
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, hari ini Putri sudah tampil cantik dengan dress berwarna putihnya untuk menghadiri ulang tahun adik teman laki-lakinya itu.
Ia segera keluar dari mobil dengan tangan kanan yang membawa kado yang sudah dilapisi kertas kado, dan tangan kiri yang menggandeng tangan adik perempuannya yang seusia dengan adik Naufal.
“Ayo, dek,” ajaknya.
Mereka berdua memasuki pekarangan rumah yang nampak sederhana namun luas itu dengan wajah sumringah. Apalagi Putri, remaja itu sangat suka dengan keramaian dan pesta.
“Eh Put, kamu beneran datang,” ucap Naufal dengan senyum lebarnya. Putri mengerucutkan bibirnya kesal. “Kamu yang ngundang, kamu juga yang kaget,” jawabnya.
Naufal menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. “Aku pikir kamu gak datang, soalnya kamu kemarin malam mengirim pesan begitu.”
Kening Putri berkerut, menatap Naufal bingung. “Pesan ? Pesan yang bagaimana ? Bukankah aku kemarin seharian bersama El, dan tak diijinkan untuk membuka ponsel ?” batinnya bingung. “Memang kemarin aku mengirimkan pesan yang bagaimana ?” tanya Putri.
“Bukankah kamu bilang tidak bisa datang, karena pacarmu tidak mengijinkan untuk datang,” jawab Naufal.
Putri tersenyum sungkan kearah Naufal, lalu menyerahkan kado ulang tahun yang ia bawa itu pada remaja laki-laki itu. “Eh ini kadonya,” ucapnya mengalihkan pembicaraan. “Dasar El, bikin malu aja,” batinnya.
Mereka berdua terus berbincang dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keakraban mereka dari sudut rumah itu. Meskipun tidak ada dalam daftar undangan, tapi ia hadir hanya untuk memantau seseorang.
“Baiklah jika itu maumu sayang,” gumamnya dengan smirk iblisnya.
...o0o ...
Tiga hari setelah hari ulang tahun...
Kerumunan orang berpakaian serba hitam berkumpul untuk mengantarkan jasad kedua orang tua Naufal. Suara tangisan dari Naufal dan adiknya terdengar begitu keras.
Sanak saudara sudah mencoba untuk menangkan kedua saudara itu namun tentu saja tidak membuat kesedihan mereka berdua berkurang sedikit pun.
Bukan hanya sanak saudara yang hadir dalam pemakaman itu, para tetangga dan teman dekat Naufal juga hadir dalam pemakaman itu.
“Silahkan kedua anaknya, untuk menaburkan bunga diatas makam,” ucap pemimpin pemakaman itu.
Naufal dan adik perempuannya bergantian menaburkan bunga diatas makam itu dengan tangan gemetar dan tangis yang terdengar begitu menyakitkan.
“Manusia diciptakan dari tanah lalu akan kembali ke tanah. Semoga kristus mengalahkan kebinasaan maut serta memulihkan saudara/saudari kita ini dalam kebahagiaan orang mati,” ucap pemimpin pemakaman.
“Amin…” ucap serentak para pelayat.
Setelah menabur bunga Naufal dan adiknya menjauh dari makam kedua orang tuanya karena tak kuat melihat nama yang tertera di sana.
“Tuhan berilah dia istirahat kekal,” ucap sang pemimpin pemakaman itu. Sedangkan para umat menjawab
__ADS_1
“Sinarilah dia dengan cahaya abadi,” jawab para pelayat serempak.
Lalu pemimpin pun kembali berkata “Semoga semua orang yang sudah meninggal bisa beristirahat dalam damai,.”
Pelayat yang hadir dalam prosesi pemakaman pun mengaminkan. Dan berdoa untuk ketenangan roh kedua jenazah itu.
Ditengah tangisan itu, ada seseorang yang tersenyum puas melihat seorang remaja laki-laki menangis dengan hebatnya, hingga terduduk diatas tanah karena tak kuat menopang tubuhnya.
“Bagaimana ? Masih berani dekat dengan laki-laki selain aku ?” bisiknya tepat ditelinga kekasihnya.
Putri yeng sejak tadi ikut menangis, mendadak tegang karena bisikan seseorang dibelakang tubuhnya. Remaja perempuan itu membalikkan tubuhnya, dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Maksudnya ?” tanyanya bingung.
Bukannya menjawab, laki-laki itu malah tersenyum menatap kekasihnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Putri. “Kamu penyebab kematian dari orang tua sahabat kamu, coba kamu mau menurutiku, pasti ini tidak akan terjadi,” bisiknya lembut.
"Ini hukuman karena kamu menjadi seorang pembangkang. Jadi aku bunuh saja kedua orang tua tidak berguna itu. Agar kamu tahu, siapa pacar kamu yang sebenarnya...."
...o0o...
3 tahun kemudian...
Kini hubungan mereka berdua sudah memasuki usia 3 tahun. Dan ya, mereka berdua sudah bukan lagi remaja SMP, kini mereka berdua sudah duduk di bangku SMA dan sebentar lagi akan lulus kuliah.
Dan semenjak kejadian 3 tahun yang lalu Putri sudah seperti berada didalam sangkar yang memiliki gembok besar dan hanya ada satu orang yang memiliki kunci untuk membukanya.
“Aku sudah belikan kamu gaun untuk acara nanti malam,” ucap El lembut pada sang kekasih.
“Iya, kamu atur aja,” jawabnya cepat sembari memainkan ponselnya.
Kini mereka berdua sedang berada di mansion milik orang tua El, lebih tepatnya mereka tengah berbaring diatas ranjang milik El dengan posisi yang terbilang sangat intim.
Yaitu El yang memeluk Putri dari belakang, ia menelusupkan kepalanya dalam ceruk leher kekasihnya dan menghirup aroma tubuh kekasihnya itu rakus.
“El, tangannya jangan nakal ih!” kesal Putri saat tangan kekasihnya itu sudah mulai nakal menjelajahi lekuk tubuhnya.
“Ini semua cuma aku yang boleh sentuh, kamu tahu sendiri apa yang bisa aku lakukan jika ada seseorang yang dengan beraninya menyentuh tubuhmu!” tegas El.
Ucapan El membuat Putri ingat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia mengembalikan novel yang ia pinjam di perpustakaan sekolah.
Flashback...
Ada seorang siswa yang berlari dan menabrak tubuh Putri dengan keras. Hingga mereka berdua bertubrukan dan terjatuh tanpa disengaja. Dengan posisi tubuh mereka bertindihan, dengan Putri yang berada dibawah, dan tanpa disengaja juga bibir mereka bersentuhan, namun hanya beberapa detik dan laki-laki itu segera berdiri dan tak lupa membantu Putri berdiri, dan meminta maaf berulang-ulang kali.
__ADS_1
Namun sayangnya, El melihat semua kejadian itu dan langsung tersulut emosi. Tepat pulang sekolah, setelah menjemput Putri di kelasnya, ia segera menuju mobil, tak lupa membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.
Mobil dinyalakan, dan mereka berbincang-bincang seperti biasa. Tanpa sadar jika ada seseorang yang tengah pingsan berada di bagasi mobil.
"El ini mau kemana ? Kok ke arah sini ?" tanya Putri was-was. Pasalnya ia sangat tahu tempat ini.
Ini adalah sebuah pedesaan, tempatnya berkemah dulu dan ada sebuah rumah kosong di tengah-tengah pedesaan yang tak berpenghuni itu.
"Diam, dan keluar dari mobil!" jawab El dingin.
Sesuai perintah kekasihnya, ia turun dan menutup mobil. Ia terdiri tepat di depan mobil, melihat sang kekasih yang tengah memutari mobil untuk membuka bagasi.
Dengan santainya El membawa tubuh seorang laki-laki yang secara tidak sengaja mencium bibir kekasihnya itu dengan cara menyeretnya.
Tak memperdulikan ekspresi Putri yang terkejut melihat Rafly–nama pria itu yang kedua tangannya sudah di borgol dengan luka lebam sekujur tubuhnya.
“El jangan gila kamu!” Isak Putri dengan badan gemetaran.
El menulikan telinganya dan terus pada mangsanya. Ia memukul berulangkali tubuh Rafly yang saat ini tengah pingsan.
"EL BERHENTI!!! KASIAN RAFLY?!! JANGAN GILA KAMU!!!" teriak Putri histeris.
Brukkk……
Mulut Rafly mengeluarkan darah yang sangat banyak saat El menginjak dengan sangat keras perut remaja laki-laki itu.
Setelahnya ia membuang tubuh Rafly yang ia kira sudah tak bernyawa masuk ke dalam rumah kosong itu.
“GILA KAMU!!! PSYCHO!!!” teriak Putri histeris.
Laki-laki itu tertawa senang, ia melirik kekasihnya yang sudah terlihat sangat pucat dan mulai memelankan laju mobilnya. “Berani-beraninya dia menyentuh bibir kamu, aku saja belum pernah merasakannya. Gak mau tau pokoknya nanti malam aku mau!!”
Flashback off...
“Sayang, kamu melamuni apa sih ?”
Ucapan El sukses menghancurkan lamunan Putri. Jujur saja kejadian itu tak membuat Putri kaget, karena memang kekasihnya ini sudah puluhan kali melakukan hal tak logis itu.
Biasanya jika laki-laki lain akan bosan dengan kekasihnya jika sudah menjalin hubungan yang lama, maka berbeda dengan El yang semakin tergila-gila dengan Putri. Dan siap melakukan apapun untuk membuat Putri tetap berada di sisinya.
“Eh, enggak kok. Aku cuma kepikiran nanti saat acara pesta dansa akan berdansa dengan siapa.” Putri menggigit bibir bawahnya saat merasa ia telah salah bicara.
“Sial dasar ini mulut!” batinnya kesal.
__ADS_1
Putri memejamkan matanya saat pelukan ditubuhnya semakin erat. “Pertanyaan bodoh macam apa itu, sayang.”
“Cuma bercanda kok, aku tidur dulu ya. Bangunkan aku jika sudah sore!” ucap Putri menutup percakapan.