WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 84 - DIA TELAH KABUR


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Taksi online yang dinaiki oleh dirinya beserta, adik, dan asistennya memasuki sebuah pekarangan rumah yang banyak ditumbuhi oleh bunga-bunga yang cantik.


Suasana di desa ini sangatlah rindang dan juga dingin, membuat Putri memilih desa ini menjadi tempatnya bersembunyi dari Leonello.


"Wes nyampek, non..." ucap sang supir dengan logat jawanya.


Putri menganggukkan kepalanya dan mengkode Ayu, yang kebetulan berasal dari Jawa untuk membantunya berkomunikasi dengan supir taksi itu.


"Udah nyampe katanya, non."


"Tanyain tarifnya berapa!"


Ayu menganggukkan kepalanya singkat dan mulai mengobrol dengan supir taksi itu.


"Pinten ongkose, pak ?"


"Selawe, non..."


"Dua puluh lima non," ucap Ayu setelah mendengar nominal yang disebutkan oleh supir taksi itu.


Putri menganggukkan kepalanya singkat dan mengeluarkan uang dari tasnya. Uang kertas berwarna merah 3 lembar.


"Bilang gak usah pakai kembalian!" ucap Putri setelahnya ia mengkode sang adik itu turun dari mobil itu.


Sedangkan Ayu segera menyerahkan uang tiga ratus ribu itu pada sang supir. "Iki pak, mboten usah susuk pun..." ucap Ayu lembut.


"Oalah nduk, nggeh pun. Mugi-mugi lancar rejekine nggeh..." doa sang supir.


Setelah berterima kasih, Ayu turun dari mobil dengan membawa seluruh barang-barangnya di dalam bagai mobil itu.


Mobil yang ditumpangi oleh Putri itu berjalan menjauhi pekarangan rumah mereka. Dengan senyum kecil Putri, Dinda dan juga Ayu mengelilingi melihat rumah baru mereka yang benar-benar mewah untuk ukuran penduduk desa.


Ada kolam ikan, semua jenis tanaman hias juga tersedia di pekarangan rumah Putri itu. Meskipun jarak antar tetangga di sini sangat jauh, berbeda dengan rumah mereka yang berad di Jakarta yang berdempetan. Tapi suasana di kota ini benar-benar menyejukkan hati mereka.


Setelah puas memandangi pekarangan rumah, kini ketiga wanita itu berjalan memasuki rumah mewah itu dengan senyum yang masih menghiasi wajah mereka.


Mereka duduk di salah satu sofa yang berada di rumah itu. "Aku suka di sini kak," ucap Dinda memeluk kakaknya dari samping.


"Saya juga non, saya kamu selamanya kita di sini..."


Putri tersenyum puas melihat kedua wanita itu nyaman dengan rumah ini. Hampir sebulan Putri mencari-cari rumah mana yang akan dia gunakan untuk bersembunyi.

__ADS_1


Dan dia ingat jika ibunya berasal dari Malang-Jawa Timur. Jadi pada saat ibunya meninggal ia langsung terpikir untuk punya rumah di salah satu desa yang berada di Malang.


"Kakak lega kalau kalian berdua senang," jawabnya sembari mengelus lembut kepala sang adik.


Tangan Dinda terulur untuk mengelus lembut perut buncit sang kakak. Selama perjalanan Putri sudah menceritakan semuanya pada Dinda dan juga Ayu.


Mulai dari apa yang dia lakukan di New York dan kenapa dia bisa hamil. Putri bercerita jika ia menjadi simpanan lelaki kaya di sana.


Awalnya Putri mengira Dinda akan memusuhinya atau bahkan tak mau menganggapnya sebagai kakak lagi, karena ia melakukan sesuatu yang mencoreng nama baik keluarga.


Tapi yang dia dapatkan malah sebaliknya. Dinda malah terharu dengan perjuangannya dan berjanji menjadi Tante yang baik untuk anak yang di kandung Putri saat ini.


"Hey baby, ini aunty Dinda. Kamu tenang ya sayang, sekarang kamu aman. Aunty jamin Daddy kanu tidak akan menemukan persembunyian kita. Karena kita berada di desa terpencil...." ucap Dinda mengelus perut Putri sayang.


"Iya baby, di sini juga ada Mba Ayu yang akan menjaga kamu. Mba Ayu janji akan selalu menemani kamu..."


Mendengar ucapan manis dari adik dan asistennya membuat Putri tak bisa untuk tidak menangis.


Ia bahagia sekarang, semoga saja Tuhan baik hati agar membiarkan kebahagiaan ini berlangsung lama.


...o0o...


Mobil itu kini membawa cepat tubuh El untuk kembali ke mansion miliknya. Semalam ia memenangkan judi dadu, sehingga ia mendapatkan uang triliunan dan membuatnya kalap untuk meniduri beberapa wanita.


Meskipun tidak ada yang senikmat wanitanya yang berada di rumah.


"Tuan, hari ini adalah hari perceraian Thomas dan nyonya Risa," ucap Fred sembari menyetir mobil.


"Besok kamu atur Fred, dua hari lagi kamu harus pastikan jika Sandra bukan istri saya lagi. Atur perceraian ku dengan cepat!" titah El dan diangguki cepat oleh Fred.


Mobil itu kini berbelok untuk memasuki mansion mewah milik El. Sungguh El tidak sabar untuk memberikan kepala Nathan pada wanitanya.


Pasti Putri akan sangat senang dan memuja-mujanya. Dan sebagai balasan El, akan meminta Putri berhubungan di kolam renang.


Membayangkan itu saja membuat El tersenyum sendiri, ia bahkan tidak sadar jika mobil sudah berhenti tepat di pintu mansionnya, dengan Fred yang sudah membuka pintu mobil untuknya.


"Tuan..." panggil Fred untuk yang beberapa kali.


El berdehem sebentar untuk menghilangkan rasa malunya, setelah itu keluar dari mobil. "Dimana mata-mata itu ?" tanyanya.


"Gudang, tuan..."


"Aku akan ke gudang sekarang. Tanganku sudah tidak sabar untuk membunuh mata-mata itu. Bawa hadiahku untuk Putri dan taruh ke gudang, setelah itu panggil Putri untuk ke gudang!" titah El yang ditanggungki oleh Fred.


Dengan langkah tegasnya ia berjalan menuju gudang yang berada di lorong bawah tanah di sisi pos satpam.


Ia memencet tombol merah yang berad di dinding, lalu seketika pintu rahasia itu terbuka. Tak mau menunggu lama El menuruni tangga untuk sampai pada gudang bawah tanahnya.


"Ini mata-matanya, tuan..." ucap salah seorang penjaga yang menunjuk ke arah seorang gadis muda yang El tafsir berumur 17 tahun dan memakai pakaian seorang maid sama seperti maid yang ada di rumahnya.


Gadis itu terlihat sangat berantakan, dengan lebam yang memenuhi wajahnya.

__ADS_1


"Kau bekerja untuk Nathan kan ?" tanya El langsung. Meskipun ia sudah tahu jawabannya tapi ia ingin dengar langsung dari wanita itu.


"Lepaskan saya, tuan...." ucap wanita itu memohon pada El dengan nada suara yang melemah.


"Jika kau menjawab semua pertanyaan ku dengan jujur, kau akan aku lepaskan," jawab El dengan senyum miringnya. "Tapi kalau berbohong....."


El menggantungkan kalimatnya, ia meminta penjaga itu untuk membuka kota hitam yang berada di sebelah kakinya.


Penjaga itu menganggukkan kepalanya singkat dan segera membuka kotak itu.


Maid itu membulatkan matanya terkejut saat melihat kepala tuannya berada dalam kotak hitam itu.


"Jika kau berbohong, kepalamu akan aku jadikan hiasan seperti pria itu," unjuk El pada kepala Nathan.


Maid itu menganggukkan kepalanya kaku, dan menekan salivanya susah payah. "Ba–baik tuan..." ucapnya bergerak. Rasanya gadis itu sudah tak memiliki tenaga untuk berbicara.


"Sa–saya memang mata-mata yang di utus Nathan untuk memata-matai nona Putri. Sebenarnya nona Putri dan tuan Nathan itu bekerja sama. Jadi saya di minta untuk selalu mengawasi Putri agar selalu bertindak sesuai dengan apa yang di rencanakan oleh tuan Nathan." Maid itu kini melirik El untuk melihat ekspresi pria itu.


Ia melihat tubuh El bergetar, seperti tak percaya dengan ucapannya. Beberapa detik ia berbicara, El masih belum memberikan respon pada ucapannya.


"Sa–saya berani bersumpah tuan, jika nona Putri dan tuan Nathan sudah berkerja sama untuk menghancurkan bisnis anda. Tuan Nathan meminta agar tuan Putri membujuk anda agar memberikannya saham yang nantinya akan di gunakan tuan Nathan mengambil alih perusahaan anda. Dan sebagai gantinya nona Putri meminta pada tuan Nathan agar memberikannya identitas baru agar bisa keluar dari kota New York. Karena Putri bilang paspor nya di sita oleh anda," sambung maid itu.


El masih diam tak merespon apapun, hingga terdengar suara langkah kaki masuk ke gudang bawah tanah ini.


"Tu–tuan, Putri sudah kabur sejak kemarin sore!" beritahu Fred dengan dada yang naik-turun karena berlari kencang.


"Mu–mungkin nona Putri sudah kabur tuan dengan mengunakan identitas baru yang di–diberikan oleh tuan Nathan," ucap maid itu lagi.


El memegang dadanya yang entah mengapa terasa sangat sesak dan menyakitkan. Rasa sakit ini sama seperti dulu ia kehilangan kedua orang tuanya.


Tanpa sadar air mata El jatuh untuk yang pertama kalinya setelah 10 tahun berlalu.


"Putri...." gumam El.


...o0o ...


MOHON DUKUNGANNYA YA KAK 🥺🥺


CERITANYA UDAH MAU TAMAT


JANGAN PADA BOSEN YA 🤗🤗


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2