
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Seorang wanita berpakaian sangat minim, ketat, dan juga tentunya sangat seksi tengah menari-nari dengan sangat menggoda di hadapan pria tampan dengan bau uang yang terasa sangat keras di tubuhnya.
Sebisa mungkin wanita berpakaian minum itu menggoda pria itu agar mengajaknya untuk menghabiskan malam yang dingin ini menjadi lebih hangat.
Tak...tak...
Senyum lebar terbit di wajah wanita itu, saat sang pria menepuk-nepuk pahanya, mengkode wanita itu untuk duduk di paha yang terbalut celana panjang berwarna hitam itu.
Dengan sigap, Frisca–nama wanita itu menduduki paha sang lelaki dan menggoyangkan tubuhnya sesuai alunan lagu yang saat ini di putar DJ.
Tangan Frisca sudah menari-nari di dada bidang milik El–lelaki kaya yang di maksudkan oleh Frisca.
"Tuan El selalu tampan," bisiknya sensual di depan bibir El. "Sedari dulu saja selalu mendambakan bisa berbagai malam dengan tuan, tapi selalu saja wanita lain yang dapat." Frisca menatap El dengan tatapan memujanya.
"Hari ini aku sangat beruntung bisa dekat dengan tuan, jadi biarkan aku melayani tuan dengan baik malam ini. Aku berjanji akan membuat tuan El selalu menginginkan Frisca setelah ini," sambungnya.
El diam memperhatikan Frisca yang duduk di pangkuannya. Tak ada hasrat yang menggebu-gebu sama seperti saat ia bermain dengan Putri.
Tapi Frisca ini sangat cantik, dan juga lebih seksi dari Putri. Wanita ini juga terkenal sangat bisa memuaskan customernya, tapi kenapa El tidak bergairah ?
"Jangan banyak bicara, langsung saja Fris..." bisik El tepat di telinga Frisca.
Wanita cantik yang baru pertama kali mendengar suara berat El menengang seketika. Bagai ada sengatan listrik yang menjalar pada tubuhnya.
"Ba–baik tuan." Pertama kali Frisca merasakan gugup saat akan memuaskan pelanggannya.
Bibir mereka bertemu, tak membuang waktu El segera mengambil alih aktivitas bibir mereka ini. Setelah beberapa menit bibir mereka menjauh, El menatap Frisca dengan remeh.
"Katanya jago ? Ci**u**man saja kamu tidak bisa," ledeknya.
Pipi Frisca merona seketika, ia juga mempertanyakan itu pada dirinya sendiri. Kenapa ia jadi tidak selihai biasanya ?
Baru akan menjawab ucapan El, ada seseorang yang berjalan ke arah mereka. Frisca merenggut marah, dan menatap Fred yang datang kearah mereka dengan nyalang.
"Ada apa Fred ?" tanya El dengan tangan yang masih berada di pinggang Frisca.
Fred mendekatkan dirinya kepada El dengan wajah yang ketakutan. "Tuan, di mansion kita tertangkap mata-mata dari Nathan," ucapnya sedikit kencang, mengingat suara musik dari DJ itu benar-benar sangat kencang.
El tersenyum miring lalu menganggukkan kepalanya singkat. "Tahan saja dulu, besok baru aku akan kembali ke New York! Jangan sampai lepas!" titah El yang diangguki oleh Fred.
Namun saat pergi dari hadapan El, ia meneriaki namanya dengan kencang. Fred berbalik dengan alis yang terangkat–bingung.
"Ada apa tuan ?" tanyanya.
__ADS_1
"Carikan aku wanita lain, yang wajahnya mirip dengan Putri," ucap El yang mendapat pelototan dari Frisca, pria itu melepaskan tangannya pada pinggang Frisca.
"Tuan, berikan saya satu kesem–"
"Sekarang Fred!" ucap El memotong ucapan Frisca.
Fred menganggukkan kepalanya mengerti, dan mencari salah satu mu**ci**kari yang ada di sana untuk mengumpulkan seluruh wanita malam, agar ia dapat menilai siapa yang lebih mirip dengan Putri.
Sementara El, kini ia telah dengan kasar mendorong tubuh Frisca yang berada dipangkuan nya, hingga wanita itu jatuh terjerembab di lantai.
Seperti biasa El mengambil cek kosong lalu mengisinya dengan nominal angka dan di lemparkan tepat mengenai wajah Frisca.
"Pergi!" ucapnya dingin.
"Tuan seka–"
"Pergi wanita ******!!" El menatap dengan dingin Frisca, sama sekali ia tidak berminat pada wanita itu.
...o0o...
Dengan tangan gemetar Putri membuka pintu rumah yang di belikan oleh El padanya. Ia sungguh tak menyangka akan sampai di tanah airnya ini.
Ceklek...
Perlahan pintu itu terbuka, ia menangis haru tatkala melihat figuran yang sangat besar di dinding rumah itu yang menampilkan foto kedua orang tuannya.
"Hiks....hiks....Daddy, Mommy akhirnya kakak bisa...hiks....hiks...pulang...." isaknya tak tertahan.
