WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 33 - KITA HARUS TERBUKA!


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Badan Putri terasa sangat remuk, ia tadinya berfikir jika El hanya akan bermain-main kecil saja kepadanya karena berada di ruangan kerja.


Tapi ternyata bayangannya salah, di ruang kerja itu terdapat kamar tidurnya. Putri menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran orang kaya raya itu.


"Sungguh, aku sama sekali tak paham dengan ruangan ini," batinnya sembari menatap sekeliling ruangan kamar ini. "Untuk apa ia membangun kamar di sini, jika kamarnya hanya berjarak beberapa langkah kaki saja," sambungan membatin.


Ia melirik pria yang tertidur pulas di ketiaknya itu sembari mendesah kasar. "Ahh...." Putri memijit pangkal hidungnya karena rasa pening yang menghampirinya.


Dengan perlahan ia mecoba melepaskan kukungan tangan dan kaki El yang melilit pada tubuhnya.


"Dia sangat berat, 5 kali lebih berat dibanding saat bersekolah dulu," gumamnya.


Berkali-kali Putri berhasil melepas kukungan El, berkali-kali pula El kembali pada posisinya mengukung tubuh Putri.


Tapi Putri harus bisa, ia sama sekali tak mau jika nanti ada pelayan atau mungkin istri El mempergokinya keluar dari ruang kerja El dengan cu******pang yang ada di seluruh leher dan dadanya.


"Jika sampai ketahuan mungkin aku akan bernasib sama seperti dengan teman Tamara yang tertembak oleh istri dari pria yang di sewanya," batin Putri, tubuhnya merinding seketika.


Ia merapatkan tangannya di depan dada, berdoa untuk wanita yang telah tewas itu. "Semoga dosamu diampun..."


"Egghhhh...." lenguh El yang tiba-tiba membalikkan badan membelakangi Putri.


Putri menahan nafasnya karena gugup hampir ketahuan jika ia masih belum tidur juga. Namun beberapa detik kemudian ia membuka mata, senyum kecil menghiasi bibirnya.


Tak mungkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan perlahan ia berdiri dari duduknya yang memuguti pakaian yang sempat di lembar sembarangan oleh El.


"Ishhh...." desisnya saat merasakan sakit yang luar bisa pada daerah in****timnya. Namun Putri berusaha semaksimal mungkin untuk mengabaikan rasa sakitnya dan segera memakai pakaiannya kembali.


Setelah rapi dengan pakainya tak lupa ia juga merapikan rambutnya yang sempat dijambak-jambak oleh El.


"Aku harus segera keluar dari sini dan menuju kamar pribadiku!" gumamnya sembari membuka pintu kamar itu.


Ia berjalan untuk menghampiri 2 kopernya yang tergeletak mengenaskan di dekat pintu ruang kerja El.


"Beruntung tadi tangan kanan El itu sempat menunjukkan kamar ku saat perjalanan kemari," sambungnya setelah itu keluar dari ruang kerja El.


...o0o...


Kring.....kring....kring....


Alarm pada ponsel milik Putri berdering, dengan segera dan tanpa adegan malas-malasan terlebih dahulu, Putri bangkit dari tidurnya dan mematikan alarm pada ponselnya.


"Jam 7 pagi," gumamnya.


Ia meloncat dari ranjangnya untuk menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu. Sejujurnya ia heran, apakah semua kamar pembantu memiliki fasilitas yang sama dengan pemilik rumah ?


Karena kamar milik Putri ini benar-benar sangat besar!


Kembali pada Putri, setelah 20 menit ia membersihkan tubuhnya ia kini sibuk membongkar kopernya untuk memakai baju yang pantas.


Ia memilih 1 dres berwarna hitam putih yang memperlihatkan bahunya uang tampak menawan itu.


Tak lupa ia menyepol rambutnya dan memakai make-up tipis pada wajahnya, agar tidak terlihat jauh berbeda dengan Sandra yang begitu menawan.


"Ah, si**al! Ini semua gara-gara El!" gumamnya sembari menutupi cup****ang nya dengan foundation yang sengaja ia buat tebal.

__ADS_1


Perlu beberapa menit untuk membuat warna foundation itu terlihat sama dengan warna kulitnya.


Setelah selesai tak lupa ia menyemprotkan parfum pada leher dan juga pergelangan tangannya.


"Sempurna...." ucapnya sembari melihat penampilannya pada cermin.


Segera ia keluar dan berjalan menuju meja makan. Tapi ada satu hal yang ia lupakan, ia tak tahu dimana tempat meja makan itu berada!


"Sh****it!!!" umpatnya.


Ia berada di lantai 6 mansion ini, satu lantai dengan kamar Sandra-Leonello dan juga ruang kerja pria itu.


Putri mengigit jari-jari bingung, harus lewat mana ia sekarang ? Kenapa tak ada yang memberitahunya! Putri mengumpati Fred dalam hati. "Awas saja kau kepa******rat!"


"Ehem..." ada seseorang yang berdehem tepat di belakang tubuh Putri. Dengan perlahan Putri membalikkan tubuhnya dan tersenyum kikuk di hadapan orang itu.


"Se–selamat pagi, nyonya!" ucapnya dengan semangat. Meskipun sejujurnya ia sangat gugup.


Sandra tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya. "Ayo kita sarapan terlebih dulu, pasti El sudah menunggu kita di bawah," ucapnya Sandra final sembari berjalan menuju lift.


Putri mengikuti langkah kaki Sandra, dengan jantung yang berdebar dan keringat dingin yang membasahi dahinya secara tiba-tiba.


Ting...


Lift membawa mereka menuju ke lantai bawah. "Apa yang El bicarakan kepadamu ?" tanya Sandra tanpa basa-basi di dalam lift.


Putri memejamkan matanya sejenak, dengan pikiran jelek yang tiba-tiba menghantuinya. "Ti–tidak ada nyonya, tuan hanya membahas tentang apa saja yang boleh saya lakukan dan tidak boleh saya lakukan saat pekerjaan dengan anda," jawabnya mencoba selancar mungkin.


Dari dinding lift yang memantulkan dirinya, ia mencoba mengaca. "Apa ada sesuatu yang mencurigakan pada tubuh ku ? Apa dia telah melihat cu*****pang yang ada pada leher ku ?" batinnya takut.


Ting...


Pintu lift terbuka dan mereka berjalan keluar dari lift. "Ingat bahwa kau adalah orangku, aku yang akan menggajimu. Jadi aku mohon katakan yang sejujurnya kepadaku, atau kau mati di tanganku!" ancamnya.


Sejujurnya Sandra tak ada nyali mengatakan itu, tapi ia mencoba terlihat tidak lemah di hadapan Putri.


Tak ada jawab dari Sandra, itu sedikit membuat Putri bisa bernafas lega.


Mereka berdua sampai di ruang makan yang tampak seperti restoran mahal itu. Semua makanan di hidangkan di sana. Padahal ini baru sarapan, bagaimana jika nanti makan malam ?


Lagi, Putri menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah orang kaya ini.


"Dimana El ?" tanya Sandra berjalan untuk menduduki salah satu kursi yang tersedia di sana, diikuti Putri yang duduk tepat di sebelah Sandra.


Salah satu maid berjalan menghampiri Sandra sembari membukukan badannya. "Saya menjawab nyonya. Tuan sudah 30 menit lalu berangkat bekerja," jawabnya.


Sandra menghela nafas panjang dan terlihat tampak murung dan Putri bisa melihat jelas perubahan wajah Sandra dari datar saat mengancamnya lalu tiba-tiba murung mendengar ucapan maid itu.


"Pergilah," perintah Sandra pada maid itu. Kini matanya beralih pada Putri. "Dua lembar roti selai coklat, dan satu lembar roti selai nanas," perintahnya.


Dengan sigap Putri berdiri dari duduknya dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Sandra.


"Jangan bersedih nyonya," ucap Putri sembari mengoleskan selai pada roti itu.


Sandra melirik ke arah Putri dengan senyum sinisnya. "Jangan heran dengan aku, beginilah nasibku sebagai istrinya."


"Sudah hampir 2 bulan dia tidak menyentuh ku, sudah satu bulan dia tidak makan bersama denganku. Dan sudah hampir 3 Minggu dia tidak pulang ke rumah ini, dia baru pulang kemarin," curhat Sandra dengan lirih.


Putri mengehentikan tangannya yang mengoleskan selai itu pada roti. Dan menatap Sandra dengan perasaan yang tak enak.


"Maafkan aku, tapi...." Putri menggantungkan kalimatnya sembari menggigit lidahnya, tak seharusnya ia menanyakan itu.


Lagi, Sandra melirik Putri lalu mengambil roti yang sudah di olesi selai dari piring Putri. "Katakan saja, sekarang kau adalah asistenku. Dan kau harus tau bagaimana aku, dan aku juga ingin tahu bagaimana kau," ucapnya membuat Putri melanjutkan kalimatnya.


"Apa tuan dan juga nyonya di jodohkan ?" tanya Putri hati-hati.

__ADS_1


Dengan segera Sandra menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Putri. "Tidak," jawabnya singkat.


"Jika aku jadi nyonya sudah pasti aku akan mengandung anak tuan untuk mempertahankan posisi saya," ucap Putri tanpa sadar.


Lalu beberapa detik kemudian, ia sadar dengan apa yang diucapkan ini salah. Ia menutup mulutnya dengan tangan lalu memandang Sandra tak enak hati.


"Jangan menatapku begitu," ucapnya sembari terkekeh. "Siapa yang tak mau mengandung anak dari pria yang di cintai, Put ?" tanya Sandra lirih.


Tanpa sadar air mata Sandra turun, membahasi wajahnya. Namun dengan cepat ia menghapus air mata itu. Tapi gerakan tangan Sandra kalah cepat dengan pengelihatan Putri.


Putri melihat air mata Sandra turun, menandakan jika wanita itu benar-benar sangat ingin mendapatkan ank dari El.


Wanita itu menaruh roti yang sudah ia isi dengan selai ke piring Sandra. Lalu ia mengambil roti untuk dirinya sendiri.


"Bagaimana denganmu ?" kini giliran Sandra yang mengintrogasi Putri. "Kamu kamu dari Indonesia, kenapa kamu ada di New York sekarang ?"


"Saya merantau nyonya, saya harus bekerja ada saja untuk membiayai keluarga saya. Dan membiayai biaya pengobatan ibu saja yang terkenal penyakit mental," jawab Putri yang sukses membuat tubuh Sandra mematung di tepat.


"Lalu bagaimana dengan Ayah kamu ?" tanya Sandra. "Ayah saya meninggal di hari yang sama saat ibu saya masuk rumah sakit untuk pertama kalinya."


Sandra menutup mulutnya terkejut. Ia sungguh tak menyangka jika kisah hidup dirinya ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan wanita di sebelahnya ini.


"Lalu pekerjaan apa yang kamu lakukan sebelum bertemu dengan El ?" tanyanya lagi.


Lidah Putri terasa kelu, tak bisa menjawab pertanyaan Sandra. Ia meletakan rotinya kembali dan menatap Sandra takut-takut.


"Saya menjadi wanita malam, nyonya," ucapnya menundukkan kepalanya takut.


Lagi-lagi Sandra di buat syok dengan pernyataan Putri. Ia mengkode Putri untuk menuangkan air dalam gelasnya.


"Apa El sudah meni****durimu ?" tanyanya. "Ah sudahlah, tak perlu di jawab karena aku tahu jawabannya."


"Kali ini kau aku maafkan karena aku sungguh iba dengan keadaanmu. Tapi ini yang terakhir kalinya, dan jangan pernah lagi kau sentuh suamiku!" sambung Sandra membuat Putri tersenyum bahagia.


"Baik, nyonya!" jawab Putri senang.


...o0o ...


Ini Sandra ya...


Wanita kalem dan istri Sultan.



Ini Putri .....


Wanita malam favorit El.



Ini El....


Sugar Daddy...



...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR GIFT+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2