WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 42 - HARUSKAH ??


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Sandra membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju Grevan yang kini menampilkan senyum miringnya.


Wanita cantik itu kembali duduk dengan anggun seraya meliput kedua kakinya, dengan kaki kanan yang berada di atasnya. Sandra menatap Grevan penuh penasaran.


Tadi pria itu mengatakan akan membantunya cepat hamil. Lalu apa yang bisa membantunya agar cepat hamil ?


"Kenapa lama sekali ? Cepat jawab pertanyaan ku!" desak Sandra.


Sudah beberapa detik sejak Sandra menanyakan pada Grevan cara agar ia cepat mengandung anak El tapi tak di jawab juga oleh pria itu.


Sandra mendengus kesal dengan keterdiaman Grevan, ia merasa di permainkan. Secepatnya ia berdiri dari duduknya dan kembali berjalan keluar dari ruangan itu.


Namun tangganya di pegang oleh Grevan erat. "Duduklah, aku akan mengetakan sekarang," ucap Grevan yang membuat Sandra geram.


Wanita cantik itu memutar bola matanya malas, namun ia menuruti ucapan Grevan. "Cepat katakan," ucapnya malas.


"Kamu pergi ke dokter kandungan, dan mengecek tanggal subur mu. Kau lakukan hal itu saat masa suburmu sedang berlangsung. Itu membuatmu bisa hamil cepat," jelas Grevan.


Raut Sandra tiba-tiba muram mendengar penjelasan Grevan, ia memilin-milin tangannya di bawah meja.


"Ada apa ?" tanya Grevan bingung dengan perubahan sikap Sandra. "Apa ada kata-kata ku yang salah ? Pergi ke rumah sakit adalah jalan satu-satunya San, kamu juga bisa meminta obat penyubur rahim," jelasnya lagi.


"Van kau lupa aku siapa ?" tanya Sandra lesu, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Aku istri dari seorang Leonello Alexander de Luca!" jelasnya yang membuat Grevan mengerti.


"Dimana pun aku pergi, semua kamera akan menyorot ke arahku, lalu mereka akan membuat berita yang tidak-tidak," sambungnya.


Sandra menggambil gelas miliknya dan meminum minumannya hingga tanda tak tersisa. "Lalu kau mengatakan jika ke rumah sakit saja ?" tanyanya dengan lirih. Sandra mengusap air matanya kasar. "Bisa-bisa mereka memfotoku dan menyebar rumor aku hamil, padahal faktanya aku tidak hamil."


"Atau mungkin yang lebih parah mereka akan membuat berita mengatakan jika aku adalah seorang wanita mandul, yang selama 5 tahun pernikahan tidak bisa memberikan anak pada suamiku. Padahal faktanya El yang jarang pulang ke rumah," sambungnya yang menusuk hati Grevan.


Tak kuat melihat air mata Sandra, segera Grevan menarik lengan Sandra pelan dan merengkuh tubuhnya untuk masuk dalam dekapannya.


"Ternyata sangat sulit menjadi dirimu," ucap Grevan.


Tangisan Sandra semakin terdengar memilukan, dan itu juga membuat Grevan makin merasa bersalah.


Jika saja waktu itu ia bis merebut hati Sandra, mungkin mereka saat ini sudah memiliki 2 orang anak yang lucu-lucu.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak mau El menceraikan ku, aku sangat mencintai dia...."


Grevan menganggukkan kepalanya mengerti, ia memikirkan ide yang mungkin bisa saja membantu Sandra.


"San bagaimana jika meminta dokter kandungan ke mansion mu ?" tanya Grevan semangat. "Jika kau mau aku akan membawakannya besok pagi, saat El berangkat kerja," sambungnya mantap.


Sandra melepaskan pelukannya, dan menatap Grevan dengan mata sayunya. "Aku mau Van, aku mau..." cicitnya Dan diangguki dengan cepat oleh Grevan.


Grevan tersenyum kecil dan kembali memeluk Sandra. "Tenang saja, sebelum kamu membuka mata, pasti dokter itu sudah ada dalam Mansion mu."


"Ta–tapi Van, jika aku dalam masa subur tapi El tidak ada. Apa yang harus aku lakukan ?" tanya Sandra menatap El bingung.

__ADS_1


...o0o...


Sandra melangkahkan kakinya senang masuk ke dalam mansion megah miliknya dan juga suaminya.


Tadi penjaga mengatakan jika El sudah pulang sekitar satu jam yang lalu. Itu berarti suaminya tak berangkat ke Las Vegas dan bermain dengan para wanita malam.


"Yash!!!!" Sandra bersorak senang dalam hati. Apa mungkin jika El tak ke Las Vegas karena ingin merasakan tubuh Sandra lagi ?


Wajah Sandra memerah bak kepiting rebus, hari ini ia akan memanjakan suaminya itu dengan benar.


Tak seperti kemarin, ia lebih mementingkan egonya daripada perasaan suaminya. Grevan mengatakan jika saat istri menolak suaminya maka sang suami akan merasa terhina, dan berfikir jika dirinya buruk, dan tak enak untuk istrinya.


Kali ini Sandra akan merelakan tubuhnya habis-habisan untuk sang suami tersayang.


"Dimana El ?" tanya Sandra pada salah satu maid yang tengah membersihkan guci-guci mahal koleksinya di dekat pintu lift.


Maid yang merasa di ajak berbicara, seketika mengehentikan kegiatannya dan membungkukkan kepalanya sopan. "Setelah masuk ke mansion, tuan langsung menuju kamar nyonya. Dan tak keluar kamar sampai sekarang."


Lagi-lagi Sandra tersenyum girang dan mengucapkan terima kasih pada maid itu.


Tak mau membuat suaminya menunggu, Sandra segera memencet tombol lift dan memasuki lift itu.


"Pasti dia sangat merindukanku!" gumamnya senang.


...o0o ...


"El, kamu di dalam ? Aku masuk ya sayang...." ucap Sandra berteriak.


Putri dan El saling menatap satu sama lain. Mereka berdua sama-sama panik.


Jika begini, apa yang harus mereka berdua lakukan ?


Sekuat tenaga Putri tak mengeluarkan suara anehnya saat berada di dekat pintu itu. Bisa-bisa ia di bakar hidup-hidup oleh Sandra.


"Tuan, hentikan!" desak Putri karena El yang terus bergerak tak ingin berhenti. "Ini harus diselesaikan dulu!" titah El sembari berbisik menatap Putri nyalang karena berani melawannya.


Terdengar suara gedoran pintu lagi dan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Nampaknya Sandra mulai khawatir dengan keadaan El.


"Sayang, kamu di dalam kan ? Kamu sakit ya ? Sayang!!!" tanya Sandra khawatir.


Siapa yang tak khawatir jika suaminya yang terkenal peka terhadap suara kecil apapun tiba-tiba tak menyahuti panggilannya yang sangat kencang itu.


Perasaan Sandra tiba-tiba menjadi tak enak, ada apa sebenarnya di dalam sana.


Matanya kini tertuju pada knop pintu, dengan gerakan perlahan, Sandra mengangkat tangannya dan menjatuhkannya pada knop pintu itu.


Dengan perasaan yang tak menentu ia mencoba untuk memutar knop pintu kamar mandi itu.


"Shhh... hmmm..."


Sandra membulatkan matanya terkejut saat mendengar suara rintihan wanita yang nampaknya tengah menahan sakit.


Dengan cepat ia memutar knop itu, dan ternyata terkunci. Lagi-lagi ia menggedor-gedor pintu itu kencang.


"Sayang buka pintu ini, kumohon...hiks...hiks..."


Sementara di dalam kamar mandi, tangan Putri secara reflek memutar kunci pintu itu, saat melihat knop pintu itu terbuka.


"Untung kamu punya reflek yang cepat," puji El di belakang tubuhnya sembari tersenyum miring.

__ADS_1


Putri memejamkan matanya saat El semakin dalam saja bermain padanya.


"Shh... sebentar Sandra, sebentar lagi aku akan keluar, tunggu sebentar," ucap El pada akhirnya dengan ambigu.


Mendengar ucapan suaminya membuat Sandra sedikit bernafas lega. "Kamu tidak apa-apa kan sayang ?" tanya Sandra khawatir.


Ia menghapus air matanya kasar.


"Aku sakit San, perutku terasa memililit," ucapnya berbohong.


Sandra tentu saja panik mendengar ucapan suaminya itu. Pantas saja El pulang lebih cepat ternyata suaminya itu tengah tak enak badan....


"Bukan pintu itu sayang, aku akan memberikan obat dan merawatmu," kata Sandra dengan lembut, tak ada lagi kecurigaan yang menganggu pikirannya.


"Shhh....ahh..."


Akhirnya mereka berdua selesai, segera mereka membenarkan pakaiannya, tak lupa El menyemprot sedikit pengharum ruangan agar Sandra tak curiga.


"Sebentar," jawab El untuk Sandra.


El mengkode Putri untuk bersembunyi di dinding dekat pintu. Jadi jika Sandra membuka pintu, tubuhnya akan tertutup pintu, dan ia bisa keluar dari kamar mandi dengan tanpa ketahuan Sandra.


"Mengerti ?" tanya El lagi dan dijawab anggukan oleh Putri.


Ceklek...


Pintu kamar mandi itu terbuka, segera Sandra masuk dan memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu, sayang..." ucap Sandra dengan lirih.


El membalas pelukan wanita itu erat dan mengkode Putri untuk segera keluar dari kamarnya itu.


Mengerti dengan kode El, segera Putri berjalan jinjit agar langkah kakinya tak mengeluarkan bunyi dan keluar dari kamar pribadi El.


Sayup-sayup Putri mendengar sepasang suami itu berbicara. Yang sedikit membuatnya merasa bersalah yang amat besar pada Sandra.


"Aku akan segera meminta chef untuk membawakan bubur dan meminta dokter kemari untuk memeriksa mu, sayang."


"Sungguh aku tak akan tenang jika kamu sakit begini, semalam ini aku akan memelukmu hingga kamu membuka mata di hari esok."


Putri menutup pintu kamar El dan juga Sandra itu perlahan. Lalu tubuhnya luruh ke lantai setelah mendengar ucapan tulus Sandra pada El.


"Aku datang kemari hanya memperkeruh suasana saja," cicitnya membenci dirinya sendiri. "Nyonya Sandra sangat mencintai suaminya, dan aku datang kemari malah semakin membuat jarak antara El dan juga Sandra," sambungnya.


Putri menjambak rambutnya frustasi. "Tapi apa yang bisa aku lakukan ? Jika aku tak melanjutkan pekerjaan ini aku harus membayar ganti rugi yang sangat besar atau bisa saja aku harus membayar dengan nyawaku sendiri. Ini semua karena aku yang terikat kontrak kerja dengan 2 tuan di rumah ini. Tuan El dan juga Sandra."


Diam-diam Putri melirik ruang kerja El yang berada di sebelah kamar milik tuannya itu. Haruskah ia masuk kesana lalu mengganti surat perjanjian itu ? Atau mungkin membakar surat itu saja ? Agar El tak punya senjata lagi untuk menahannya di mansion ini.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2