
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Sudah semalam Putri tidak bisa menutup matanya, ia terus berjaga sepanjang malam dengan pikiran kosongnya.
Hingga kini air matanya terus membasahi wajah cantiknya itu. Beruntung mata Putri tak bengkak, jika sampai bengkak pasti El akan menertawakannya.
"Hah..." Putri menghela nafas panjang sembari bangkit dari ranjangnya untuk membersihkan dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, waktunya ia harus menjadi pembantu bagi kedua monster itu.
Rasa malu mulai merasuki tubuhnya saat mengingat dengan hal bodoh yang ia lakukan pada El semalam.
Bisa-bisanya ia berencana membunuh seorang mafia ? Bukankah itu namanya bunuh diri ? Sungguh memalukan bukan ?
Mungkin memang tak Putri berada di rumah ini selamanya. Kecuali Nathan, dengan cepat membalas dendam El padanya.
"Tuhan, aku benar-benar maluu......" ucapnya menjambak rambutnya frustasi. "Bisa-bisanya aku melakukan hal bodoh yang seperti itu.
"Ah sudahlah, lebih baik aku cepat mandi dan segera menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Saat bertemu El nanti, aku akan bersikap seolah-olah tak terjadi apapun!" ucapnya.
...o0o...
Sandra berpakaian rapi dengan dress berwarna putih sebatas lutut yang tampak membuatnya semakin terlihat anggun.
Beberapa kali ia mengecek ponselnya menunggu kabar dari seseorang. Namun tak kunjung ia dapatkan.
"Ah, mungkin sebenar lagi dia akan membalas pesanku," ucapnya optimis.
Ia memoleskan lipstik berwarna merah menyala pada bibirnya. Dan tersenyum puas melihat tubuhnya di depan cermin.
"Sempurna..." gumamnya.
Sandra berdiri dari duduknya dan berjalan menuju walk ini closet, tempat suaminya itu berada.
Namun sebelum, ia memutar knop pintu itu. Pintunya sudah lebih dulu di buka oleh El, pria itu keluar dari walk in closet dengan menggunakan baju kasualnya.
Sandra menatap heran suaminya, sembari memperhatikan pakaian suaminya itu dari atas ke bawah. "Loh, kamu kok gak pake jas yang ?" tanyanya. "Kamu gak berangkat kerja ?"
El menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sandra, dan tanpa jawaban lagi ia segera keluar dari kamar itu untuk menikmati sarapan paginya.
Melihat sikap dinging El membuat Sandra kesal setengah mati, ia hendak menyusul suaminya tapi notifikasi yang masuk pada ponselnya menghentikan langkahnya.
Ting....
__ADS_1
Dengan cepat Sandra membuka aplikasi chat yang ada di ponsel itu lalu tersenyum lebar. Moodnya seketika baik mendapatkan pesan dari Grevan itu.
My best friend Grevan
Aku menunggu kedatangan mu sekarang
...o0o...
El tersenyum kecil melihat wajah kusut Putri segera ia menghampiri wanita itu dan duduk di salah satu kursi di meja makan dengan senyum yang masih bertengger di wajah tampannya.
Melihat kedatangan tuannya, Putri bersikap sesopan mungkin. Meskipun rasa malu masih membayanginya.
"Selamat pagi, tuan.." sapa Putri sembari membungkukkan kepalanya sopan.
"Selamat pagi juga, calon nyonya de Luca," goda El yang membuat wajah Putri memerah seketika.
Segera ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan berdehem untuk mengurangi rasa kegugupannya karena di goda oleh El.
"Tolong jangan bicara sembarang tuan, nyonya de Luca hanyalah nyonya Sandra," jawab Putri cepat.
Tertawa taw kecil dari ruangan itu, El memandang Putri dengan senyum miringnya. "Apa yang kamu mau ? Aku menceraikan Sandra ?" tanyanya. "Akan aku lakukan hari ini juga!" sambung El.
Putri membulatkan matanya terkejut dengan apa yang baru ia dengar, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya tak setuju. "Apa-apaan anda tuan, bagaimana bisa berkata seperti itu ?" tanya Putri.
El mengangkat kedua bahunya. "Memang aku mengatakan apa ?" godanya lagi.
Tak mau berdebat lagi dengan El, wanita itu segera berdiri dari duduknya dan menuangkan kopi hitam favorit El ke dalam gelas pria itu tanpa di suruh.
Dan lagi-lagi ia tersenyum kecil melihat tingkah wanitanya itu. Ia terus memperhatikan Putri yang kini tengah mengolesi roti-roti dengan selai favorit Sandra.
Bagaimana jika yang Putri siapkan itu bukan roti untuk Sandra tapi roti untuk anak-anak mereka kelak.
Mungkin itu terdengar seperti sebuah lelucon tapi El menginginkan hal itu terjadi suatu hari nanti.
"Tuan ingin makan apa ? Waffle ? Pancakes ? Croffle ? atau ingin makan roti saja seperti milik nyonya ?" tanya Putri menawarkan beberapa jenis makanan yang ada di meja makan.
Lamunan El buyar seketika, ia menggelengkan kepalanya pelan saat merasa otaknya sudah mulai agar eror itu.
"Waffle dengan selai blueberry," jawab El.
Putri menganggukkan kepalanya cepat, dan berjalan mendekati El, dan berdiri telat di sebelah pria itu.
Ia mengambil tiga potong waffle, lalu menaruhnya ke piring milik El, dan menambahkan selai blueberry dengan mentega di atasnya.
Namun saat sudah selesai dan ingin pergi, tangan Putri di cekal lalu di tariknya dan jatuh pada pangkuan El.
Pria itu menci***umi leher jenjang Putri, dengan kedua tangan yang mengelus lembut perut datar wanita itu.
Tentu saja Putri segera berontak dengan perlakuan El itu, namun usapan di perutnya membuat Putri merasakan kenyamanan yang luar bisa.
Tanpa sadar, Putri sudah tak berontak lagi, dan mulai menikmati usapan lembut pada perutnya itu. Tangan Putri menyentuh tangan El yang bermain-main di perutnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika di sini ada seseorang yang di hidup?" bisik El tepat di telinga Putri.
"Tidak mungkin tuan, itu mustahil."
"Kenapa ?" tanya El.
Putri membuka matanya, dan tersenyum miring. "Kita baru melakukannya 3 Minggu yang lalu, tidak mungkin aku hamil secepat itu." jawabnya. "Lagipula jika aku hamil pun, aku tidak akan memberitahu tuan, dan segera mengugurkan dia," jawab Putri.
El tersenyum miring, dan menelusup kan wajahnya pada ceruk leher Putri dan menghirup kuat-kuat aroma tubuh Putri yang sudah menjadi favoritnya itu.
"Itu tidak akan pernah bisa terjadi, karena ak–"
Ting...
Pintu lift terbuka, dengan segera Putri berdiri dari pangkuannya. Dan berjalan kembali ke tempatnya.
Ia melihat ke sekeliling, semua maid yang ada di sana memperhatikannya dengan tatapan membunuh.
Putri memejamkan matanya sembari mengigit bibir bawahnya malu. "Sial! sejak tadi aku di perhatikan oleh puluhan orang yang ada di sini!" batinnya malu. "Bagaimana jika salah satu dari mereka ada yang mengadu ke nyonya ?" sambungnya panik.
Sementara Sandra di sana sudah duduk di samping El dan memakan roti yang sudah Putri siapkan.
"Sayang, aku akan pergi sebentar."
El menaikan alisnya menatap Sandra heran. "Bukannya tak ada jadwal di yayasan ? Kau mau kemana ?" tanya El.
Terlihat wajah gugup pada wajah Sandra, bahkan El tahu jika wanita itu kini tengah tersenyum kikuk ke arahnya.
"A–aku hanya ingin bertemu teman lama," jawabnya.
Tak ingin ambil pusing, El menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaan Sandra. Hal itu juga membuat Sandra senang, reflek ia memeluk suaminya dari samping.
Ia segera berdiri dari duduknya, meminum sedikit air putih dan menyambar tasnya. "Aku pergi dulu sayang," ucapnya sembari berjalan.
"Put, hari ini kamu di rumah saja," ucapnya pada Putri.
Putri sedari tadi melamun hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar ucapan Sandra.
Sementara El kini tersenyum miring menatap Putri yang masih bengong di tempatnya. "Hanya aku dan Putri ?" tanyanya pada diri sendiri.
"Sepertinya ini akan menjadi liburan yang menyenangkan," sambungnya.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA