WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
FB 3 (END) - SALAH PAHAM YANG MEMBUAT KEBENCIAN


__ADS_3

Malam pun tiba, sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu turun dari mobil untuk memasuki hotel tempat pesta dansa yang diadakan oleh sekolah dalam rangka menjelang kelulusan.


“Ingat, jangan genit sama cowok di sana!” peringat El dan hanya diangguki oleh Putri.


Saat memasuki lantai dansa, banyak sekali pasang mata yang menatap Putri. Karena memang siapa yang tidak tahu Putri ? Ketua cheerleader yang merupakan salah satu wanita tercantik disekolah nya.


Apalagi dengan riasan tipis dan juga dress yang kini sedang ia pakai. Sungguh mata pria di sana dimanjakan dengan pemandangan itu.


Dan jangan lupakan El yang tampak begitu serasi dengan Putri.


Mereka bergerombol dengan teman-teman mereka, dam mulai menggerakkan badan sesuai dengan irama musik. Dan karena usia mereka sudah legal, yaitu 18 tahun. Banyak teman-teman mereka yang sudah menyesap alcohol. Termasuk juga El dan tidak dengan Putri.


“Minum dong put, cemen banget sih!” tutur Ratu teman Putri yang sudah menghabiskan setengah botol whisky.


Putri melihat gelas yang dipegang temannya itu ingin, saat Ratu menyodorkan segelas miliknya untuk Putri dengan cepat El merebut dan meminumnya hingga tandas.


“Jangan kasih cewek gue yang aneh-aneh!” kata El tegas menatap Ratu tajam.


Bukannya takut, Ratu malah memutar bola matanya malas. Ia tidak heran jika El sebegitu proktektifnya dengan Putri.


“Alay banget sih, cuma segelas doang!” ucap Ratu kesal.


“Benar El, hari ini kan rencananya kita having fun setelah kita ujian minggu lalu dan dalam 3 hari aka nada pengumuman kelulusan. Dan pastinya kita juga akan pisah karena akan lanjut di Universitas yang berbeda,” jelas Jendra.


“Iya, lagian kan ada Lo, Putri pasti aman kok!” imbuh Laras.


El menatap Putri yang kini menatapnya dengan penuh harap. “Boleh ya, kan ada kamu sayang…” rayunya dan El menganggukkan kepalanya setuju. “Sedikit aja!”


Benar juga apa yang dikatakan temannya, kan ada dirinya yang akan selalu menjaga Putri. Minum 2 atau 3 gelas saja tak akan ada masalah. Jika Putri nantinya akan mabuk, ia bisa membawa Putri ke mansion milik Daddy-nya.


Mendengar jawab El, membuat Putri senang bukan main. Ia segera merebut minuman yang Ratu sengaja tuangkan untuknya. “Nih, whisky two shot biar makin enak,” ucap Ratu dengan senyum jahilnya.


Putri meminum itu dengan sekali tegukan sesuai dengan instruksi dari teman-temannya. Ekspresinya saat setelah meminum alcohol itu mengundang gelak tawa teman-temannya.


“Dasar bocah, telat nakal!” ucap Jendra sembari tertawa kecil.


“Ih, rasanya kok seperti air tape, sih!” keluhnya. “Itu baru sekali minum, tapi kalo lama kelamaan minum, rasanya akan sangat manis ditenggorokan,” jelas Jendra.


Putri menganggukkan kepalanya mengerti, dan menyerahkan gelasnya pada Ratu untuk diisi lagi. “Cie, udah mulai ketagihan nih,” ucap Laras sembari tertawa lebar dalam pelukan Jendra.


“Ingat,jangan banyak-banyak,” tegur El dengan tangan kiri yang masih merangkul pinggang kekasihnya posesif. “Iya, aku tahu!”


Setelah mendapatkan minumannya, Putri pun meminumnya dengan senang. Mereka berbincang dan sesekali minum untuk membasahi tenggorokan mereka.


Namun saat mengobrol dengan teman-temannya, ponsel El yang berada di saku jasnya tiba-tiba bordering. Ia melepaskan rangkulannya pada Putri dan mengambil ponselnya.


Jantungnya berdetak melihat nama sang pemanggil itu. “Ada apa lagi kali ini,” batinnya bingung menatap kearah ponselnya.


Ia mendekat kearah telinga Putri yang asik mengobrol dengan teman satu circle nya itu. “Sayang, aku keluar dulu. Daddy nelfon aku,” bisik El sedikit keras ditelinga Putri.


Putri yang sudah setengah sadar akibat pengaruh Alkohol itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Oke sayang,” jawabnya dengan wajah memerah akibat pengaruh alcohol.


“Gue titip Putri sama Lo, kalo sampai ada apa-apa Lo orang pertama yang akan gue bunuh!” ancam El pada Jendra. “Siap bos, tenang aja,” jawab Jendra santai sembari mencium kepala Laras.


Dengan segera El keluar dari bar yang ada di hotel itu dengan berlari kecil. Saat sudah keluar ia segera menghubungi kembali nomor Daddy-nya.


“Halo, ada apa Dad ? Apa dia berulah lagi ?” tanya El cemas. Karena memang Daddy-nya ini hanya akan menghubungi El jika sesuatu yang buruk terjadi.


“Iya nak, dia kembali. Perusahaan milik Daddy kandungmu terancam! Bukan hanya itu saja, dia sudah tahu posisi kita tinggal saat ini. Ada beberapa dokumen yang kita simpan dalam mansion menghilang. Dan Daddy sudah sangat yakin jika dia sudah mengutus seseorang untuk memata-matai kita didalam mansion.”


El memejamkan matanya erat, sungguh jika sudah seperti ini ia bingung harus bagaimana. “Lalu sekarang bagaimana, Dad ?” tanyanya.


“Kita harus segera kembali ke New York dan meluruskan ini semua. Kalau bisa dalam setelah acara kelulusan mu yang akan diadakan 3 hari lagi, kita sudah harus kembali ke New York.”


“Baiklah jika memang itu yang terbaik Dad, apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan ku!”


“Sekarang Daddy minta kamu pulang, ada beberapa dokumen yang harus kamu tandatangani malam ini. Sebelum dia bertindak, kita harus berjalan terlebih dahulu!”


El menganggukkan kepala mengerti, dan ia juga membenarkan ucapan Daddy-nya. “Baiklah Dad, aku akan segera pulang dan membuat proposal baru. Aku akan datang 20 menit lagi.”


“Cepatlah kemari!”


Tut…


Panggilan itu terputus, dan El segera berlari menuju lift untuk segera sampai ke mansionnya dengan gugup dan jantung yang berdebar hebat.


Sementara itu, Putri dan teman-temannya yang lain sudah sangat mabuk dan asik dengan dunia mereka sendiri.”Put, jangan minum banyak ntar marah loh dia,” tegur Ratu dengan mata sayunya.

__ADS_1


Di meja itu hanya ada Ratu dan Putri saja, karena Jendra dan juga Laras tengah asik meliuk-liukkan tubuh mereka dilantai dansa. “Hm, santai saja,” jawab Putri sembari menenggak kembali gelas berisi alcohol itu entah untuk yang berapa kali.


Hingga 30 menit berlalu dan El masih belum datang juga. “Kemana dia,” ucapnya tanpa sadar.


Mereka berdua tidak tahu sejak tadi ada 3 orang yang tengah memperhatikan meja mereka, terutama pada Putri. Ini momen yang mereka tunggu-tunggu, El tidak ada disamping Putri.


“Lo yakin yang pakai dress berwarna putih itu pacarnya El si kapten basket ?” tanya Rio, salah satu dari tiga cowok itu.


“Gue yakin banget, dia selalu dibawa El kalo lagi pertandingan,” jawab Adit yakin. Dan Faris juga menjawab demikian. “Iya dia ceweknya El,”


Senyum miring tercetak pada wajah mereka bertiga. “Gue masih ingat saat dimana cewek gue minta putus, karena dia bilang lebih suka sama El dibanding gue,” ucap Rio mengingat kejadian yang paling membuatnya sakit hati itu. “Dulu EL, yang membuat hubungan gue sama pacar rusak dan berujung putus,” sambungnya


“Dan sekarang, gue yang akan merusak hubungan mereka,” sambung Rio.


Mereka bertiga berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja Putri dan juga Ratu. Bisa mereka lihat jika Ratu sudah teler dan tak sadarkan diri, sementara Putri asik menggerakkan badannya mengikuti musik dengan tangan kanan yang memegang segelas alcohol.


“Hi, boleh gabung gak ?” ucap Rio dengan senyum manisnya.


Putri menolehkan kepalanya ke sumber suara dan tersenyum lebar sembari menganggkat kedua tangannya keatas. “Sayang…” ucapnya manja. Ia mengira jika laki-laki yang menghampirinya itu El.


Ia segera memeluk laki-laki yang dia kira El itu erat. “Ayo pulang aku ngantuk!” ucapnya dengan mata sayu.


Rio membalas pelukan Putri, agar tubuh wanita itu tak jatuh. Karena memang Putri sudah tak ada tenaga lagi. “Eh iya, ayo kita pulang sekarang,” jawab Rio cepat sembari tersenyum singkat kearah dua orang temannya.


Rio menggendong Putri ala bridal style untuk keluar dari Bar hotel itu diikuti oleh kedua temannya yang berjalan dengan hati-hati dibelakangnya.


Saat sudah keluar dari Bar, Rio mengkode Adit untuk segera membius Putri agar pingsan hingga besok pagi. “Cepat, mumpung dia sudah tertidur!” titahnya.


Mereka bertiga membawa tubuh Putri masuk kedalam kamar hotel yang sudah mereka pesan sepenuhnya. Ia membaringkan tubuh Putri diatas ranjang dan tak lupa melucuti semua pakaian Putri.


Dan tentu saja mereka bertiga juga membuka baju. Setelah menata tubuh Putri dengan sedemikian rupa, mereka bertiga ikut menaiki ranjang dan mengambil gambar beberapa kali di sana.


Cekrek…


Cekrek…


Cekrek…


“Sudah cukup, sekarang kirim semua foto itu ke El!”


...o0o...


Ia tersenyum saat membayangkan wajah imut kekasihnya. Sudah pasti Putri akan mengambek dan hanya bisa dibujuk dengan menggunakan es cream cokelat favoritnya.


Lihat wajah bodoh El, yang sudah seperti orang gila karena terus menerus tersenyum. Dan ini semua hanya Putri yang bisa membuatnya segila itu.


Tak mau hanya membayangkan wajah kekasihnya, ia harus segera mandi dan melihat langsung wajah sang kekasih. Dan bukan hanya itu saja, tapi El akan meminta restu kedua orang tua Putri untuk meminang anaknya itu.


Jadi saat ia nantinya mengurus perusahaan Daddy-nya di New York dia sudah bertunangan dengan Putri, dan membuatnya menjadi sedikit lega. Setidaknya Putri tak akan macam-macam dengan hubungan mereka, jika sudah bertunangan.


Ia bangkit dari tidurnya dan segera membersihkan tubuhnya. Tak perlu waktu lama hanya perlu 20 menit, El sudah siap dengan kaos hitam polos dipadukan dengan celana jeans hitamnya.


Saat mau berangkat ia mengecek ponselnya sebentar, berharap sang kekasih menelponya puluhan kali, atau mengirimkannya ratusan chat.


Namun nihil.


Hanya ada beberapa pesan dari teman dan satu nomor tak dikenal. El bingung, tak biasanya kekasihnya ini akan begini kepadanya.


Tapi pesan dari nomor tak dikenal ini menarik perhatian El. Dengan segera ia membuka pesan itu, karena tak sembarang orang bisa mengetahui nomor pribadinya.


Matanya melebar seketika, jantungnya berdebar tak beraturan. Di sana sudah sangat jelas ada foto Putri tak berpakaian dengan tiga orang sekaligus, dan ketiga pria itu sama sekali tak El kenal.


“ARGGG!!!! SIAL KAMU!!!!” teriak El dengan begitu kencangnya.


Ia mulai menghancurkan segala barang yang ada dalam kamarnya seperti orang yang sudah kesetanan. Ia membanting vas bunga, menghancurkan kaca dalam kamarnya, dan terakhir ia membanting 8 lukisan wajah Putri yang dipasang dalam dinding kamarnya.


“BAJI*GAN KAMU PUT!! APA SALAH KU HAA?? Hiks…hiksss…” El terduduk lemas dilantai sembari menangis.


Pria itu menjambak rambutnya frustasi dan tak pernah terbayang jika ini akan terjadi. “ARGHHH!!!!!” teriaknya lagi.


“Aku sedikitpun tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh terhadapmu! Tapi kenapa ???? Kenapa Put ???” ucapnya sembari sesenggukan dan nada yang bergetar.


Dengan kaki yang gemetar El berdiri, dan mengambil kembali ponselnya yang tergeletak mengenaskan diatas kasur. Dan segera menuruni tangga untuk datang ke hotel itu.


“El, ada apa nak ?” tanya Daddy-nya yang menikmati sarapan paginya.


El tak menggubris ucapan sang ayah, dan terus berjalan dengan dada yang naik turun karena tersulut emosi.

__ADS_1


“Tuhan ada apa ini ? Baru pertama kalinya aku melihat pria pendiam itu menangis sampai seperti itu,” ucapnya sembari melihat El yang tampak menyedihkan.


...o0o...


Dengan jantung yang masih berdebar hebat, El sudah berada di depan pintu kamar hotel yang Putri tiduri. Jangan tanyakan, bagaiman bisa El tahu dimana kamar Putri. Karena pengirim foto itu menyertakan nomor kamar hotel mereka.


Dengan didampingi oleh pegawai resepsionis hotel, disinilah El berasa. “Cepat buka pintunya,” ucapnya dingin dengan dada yang masih naik turun.


“Maaf dek, tapi ini merupakan pelanggaran privasi yang di−“


El melirik tajam kearah wanita itu. “Buka atau saya bilang ke Manager hotel untuk segera memecat anda!” ancam El.


Namun sang resepsionis sepertinya tak takut, malah tersenyum mengejek kearah El. “Adik sebaiknya berbicara yang sopan kepada orang yang lebih tua ya, jangan bersika−“


Brakk….


El meninju pintu kamar hotel itu dengan keras, hingga tangannya berdarah ia menatap marah kearah resepsionis. “OMONG KOSONG!!!!” teriaknya murka.


Karena sudah tidak sabar, ia mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengeluarkan kartu namanya. “Baca cepat!”


Sang resepsionis menerima itu dan membacanya sebentar. Lalu matanya membulat terkejut saat mengetahui siapa remaja dihadapannya ini.


“Sudah tahu saya siapa ? Saya memiliki saham 40% di hotel ini, dan kamu bisa saya pecat detik ini juga!”


“Ma−maafkan saya tuan!”


Dengan cepat resepsionis menelfon rekannya untuk dibawakan akses agar pintu kamar ini terbuka. Tak berselang lama, satu orang wanita datang dan menyerahkan kunci kamar.


Pintu kamar terbuka, El meminta agar kedua orang itu segera pergi. Kedua resepsionis itu menundukkan kepalanya hormat setelah itu pergi dari hadapan El.


Kini fokus El kembali pada Putri, dengan kaki yang gemetar ia memasuki kamar hotel itu.


Dan ya, Putri tengah tertidur tanpa sehelai benang pun. El tersenyum getir dibuatnya, beginikah kisah percintaannya. Menjalin hubungan 4 tahun dan ternyata ia di khianati. Sungguh wajah polos Putri membuat El berfikir jika Putri adalah wanita baik-baik dan tak sama seperti wanita lain yang ia kenal.


Namun ternyata ia salah, benar juga kata orang. Di jaman sekarang mana ada wanita yang masih perawan di usia ke 18 tahun. Padahal El sudah menjaga Putri sangat ketat.


Sungguh ia masih tak menyangka jika ia berpacaran dengan seorang pela*cur selama 4 tahun lamanya.


Dengan tangan yang bergetar, ia meraih rambut Putri dan menjambaknya erat hingga Putri terbangun dari tidurnya karena kaget.


“ARGGH…” teriaknya kaget sekaligus kesakitan.


“DASAR PELA*CUR TIDAK TAHU DIRI!!!! KITA PUTUS!!! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUAT HIDUPMU HANCUR!!!” teriak El sekencang mungkin.


Putri yang baru sadar dari tidurnya tentu saja kaget, apalagi ia masih terpengaruh alcohol yang membuat kepalanya serasa ingin pecah.


“A−apa maksud mu ?” tanya Putri bingung smebari meringis sakit karena tarikan pada rambutnya begitu kencang.


Disamping itu ia juga terkejut melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. “ASTAGA!!!” teriaknya dan segera menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.


“Se−sebenarnya apa yang terjadi ?” tanya Putri dengan mata yang berkaca-kaca bingung. Tentu saja Putri bingung.


Cuih…


El meludah tepat di tubuh Putri. “Kau seharusnya tidak perlu menutup tubuh mu lagi, jal*ng! aku sudah tahu siapa kamu yang sebenarnya!”


Ia melepaskan tarikan pada rambut Putri, dan melempari wanita itu dengan ponselnya. “Buka!”


Tak mau menunggu lagi Putri segera membuka ponsel milik kekasihnya itu dan ia begitu terkejut melihat banyak sekali foto dirinya dan juga 3 pria itu.


“TIDAK!! MUSTAHIL!!!!!” teriak Putri histeris.


El mengambil kembali ponselnya dan menatap Putri. “Sudah tidak perlu berakting lagi! Kau sangat menjijikan Put! Sangat! Aku membencimu! Kita putus!”


Pria itu segera keluar dari kamar hotel itu, meninggalkan Putri yang sedari tadi meneriaki namanya kencang berharap ia akan kembali.


Namun sepertinya rasa kebencian El pada Putri sudah sangat besar, sehingga ia memilih untuk tak memperdulikan itu lagi.


“Dad, siapkan pesawat sekarang. Kita akan kembali ke New York saat ini juga!” ucap El melalui telfonnya.


"Karena kau sudah mengkhianati ku, maka sekarang aku akan membalasakan dendam ku kepada orang tua mu, Put. Akan ku buat kau hidup susah dan terbelenggu dengan hutang yang sangat banyak! Sampai-sampai bunuh diri adalah satu-satunya jalan yang keluarga mu bisa lakukan!" batin El menggebu-gebu.


...o0o...


FLASHBACK END YAA....


INI ALASAN KENAPA KELUARGA EL GAK SUKA SAMA PUTRI.

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA KARYA PERTAMAKU 🥰🥰🥰🤍


__ADS_2