
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Putri terus menangisi kepergian ibunya yang terasa sangat mendadak itu. Beberapa hari yang lalu Dinda mengabarkan padanya jika sang ibu sudah sangat membaik kondisi mentalnya.
Bahkan Ibunya juga sudah bisa bertemu dengan menyapa para tetangga, meskipun kata Dinda masih sedikit gemetar dan berkeringat.
Tapi itu sudah awal yang bagus kan bagi ibunya.
Wanita cantik itu menangis histeris, menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto keluarganya lengkap bersama sang ayah.
"Apa lebih baik jika aku ikut pergi bersama dengan Mommy dan juga Daddy ?" lirihnya dengan pandangan yang kosong.
Putri sudah benar-benar nampak frustasi. Tapi adiknya sudah menceritakan segala kronologi kejadiannya.
Dia mengatakan jika sang Ibu ingin memberikan kue bolu kukus buatannya kepada para tetangga yang berada di depan rumahnya.
Tidak jauh, hanya di depan rumah. Yang mungkin hanya sekitar 20 langkah. Jadi Dinda mengiyakan permintaan ibunya itu.
Namun naas, terdengar suara decitan yang begitu keras. Hingga Dinda dan para pekerja di rumah miliknya itu dapat mendengar suara decitan mobil itu dan segera keluar dari rumah.
Flashback on...
Brakk....
Cittt.....
Dinda melebarkan matanya saat mendengar suara rem mendadak yang cukup keras. Segera ia keluar dari kamar dan melihat kedua asistennya juga ikut keluar.
"Astaga, siapa malam-malam yang menyetir mobil kencang begitu ?" tanya Ayu sembari memasang kerudung instanya cepat.
Perasaan Dinda langsung tak enak, ia berlari kecil untuk membuka pintu itu. Dilihatnya mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya.
Mobil itu sudah dikelilingi oleh banyak sekali tetangga Dinda.
Saat Dinda membuka pintu rumah, pandangan mereka saling menatap Dinda dengan iba. Dan tentu saja Dinda menyadari itu.
Ia berlari cepat, menuju mobil dan....
Deg....
"MOMMYYYYY!!!!!" teriaknya kencang dan juga nyaring saat melihat itunya tergeletak di aspal dengan kepala yang sudah berlumuran darah dan isi perut yang sudah keluar.
Tangis Dinda langsung pecah seketika, ia meraung-raung tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1
Para ibu-ibu yang sudah akrab dengan keluarga Dinda segera memeluk wanita remaja itu untuk memenangkannya.
"Istighfar, nak..."
"Ikhlaskan ya sayang..."
Mata Dinda terfokus pada perut sang ibunya. Usus ibunya itu sudah keluar dan mengembang. Saat itu ia tahu jika ibunya sudah tak bisa di selamatkan.
Flashback off
Dengan tubuh gemetar, Putri meraih gelas yang berada di atas nakas dan meminum air putih itu hingga tandas.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan ?" gumamnya dengan tatapan yang masih kosong.
"Aku sekarang sudah sebatang kara, hanya Dinda keluarga ku satu-satunya saat ini. Apa aku harus mengajak Dinda untuk mati bersama ?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Namun beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran busuknya itu.
"Jika aku dan Dinda mati sekarang siapa yang akan membalaskan dendam keluarga kita ?" tanyanya lagi.
"Aku ingin membuat seluruh keluarga yang menghina Mommy dan Daddy mengemis padaku! Aku ingin menunjukkan pada mereka jika aku orang kaya!"
Putri berdiri dari duduknya untuk kembali duduk di tepi ranjang, ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi mobile banking untuk mengecek sisa saldonya.
"9 juta dollar," gumamnya. "Kalau di rupiahkan ini berarti seratus dua puluh sembilan milyar." Putri melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Rekening yang tabungannya sudah melebihi keinginannya saat sebelum berangkat ke Las Vegas dulu.
Wanita itu dulu mengatakan kepada madam Chie juga hanya ingin mendapatkan 50 Milyar saja.
"Apakah ini saatnya aku pulang ke Indonesia ? Aku rasa uang ini sudah lebih daripada cukup untukku adikku, dan juga calon anakku ini," gumamnya mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Tapi bagaimana bisa aku pulang ke Indonesia ? Visa dan juga passport ku berada di tangan El, aku melihat sendiri Mr. Jack memberikan seluruh dokumen pentingku pada pria brengsek itu..."
Putri berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di dekat ranjang itu. Otak cantiknya kini tengah menyusun rencana untuk keluar dari negara ini.
Apakah ia harus meminta tolong pada Nathan ? Ya! ia harus meminta tolong pada Nathan untuk yang terakhir kalinya.
Ia sudah tidak perduli dengan saham itu, mau di buat apa untuk Nathan. Yang terpenting saat ini ia kembali ke negaranya dengan identitas yang berbeda.
Putri tersenyum singkat saat membayangkan rencananya. "Aku akan meminta tolong pada Nathan untuk membuatkan identitas baru agar aku bisa pulang untuk menemui adikku dan hidup bahagia bersamanya."
"Apapun yang pria itu inginkan akan aku berikan, meskipun seluruh saham milikku ia minta akan tetap aku berikan!"
Tak mau menunggu lagi, ia segera menghubungi Nathan. Namun baru dering kedua ia dengar dari panggilannya itu.
Suara ketukan pada pintu kamarnya membuatnya terkejut. Segera ia mematikan panggilan telfon itu lalu merapikan sedikit penampilannya yang terlihat berantakan dan berjalan untuk membuka pintu kamar itu.
Ceklek....
Grep....
__ADS_1
Tubuh Putri dipeluk dengan sangat erat oleh Sandra, wanita itu seperti seseorang yang bertemu dengan teman yang sudah lama ia tak temui.
Putri membalas pelukan Sandra dan menatap El yang berdiri di belakang Sandra yang kini juga menatapnya.
"Ada apa nyonya ?" tanya Putri dengan suara seraknya saat pelukan itu mulai terlepas.
Sandra tersenyum kearah Putri, lalu sedetik kemudian ia menatap Putri dengan heran. "Astaga, kenapa kau terlibat begitu kacau ?"
"Dan lihat itu kamarmu, kenapa sangat berantakan. Semua barang berjatuhan, dan terlihat seperti kapal pecah," ucap Sandra lagi saat matanya menatap sekeliling kamar Putri.
El yang sedari tadi menatap Putri dengan pandangan yang sulit di artikan segera melihat kondisi kamar Putri yang kata Sandra berantakan itu.
Dan benar saja, kamar Putri benar-benar terlihat seperti seseorang yang sedang kemalingan.
"Ada apa ? Kamu ada masalah ?" tanya El dengan suara beratnya. Nampaknya ia sangat tidak suka jika Putri memiliki masalah.
Putri menggelengkan kepalanya cepat untuk menjawab pertanyaan El dan Sandra. "Tidak terjadi sesuatu yang penting kok tuan, nyonya. Hanya saja aku kehilangan gelang yang tuan belikan padaku. Seluruh sudut kamar ini aku cari tetap saja tidak ketemu. Padahal kan gelang itu dibeli tuan dengan harga yang sangat mahal. Pasti maid yang mencurinya," jawab Putri yang sengaja memanas-manasi Sandra.
"Tak apa nanti be–"
Ucapan El terpotong dengan cepat oleh ucapan Sandra. Wanita itu jelas sekali tak suka dengan apa yang Putri ucapakan.
"Ahh, benar katamu. Ternyata masalah yang tidak penting. Mari tidak usah membahas itu, karena aku punya kabar baik untukmu..." ucap Sandra dengan senyum merekah menatap Putri.
"Kamu orang pertama yang kami beri tahu..."
Putri menatap Sandra dengan alis yang bertaut bingung. "Memangnya ada apa nyonya ?"
Melihat wajah bingung Putri membuat Sandra tersenyum kecil, segera ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan diberikan pada Putri.
"Apa ini nyonya ?" tanyanya menatap selembar amplop berwarna putih yang di berikan kepadanya.
"Bukalah!"
Putri segera membuka amplop yang terasa sangat ringan. Jika Putri berfikir ini berisi uang sudah pasti bukan. Ia merogoh amplop itu dan segera mengeluarkan isinya.
Lagi-lagi hari ini ada kejadian yang membuatnya terkejut, ditataplah satu buah tespack itu dengan tangan yang gemetar.
"Aku hamil! Pewaris keluarga de Luca sudah ada dalam perutku!" ucapnya kencang sembari memeluk tubuh Putri lagi.
Sandra tak melepas pelukannya, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Putri. "Aku sudah hamil Put, itu artinya sudah tidak ada yang bisa menggantikan posisiku sebagai istri El. Aku harap kamu segera sadar diri dan keluar dari rumah ini," bisik Sandra penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan pada Putri.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA