. "Tuan," ucap mereka serempak menyapa El.
"Langsung bereskan barang-barang itu, yang penting-penting saja. Sisanya biar nanti di bakar saja, aku sudah tidak kuat melihat tampang wanita ini," titah El.
Keenam wanita itu mengangguk kepalanya cepat, lalu kembali mengerjakan tugas mereka.
Berbeda dengan Sandra yang saat ini tengah bersujud memohon maaf pada suaminya. "Ampun El, ampun. Aku salah....hiks...hiks...berikan aku kesempatan kedua..."
Bukannya iba, El malah menyentak tangan Sandra yang berada di kakinya dengan kasar.
"PENJAGA!!!" teriak El dengan kencang.
"Ampuni aku El, ampun...."
"Bayangkan saja kamu jadi aku sehari saja. Kamu jarang pulang, aku sudah lama tidak dijamah oleh laki-laki. Aku merindukan sentuhan pria El..."
El tak mendengarkan Sandra, ia menunggu kedatangan para bodyguardnya. Tak lama setelah itu datanglah 2 orang bodyguard menghadap El.
"Bawa dia keluar sekarang! Jangan sampai dia masuk kembali dalam mansion!" titah El.
Kedua bodyguard itu saling lirik lalu menganggukkan kepalanya. Dengan tak berperasaan mereka menyeret tubuh Sandra yang masih memegangi kaki suaminya.
"Akhhh!!!"
"EL!!!!!" dengung suara Sandra sampai pad kamar El, padahal wanita itu sudah hampir masuk pada lift.
El sama sekali tak memperhatikan Sandra, ini memfokuskan dirinya pada Putri saat ini. "Sandra sudah tidak ada, lalu apa yang akan ku lakukan dengan wanita itu ? Haruskah aku menikahinya ? Tapi mengapa ?" batinnya.
"Tuan, ini semuanya sudah saya letakkan pada koper," ucap salah seorang maid yang membuyarkan lamunan El.
Pria itu berdehem sebentar lalu menatap maid itu dingin. "Lemparkan keluar tepat di hadapan Sandra!" perintahnya.
Keenam wanita itu segera keluar dari kamar El dengan satu orang yang membawa 3 koper besar. Putri berada di barisan paling belakang.
Saat akan melewati El, tangannya di cekal. Terpaksa ia harus berhenti berjalan. "Apa ada tuan?" tanyanya sarkas.
"Aku sudah bercerai, bagaimana sebagai perayaan kita menghabiskan malam yang sangat-sangat panas ? Karena besok aku akan berangkat ke Las Vegas untuk membunuh Nathan, Bagaimana ?" tanya El.
Rona merah langsung menjalar pada wajah Putri, ia mengalihkan pandangannya kearah lain. "Terserah tuan, saja," jawabnya malu-malu.
"Oh ya, nanti aku Daddy ku akan datang ke mansion. Setelah 1 jam aku mengobrol tolong bawakan kopi ke ruang kerjaku!"
"Baiklah."
...o0o...
"Aku sungguh sangat tidak menyangka jika Sandra bermain gila dengan Thomas. Aku kira wanita itu dapat menyimpangi mu, ternyata aku salah. Seharusnya aku tak memaksa mu untuk menikah dengannya dulu."
"Sudahlah Dad, tak apa. Lagipula jika aku menjadi dirimu pasti aku akan menyuruh anakku untuk segera menikah. Lagipula saat itu Sandra benar-benar terlihat seperti wanita baik. Aku sampai sekarang tak mengira jika dirinya berbuat sesuatu yang akan menghancurkan keluarga kita.
Tangan Putri terasa kram seketika, sudah hampir dua puluh menit ia menunggu kedua orang yang berada di dalam ruangan kerja milik El itu untuk berhenti bicara.
__ADS_1
Tapi selama itu pula mereka asik mengobrol, kedua tangan Putri yang memegang nampan berisi dua gelas kopi sudah mati rasa di buatnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang nak ?" tanya Jeffery pada anak angkatnya itu. Jujur saja pria paruh baya itu tak enak pada El karena sudah menjodoh-jodohkannya.
"Entahlah, aku tak tahu apa yang akan aku lakukan setelah menceraikan Sandra."
Pintu di ruang kerja El ini tak tertutup dengan sempurna, melalu cela kecil ini Putri dapat melihat El yang tampak frustasi duduk di kursi kebesarannya dan Jeffery yang menatap lembut anaknya.
"Haruskah aku masuk saja ke dalam ? Letakkan meminum lalu pergi ?" tanyanya pada dirinya.
Putri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, ia dapat mendengar kedua orang itu masih terus berbicara. Namun ia tak perduli, dirinya harus segera meletakkan kopi ini dan mengistirahatkan badannya.
Baru akan mengetuk pintu, tubuhnya menegang seketika saat kedua pria itu membahas sesuatu yang sensitif.
"Kau sudah cukup matang El, apa kamu tidak ingin memiliki anak ? Pulang kerja lalu di sambut dengan anak itu membuat rasa cape seharian bekerja akan hilang," jelas Jeffery pada anaknya.
El tertawa mendengar penuturan ayah angkatnya itu. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tidak butuh anak dad, apalagi istri. Memang anak untuk apa ? untuk penerus perusahaan ? Aku tidak memerlukannya. Aku akan memberikan perusahaanku pada karyawan yang benar-benar setia mengabdi denganku. Dan untuk istri, aku bisa membayar wanita manapun untuk tidur denganku."
"Dad, aku ini pengusaha kaya. Tidak ada satu wanita pun yang akan menolak untuk tidur dengan ku!"
Deg...
Jantung Putri terasa sakit mendengar itu, namun siapa memang dirinya ? Ia akan hanya mainan El yang jika pria itu sudah bosan pasti akan membuangnya.
Tapi entah mengapa tangan yang memegang nampan itu bergetar, disertai dengan tangis yang tiba-tiba luruh pada wajahnya.
"Lalu bagaimana dengan Putri ?"
"Ah wanita itu, entahlah Dad. Mungkin saat aku bosan, aku akan memulangkannya ke Indonesia."
Ia membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang kerja El, dilihatnya ada seorang maid yang baru keluar dari kamar El sembari membawa pakaian Sandra.
"Tolong ini bawa ke ruang kerja tuan, pakaian itu biar aku yang bawa ke belakang untuk di bakar."
Maid itu menatap Putri bingung, tapi tetap menukar bawaanya dengan nampan berisi kopi itu.
"Ada apa denganmu ? Kenapa tiba-tiba menangis ? Kenapa suara bergetar ?' tanyanya beruntutan.
Putri menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan maid itu. "Tidak, sana antarkan kopi itu, tuan sudah menunggu."
Setelahnya Putri berjalan memasuki lift, untuk sampai ke lantai dasar. Saat berada di dalam lift, ia mengelus lembut perutnya yang tertutup oleh korset itu.
"Tidak apa jika Daddy tidak menantikan kelahiran mu, karena Mama akan segera membawamu jauh dari Daddy...."
...o0o...
Mampir yaa ke cerita baru aku, 100 fav aku bakal crazy up 🥰
KLIK PROFIL AKU ....
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA