WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 26 - PASRAH


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Leonello membawa Putri memasuki hotel itu dengan menyeret kasar tubuh wanita itu. Tak peduli seberapa banyak pasang mata yang melihat mereka.


Entah apa yang membuat Leonello merasakan bahagia saat melihat wanita ini meringis kesakitan.


"El, sakit..." ucap Putri lirih.


Namun sama sekali El tak memperdulikan ucapan wanita itu. Ia malah semakin melirik sinis wanita yang berjalan terpincang-pincang di belakangnya itu.


"Apa tadi yang kau katakan ?" bisiknya sembari mendesis marah. "Lancang sekali kau!" sambungnya dengan nada suara sedikit keras.


Mata Putri yang sudah memerah menahan tangis berkedip bingung. "Memang apa yang sudah ku perbuat ?" batinnya bingung.


Ting...


Pintu lift terbuka, segera Leonello mendorong tubuh Putri untuk masuk ke dalam lift dengan kasar. Hingga tubuh bagian depan wanita itu menubruk dinding lift keras.


Bugh....


Putri meringis saat merasakan sakit yang luar biasa. Wanita itu memegang hidungnya yang tampak memerah dari bayangan dirinya di dinding lift.


Ia melihat tangannya yang tadi memegang hidungnya. Tubuhnya bergetar seketika. "I–ini darah...." batinnya.


Leonello mendorong tubuhnya ke dinding hingga hidungnya mengeluarkan darah. "Sa–sakit...." ringisnya.


Ia membalikkan tubuhnya menghadap kearah depan atas suruhan Leonello. "Balikkan tubuhmu jal*ng!" desis Leonello marah.


Ting....


Pintu lift terbuka....


Melihat hidung Putri yang mengeluarkan banyak darah membuatnya menjadi senang. Entah bagaimana, tapi melihat wanita itu kacau membuat Leonello merasa menang.


"Sakit ?" tanya Leonello dengan suara yang menggambarkan jika ia senang cemas saat ini.


Namun itu hanya beberapa detik saja, setelahnya ia kembali menarik tangan Putri kasar untuk keluar dari lift dan berjalan memasuki kamar hotel yang memang sudah menjadi miliknya secara pribadi.


"Sini biar aku obati," cicitnya dengan nada suara yang lembut.


Dengan tubuh yang gemetar Putri berusaha mengikuti langkah pria itu yang berjalan menuju sebuah kamar hotel dengan pintu berwarna emas.


Ceklek....


Saat pintu itu di buka, harum tubuh maskulin yang sangat di kenali oleh Putri tercium. Ini benar-benar sangat Leonello sekali.


Namun lamunannya buyar seketika saat lengan tangan kirinya di tarik dengan keras lalu di hempaskan dengan kasar di depan ranjang kamar hotel.


"ARGHHH...... SAKITTT....." Putri menjerit kesakitan.

__ADS_1


Tubuh Putri terjatuh di lantai dengan cukup keras. Ia merasakan seluruh tubuhnya seperti patah saja. Apalagi tulang ekornya, itu sangat sakit saat menyentuh lantai.


Kemudian ia mendongak dengan tatapan penuh kebencian kepada Leonello. Ia mengepalkan tangannya erat saat pria itu malah tersenyum mengejek kearahnya.


"Sakit ?" tanyanya pelan dengan senyum miringnya.


Putri mengalihkan pandangannya kearah lain, dadanya benar-benar terasa sangat sesak melihat wajah Leonello.


"Sakit ?" tanya Leonello lagi.


Dan Putri tetap memilih untuk membungkam mulutnya daripada menjawab pertanyaan bodoh pria yang berdiri di hadapannya itu.


Terdengar suara derap langkah kaki menghampirinya, Putri kembali memfokuskan pandangannya pada sepasang kaki yang berjalan kepadanya.


Leonello berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Putri. Tangannya terangkat untuk memegang dagu wanita itu, mengarahkan pandangannya ke wajah Leonello.


"Aku sungguh tak menyangka jika wanita yang dulu ku puja-puja kini menjadi seorang jal*ng," ucapnya.


Putri menatap mata Leonello dengan amarah yang bergejolak, ia juga sudah tak bisa menahan lagi air matanya.


"Apa salahku ha ?" tanyanya dengan suara bergetar. "Aku memang seorang jal*ng saat ini, dan kau yang menyewa ku...hiks...hiks...." runtuh sudah pertahanan Putri dirinya menangis dihadapan Leonello.


"Kenapa kau bersikap kasar kepadaku ? Apa kau masih dendam dengan masalah kita yang terdahulu ?" tanya Putri dengan suara gemetarnya.


"Masa lalu ?" tanya Leonello dengan senyum miringnya.


Putri menganggukkan kepalanya cepat, dengan wajah yang berlinang dengan air mata ia memaksakan senyumannya. "A–apa kau tidak puas dengan apa y–yang kau lakukan dengan keluarga ku ?"


"Kenapa kau masih bersikap kasar kepadaku ? Aku ra–rasa....hiks....yang kau lakukan pada sudah cukup untuk menggantikan kesalahan ku pada masa lalu," sambungnya.


Kedua tangan Leonello terkepal di kedua sisinya, sekilas bayangan masa lalu yang setiap malam selama delapan tahun ini kembali terlintas dalam pikirannya.


"Masa lalu ya ?" tanya El sekali lagi. Dia tersenyum miring, tangan kanannya bergerak untuk melonggarkan dasi yang melilit kera kemejanya. "Terima kasih pada ucapan mu yang berhasil mengingatkanku pada masa-masa itu."


Leonello melepas jas yang ia pakai yang membuangnya ke sembarang arah. Lalu kedua tangannya memegang bahu Putri dan menariknya keatas hingga tubuh wanita itu berdiri dengan sempurna.


"Karena ucapan mu tadi berhasil membuatku mengingat, bagaimana aku sangat bodoh hanya karena wanita murah**n seperti mu!" sambungnya.


Tangan kanan El mencekam kuat leher Putri, lalu menariknya agar lebih dekat dengan tubuhnya. "A–argggghhhhh.... SAKITT....A–AM–AMPUN...." teriak Putri dengan urat yang menonjol keluar.


Bukannya melonggarkan cekaman tangannya pada leher Putri, El malah semakin kuat mencekik leher wanita cantik itu.


Kini seluruh wajah Putri sudah memerah karena oksigen tak bisa masuk dalam tubuhnya. Berulangkali ia mencoba melepaskan tangan El dari Lehernya tapi tidak bisa.


"A–AMPUNNNN.....EL...." teriaknya dengan sisa-sisa nafas yang ia punya.


Mendengar namanya di sebut, El segera melepaskan tangannya dan leher Putri dengan amarah yang semakin menjadi.


Putri segera menghirup udara sebanyak-banyaknya saat El melepaskan dirinya. "Ha....hah....hah...." ia memundurkan tubuhnya hingga menyentuh tembok.


"Ka–kau ingin membunuhku kan ?" tanya Putri dengan tubuh gemetarnya.


Leonello maju beberapa langkah untuk menghampiri Putri. Entah apa yang membuat dirinya semakin marah saat ini.


Plakk......


Plak.......

__ADS_1


Dua tamparan El berikan untuk pipi mulus milik Putri. Hingga tanpa ia sadari pipi Putri sudah sangat memerah karena tangan El yang begitu besar dan juga beru**rat.


Sementara Putri sudah terjatuh di lantai karena tak bisa menahan sakit yang begitu luar biasa, saat El menampar wajahnya.


Perih, sakit, panas, semua rasa itu menjalar dalam tubuhnya.


"Hiks...hiks.....hiks...." isaknya tak tertahan lagi.


"Berani sekali kau memanggil namaku, ha!!" ucap El dengan dada naik turun karena emosi menguasai dirinya.


"Ma–maafkan saya...hiks.....hiks...tuan..." jawab Putri. Tidak peduli harga dirinya jatuh hanya karena El, ia harus bisa mengendalikan emosi pria ini.


Jika ia semakin melawan, ia bisa mati hari ini juga.


Mendengar ucapan maaf dari Putri membuat emosi yang sejak tadi melingkupi hatinya karena Putri menyebutkan namanya kini mulai pudar.


Ia tak suka jika wanita yang sudah merusak hidupnya, dengan mudah memanggil namanya seperti tak ada kesalahan.


El mengatur nafasnya untuk meredakan emosinya. "Jangan pernah bibir kotor mu itu memanggil namaku! Panggil aku dengan sebutan tuan!" titahnya dan Putri langsung menganggukkan kepalanya mengerti.


"Ba–baik....tu–tuan...." cicitnya.


Ctarrr.....


"ARGHHH!?!!?!" teriak Putri nyaring saat El menjamb***uk dirinya dengan sabuk pinggang yang ia kenakan.


Ctarrrr......


Sekali lagi El menghempaskan sabuk miliknya kearah pa***ha mulus milik Putri. Dengan senyum mengejek ia menggenggam erat sabuk itu dan berbalik menuju ranjang.


Ia duduk di tepi ranjang, sembari melihat Putri yang terduduk lemas di ruangan itu.


"Aku beri kau kesempatan untuk memuaskan ku! Jika aku puas, aku akan menjamin kehidupan mu..." El menggantung kalimatnya.


Putri dengan perlahan menatap El yang kini ternyata sudah bertelan****jang dada. "Ji–jika tu–tuan tidak pu–puas ?" tanyanya takut-takut.


Lagi-lagi El menampilkan senyum miringnya. "Kau akan selamanya tinggal di penjara bawah tanahku!" jawabnya cepat.


Tubuh Putri bergetar hebat, sungguh yang ada di isi otaknya saat ini hanyalah adik dan ibunya yang tergeletak di ranjang rumah sakit.


Hanya ini satu-satunya kesempatan yang dia miliki, ia harus bisa melewati rintangan ini. Bagaimana pun yang akan El lakukan kepadanya, ia harus bisa.


"Jal***ng lepaskan seluruh pakaianmu, dan berjalan merangkak seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan kepadaku!!!" titah El dengan senyum miringnya.


"Ba–baik, tuan....."


...o0o ...


INI MAU DI KASIH LIAT ++++ ATAU MAU DI SKIP ? 🤰🤰🤰


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2