
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Tidak mungkin, harusnya kita meluncurkan rencana B untuk meluaskan jaringan bisnis kita."
"Saya setuju dengan pendapat Mr. Yoseph, jangan terburu-buru untuk melakukan rencana C. Baiknya kita melakukan observasi pada masyarakat, mana yang mereka suka."
"Bukankah itu akan membuang-buang waktu ? Selain itu juga perusahaan akan mengeluarkan banyak biaya pasti."
"Ah tidak juga, Mr. Sam, menurut devisi keuangan bulan lalu kita hanya mengeluarkan setengah dari anggaran yang ada, jadi saya rasa......."
Di tengah meeting bersama dengan para manager dari segala bidang di perusahaan. El malah memfokuskan dirinya pada ponsel.
Tidak biasa Putri mengirimkannya pesan, jadi dengan secepat mungkin El mengirimkan balasannya.
Senyum kecil muncul pada wajahnya saat membaca pesan Putri. "Ahh, nampaknya wanitaku ingin mengajak makan siang..." batinnya senang.
Tak perlu waktu lama untuk mengiyakan ajakan dari sang Putri. Segera ia mengirimkan balasan dan mengatakan akan sampai sebentar lagi.
El menaruh ponselnya di saku jasnya dan menatap para managernya yang sedang berdebat.
"Sudah, stop!" perintah Leonello dengan suara tegas.
Tidak ada lagi yang berbicara, mereka semua bungkam saat mendengar perintah Leonello, sembari membatin apa yang salah dari ucapan mereka.
"Sudah waktunya makan siang, kita lanjut setelahnya!" sambungnya sembari berdiri dari duduknya untuk keluar dari ruangan itu diikuti oleh Fred yang berjalan di belakangnya.
Sementara di ruang rapat, para manager itu cengoh dengan sikap Leonello yang tidak biasanya menghentikan rapat.
"Ada apa dengannya ? Tak biasanya mengehentikan rapat di tengah-tengah begini..."
"Benar, ada apa dengan tuan ? Biasanya rapat akan tetap berlanjut meskipun jam makan siang tiba. Bahkan bukan hanya itu, rapat akan berhenti jika kita sudah dapat hasil dari rapat, jika tidak mendapatkan hasil, rapat ini tidak akan berhenti. Tapi kenapa dia malah mementingkan makan siang ?"
Para manager itu saling berpandangan dengan raut wajah bingung mereka.
Tuannya berubah jadi aneh sekarang...
...o0o...
Mobil yang di tumpangi Leonello sudah sampai di hotel tempat wanitanya berada. Dengan sigap Fred membantu El untuk membukakan pintu.
El keluar dari pintu sembari merapikan jasnya, ia berjalan dengan langkah lebar untuk memasuki lobby hotel itu.
"Sudah kau periksa, Fred ?" tanya El sembari memasuki lift. Tadi ia sempat menanyakan pada Putri posisi wanita itu. Dan dengan cepat Putri menjawab ia ada di resto yang berada di lantai 7.
Ting...
Lift terbuka, El dan Fred segera memasuki lift itu.
"Sudah tuan, di sini bersih tidak ada satupun wartawan yang kemari. Sebagai penjagaan saya sudah menaruh bodyguard yang berada di sekeliling hotel untuk menjaga takut ada wartawan yang tiba-tiba datang," jawab Fred dengan cepat.
"Kerja bagus!"
Pintu lift terbuka, El dan Fred melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift dan menuju meja Putri.
Dilihatnya seorang wanita dengan dres putih duduk dan menikmati makanannya dengan nikmat. El tersenyum kecil saat melihat wajah cantik itu.
Fred dengan cepat menarikan kursi yang berada di depan Putri untuk tuannya duduki.
Mendengar suara decitan kursi di tarik, membuat Putri mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat El yang sudah duduk di depannya.
"Katanya kamu ada rapat, kok datang ke sini sih ?" tanya Putri dengan senyum kecil. Ia dengan sengaja mengelus tangan pria itu yang berada di atas meja.
__ADS_1
El tersenyum kecil, lalu memegang tangan Putri dan mengecup punggung tangan Putri lama. "Tidak ada yang lebih penting darimu," jawab El menatap mata Putri dalam. "Lagipula aku tidak ingin membuatmu sendiri di sini."
Putri melebarkan senyumnya dan melepaskan genggaman tangan mereka. Ia memajukan piring yang berisi makanan di depan Leonello.
"Tadi, sembari menunggu kamu datang aku pesankan beberapa makanan. Coba kamu akan, aku harap kamu suka..."
El menganggukkan kepalanya kecil dan menuruti perintah Putri. Ia menyendokkan makanan yang wanitanya itu pesan ke dalam mulut.
"Enak," jawab El yang membuat Putri senang.
Mereka makan dengan sesekali berbicara. Putri menceritakan hal-hal lucu yang membuat El tertawa. Begitu pula El, menceritakan tentang pekerjaannya yang melelahkan.
Satu jam mereka duduk di meja makan itu, tak terasa karena mereka mengobrol dengan asik. Berbeda dengan Fred yang sudah cemberut karena sedari tadi berdiri di belakang tuannya, tak di suruh untuk mencari tempat duduk.
Ting...
Ponsel Putri di atas nakas berbunyi, segera wanita itu membuka ponselnya dan tersenyum kecil melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
Sandra de Luca
Kau dimana ?
Aku sudah ada di lobby
Cepatlah kemari!
"Siapa ?" tanya El dengan suara dinginnya. Ia tak suka jika Putri tersenyum menatap ponsel itu.
Putri mengangkat kepalanya setelah mengirimkan pesan balasan untuk Sandra. "Tuan, nyonya Sandra sudah berada di lobby. Ayo kita turun!" ajak Putri dengan senyum lebarnya.
"Hah...." El menghela nafas panjang dan menormalkan lagi ekspresi wajahnya. "Ayo!"
Mereka berdua berdiri dari duduknya untuk menuju lift yang diikuti dari belakang oleh Fred.
Namun saat akan memasuki lift, Putri tiba-tiba memegang perutnya sembari meringis kesakitan. "Ada apa ?" tanya El dengan khawatir.
El tertawa kecil lalu mengacak rambut Putri singkat lalu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, aku akan ke lobby terlebih dahulu."
Mereka berpisah di pintu lift itu, meninggalkan Putri seorang diri dengan tangan yang masih memegangi perut seraya meringis kesakitan.
Saat pintu lift sudah tertutup, Putri melepaskan tangannya dari perut dan tersenyum sinis. "Mati kau Sandra!" gumamnya.
Memang sengaja ia tidak ikut turun ke bawah bersama El, ia takut Sandra curiga.
"Aku jadi penasaran dengan wajah terkejut El," ucapnya terkikik geli.
...o0o...
El keluar dari Lift seraya melebarkan pandangannya untuk mencari Sandra, yang kata Putri sudah berada di lobby.
Pria itu tersenyum miring saat melihat Sandra dan pamannya bermesraan dan saling berpelukan.
"Kau lihat itu Fred ?" tanya El kepada Fred yang berada di belakang tubuhnya.
"Ya, tuan. Seorang ja****la***ng dan juga pria tidak tahu malu yang selalu menumpang di balik nama tuan El dan hidup dengan seluruh kerja keras tuan," jawab Fred cepat.
El tertawa mendengar penuturan tangan kanannya itu.
Tak mau menunggu lama, El segera melangkahkan kakinya menuju sang istri tercintanya.
Saat sudah dekat dengan paman dan juga istrinya, El berdehem kecil untuk menyadarkan kedua pasang manusia jika ada dirinya.
"Ekhem..."
Sandra dan Thomas bebarengan menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka saat mengetahui El berdiri di belakang dengan wajah datar khas milik El.
Dengan cepat kilat Sandra melepaskan kukungan Thomas padanya, lalu berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh suaminya erat.
"Sa–sayang..." ucapnya gugup disertai detakan jantung yang menggila.
__ADS_1
"Uncle ? Sandra ? untuk apa kalian di sini ?" tanya El dengan tatapan menyelidik.
Sandra dan Thomas saling tatap, bisa El lihat wajah pamannya itu mengeluarkan keringat dingin. Rasanya El sudah tidak tahan ingin menyemburkan tawanya.
"A–anu, tadi.." Sandra terlihat sangat kelabakan dan tidak tahu akan menjawab apa. Matanya itu terus menatap Thomas seraya mengkode pria tua itu untuk mengatakan sepatah dua patah kata kepada El.
"Ja–jadi begini sayang, Uncle tadi sedang ada pertemuan kecil dengan teman golf uncle di hotel ini. Lalu tak sengaja uncle melihat Sandra yang duduk seorang diri di sini. Jadi Uncle menghampiri Sandra dan melepaskan kangen dengan istri mu sebentar," jawab Thomas seraya tersenyum kikuk pada El.
El menganggukkan kepalanya mengerti lalu kini bergantian menatap Sandra. "Kamu pasti ke sini ingin bertemu dengan teman mu kan ? Siapa itu namanya ?" tanya El sembari berpura-pura berfikir.
"I–iya sayang, aku tadi baru bertemu dengan Grevan dan teman ku lainnya. Mereka mengucapkan selamat atas kehamilan ku ini," jawab Sandra.
Lagi-lagi El menganggukkan kepalanya mengerti, lalu kini gantian menatap pamannya. "Uncle bisakah kamu mengantarkan Sandra pulang ? Aku khawatir jika ia harus pulang sendirian, apalagi dia baru hamil muda. Lagipula Uncle sudah pasti tidak ada acara lain kan ? Pekerjaan Uncle kan semuanya sudah aku kerjakan."
Thomas menganggukkan kepalanya cepat, ia merangkul bahu Sandra sangat erat. "Baik sayang, biarkan Uncle mengantarkan istrimu pulang!"
Baru Sandra akan menjawab jika ia bersama Putri, bahunya sudah di tarik sedikit keras menjauh dari El.
"Kita pulang dulu ya..." teriak Thomas sedikit kencang karena sudah menjauh dari El.
Sementara di dekat lift Putri mengepalkan tangannya erat, bisa-bisanya El tidak marah saat mengetahui istrinya di peluk oleh laki-laki lain, yah meskipun itu pamannya sendiri.
Tapi kan, masa El gak curiga sih ?
Dengan langkah malas, setelah melihat dari kejauhan drama El, Sandra dan juga Thomas. Akhirnya Putri berjalan menuju El.
"Loh dimana nyonya Sandra, tuan ? Bukankah dia menunggu di lobby ?" tanya Putri pura-pura tak tahu.
El tersenyum gemas ke arah Putri dan melingkarkan tangannya di pinggang wanitanya, membawa tubuh Putri berjalan beriringan bersamanya keluar dari hotel itu untuk menuju mobil El.
"Nyonya mu sudah pulang lebih dulu dengan Thomas," jawab El seraya memasuki mobilnya.
Putri duduk bersebelahan dengan El, lalu Fred yang duduk di samping supir.
Mendengar jawaban El membuat Putri memberengut tak suka. "Harusnya bukan seperti ini! Harusnya El marah karena istrinya bermesraan dengan pria lain!" batinnya kesal. Apakah rencananya ini gagal ?
"Kenapa tuan tidak cemburu ? Apa tidak masalah jika istri tuan berdekatan dengan paman anda ?" tanya Putri sedikit memancing kemarahan El.
Namun pria itu bukannya menjawab malah tertawa mendengar pertanyaan Putri, tangannya terangkat untuk menjawil hidung mancung Putri.
"Kamu pikir seorang Leonello Alexander de Luca adalah pria bodoh yang bisa tertipu dengan trik murahan seperti itu ?" tanya El yang membuat Putri mengerutkan keningnya bingung.
"Maksudnya ?"
"Aku sudah tahu jika anak yang berada di dalam rahim Sandra itu bukan anakku!" jawab El sembari tersenyum miring.
Putri menatap El tak percaya, meskipun ia senang dengan fakta itu. Jadi dirinya tak perlu repot-repot lagi mengungkapkan kebenaran pada El.
"Jika tahu bukan anak tuan, kenapa tuan diam saja ? Kenapa tidak marah ? Kenapa tuan malah melakukan konferensi pers ?" tanya Putri beruntun tak mengerti dengan pola pikir El.
El memajukan wajahnya ke arah Putri lalu mengecup bi****bir manis itu lama.
"Karena aku ingin mempermalukan Sandra!"
...o0o ...
Udah Senin ya gais. Jangan lupa votenya hihi ♥️♥️♥️
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1