WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 77 - TWO FACE


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Leonello berlari begitu kencang memasuki kawasan hotel yang di katakan oleh Putri. Tak perlu seberapa banyak orang melihatnya, tak perduli seberapa banyak orang mengatakan sesuatu yang buruk di belakangnya.


Yang terpenting sekarang adalah wanitanya. Saat ini wanitanya dalam keadaan bahaya.


Dua puluh menit yang lalu, Putri mengirimkan pesan padanya jika dirinya di sekap oleh seseorang, yang ia tidak tahu siapa.


Saat mendengar kabar itu, tak perlu waktu lama untuk El menghampiri Putri. Hanya 20 menit setelah pesan itu ia terima.


Semoga saja ia tidak terlambat menyelamatkan Putri dari para brengsek yang sudah mencelakai wanitanya itu.


"Tuan, sepertinya liftnya ada yang memasuki. Kita harus menunggu dulu," ucap Fred pada tuannya itu.


Tubuh El yang sudah menegang marah itu menatap Fred nyalang. "PE**R**SE**TAN!!?" umpatnya.


Segera ia berlari diikuti oleh kelima bodyguardnya menuju tangga darurat, melihat itu Fred pun akhirnya mengikuti tuannya.


Mereka berlari seperti seseorang yang mengikuti lomba–begitu kencang–hingga membuatnya menabraki para pegawai hotel yang berlalu lalang di tangga darurat itu.


Saat sampai di lantai 5 mereka berpencar untuk mencari kamar yang di beritahukan oleh Putri.


Karena lorong hotel itu begitu besar.


"Tuan, ini kamar 131!" unjuk salah satu bodyguardnya pada pintu kamar tepat di ujung lorong.


Tak mau menunggu lama, El segera berjalan menuju kamar hotel itu dengan tangan yang terkepal kuat.


"Dobrak!" titahnya.


Brakkk.....


Pintu itu terbuka dengan kasar, menyebabkan kerusakan pada handle (pegangan kunci).


"SIAPA ITU! DASAR BRENGSEK!" umpat seseorang dari dalam.


Leonello sangat familiar dengan suara ini, diam-diam ia menyeringai sembari melangkah kakinya dengan tegas masuk ke dalam kamar hotel itu.


Sedangkan Nathan, dan Ash tentu saja terkejut dengan kedatangan musuh abadinya itu. Mereka tak menyangka El akan datang kemari.


"LE–LEONE–LEONELLO...." ucap Nathan terbata-bata. Ia melirik Ash yang kini sudah bergetar ketakutan.


"Bagaimana ini ? bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? Apa Putri yang memberitahu Leonello ? Tapi untuk apa ?" batinnya bingung mencerna kejadian yang sangat tiba-tiba ini. "Sial! Aku tidak membawa bodyguard ku!" sambungnya. Nathan mengira pertemuan dengan Putri ini akan sangat singkat. Jadi seperti biasa dirinya hanya di temani oleh Ash. Jadi ia tidak membawa bodyguard, karena takut ketahuan boleh paparazi.


Melihat keterdiaman Nathan membuat El kesal bukan main, segera ia berjalan menuju pria itu dengan Fred yang sudah mengunci pergerakan Ash, dan salah satu bodyguard juga sudah memegang notaris itu agar tak kabur.


"DIMANA WANITAKU, BRENGSEK!" umpatnya sembari mencekram kerah baju yang dipakai oleh Nathan.


"Untuk apa kau di sini, wanita mu ? siapa wanita mu ? aku tak ta–"


Bugh...


Bugh....


Bugh...

__ADS_1


Habis sudah kesabaran Leonello, pria itu memukul Nathan dengan habis-habisan, tak memberikan pria malang itu kesempatan untuk bicara.


Leonello juga mengabaikan ucapan asisten Nathan yang memintanya untuk berhenti.


Namun saat ia mendengar suara seseorang wanita memanggil namanya, seketika ia berhenti memukuli Nathan yang sudah tak berdaya di bawahnya itu.


"Kamu gak papa kan Put ? Kamu sudah di sentuh sama bajingan-bajingan itu ?" tanya El secara beruntun.


Tubuh Putri bergetar hebat, ia takut melihat El. Bahkan saat El memeluknya dia tak membalas pelukan lelaki itu.


"Tenang sayang, sekarang kamu aman sama aku. Kamu bisa cerita kalau keadaanmu sudah lebih baik. Aku tahu kamu masih syok sekarang." El mengecup kening Putri lama. Memberikan wanita itu kenyamanan.


"Bawa ketiga sampah itu ke penjara bawah tanahku yang berada di mansion Las Vegas. Siksa mereka dengan kejam, tapi jangan sampai membunuhnya, karena aku sendiri yang akan membunuhnya!" titah El pada Fred dan kelima orang bodyguard yang di bawa oleh El.


Saat Fred dan bodyguard El membawa tubuh ketiga orang itu, Putri baru tersadar dari lamunannya.


Kini ia menatap El yang membimbingnya keluar dari kamar hotel dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. "El..." ucapnya lirih.


Mendengar itu, langkah kaki El yang berjalan menuju lift terhenti, ia segera memeluk tubuh Putri erat.


Dan kali ini Putri menumpahkan tangisannya sembari memeluk tubuh pria itu dengan erat.


"Takut..." cicitnya.


"Tenang Put, aku bersumpah atas nama ibuku akan membunuh ketiga orang itu tanpa ampun!" jawab El sembari mengelus puncak kepala Putri, berusaha menenangkan wanitanya.


Tangisan Putri semakin bertambah kencang dan El semakin memeluk Putri dengan erat. Tapi siapa yang sangka jika di belakang El saat ini Putri tersenyum miring.


"Matilah dengan damai, Nathan..."


...o0o ...


Putri kini mulai berkemas, ia memasukkan barang-barangnya kedalam dua koper yang ia bawa dari Indonesia.


Putri benar-benar tidak ingin rugi.


"Selesai!" ucapnya dengan riang.


"Ini beberapa baju yang akan aku pakai selama beberapa hari ini. Jadi aku tidak perlu membongkar-bongkar koper lagi!" sambungnya mantap.


Wanita itu menghela nafas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena kelelahan.


"Sayang, sebentar lagi kita pulang ketemu sama aunty Dinda ya..." gumamnya bermonolog dengan calon anaknya sembari mengelus perutnya yang membuncit itu.


Putri tersenyum membayangkan keluarga kecilnya nanti bersama sang adik dan calon anaknya. Pasti sangat menyenangkan.


"Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk keluar dari mansion ini. Sebaiknya aku keluar dari mansion ini saat El sedang ke Las Vegas untuk membunuh Nathan," katanya mantap.


Ngomong-ngomong soal Nathan, Putri jadi tak enak karena sudah menumbalkan nyawa pria itu untuk kepentingan pribadinya.


"Salah sendiri tamak!" ucapnya kemudian.


Lalu ia berfikir tentang saham yang berada di tasnya itu, ia mengeluarkan dokumen itu dan menatapnya bingung. "Lalu ini untuk apa ya ?" tanyanya. "Entahlah, tapi yang pasti suatu saat akan berguna! Apalagi untuk anakku ini!"


...o0o...


"Aku selesai!" Leonello berdiri dari duduknya dan berjalan memasuki lift di mansion saat selesai makan malam.


Kini di meja itu hanya tersisa Sandra dan juga Putri yang masih belum menyelesaikan makan malam mereka.


Dug...


"Ashhh...." ringis Putri saat Sandra dengan sengaja melemparkan sendok makannya ke kepala Putri.

__ADS_1


Sandra sedari tadi menatap tajam Putri yang menatap makanannya dengan lahap seperti tanpa beban hidup.


Dan saat El sudah memasuki lift baru Sandra bisa bertindak untuk melawan Putri.


"Apa-apaan kamu, Ha?!?!" Sandra melototkan matanya pada Putri.


Sedangkan Putri mengelus-elus kepalanya yang terkena sendok melayang Sandra tadi. "Apa ada nyonya ? Kenapa anda terlihat begitu marah ?" tanyanya tak mengerti.


"Aku dari awal kan sudah bilang, tunggu aku dan jangan kemana-mana! Kemana kamu malah pulang bersama El dan meninggalkan ku ?" tembak Sandra langsung.


Putri menghela nafas panjang, dan menatap Sandra lembut. "Tadi saat nyonya bersama dengan Grevan, tuan keluar dari salah satu lift dengan Fred dan juga rekan kerjanya. Saat itu saya sudah bersembunyi, tapi ternyata tuan melihat saya. Dia mengajak saya untuk pulang bersama," jelas Putri.


"Kenapa tidak kamu tolak brengsek!"


"Bagaimana cara saya menolak nyonya ? Tuan tanya saya datang dengan siapa tadi, masa saya harus bilang saya datang dengan nyonya dan mengatakan nyonya berada di salah satu kamar dengan laki-laki lain ?" tanya Putri dengan takut-takut kearah Sandra.


Mendengar penjelasan Putri membuat wajah mengeras Sandra melemas seketika, ia menatap Putri dengan senyum kecil.


"Begitu ya ? Aku tak memikirkan sampai situ. Untung saja kamu tidak mengatakan jika aku bersama Grevan di kamar hotel. Bisa-bisa El akan semakin salah paham."


"Sudahlah nyonya, tak apa. Sekarang lebih baik nyonya melayani tuan, dengan pijatan-pijatan kecil atau bercerita tentang kehamilan anda. Tuan tuan berada di pihak anda, jangan lupakan jika beberapa hari lagi anda akan melakukan klarifikasi pada media," ucap Putri.


Sandra menenggak minumannya hingga tandas lalu berdiri dari duduknya untuk berjalan memasuki lift tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Putri.


"Dasar wanita bodoh!" cicit Putri.


Kini di dapur itu hanya ada dirinya dan beberapa maid, Putri membawa piring kotor miliknya, Sandra dan juga El menuju wastafel.


"Bersihkan!" titahnya pada salah satu maid.


Dan seperti biasa, sebelum tidur malam ia kan meminum susu hamil yang ia sembunyikan pada salah satu rak yang ada di dapur itu.


Ia menuangkan 3 sendok susu bubuk rasa stroberi miliknya lalu menuangkan setengah air hangat dan setengah air dingin.


Mengaduknya sebentar, dan meminumnya hingga tandas sembari mengelus perutnya sayang.


"Apa ini ? Susu hamil trimester kedua ?" tanya seorang maid sembari mengangkat kardus susu hamil milik Putri.


Uhuk....


Putri tersedak saat meminum susu itu, segera ia merampas kardus itu dan kembali menyembunyikan ke tempatnya semula.


"Berisik! Jangan sok tahu!" ucapnya menatap maid itu dingin.


Setelah itu ia berjalan memasuki lift untuk mengistirahatkan tubuhnya yang merasa sangat lelah.


Meninggalkan maid yang masih kebingungan di dapur. "Untuk apa wanita itu meminum susu hamil ? Haruskah aku memberitahu tuan ?" gumamnya.


...o0o ...


DETIK-DETIK TAMAT JANGAN LUPA DUKUNGANNYA KAKAK 🥺


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2