
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Dinda, Ibunya, kak Ayu–asisten rumah tangga yang di sewa Putri untuk menemani Dinda, dan juga Rosa–psikolog pribadi suruhan El sudah berada di rumah mewah dua lantai milik Dinda yang di belikan oleh El atas nama adik Putri itu sendiri.
Meskipun tidak seluas rumah mewah lainnya, tapi rumah ini benar-benar cukup luas dan melegakan untuknya dan Ibu.
Apalagi rumah ini juga dikelilingi oleh tetangga yang ramah, saat mereka baru sampai tadi, kedatangannya sudah di sapa oleh beberapa tetangga yang berbelanja di tukang sayur keliling.
Dengan penuh haru keempat wanita itu memasuki rumah luas mereka. "Alhamdulillah Mom, ini rumah yang di belikan untuk kakak sama kita," ucap Dinda mengucapkan syukur sembari menggenggam kedua tangannya.
Di belikan Dinda ? Ya itu memang atas suruhan El. Pria itu menyuruh Fred memilihkan rumah luas tapi tidak terlalu mewah agar Dinda benar-benar mengira jika rumah yang sedang mereka tempati itu berasal dari kerja keras Putri yang sudah hampir 3 bulan menetap di Amerika.
"Non, saya bersih-bersih badan dulu ya," ucap Bi Ayu yang merasakan badannya lengket. "Tapi kamar saya dimana ya ?" sambung Bi Ayu sembari tersenyum kikuk.
Dinda menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia juga tidak tahu kamar-kamar di rumah ini berada di mana saja.
"Aku juga gak tau Bi, coba Bi Ayu sama kak Rosa cari aja dulu. Kalian bebas mau pilih kamar dimana," jawab Dinda yang membuat kedua orang itu tersenyum lebar.
"Baik Din, kalo gitu aku mau cari di sekitar dapur ya. Nanti selesai bersihin badan kita bisa kerja sama bersihin rumah ini sama-sama dan menata pakaian kita sama-sama," usul Rosa yang langsung di angguki oleh kedua orang yang ada disana, terkecuali Ibu Putri.
Kedua asisten Dinda itu segera melancarkan aksinya untuk mencari kamar. Meninggalkan Dinda dan ibunya yang masih berada di ruang tamu.
Berbicara tentang ibu Putri, kini wanita itu sudah mulai bisa berinteraksi dengan orang lain. Meskipun trauma juga masih membekas dalam ingatannya. Kejadian pemer****ko***saan yang di alaminya lima bulan yang lalu benar-benar merusak mentalnya.
Meskipun sudah mau mengobrol dengan orang lain, Ibu Putri tetap tidak bisa dan akan menjerit juga bertatap muka dengan laki-laki yang tidak ia kenal sebelumnya.
Melihat ibunya yang menatap isi rumahnya ini satu persatu membuat senyum Dinda mengembang seketika.
"Mommy suka rumahnya ?" tanya Dinda.
Siska, Ibu Putri membalikkan badannya untuk menatap anak bungsunya itu, lalu menganggukan kepalanya pelan.
"Su–suka..." jawabnya dengan nada suara pelan.
Dinda tidak bisa untuk tidak menangis mendengar jawaban Ibunya, ia mendekati Siska dan memeluk wanita itu erat. "Ini semua berkat usaha kakak. Dia bekerja keras di luar negeri."
"Pu–putri...." jawab Siska.
Lagi-lagi Dinda tersenyum mendengar jawaban Ibunya. "Iya kak Putri." Dengan tangan gemetarnya Siska memegang wajah Dinda dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mo–mommy ka–kangen putri...."
...o0o...
Mobil Limousine milik El terparkir indah di pekarangan rumah keluarga besar de Luca yang kini sudah di hiasi oleh bunga-bunga indah guna merayakan hari kelahiran sang legenda.
Dengan di bantu bodyguard, El berjalan keluar dari mobil bergandengan dengan Sandra. Diikuti oleh Fred dan Putri yang menundukkan kepalanya takut berjalan beriringan.
Wanita itu jelas sangat ketakutan, tubuhnya bergetar hebat saat baru menyadari dirinya akan bertemu dengan orang yang digadang-gadang dulu akan menjadi calon mertuanya.
Fred yang melihat aura ketakutan yang di pancarkan dengan jelas dari tubuh Putri tersenyum senang. Meskipun iya tidak tahu apa yang membuat wanita itu ketakutan, tapi iya senang melihat penderitaan yang Putri alami
"Silahkan masuk Mr. Leonello de Luca dan Mrs. Sandra de Luca," ucap seseorang di depan pintu mansion berdesain seperti kerjaan Inggris itu.
Tanpa basa-basi El dan juga Sandra masuk ke dalam mansion diikuti oleh kedua asistennya itu.
Mansion yang berbentuk seperti kerjaan ini benar-benar sangat luas. Putri saja sedari tadi tak bisa untuk tidak kagum saat melihat isi dalamnya, meskipun rasa ketakutannya masih ada.
Butuh beberapa menit bagi El untuk sampai ke pelataran mansion yang sudah dihiasi untuk acara ulang tahun sang kakek.
Baru saja kakinya melangkah memasuki ruangan terbuka itu, suara melengking sang kakek sudah mengagetkannya.
"Cucuku!!" teriaknya lantang sembari berjalan menemui cucu satu-satunya yang sudah ia tunggu sedari tadi.
Melihat kakeknya yang berlari terpincang-pincang ke arahnya, El segera menghampiri sang kakek dan memeluk pria tua yang rambutnya sudah berwarna putih semua dengan erat.
El menyalurkan perasaan rindunya terhadap sang kakek yang sudah lama ia tidak temui karena kesibukannya.
"Dasar anak nakal!!" umpat Theo, kakek El sembari melepaskan pelukan mereka. "Kenapa kau tidak menemui pria tua ini lagi ?" sambungnya marah.
Sandra dan Fred yang yang melihat interaksi kedua cucu dan kakek itu tersenyum senang. Benar-benar sangat terlihat menggemaskan.
Sementara Putri hanya mampu menundukkan kepalanya takut. Ia takut akan ketahuan oleh Jeffery.
"Apa kau akan menemui ku saat aku mati nanti ?" sambungnya kesal menatap sang cucu sengit.
Baru akan membalas ucapan sang kakek, Paman El segera melerai mereka dan kini memeluk El dengan erat.
Ia juga kangen dengan keponakan yang sudah ia anggap seperti anak sendiri ini.
"Sudahlah Dad, jangan marahi anakku lagi. Dia baru saja datang, suruh dia duduk dulu. Kasian istrinya daritadi berdiri, belum Daddy suruh duduk," lerai Thomas, paman El.
Theo menghempaskan nafas panjang, dan menyuruh mereka semua untuk duduk di meja makan yang sudah ia sulap sedemikian rupa hingga menjadi begitu cantik.
"Sayang...." ucap Risa, bibi El yang memeluk keponakan dan istrinya itu secara bergantian.
"Aunty, aku merindukanmu..." cicit Sandra membalas pelukan Risa tak kalah erat.
__ADS_1
Setelah melepaskan pelukan pada sang bibi, Sandra berjalan menuju Thomas–paman El dan memeluk pria setengah baya itu erat.
"Uncle, aku merindukanmu," ucap Sandra. Thomas segera membalas pelukan istri keponakan itu erat.
"Uncle juga sangat merindukanmu sayang," jawabnya.
Saat pelukan itu terlepas, Thomas tak lupa memberikan kecupan singkat pada kening Sandra.
"Bagaimana ? Apakah cucuku sudah ada di sini ?" tanya Thomas sembari mengelus perut rata Sandra.
Sandra dan El saling berpandangan singkat, sebelum El memutuskan pandangannya beberapa detik kemudian.
"Sebentar lagi, Uncle. Tunggu saja..." jawab Sandra dengan senyum manisnya.
Thomas menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sandra. Tangannya masih setia mengelus perut rata Sandra.
"Uncle sangat mengharapkan anak ini lahir...." ucap Thomas lirih.
Melihat wajah sedih suaminya, membuat Risa juga ikut sedih. Sudah lebih dari 30 tahun menikah, ia dan juga Thomas belum memiliki anak.
Wajar bukan jika Thomas sangat mengharapkan kehadiran anak Sandra dan juga El.
"Oh ya grandpa, dimana Daddy ?" tanya El mengalihkan pembicaraan.
Membahas anak membuat telinganya sakit.
"Dia mungkin akan datang besok kemari. Jeffery sedang ada di Singapura sekarang, ada bisnis yang harus ia selesaikan," jawab Theo cepat.
Pria itu meminta seluruh keluarganya untuk segera duduk dan memakan makanan yang ada di atas meja.
Sementara para asisten mereka berdiri tepat di belakang bangku tuan mereka duduk.
Fred melirik kearah Putri yang kini tengah tersenyum senang. Ia mengerutkan dahinya bingung.
"Tadi bocah ini ketakutan, sekarang kenapa dia begitu terlihat gembira ?" batin Fred bingung.
Sementara Putri kini benar-benar merasa lega, karena Jeffery tidak bisa datang kemari. "Tuhan, terima kasih telah menyelamatkanku hari ini..." batinnya senang.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE+GIFT YAA
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA