
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Kini Leonello dan asistennya Fred sudah menaiki helicopter miliknya untuk menuju Las Vegas.
Sesuai perjanjiannya dengan Robbert, hari ini ia akan menagih kapal pesiar yang sudah dijanjikan pria itu.
Itu semua terjadi saat ia menerima telfon dari Robbert beberapa minggu, pria itu mengatakan bahwa ia akan menaruhkan sebuah kapal pesiar yang baru saja ia beli seharga 120 juta US dollar kepada siapapun yang bisa mengalahkannya bermain dadu.
Dan pria itu juga menantang Leonello untuk ikut dalam judi di kasino itu. Tentu saja, bagi seorang Leonello itu bukanlah hal yang gampang. Ia bisa mengalahkan pria itu hanya beberapa ronde saja.
Setelah dinyatakan menang, Leonello langsung pergi dengan wanita penghibur di sana, tanpa memperdulikan hadiah itu.
Karena ia pikir Robbert akan langsung mengirimkan surat-surat pembelian kapal pesiar itu beberapa hari setelahnya.
Namun hingga detik ini, hampir satu bulan ia menang bermain judi dengan Robbert tak ada satu orang pun, orang utusan Robbert datang menemuinya untuk mengirimkan tanda bukti penerimaan kapal pesiar itu.
Dan ya, sepertinya Robbert ingin mengajak El untuk bermain-main sedikit.
Memikirkan cara liciknya untuk memusnahkan Robbert membuat El nampak tersenyum miring. "Berani-beraninya pria itu bermain api dengan ku," gumamnya.
Ia menyesap wine dalam gelas yang ia pegang sedikit demi sedikit. Hingga menyisakan rasa pahit yang teramat sangat dalam tenggorokannya.
"Ahh...." ia menikmati wine itu dengan mata tertutup. "Wine ini terasa sangat nikmat, Fred!" ucapnya menatap sebotol wine.
Fred menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan El. "Benar tuan, ini adalah wine yang berasal dari Screaming Eagle Cabernet yang diproduksi sejak tahun 1992," jelasnya.
"Berapa harganya ?"
"500 ribu US dollar, tuan."
Lagi-lagi senyum miring tercetak pada wajah tampan Leonello. Ia menaruh gelasnya, dan menutup kembali botol wine itu seperti semula.
Melihat itu membuat Fred bingung, "bukankah tadi, tuan mengatakan enak ? Lalu kenapa ia menutup botol itu kembali ?" batinnya bingung.
"Ada apa, tuan ? Kenapa di tutup kembali ?" tanyanya.
Leonello menatap Fred dengan alis yang terangkat sebelah. "Aku ingin menyimpan wine ini, untuk berbagi bersama dengan sahabat ku."
Senyum kecil kini menghiasi wajah Fred, ia sepertinya tahu apa yang sedang bos-nya itu rencanakan.
Bertahun-tahun menjadi asisten pria hebat didepannya ini, membuat Fred sedikit demi sedikit tahu rencana apa yang dibalik otak cerdas pria ini, meski hanya dari cara bicaranya saja.
"Baik, saya mengerti tuan!"
Helicopter yang ditumpangi mereka berdua sudah terasa mulai turun. Dengan segera El dan juga Fred mengencangkan pengaman mereka.
__ADS_1
"Kita telah sampai, tuan," ucap Fred yang sudah melepas sabuk pengamannya dan berdiri dari duduknya sembari memegang botol wine tadi.
Begitu pula dengan Leonello, ia juga sudah bersiap untuk turun dari Helicopter yang landing tepat di rooftop mansion besar miliknya pribadi.
Tak banyak orang yang tahu ia memiliki mansion di Las Vegas, termasuk dengan keluarganya dan juga istrinya.
Berbicara mengenai Sandra, istri Leonello itu, entah bagaimana keadaan wanita itu sekarang. Tak ada sedetikpun bayangan istrinya yang tengah menangis beberapa jam lalu itu berada dalam pikiran Leonello.
Toh juga, nanti wanita itu akan kembali luluh padanya. Jadi untuk apa Leonello harus berusaha membujuk wanita itu ? Terlalu basi.
Ia bisa membeli senyuman Sandra hanya dengan uang.
Kembali pada Leonello, atau biasa disebut El itu. Ia segera menuruni rooftop di mansion miliknya untuk menuju ruangan bawah tanah.
Tempat di mana sahabatnya itu berada. "Ahh...sungguh tak sabar ingin berjumpa dengan sahabat baikku itu," gumamnya.
Ia berjalan dengan santai menuruni tangga dengan Fred yang berada di belakangnya.
Hingga ia sudah sampai di depan pintu kayu yang sudah tampak sangat usang itu. Di depannya terdapat dua penjaga yang berbadan sangat besar dan juga kekar.
"Buka pintu!" perintahnya.
Dengan segera salah satu dari mereka membuka pintu raksasa itu dengan cepat. Kenapa di juluki raksasa ? Karena tingginya yang mencapai 2,5 meter.
Setelah pintu itu terbuka dengan segera 2 penjaga itu menghindar dari pintu, dan membiarkan Leonello dan juga Fred masuk ke dalam.
Seperti biasa, saat masuk ke ruangan bawah tanah itu, Fred selalu menutup hidungnya karena bau anyir dan juga bau bangkai yang benar-benar tak sanggup ia tahan.
"Ahh..." Ia menghirup banyak-banyak oksigen di ruangan itu. "Benar-benar sangat wangi," gumam El. "Benarkan Fred ?" tanyanya.
"Benar, tuan!" jawab Pria itu cepat namun dengan suara yang sengau, karena pria itu menutup hidungnya.
"Dimana dia ?" tanya El.
Fred berjalan lebih dulu daripada tuannya itu, berniat untuk menunjukkan jalan. "Ikuti saya, tuan."
Mereka berjalan menuju lorong dimana sahabat Leonello itu berada. Ia berjalan menuju penjara yang dipintunya terdapat angka 202.
Fred segera membuka kunci dari penjara itu dan membiarkan Leonello untuk masuk.
Saat memasuki penjara kecil miliknya itu, ia tersenyum puas melihat keadaan sahabatnya yang sangat itu.
Kepala, kedua tangan, dan kedua kaki yang dirantai dengan begitu eratnya tanpa cela. Hingga bagian tubuh yang di rantai itu mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Dan juga keadaan tubuh pria itu yang sudah tak memakai pakaian sehelai pun, membuatnya jadi ingin menggambar di setiap inci tubuhnya.
"BAJ***AN KAU LEONELLO!!!!" teriak kencang.
"BAJ***AN!!!!!!!"
"KEPA*T!!!!!!"
Sumpah serapah ia lantarkan kepada pria yang berdiri di hadapan dengan setelan jas rapi itu. Namun bukannya marah, El malah tersenyum senang mendengar teriakan pria itu.
__ADS_1
"Seperti itu kah sambutan untuk kedatangan ku, Robbert ?" tanyanya sembari berjongkok, menyamakan posisinya dengan tawanannya itu.
Robbert menatap penuh dendam El, "baj**ngan! kenapa tidak kamu hubungi saja aku untuk mengambil kapal si*l itu ?" tanyanya dengan dada yang naik turun.
"Cepat lepaskan rantai-rantai si**an ini!!!" sambungnya.
"Kenapa kau sangat tidak sabaran, hm? Aku ingin bermain-main dulu denganmu, Rob!" jawabnya.
El mengeluarkan sebuah cutter yang sudah sangat berkarat. Dengan senyum miringnya ia main-main kan silet itu di dada telanj*ng Robbert.
"Kau ingin aku gambari apa, hm?" tanyanya dengan suara serak menahan hasrat ini segera menghabisi pria itu.
"ARGHHHHH......"
Sementara Robbert berteriak histeris, El malah semakin menjadi-jadi. Pria itu semakin dalam menancapkan silet itu dalam kulit Robbert.
"Inilah akibatnya jika bermain-main dengan Leonello," gumamnya sebelum mengarahkan silet berkarat itu di bola mata Robbert.
"ARGGGH.....MATAKUU!!!!??" teriaknya.
Bersamaan dengan itu Leonello berdiri dari duduknya dan membalikkan badannya menatap Fred. "Beritakan Robert telah mati karena overdosis obat-obatan terlarang, lalu buat seolah-olah ia membuat surat wasiat yang mengatakan bahwa seluruh harta kekayaannya jatuh pada tanganku!" perintahnya pada Fred.
Leonello mengambil botol wine yang berada pada tangan Fred dan membuka tutup botolnya. Dan secara sengaja ia menumpahkan wine itu di sekujur tubuh Robbert, tak terkecuali di mata pria itu.
"MATAKUU!!! TIDAK!!!!"
"MATAKU!!!!!"
"Baik tuan, akan saya kerjakan!" jawab Fred dengan cepat.
Leonello keluar dari ruangan itu diikuti oleh Fred yang setia mengikutinya.
"Bunuh seseorang di penjara 202!" ucapnya pada seseorang yang berjaga di ruangan itu. "Setelah itu bakar saja mayatnya!" sambung El.
Penjaga itu menganggukkan kepalanya mengerti, dan segera menuju penjara 202 untuk menjalankan tugas yang di berikan padanya.
"Aku ingin ke Kasino itu lagi, ingin bermain dengan seorang wanita," ucap El pada Fred.
Fred menganggukkan kepalanya mengerti. "Baik, tuan. Semua perintah mu akan saya laksanakan!"
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1