Ia menggeret kopernya untuk masuk ke dalam rumah besar itu. Dengan tubuh yang gemetaran menangis.
Putri yang sedari tadi berdiri dihadapan makan orang tuannya seketika membalikkan badan saat seseorang yang sudah menjaga adiknya selama beberapa bulan belakangan itu datang menghampirinya.
"Kamu Ayu kan ?" tanyanya.
Ayu mengerutkan dahinya bingung menatap Putri. "Anda siapa ya ? Kenapa masuk rumah orang sembarang, anda sangat tidak sop–"
Grep....
Putri memeluk erat tubuh Ayu, melalui pelukan itu, ia mengucapkan terima kasih kepada Ayu karena sudah menjaga adiknya selama ini.
"Saya Putri, kakak kandung Dinda. Sekaligus orang yang membayar kamu," ungkap Putri setelah pelukan mereka terlepas.
Pipi Ayu memerah seketika, bagaimana tak malu jika ia saja tidak bisa mengenali majikannya. "Astaga, non Putri. Masuk non, biar saya bawakan kopernya."
Ayu membawa koper Putri masuk, bersamaan dengan Putri yang juga ikut melangkah masuk ke rumah milik Dinda yang di belikan oleh El itu.
"Nona mau mandi sekarang ? Biar saya bawakan koper ke kamar anda, atau mungkin mau mak–"
"Tidak perlu Yu, sekarang saya dan Dinda harus pergi ke luar kota. Saya takut waktunya tidak sempat," jawabnya.
"La–lalu saya nona ?" tanya Ayu.
"Kamu tidak ada keluarga memang di sini ?"
__ADS_1
Wanita berpakaian merah sederhana ini menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia menatap Putri dengan tatapan memohonnya. "Biarkan saya ikut anda nona, kemana pun anda pergi. Saya berjanji akan mengabdi dengan setia pada anda. Saya yatim piatu non, tidak memiliki satu saudara sekalipun," jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
Putri menghela nafas panjang dan segera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Saya kasih kamu waktu 10 menit untuk beberes. Setelah itu kita akan berangkat pergi jauh dari kota Jakarta ini!" ucap Putri.
Dengan cepat Ayu menganggukkan kepalanya dan menatap Putri dengan mata berbinar. "Terima kasih non, terima kasih banyak! Kalau begitu sa–"
"KAKAK!!!" teriak Dinda dari lantai atas. Gadis remaja itu sungguh terkejut dengan kedatangan sang kakak.
Ia berlari dengan sangat cepat untuk menuruni tangga dan memeluk sang kakak dengan erat.
"Kak....Dinda....hiks...hiks...kangen..." bisiknya terdengar begitu menyakitkan pada telinga Putri.
Putri membalas pelukan adiknya dengan sangat erat, menyalurkan rasa rindu yang ia pendam hampir 6 bulan ini.
"Ayu, cepat bereskan barangmu!" titah Putri tanpa melepaskan pelukan mereka.
Mendengar ucapan Putri, tanpa menjawab Ayu segera memasuki kamarnya dan mengemasi seluruh barang-barangnya.
"Ada apa ? Mau kemana ?" tanya gadis remaja itu seraya melepaskan pelukan mereka.
Putri mengelus rambut sang adik dengan sayang. "Kita harus pergi Din, di suatu tempat terpencil di luar kota. Kamu harus segera berkemas, kakak tidak akan pernah lagi meninggalkan mu sendirian!"
Dinda menatap kakaknya bingung, "memang ada apa kak ? Kenapa ? Apa yang terjadi ?" tanya gadis itu beruntun.
"Singkatnya begini, sekarang kakak hamil. Dan pria yang menghamili kakak mungkin sekarang sudah dalam perjalanan ke Indonesia. Jika kita tidak cepat-cepat pergi dari rumah ini maka mungkin kakak akan di seret untuk kembali ke New York dan mungkin kita tidak akan bertemu lagi seumur hidup!" jawab Putri.
Penjelasa dari kakaknya itu membuat tubuh Dinda menegang seketika, apa yang tadi wanita ini bilang, dia hamil ??
"Ka–kakak hamil, apa kakak sudah menikah ? Siapa ayahnya ?"
Putri menghela nafas panjang, sembari menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Kakak tidak menikah, kakak melakukan kesalahan besar hingga kakak hamil. Pertanyaan lainnya akan kakak jawab nanti saat kita sudah sampai di pedesaan itu. Sekarang kita harus cepat-cepat pergi, kamu mau kita terpisah lagi ? Mau kakak kembali ke New York ?" tanya Putri.
Dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak kak! Aku mau bersama kakak selamanya!"
"Tunggu di sini 10 menit, aku akan mengemasi semua barangku!" sambungnya.
Dilihatnya Dinda berlari menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Sementara Putri mendudukkan dirinya di sofa pada ruang tamu itu.
"Semoga masih bisa keburu...."
...o0o ...
LIKE+KOMEN+GIFNYA KAKAK 🥰🥰
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA