WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 30 - JANGAN PERNAH!


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Kondisi mental ibumu kini sudah mulai membaik," ucap dokter Abraham. Dokter tampan itu tersenyum melihat wajah tidur pulas milik Ibu Putri.


Dinda di belakang ikut tersenyum mendengar ucapan sang dokter. "Hah...." ia menghela nafas dan berjalan menuju samping dokter itu.


Ia melihat ibunya yang kini berbadan sangat kurus itu tertidur dengan tenang. "Ya dok, hari ini Mommy belum berteriak padaku. Dia jauh lebih tenang dari sebelumnya."


Dokter Abraham menganggukkan kepalanya setuju. "Asalkan tidak ada yang memancing emosi Ibu kamu, dia pasti tenang. Dan aku harap selama dia dalam proses penyembuhan tidak ada yang memicu amarahnya." jelas Dokter Abraham dan di jawab anggukan kepalanya oleh Dinda.


"Aku akan berusaha keras untuk menjaga Mommy selama kakak bekerja, dok," jawab Dinda lirih.


Sebenarnya ia takut akan kesendirian, meninggalkannya sang Ayah membuatnya menjadi takut untuk di tinggal lagi oleh orang-orang terkasih.


Apalagi saat ini ia memiliki tugas menjaga sang Ibu. Sejujurnya ini beban yang berat untuk Dinda, apalagi diusinya yang baru mencapai usia remaja ini.


Dokter Abraham menatap Dinda dengan senyum kecilnya. Tangannya terulur untuk mengacak rambut remaja manis di depannya itu.


"Saya tahu, kamu bisa kok Din. Kalian berdua, kamu dan Putri adalah sosok perempuan yang kuat. Kadi dokter berharap kamu terus kuat, bukan hanya demi Ibu, tapi juga demi kakakmu dan juga dirimu sendiri," kata dokter Abraham.


Dinda menganggukkan kepalanya cepat sembari tersenyum manis. "Pasti dok, aku akan tetap kuat untuk diriku juga. Aku akan membuat kakakku bangga!" jawabnya mantap.


Dokter itu tersenyum senang mendengar jawaban Dinda, namun seketika senyum itu luntur saat pertanyaan aneh tiba-tiba menghantuinya.


"Oh ya Din, bagaimana jika uang yang diberikan kakak mu sudah habis ?" tanya dokter itu pelan. Ia takut menyinggung Dinda.


"Ah, tenang saja dok. Aku hanya tinggal menelfon kakak, dan dia pasti langsung mentransfer uang untukku!" jawabnya sembari tersenyum.


Dokter Abraham nampak diam sesaat setelah mendengar jawaban Dinda, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menatap Dinda malu.


"Hm," ia berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. "Apa boleh jika saya meminta nomer baru kakakmu ?"

__ADS_1


...o0o...


El menutup telfonnya sembari melihat wajah cantik bangun tidur wanita yang menemaninya selama semalam.


Otaknya kini berfikir tentang ide-ide yang harus ia lakukan untuk Putri saat ini. Ia begitu senang mendengar kabar jika ada penyusup yang menyamar dalam rumahnya.


Jadi dia bisa memasukkan Putri ke dalam mansionnya dengan alasan. "Menjadi pengganti" padahal itu hanya akal-akalan El saja.


Pria itu berjalan mendekati Putri yang kini tengah malu-malu melihat kearahnya juga.


Ia duduk di tepi ranjang dengan tanpa pakaian. "Aku tak menyangka jika kau masih saja sempit," ucapnya setelah beberapa saat diam melihat Putri.


Putri mengalihkan pandangannya kearah lain, ada perasaan tak enak menyelimuti hatinya. "Bukannya aku masih per*****wan ya ? Lalu kenapa aku tidak mengeluarkan dar*****ah saat pertama kali melakukannya ?" batinnya bingung.


Padahal sebelumnya Putri berfikir jika El pasti akan kaget saat mengetahui dirinya masih per*****wan, namun dirinya tak memiliki tanda-tanda itu.


Eh tapi, bukannya tak selamanya malam pertama berdarah kan ?


"Aku benar-benar terkejut, Put. Milikmu benar-benar seperti masih per*****wan. Padahal aku tahu siapa aslinya dirimu," sambungnya dengan senyum miring.


Dengan berani Putri menatap kembali El, ia sedikit memaksakan senyumannya. Sungguh meskipun sudah di sakiti secara fisik maupun lisan, Putri masih ingin terlihat kuat di depan pria itu.


Ia mencubit pahanya di dalam selimut, sembari memejamkan matanya kesal. Bukannya tadi dirinya bilang ingin terlihat berani ? Kenapa sekarang ia malah gugup seperti ini....


"Ada apa dengan lidahmu, ha ? Kenap gugup sekali ? Ingin ku gigit lagi ?" godanya dengan senyum miringnya.


Putri mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. "A–aku hanya se–sedikit syok saja!" jawabnya.


"Jawab pertanyaan saya tu–tuan, jangan alihkan pem–pembicaraan," sambungnya.


*****! Dengan dirinya begitu takut dengan El.


El tersenyum singkat, lalu kembali merebahkan tubuhnya kembali pada ranjang itu, tak lupa ia menutup tubuh polosnya dengan selimut yang sama seperti yang dipakai Putri.


Ia membalikkan tubuhnya menghadap Putri. "Aku tak bisa mengatakan jika aku puas atau tidak," jawabnya cepat.


Putri menolehkan kepalanya menatap El kesal. "A–apa maksud tuan ?" tanyanya geram. Ia melototkan matanya kesal menghadap El.


Melihat ada seseorang yang berani menentang membuat El merasa tertantang. Dengan kasar ia menarik tubuh Putri hingga terjatuh tepat di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Kau berani melototi ku ?" tanyanya dengan pelan.


Putri memejamkan matanya melihat El, ia seharusnya tahu bahwa tidak boleh ada kata pertentangan yang membuat pria ini marah.


"Ma–maafkan saya, tuan."


Ia berusaha untuk turun dari tubuh El, namun pria itu malah memeluk tubuh Putri dengan erat. "Jika aku mengatakan aku puas, menangnya kenapa ?" tanyanya.


Wanita itu mengangkat wajahnya menghadap El, dan menatap wajah itu lama. "Jika tuan puas, tolong segera bayar saya dengan mahal. Lalu biarkan saja pergi."


"Seperti yang tuan tahu, saya adalah seorang wanita penghibur. Jadi saya harus kembali ke kamar hotel saya dan membersihkan diri. Karena nanti malam sudah pasti ada pria kaya lagi yang akan membayar berkali-kali lipat lebih mahal daripada tuan," sambungnya panjang lebar.


Namun tak tahukah Putri, jika jawaban yang ia lontarkan sedikit menyinggung perasaan El.


Dengan segera pria itu membalikkan tubuhnya, hingga posisinya, kini tubuhnya berada di atas Putri.


"Jangan harap sekalipun kamu bisa masuk dalam club malam itu lagi. Sekalipun aku tidak akan pernah mengijinkan! Jika sampai kamu masuk ke dalam sana dan bersentuhan dengan pria asing," El tampak menggantung ucapnya.


Ia menatap Putri dengan marahnya, dadanya naik-turun menandakan dirinya sedang emosi. "Bukan hanya kamu yang akan aku bunuh, seluruh keluargamu, dan club' malam itu juga aku bantai semua!" ancamnya.


"Untuk masalah uang, mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak perlu khawatir. Karena setiap minggunya akan ada uang yang masuk dalam rekening mu. Dan tentu saja itu tidak gratis."


"Kamu harus bersedia bekerja dengan istri kesayangan ku! Kamu akan bekerja menjadi asistennya sampai aku sudah merasa bosan dengan tubuh mu. Dan jika aku sudah merasa bosan, kamu akan akan pulangkan ke Indonesia!" sambungnya mantap.


...o0o ...


Gais kayaknya Ratu bakal Up novel ini sesuai sama kondisi Ratu ya.


Akhir-akhir ini Ratu lagi sibuk banget 🙏


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2