
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Mobil milik El terparkir sempurna memasuki garasi koleksi mobil mewahnya yang berjejer rapi.
Fred dengan segera keluar dari bangku sebelah supir untuk membukakan pintu mobil untuk tuannya itu.
El keluar dengan wajah bersinar, entah apa yang membuat pria itu sejak beberapa Minggu ini menjadi pribadi yang lebih sabar dan juga tenang.
Apalagi hari ini, ini adalah suatu keajaiban karena El pulang ke mansionnya lagi setelah kemarin ia pulang. Bisanya Fred akan menjadwalkan El untuk ke Las Vegas sesuai perintah tuannya, karena mengurusi bisnis gelapnya sesuai biasa dan akan kembali besok pagi ke New York untuk bekerja di perusahaan.
Tapi ini berbeda, tuannya menolak saat Fred akan menghubungi pilot untuk membawa helicopter milik El dan mengatakan pada Fred untuk sementara dirinya saja yang mengurus semua bisnis gelap El.
Meskipun Fred kesal dengan ucapan El yang membuat pekerjaannya bertambah banyak, tapi ia juga senang karena mungkin saat tuannya tidak mengunjungi Las Vegas maka El sudah pasti akan menghabiskan waktunya di mansion.
Tentunya bersama dengan Sandra.
Lagi-lagi Fred tersenyum kecil, kemarin ia mengingat tuannya membelikan Sandra sebuah gelang seharga 17 milyar rupiah. Dan kini tuannya mengatakan jika sementara dirinya vakum dari bisnis gelap.
Apakah El kini sudah mulai sadar jika Sandra membutuhkan dirinya atau mungkin El sudah berniat untuk memiliki anak bersama dengan Sandra ?
Ngomong-ngomong soal anak, beberapa hari yang lalu ayah angkat El menelfon tuannya itu dan mengatakan bagaimana keadaan Sandra dan mempertanyakan apakah istrinya itu sedan hamil atau tidak.
Mungkinkah tuannya juga ingin memiliki anak ?
"Fred, kau tampak seperti orang bodoh karena sejak 3 menit yang lalu kau terus-menerus tersenyum," sindir El yang masih berdiri di depan pintu mobil dengan posisi Fred yang masih memegangi gagang pintu.
Lamunan Fred buyar, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal laku tersenyum kikuk pada El. "Maafkan saya, tuan."
El menggelengkan kepalanya kecil lalu berjalan masuk menuju mansionnya diikuti oleh Fred di belakangnya.
"Kau tak perlu ikut masuk, langsung ke Las Vegas saja," perintah El sembari berjalan.
"Baik, tuan," jawab Fred, lalu dengan cepat ia membalikkan badan berjalan menuju lift yang ada di garasi mobil itu dan menekan tombol untuk menuju lantai yang paling atas.
Tempat dimana helicopter pribadi milik El berada, sembari menghubungi lagi sang supir pilot.
...o0o...
Jam kini menunjukkan pukul empat sore, dan tidak ada tanda-tanda nyonya akan pulang ke rumah.
Entahlah, Putri tak peduli. Sedari tadi ia mengistirahatkan dirinya yang tampaknya akan terkena flu akibat berendam selama hampir satu jam di dalam kolam renang.
Ia menghidupkan TV dan menonton serial sinetron yang sedikit Putri bisa mengerti bahasanya. Karena semua chanel di TV itu menggunakan bahasa Inggris. Putri memang bisa berbahasa Inggris tapi tak terlalu lancar.
Tapi itu tak masalah bagi Putri, yang penting ia punya waktu untuk memperistirahatkan tubuhnya yang benar-benar lelah.
"Jika bisa mereka berdua tak usah pulang sekalian," gumam Putri dengan senyum kecil.
Matanya masih melihat televisi itu, meskipun ia tak terlalu mengerti semua bahasanya. Tapi setidaknya ia bisa membaca situasi itu.
Kadang Putri tertawa, kadang juga ia kesal saat menonton serial itu.
Hingga suara telfonnya berbunyi membuat fokusnya menjadi terbagi. Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Penyaluran Pekerja Rumah Tangga Jakarta
Selamat siang Ibu Putri,
Saya Dewi, pemilik yayasan PKR 🙏
Sesuai dengan apa yang di katakan Ibu
saya dan juga tim sudah mendapatkan
__ADS_1
seseorang yang bisa menjaga Ibu dan
juga adik anda yang berada di rumah sakit.
Berikut adalah CV beliau 👇
Maharayu Nur Khalisa, 28 tahun.doc.
✓✓
Senyum Putri mengembang seketika, sejak tadi adiknya mengatakan jika dirinya kesepian, Putri langsung mencari jasa ART(Asisten Rumah Tangga) untuk menemani adiknya dan menjaga ibunya saat adiknya sekolah.
Putri langsung membuka CV itu, ia tersenyum setelah melihat riwayat kerja dari wanita bernama Ayu ini.
Wajahnya terlihat kalem, dan tidak mencurigakan. Lalu juga ia sudah bekerja menjadi ART selama 12 tahun, itulah yang membuat Putri yakin dengan wanita bernama Ayu ini.
Segera ia mengirimkan pesan balasan untuk Ibu Dewi, dan mengatakan padanya bahwa ia setuju dengan pilihan Ibu Dewi, dan meminta wanita itu untuk segera bekerja mulai besok.
"Ahh, pasti Dinda akan senang mendapatkan teman mengobrol saat di rumah sakit," gumamnya membayangkan senyum sang adik yang hampir sebulan ini tak ia lihat.
"Setidaknya untuk sementara aku tidak akan khawatir lagi dengan Dinda, yang terpenting adalah kebahagiaannya."
Putri kembali menaruh ponselnya dan memfokuskan dirinya pada televisi itu. Namun baru beberapa detik ia menaruh ponsel, ada seseorang yang menggendor pintu kamarnya.
Tok...tok....tok...
Dengan cepat ia berdiri dari duduknya, tanpa merapikan penampilannya. Karena Putri yakin jika maid yang berada di depan pintu bukan tuan ataupun nyonya-nya.
Karena jika mereka berdua yang datang kemari, sudah pasti akan langsung menyelonong masuk tanpa harus lama-lama menggedor pintu.
Ceklek....
Tepat sasaran!
"Ada apa ?" tanya Putri dengan malas menatap maid itu kesal. "Menganggu waktu istirahat saja!" batinnya kesal.
"Kau di minta membersihkan kamar milik tuan dan juga nyonya, dan jangan lupakan membersihkan kamar mandinya!" ucap maid itu dan langsung pergi meninggalkan Putri.
Putri mendesah kesal, ia menggeram marah menatap punggung maid itu yang berjalan menjauh darinya.
Ia memasuki kembali kamarnya lalu merapikan sebentar penampilannya. Ia keluar dari kamar dengan keadaan yang rapi lalu berjalan menuju kamar milik dan juga Sandra.
Ting...
Pintu lift terbuka, segera Putri keluar dari lift untuk menuju kamar milik tuannya itu.
Entah mengapa Putri merinding saat menyentuh knop pintu yang berlapis emas itu. "Belum masuk saja, hawanya sudah tidak enak begini. Apalagi jika sudah masuk...." gumamnya.
Karena iya sangat yakin jika tuan dan nyonya tidak ada, maka bukan untuk bermaksud lancang Putri masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Wow....." pekiknya terkejut melihat kamar yang memiliki luas 3 kali lebih besar daripada kamar miliknya.
Padahal kamarnya itu sudah sangat besar menurutnya tapi ternyata kamar milik tuan dan juga nyonyanya benar-benar sangat besar.
"Jika begini, sebaiknya aku mulai dari mana ?" gumamnya sembari menelan salivanya susah payah. "Sepertinya ini akan sangat melelahkan!" lesunya.
Putri mulai membersihkan ranjang yang tampak acak-acakan itu. Menurunkan semua bantal guling dan juga selimut, lalu merapikan spreinya lalu menyusun kembali bantal, guling dan juga selimut sama seperti sebelumnya.
Kemudian ia merapikan baju baju kotor milik El dan juga Sandra yang berserakan di lantai kamar itu, lalu memasukkannya ke dalam kantong pakaian kotor.
Lanjut ia membersihkan barang-barang yang tidak berguna di atas nakas meja dan juga merapikan tatanan sofa yang terlihat miring di kamar itu.
Dan yang terakhir Putri masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dan mengecek barang-barang apa saja yang sudah habis lalu menggantinya dengan yang baru.
"Ini sabun cair tinggal sedikit, sebaiknya aku ganti dengan yang baru," ucapnya memegang botol sabun di tangan kanan.
"Tapi dimana letak isi ulang sabun itu ?" gumamnya bingung.
Sungguh kamar mandi milik Sandra dan juga El ini sama besarnya dengan kamar pribadinya. Namun kamar mandi ini jauh terlihat mewah daripada kamarnya.
Sementara itu Putri berjongkok di bawa wastafel yang terdapat bufet yang ia yakini di dalamnya ada alat mandi Sandra dan juga El.
__ADS_1
"Akhirnya ketemu..." ucap Putri girang.
Segera ia berdiri dari posisinya dan membalikkan badannya untuk kembali ke tempat sabun itu.
Namun saat ia membalikkan badannya, ia begitu terkejut saat melihat El sudah berdiri di depannya dengan hanya berte****lan****jang dada.
"Ma–maafkan saya tuan, saya di suruh untuk membersihkan kamar mandi ini," jawabnya gugup dengan dada yang naik turun–takut.
El tersenyum miring, lalu berjalan mendekati Putri yang semakin memundurkan tubuh mungilnya hingga menabrak wastafel.
"Ashhh...." ringisnya saat tubuhnya terbentuk besi itu keras.
Saat melihat Putri sudah terpojok membuat El semakin bersemangat untuk mendekat kearah Putri, hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa cm saja.
El menundukkan wajahnya, lalu berbisik tepat di telinga Putri. "Alasan klasik," bisiknya sembari tersenyum miring. "Kau ingin menggoda aku, atau ingin mencuri di kamar ini ?" tanyanya menuduh.
Setelah mengatakan itu El kembali menjauhkan tubuhnya dari Putri.
Putri menggelengkan kepalanya cepat dan menatap El tak suka. "Saya bersumpah tuan, saya di suruh membersihkan kamar ini!" jawabnya dengan berani.
"Katakan siapa yang menyuruhmu !" pinta El dengan senyum miringnya.
Putri hendak menjawab pertanyaan El, tapi jika diingat-ingat maid itu tidak mengatakan siapa yang menyuruhnya untuk membersihkan kamar El.
Maid itu hanya mengatakan bahwa ia diminta membersihkan kamar tanpa menyebutkan siapa yang menyuruhnya.
El tersenyum kecil melihat keterdiaman Putri, meskipun ia sendiri yang meminta Putri kemari tapi menggoda wanita ini ternyata seru juga.
"Kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku! Kalau begitu aku akan memberikan hukuman padamu!" sambung El.
Dengan sedikit kasar, El menarik tengkuk leher Putri dan mempertemukan bi***bir mereka. Lalu menyesap benda kenyal yang terasa manis itu dengan sangat keras.
Putri meremat tangannya sendiri, karena tak bisa mengimbangi permainan El yang sangat gila menurutnya.
Tangan pria itu juga tak tinggal diam bergerak membuka resleting milik Putri dengan cepat, dan tanpa Putri sadari.
Dengan cepat El membalikkan badan Putri dan masuk tanpa permisi. Putri yang terkejut hanya bisa menangis dan men***de***sah dengan keras.
Mereka melakukannya, tanpa di sadari jika seseorang sudah masuk ke dalam kamar itu dengan membawa rentetan belanjaan di tangan kanan dan kirinya.
"El...." teriaknya nyalang. "Tadi maid bilang jika El sudah pulang sejak satu jam yang lalu, lantas dimana dia ?" tanyanya.
Sandra berjalan menuju walk ini closet untuk mencari El tapi tidak ketemu juga. "El...." teriaknya sekali lagi.
Sementara Putri dan El asik melakukannya di dalam tanpa memperdulikan teriakan sang pemilik kamar lainnya.
"EL!!!!" teriak Sandra sekali lagi dan Putri mendengar dengan jelas kali ini.
Jantungnya berpacu dengan cepat, jika sampai ia ketahui tamat sudah riwayatnya.
Saat Putri akan memberitahu El jika Sandra sudah pulang, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi dengan sedikit keras.
"Sial, dia sudah pulang!" gumam El.
Secara cepat, El membekap mulut Putri dan mengkode wanita itu untuk tak mengeluarkan suara. Putri segera menganggukkan kepalanya mengerti, siapa juga yang ingin ketahuan oleh wanita gila itu.
"El, kamu di dalam ? Aku masuk ya sayang...." ucap Sandra berteriak.
Putri dan El saling menatap satu sama lain. Mereka berdua sama-sama panik.
Jika begini, apa yang harus mereka berdua lakukan ?
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA