
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Ello menelan ludahnya susah payah saat melihat tubuh polos Putri. Sungguh benar-benar sangat indah.
Ia berani bersumpah, sejak berpacaran dengan Putri dahulu, ini pertama kali baginya melihat tubuh wanita itu.
Dulu Putri adalah wanita pertama yang bisa mengambil seluruh hatinya, sehingga ia tidak pernah sekalipun melakukan hal kotor pada wanita yang sangat dicintainya itu.
Alih-alih melakukan itu, ciu****man saja ia hanya beberapa kali melakukannya. Padahal ia berjalan dengan Putri sudah bertahun-tahun lamanya.
Namun saat ini, wanita yang sangat ia jaga itu malah datang sendiri kepadanya. Melakukan apapun untuk mendapatkan uang-uangnya.
Ello tersenyum singkat....
Meskipun gairah hampir menguasai tubuhnya, namun ia harus bisa menahan keinginannya agar terlihat berkuasa di hadapan Putri.
Ia sama sekali tak ingin Putri beranggapan jika dirinya menginginkan mantan kekasihnya itu. Walaupun memang saat ini dirinya benar-benar sangat ingin memakan tubuh wanita itu dari atas hingga ke jari-jari kakinya.
Jakun El bergerak naik-turun, keringat dingin mulai membahasi tubuhnya.
"Sial, tubuh Putri benar-benar menggoda. Siapapun yang melihat Putri saat ini pasti tak akan tahan," batin El.
Sementara Putri, kini telah berjalan merangkak menuju El yang duduk dengan gagahnya di tepi ranjang.
Ketika ia mendongakkan kepalanya menatap pria itu, matanya membulat seketika, dan kembali menundukkan pandangannya.
Dengan cepat, tangan kirinya menangkup dadanya yang terjun bebas karena ini sedang merangkak. "Astaga, sejak tadi dia memperhatikan milikku!" batinnya.
Saat ia akan kembali merangkak lagi menghampiri El, suara pria itu seketika membuat tubuhnya menegang.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menutupi kedua benda itu ?" tanya El dengan suara seraknya.
"Ma–maaf," jawabnya gugup dengan wajah yang memerah.
Hell, siapa yang tidak merasa malu jika berada diposisinya saat ini ? Jujur saja ia adalah pertama kalinya bagi Putri.
Dengan posisinya yang sama seperti sebelumnya, Putri kembali merangkak menuju El yang sudah sangat dekat dengannya.
Ctarrr.....
"ARGHHHHH!!!!!!"
El kembali melayangkan sabuk pinggangnya kearah dada Putri, hingga dada itu kini sudah mencetak jelas garis merah panjang berwarna merah.
Ctarrr....
"AMPUN LEONELLO.....AMPUNNNNN....." kini Putri sudah pasrah dengan apa yang ingin pria kejam itu lakukan.
Ctarrrr......
"Kau menyebutkan lagi namaku **********!" umpatnya.
Karena sudah merasakan muak yang teramat sangat dengan perilaku El, dengan berani Putri berdiri dengan tubuh telan***jangnya dan menatap El dengan nyalang.
"BUNUH SAJA AKU, EL!!! BUNUHHHH!!!!" teriak dengan begitu kencang, ia mengepalkan tangan dan memejamkan matanya hingga urat-uratnya tercetak jelas di leher Putih.
__ADS_1
Dengan dada yang naik turun, sekali lagi Putri menatap El dengan penuh benci. "Sekali saja, sekali saja kamu tidak pernah mendengar penjelasan ku El!" hardiknya.
Air mata Putri luruh mengikuti suasana hatinya yang begitu suram. Ia sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
Bayangannya dulu hanyalah bekerja dengan menjual dirinya dan mendapatkan uang. Setelah itu ia bisa hidup berbahagia dengan keluarga kecilnya, meskipun tanpa adanya kehadiran sosok Ayah.
Tapi, tapi disini dirinya malah diperlakukan bak seorang binatang oleh seseorang yang sejujurnya sampai saat ini masih ia cintai.
Sial, bukan ini yang Putri inginkan.
"Jika sejak hari itu kamu mendengar penjelasan ku, kita tidak akan berakhir seperti ini!" ucapnya, kini suaranya mulai melembut, ia menatap El dengan sayu.
"Dengarkan sekali saja.....hiks....hiks.... penjelasan ku!" isaknya sembari merapatkan kedua tangannya di depan dada, memohon.
El berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Putri yang masih tak berbusana itu, meskipun harus susah payah iya berjalan karena ada sesuatu yang tumbuh tegak di bawah sana.
"Penjelasan seperti apa yang kamu maksudkan ?" bisiknya tepat di telinga Putri.
Kini posisi tubuh Leonello berada di belakang tubuh pol***os Putri. "Sudah cukup bukti itu, dan apa kau lupa jika aku juga datang di tempat itu ?" bisiknya sekali lagi.
"Lagipula jika memang itu tidak benar, meskipun itu tidak mungkin. Aku juga tidak akan pernah berminat untuk mencintai lagi wanita murahan dan juga miskin seperti mu," bisiknya lagi.
Putri memejamkan matanya, dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. "Saya memang miskin tap–"
Ucapan Putri terpotong saat El tertawa mendengar ucapnya, terdengar suara langkah kaki menjauh dari tubuhnya.
Sepertinya El, sudah tidak berada di belakang tubuhnya lagi. "Semua orang past tahu jika seperti mu itu miskin, dan juga bodoh!"
"Jika memang kau kaya, tidak mungkin kau datang jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika hanya untuk kepuasan berhubungan, kau pasti membutuhkan banyak uang dari para pria kaya yang ada di sana!" sambung El dengan mantap.
Tuk....
Tuk....
Tuk....
Tubuh Putri bergetar beberapa saat karena terkejut.
"Wow! Reaksi tubuh mu benar-benar di buat-buat! Aku tahu Put, pasti sudah banyak sekali pria yang mema****sukimu!" sinisnya.
Namun Putri memilih diam, daripada harus berdebat lagi dengan pria kaya itu. Karena sudah pasti balasan pria itu hanya akan menyakiti dirinya saja.
"Let's play!" bisiknya secara sensual.
Jantung Putri berdebar dengan begitu kencangnya. Inilah saatnya! "tenangkan dirimu Put, ini hanya untuk satu hari saja! puaskan dia, lalu jangan temui pria itu lagi," batinnya.
"Tutup matamu!" titah El tak terbantahkan.
Dengan tubuh yang sangat tegang karena takut, Putri perlahan memejamkan matanya sesuai dengan instruksi El.
Melihat Putri yang sudah mengikuti arahannya, dengan segera El menutup mata Putri dengan dasi yang tergelak di lantai tadi dengan erat.
"Katakan padaku jika kau tidak melihat apapun," perintahnya. Dan Putri menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan El.
"ARGHHHHH....." teriak Putri kencang saat El menggigit teng****kuknya dengan begitu keras dari belakang.
"Kau tuli ? Aku bilang katakan, yang artinya kau harus membuka suaramu!" ucap El dengan marah.
Wanita di hadapannya ini benar-benar sangat bodoh sepertinya, hingga tak bisa mengikuti perintah dari dirinya.
"Dengarkan aku sekali lagi, ikuti semua perintah tanpa terkecuali!" perintahnya. "Jika aku bilang jawab artinya kau harus membuka suaramu! Jika aku bilang hitung kau harus menghitung, jika aku minta kau menyanyi kau harus menyanyi! Mengerti ?" tanya El.
"Me–mengerti, tuan...." jawab Putri dengan gugup.
__ADS_1
Mata El kini tertuju pada sabuk pinggangnya yang tergeletak di atas ranjang. Ia berjalan untuk menghampiri sabuk itu.
"Gadis pintar!" jawab El untuk membalas Putri. Namun seketika ia meralat ucapannya. "Eh, maksudnya wanita pintar, aku lupa jika kau bukan gadis lagi," ejeknya.
El kembali berjalan untuk menghampiri Putri, dan berdiri di belakang tubuh wanita itu. Ia menyentuh punggung halus Putri dengan sabuk yang ia pegang.
Ctarrr.....
Ctarrrr.....
Suara teriakan Putri begitu nyaring dan terdengar sangat merdu di telinga El. Pria itu tersenyum penuh kemenangan saat berhasil mencetak beberapa garis di punggung itu.
Lalu ia berkeliling tubuh Putri untuk membuat lagi cetakan garis merah di seluruh tubuh wanita itu.
Hingga kini tubuh Putri sudah tampak seperti zebra yang memilik dua warna pada kulitnya. Namun jika Putri berwarna putih dan juga merah, ada juga di bagian sisi tubuhnya yang mengeluarkan darah akibat cam****bukan sabuk pinggang milik El.
Kini mata El, menatap dasi yang melekat dengan sempurna untuk menutupi bola mata Putri yang tampak cantik.
Di bagian mata dasi itu, kini sudah sangat basah, pertanda jika Putri menangis dengan amat sangat.
"Sekarang, taruh kedua tangannya di belakang tubuhmu!" titah El, dan tentu saja Putri mengikutinya.
Dengan cepat El mengikat tangan Putri dengan kencang di belakang tubuhnya dengan sabuk itu.
"Sa–sakit....hikss....hiks....." isaknya, namun El sepertinya sudah tidak bisa mendengar isakan Putri karena ia tampak begitu fokus memandang tubuhnya yang tampak indah di mata El.
"Maju ke depan 7 langkah dan hitung!" titahnya lagi.
Putri menelan salivanya susah payah sebelum mulai berhitung. "Sebentar lagi, Put....tahan..." batinnya.
"Sa–satu... "
"Du–dua..."
"Ti–tiga....."
"Em–empat...."
"Lima....hiks....hiks..."
Putri berjalan semakin dekat menuju tepi ranjang, dan El setia mengikuti langkah Putri yang terpincang-pincang dan juga sangat lambat itu dari belakang.
"Tu–tu....hiks....hiks....juh...."
Braggg.....
Tubuh Putri di dorong dari El dari belakang dengan kedua tangan El, hingga posisi tubuh Putri menungging.
"Mari kita lakukan saat ini juga, btch!"
...o0o...
Udah ya gaiss sesuai janji kan....
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA