
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Thomas menyapa Fred yang kini tersenyum ramah kearahnya. Dengan sikap pria itu membukakan pintu ruangan kerja El untuk Thomas.
"Silahkan, tuan..."
Thomas menganggukkan kepalanya kecil dan segera memasuki ruang kerja yang beberapa tahun lalu ia tempati untuk menggantikan posisi Regan sementara. Sampai penerus aslinya, Leonello menduduki singgasana ini.
Pria itu tersenyum kecil merasakan perbedaan yang sangat kentara saat masuk ke dalam ruangan ini.
Ruangan yang dulu sangat monoton dan memiliki ruang yang kecil, kini sudah mengalami perubahan yang sangat drastis di bawah naungan Leonello. Ruangan ini kini telah berubah menjadi tiga kali lebih luas, dengan gaya yang elegan. Benar-benar menakjubkan.
"Uncle ? Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu ? Aku bisa menyuruh anak buahku menjemput uncle dengan helicopter," ucap El terkejut saat menyadari kedatangan pamannya itu.
Pasalnya jika Fred yang masuk, tangan kanan El itu akan langsung menyapa El. Tapi untuk yang tadi, setelah pintu ruang kerja El di buka tidak ada satupun suara seseorang memanggilnya.
Jadi El sedikit terkejut dengan kedatangan tuannya yang tiba-tiba begini.
Sementara Thomas kini tersenyum manis dan berjalan menuju sang ponakan yang terlihat luar biasa gagah duduk di kursi kebesarannya itu.
"Uncle tidak ingin merepotkan mu, Ello. Aku datang kemari hanya untuk melihat perusahaan sebentar, sembari mengecek beberapa hal," jawab Thomas dan diangguki oleh El.
Meskipun seluruh kegiatan operasional perusahaan telah sepenuhnya berada di tangan El. Namun keluarga de Luca tentu saja tidak lepas tangan dengan perusahaan ini.
Setiap keluarga de Luca memiliki saham pada perusahaan ini. Jadi memang, seluruh keluarga de Luca berhak tahu tentang apa yang terjadi pada perusahaan.
"Ah, begitu rupanya." Mulut El menjawab ucapan sang paman, tapi mata pria itu masih tetap menatap layar laptopnya, dengan tangan yang sibuk dengan keyboard.
Hening beberapa saat, hingga Thomas kembali menanyakan sesuatu yang membuat tubuh El mematung.
"Uncle benar-benar sangat berharap kamu memiliki penerus untuk keluarga kita," ucapnya.
El menahan nafas sebentar, lalu mengalihkan pandangannya dari laptop dan menenggak kopi hitam yang ada di atas meja itu.
Pria itu masih terus mendengarkan ucapan Thomas, sampai mana pria itu akan membawa pembicaraan ini.
"Kamu tahu kan Ello, sudah belasan tahun Uncle dan juga Aunty mu menikah tapi kita belum di berikan anak," tanya Thomas gang diangguki dengan malas oleh El.
"Ya."
"Uncle jadi merasa khawatir dengan kamu dan juga Sandra. Kalian sudah menikah hampir 6 tahun tapi masih belum di berikan anak. Kamu harusnya lebih menggauli istrimu," sambungnya menatap El dengan dalam.
"Aku sibuk, lagipula juga aku tidak terlalu mengharap seorang anak. Jika di beri aku terima, jika tidak ya sudah."
Terdengar helaan nafas dari mulut Thomas, pria itu merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Jangan berkata begitu, Uncle memiliki firasat kuat jika Sandra akan segera hamil. Percayalah pada uncle. Penerus keluarga de Luca akan lahir sesaat lagi." Thomas mengatakan itu dengan yakin dan juga menggebu-gebu membuat El menaikkan alisnya curiga dengan pamannya ini.
Tapi ia tidak terlalu memikirkan itu, toh juga ia menjalankan bisnis keluarganya ini hanya untuk balas dendam pada Vixton. Musuh ayahnya itu kini telah mati, jadi sudah tidak ada lagi yang El harapkan.
"Kamu percaya pada Uncle kan, El ?"
__ADS_1
Lagi-lagi El menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya cepat. "Terserah pada Uncle saja."
Thomas tersenyum lebar mendengar jawaban keponakannya itu. Dalam hati ia merapalkan banyak doa agar Sandra cepat mengandung.
"Baiklah kalau begitu Uncle harus pergi, jika akan bertemu lagi pada rapat tahunan perusahaan." Thomas berdiri dari duduknya menuju El untuk pamit.
El menganggukkan kepalanya dan ikut berdiri dari duduk dan menghampiri sang paman, seraya memeluk tubuh pria paruh baya itu erat.
...o0o...
Pukul 10 malam El baru bisa menyelesaikan semua pekerjaannya yang amat sangat padat itu.
Tapi ada sedikit masalah intern di perusahaan, alhasil tadi siang El melakukan pemecatan secara besar-besaran pada staf perusahaan yang lalai.
Dan tak menunggu waktu lama, pada sore harinya ada ratusan orang yang mendaftar di perusahaannya.
Karena melihat situasi yang tak kondusif, mau tidak mau El ikut menyeleksi para pelamar dan setelah itu ia menyelesaikan beberapa dokumen penting di ruang kerjanya.
Sangat melelahkan sekali bukan ?
Tapi untunglah semuanya terselesaikan dengan cepat dan besok semuanya akan kembali seperti semula.
Dan di sini El sekarang, menaiki lift untuk menuju kamarnya. Ia ingin segera mandi dan beristirahat.
Ting...
Sat pintu lift terbuka, segera El berjalan keluar dari lift untuk menuju kamarnya.
Saat pintu kamarnya terbuka, ia melihat Sandra tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada.
Tak mau memperdulikan Sandra segera El memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Ceklek....
"Menggemaskan...." ucapnya pelan saat melihat Putri yang tertidur dengan muka cemberut.
Namun sedetik kemudian senyumnya hilang saat menyadari Putri hanya menggunakan pakaian tipis berwarna merah satin. El menelan salivanya susah payah dan tersenyum menyeringai.
Setelah menutup pintu, El segera merebahkan tubuhnya di samping Putri dan menyelusupkan wajahnya pada ceruk leher Putri.
Ia menghisap wangi tubuh Putri yang membuatnya benar-benar merasa sangat nyaman.
"Eughhh...." lenguh Putri saat merasakan ada yang menganggu tidurnya.
Ia membuka matanya perlahan, dan tersenyum kecil jika ternyata El yang menganggu tidurnya.
"Tuan," ucapnya sembari membalas pelukan El dengan erat.
"Hm..."
"Aku untuk mengucapkan terima kasih untuk, tuan."
"Untuk apa ?" tanya El seraya melonggarkan pelukan mereka dan menatap Putri yang kini tersenyum kearahnya dengan bingung.
"Dua jam yang lalu, Dinda telfon saya. Dia bilang 'kak, terima kasih ya! kiriman mobil dana 3 motor Scoopy nya udah nyampe' padahal aku gak pernah pesanin dia kendaraan. Itu pasti ulah tuan kan..." selidik Putri dengan senyum menggoda, meskipun memang ia sudah tahu jika El yang melakukannya.
El mengangkat bahunya, pertanda ia tak tahu lalu mengecup bi***bir Putri singkat dan memeluk wanita itu lagi.
"Tuh kan, tuan pasti selalu saja tidak mau mengaku jika membelikan sesuatu untuk Dinda. Kemarin juga begitu, waktu saya curhat pada tuan jika Dinda di bully di sekolah. Tuan langsung membeli sekolah Dinda dan mengeluarkan seluruh murid-murid yang membully Dinda."
__ADS_1
"Bahkan bukan itu saja, tuan juga menginformasikan kepada seluruh SMA yang ada di Jakarta untuk menolak murid-murid yang sudah membully Dinda tadi. Kan kasihan mereka jadi tidak bisa sekolah," sambung Putri menatap kesal pada El.
El mengembangkan nafas panjang, dan menganggukkan kepalanya mengaku. "Iya memang aku melakukannya, lagi pula mereka pantas untuk tidak sekolah lagi."
Putri memutar bola matanya malas, namun ia juga senang melihat perhatian El untuk adiknya.
"Tuan terlalu banyak membantu saya, tuan ingin hadiah apa dari saya ?" tanya Putri dengan jari-jari yang bermain-main di dada El.
Mendengar pertanyaan Putri membuat El memfokuskan dirinya pada wanita cantik itu. "Ya, aku mau sesuatu darimu!"
"Apa ?" tanya Putri dengan penasaran.
"Ini bukan sebuah permintaan, tapi ini adalah perintah yang tidak bisa kamu langgar, meskipun kamu mau sekalipun!"
Putri menaikan alisnya penasaran dengan permintaan El. Pasalnya tak biasanya pria ini meminta sesuatu darinya.
"Jangan pernah mengkhianati ku, jangan pernah meninggalkan ku, dan tetaplah di sisiku selalu apapun yang terjadi!" ucap El mantap menatap mata Putri.
Jantung Putri berdebar dengan kencang mendengar ucapan yang keluar dari mulut El. Bisakah ia untuk melakukan itu.
"Bagaimana ?" tanya El.
Putri kembali memfokuskan dirinya pada El, tanpa sadar wanita itu menganggukan kepalanya pelan, tanpa mengerti apa konsekuensi yang akan ia dapatkan.
Baru akan memeluk Putri kembali, El memberhentikan gerakan tangannya saat Putri memberikannya permintaan yang tak ia duga.
"Bisakah aku meminta sesuatu padamu, tuan ?" tanya Putri. "Aku hanya akan meminta ini saja, dan tidak akan pernah meminta lagi yang lain."
El menatap Putri penasaran, "apa ?" tanyanya dengan alis yang saling bertautan.
"Aku ingin memiliki saham yang tuan miliki pada perusahaan milik Anda sebanyak 50% dari saham milik anda pribadi!" ucap Putri dengan sekali tarikan nafas.
Ia memejamkan matanya, tak berani melihat ekspresi El saat dirinya meminta sesuatu yang amat berharga bagi El.
"Baiklah."
Putri membulatkan matanya terkejut dan menatap El dengan keheranan. Apa pria di hadapannya ini gila ?
Ia meminta saham, bukan mobil atau rumah. Kenapa begitu enteng sekali bagi El ? Tidak perlukah ia rapat dengan staffnya yang lain ?
"Ke–kenapa ?" tanyanya gugup.
"Kenapa apanya ?"
"Ke–kenapa tu–tuan memberikan saham anda kepada saya dengan mudah ? Bukankah itu sesuatu yang berharga ?"
"Tidak ada yang lebih berharga darimu. Aku berikan padamu karena aku mencintaimu!" jawab El dengan mantap dan tanpa keraguan sedikitpun. "Maafkan aku yang baru menyadari perasaanku ini."
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA