
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Mobil yang di tumpangi oleh Putri, sampai di sebuah bangunan yang benar-benar luas dan tinggi.
Putri tebak ada 7 atau mungkin 9 lantai di dalam bangunan itu. Lalu juga bangunan itu disertai banyak sekali lampu-lampu yang membuatnya semakin terlihat menarik.
Tadi Putri sempat mengira perjalan menuju Club' ini akan sangat jauh, tapi ternyata ia salah. Jarak dari hotel menuju Club' ini benar-benar sangat dekat.
"Mungkin kalau jauh, mereka takut kita akan kabur selama perjalanan menuju kasino itu," ucap Meichan di mobil tadi.
Dan ya, Putri membenarkan hal itu. Jika ia membuat hotel yang berjarak jauh dari Club ini, bisa-bisa saat setelah menerima uang mereka kabur.
Putri, Meichan, dan puluhan wanita itu diarahkan oleh beberapa orang berpakaian serba hitam untuk masuk ke dalam Club lewat pintu bagian belakang.
Setelah itu mereka mengantri panjang, dan saat nama mereka di sebut baru mereka bisa masuk kedalam Club' super mewah itu.
Bagi mereka yang tidak di sebut, itu artinya ada 2 hal. Yang pertama mereka melakukan kesalahan sehingga ia mereka di pecat, yang kedua mereka tidak bisa memuaskan seseorang yang bermalam dengan mereka.
Jadi untuk wanita yang tak di sebut namanya, harus kembali ke hotel yang tidak boleh kembali selama masa hukuman mereka habis. Yaitu sekitar 2 Minggu.
Bayangkan jika 2 Minggu tidak bekerja ? Sangat sia-sia bukan mereka di sini ? Dan mungkin juga orang yang selalu mereka temani akan jatuh pada pelukan wanita penghibur lain.
"Meichan Okada Takasashi!"
Meichan segera masuk dan melambaikan tangannya pada Putri, dan dibalas senyuman olehnya.
Putri terus menunggu namanya di panggil, ia melihat kesana-kemari untuk menghilangkan ke bosan nya.
Hingga tatapannya terkunci pada seseorang yang datang dengan diiringi oleh para bodyguard, meskipun tak terlihat wajahnya, tapi Putri sangat yakin jika dia adalah pria kaya dan juga tampan.
Dalam hati Putri tersenyum, "semoga dia yang memberikan uangnya padaku malam ini!" batinnya.
"Sabrina Putri Ricci!"
Mendengar namanya di panggil, ia segera masuki Club' itu, tapi sebelum itu dia di cek oleh 2 orang wanita berbadan langsing dan juga sangat tinggi berpakaian hitam.
"Kau aman, masuk!" perintahnya.
Dengan cepat dan juga dari dorongan wanita itu Putri berjalan masuk ke dalam bagian belakang Club itu.
Tidak ada Meichan di sana, ia melirik ke sana kemari sebelum ada seseorang yang menarik lengannya lembut.
"Siapkan dirimu, kau akan bersaing dengan 5 orang wanita sebentar lagi," ucap Mr. Jack berjalan menuju lift.
"Kenapa harus bersaing ? Dan untuk apa ?" tanyanya bingung.
Pintu lift itu terbuka, mereka berdua menaiki lift itu segera.
Mendengar pertanyaan Putri, Mr. jack rasanya ingin menc**m bibir wanita itu kasar. "Tentu saja untuk mendapatkan banyak uang," jawabnya.
"Tadi tuan besar memerintah kami, para bawahnya untuk membawakan beberapa wanita pada seorang tamu istimewanya. Dan dengan segera aku mengajukan mu," sambungnya, kini mata Mr. Jack menatap mata Putri dalam. "Apapun yang terjadi nantinya dapatkan pria itu! Dia akan membayar mu dengan harga yang sangat tinggi!" perintahnya tak terbantahkan.
Putri menganggukkan kepalanya mengerti, diantara banyak wanita di sini hanya ada 5 yang di tunjukkan pada pria kaya itu. Dan salah satunya adalah dirinya. Tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Terima kasih banyak, Mr. Jack. Aku tak akan membuat pria kaya itu memilih ku!" jawabnya cepat.
"Kau tahu, saat ini kau adalah anak buahku, jadi aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu!" ucap Mr. Jack dengan senyum miringnya. "Dan tentunya untukku sendiri," sambungnya dalam hati.
...o0o...
__ADS_1
Pria berjas seharga ratusan juta itu kini tengah duduk di ruangan VVIP yang memang di sediakan khusus untuknya seorang.
Kini ia tengah menyesap Vodka yang sudah ia pesan sebelumnya di dampingi oleh Fred.
"Tuan, berita kemarin Robbert sudah menyebar luas. Para media memberitakan jika Robbert meninggal karena overdosis nark0tika, sesuai dengan perintah, tuan," ucapnya sembari memberikan ponsel yang berada pada tangan kanannya.
Leonello mengambil ponsel itu dan membaca artikel online yang berada di sana dengan headline yang membuatnya sangat puas. "PENGUSAHA KELAS KAKAP ROBBERT GRAHAM TELAH MENINGGAL DUNIA, SAAT TENGAH PESTA GAN*A BERSAMA SIMPANANNYA."
Ia mengembalikan ponsel milik Fred dengan perasaan senang. "Bagaimana dengan warisannya ?" tanya El.
"Tim kita telah mencoba untuk membobol sistem perusahaan milik Robbert, dan berhasil. Saat ini kita juga masih dalam proses pembuatan surat wasiat palsu itu, jadi mohon tunggu sebentar lagi, tuan," jawab Fred lagi.
Leonello menganggukkan kepalanya mengerti dan menyesap Vodka-nya lagi. "Kerja bagus, perintahkan mereka untuk lebih cepat bekerja. Aku akan memberikan bonus yang sangat banyak untuk mereka!" titahnya.
"Baik, tuan!"
Tok...tok...tok...
Fred berdiri dari duduknya dan membukakan pintu yang sengaja mereka kunci itu. "Wanita yang tuan minta telah tiba," ucap Fred dengan perasaan yang tak menentu.
Selalu saja seperti ini, perasaannya selalu tak tenang jika tuannya melakukan hal gila dengan wanita lain. Ia selalu teringat dengan Sandra, istri tuannya.
"Suruh masuk cepat!" ucapnya sembari memainkan ponsel miliknya.
Kelima wanita itu masuk ke dalam ruangan itu, setelah masuk pintu kembali di tutup oleh Fred.
"Kali ini Mr. Scoup memberikan anda 5 wanita, tuan," jelas Fred.
Leonello menganggukkan kepalanya mengerti dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lagi.
Di tatapnya wanita itu satu persatu. Ada 3 orang yang menatapnya dengan berani dan menggoda, lalu 2 sisanya menundukkan kepalanya takut.
"Hanya mereka ?" tanya El dan diangguki oleh Fred. "Untuk ketiga orang yang memakai baju hitam itu menurut Mr. Scoup adalah bintang di Club ini, tak ada satu laki-laki pun yang tak puas dengan layanan mereka."
"Lalu mereka berdua ?" unjuk Leonello pada dua orang wanita yang tengah menundukkan kepalanya takut. "Mereka berdua masih pera**n, tuan."
Ia berjalan menuju wanita pertama, yang berani menatapnya dengan berani. "Keluar! Aku tidak suka aroma tubuhmu!" usirnya dan Fred dengan segera membawa wanita itu keluar.
Setelahnya ia menuju wanita kedua, ketiga, dan juga keempat. Lalu menyuruh mereka keluar dengan alasan yang sama.
"Bagaimana bisa mereka memakai parfum yang sangat kuno seperti itu, memabukkan!" ucapnya.
Lalu ia menatap wanita terakhir itu, mendekati dan mencium puncak kepalanya untuk merasakan aroma tubuhnya.
"****!!!!" ia mengumpat dalam hati. Benar-benar nikmat wangi tubuh wanita ini.
Entah mengapa jantungnya berdetak dengan kencang. Dan ia menjadi gugup sendiri.
Dengan pelan ia mengelus leher wanita itu, dan respon tubuhnya juga semakin aneh.
"Keluar Fred!" titahnya.
Dengan segera, tangan kanannya itu keluar dari ruangan VVIP itu, jika tuannya sudah mengatakan itu. Berarti tuannya sudah klop dengan wanita itu.
Kini giliran ia menjalankan tugasnya, untuk membooking kamar hotel untuk tuannya dan wanita itu.
"Siapa namamu ?" tanya El dengan serak, memang si*l sekali wanita ini. Hanya dengan aroma tubuh dan kulit halusnya saja bisa membuatnya setegang ini.
Ini pertama kali untuk El.
"Pu–putri, tuan...." jawabnya gugup.
Leonello memejamkan matanya sangat mendengar nama yang sudah bertahun-tahun ia tak dengar lagi .
Sejak tinggal di New York tak ada satu orang pun yang bernama Putri, dan itu cukup membuatnya bisa sedikit melupakan kenangannya bersama wanita itu.
Wanita iblis yang membuat hidupnya hancur berantakan.
__ADS_1
"Dari negara mana kau ?" tanyanya kepada wanita yang masih menundukkan kepala itu.
"I–indonesia, tuan."
Kedua tangan El terkepal di sisi tubuhnya, namun setelah di pikir lagi harusnya ia beruntung ada seseorang yang bernama Putri di kasino ini.
Jadi mungkin ia bisa melampiaskan amarahnya yang ia tahan sejak 8 tahun lalu.
"Tatap mataku!" bisiknya di telinga wanita itu.
Namun bukannya menurut, wanita itu malah semakin menundukkan kepalanya. Dan itu justru membuat El menjadi kesal.
Karena ia sungguh tak suka dengan wanita yang berpura-pura polos, dan seingatnya tadi Fred mengatakan jika wanita ini adalah seorang pera**n, tapi El tentu saja pintar. Ia tahu wanita ini tengah berbohong demi uangnya.
"Jika kau tak menurut, aku tak jadi memakai mu dan kamu juga tidak akan mendapatkan uang."
Dilihatnya tubuh wanita ini yang bergetar, dengan gerakan lambat wanita di hadapannya ini mengangkat kepalanya sebatas dadanya.
"Ck," geram Leonello.
Karena tak sabar, ia memegang kedua tulang pipi wanita itu untuk melihat wajahnya.
Dan seketika mereka berdua terkejut dengan apa yang mereka berdua lihat saat ini.
"LE–LEONELLO...." ucap Putri dengan mata membulat terkejut dan jantung yang berdebar hebat.
Sementara El di sana hanya diam membisu, sama seperti Putri. Dirinya juga sangat terkejut mendapati mantan pacarnya itu ada di dalam Club ini.
"Ap–apa yang kau lakukan di sini ?" tanya Putri gugup.
Tapi El, hanya diam tak menghiraukan Putri.
"Ba–baiklah, aku pergi sekarang!" gugupnya.
Tentu saja Putri sadar diri, untuk langsung pergi dari hadapan mantan kekasihnya itu. Tak mungkin juga Leonello sudi untuk bermalam dengan wanita sepertinya.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara Leonello membuat kakinya tak bisa digerakkan.
"Silahkan saja jika kamu ingin pergi, tapi bisa saya pastikan kamu akan di keluarkan dari Club' ini karena tak mau melayani salah satu pemilik saham yang ada di sini," ucapnya yang sukses membuat jantung Putri semakin berdebar kencang karena ketakutan.
El berjalan untuk menghampiri wanita yang selama bertahun-tahun itu telah menyiksa batinnya. "Bukan hanya itu, tapi kamu akan di depak keluar hotel yang saat ini kamu tinggal. Tanpa uang, tanpa paspor. Dan tentu kamu tidak ada bisa sekalipun kembali ke Indonesia," bisik El di telinga Putri pelan.
Putri menelan salivanya susah payah, ia membalikkan tubuhnya menghadap El yang kini tengah tersenyum mengejek kearahnya.
"La–lalu apa yang harus saya lakukan, El..." ucapnya gugup tak berani menatap mata El.
"Layani aku!" jawabnya cepat, pria itu berjalan mendekat kearah Putri. "Jika aku puas, kamu aman. Tapi jika tidak...." sambungnya menggantungkan ucapannya.
"Jika tidak apa ?" tanyanya takut-takut.
Dan El tersenyum lebar dengan ucapan mainan yang baru ia dapatkan itu. "Jika aku tidak puas, kamu akan menjadi gelandangan di sini," jawabnya.
"Ba–baiklah tuan, aku menerima tantangan mu. Tapi jika kau puas denganku, aku ingin meminta bayaran yang benar-benar sangat tinggi!" ucapnya berani. Ia berharap dalam hati agar bisa melayani mantan kekasihnya ini dengan cepat, sehingga ia tak perlu melihat pria ini lagi.
"Deal!" ucap Leonello cepat.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA