WANITA RAHASIA CEO

WANITA RAHASIA CEO
CHAPTER 39 - HUKUMAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Sandra membuka matanya perlahan saat sinar matahari menusuk masuk dalam retina matanya.


Wanita cantik itu mendesah kesal, selalu saja jika El tidur dengannya. Pria itu akan selalu saja membuka tirai kamar. Padahal sudah Sandra katakan beberapa kali untuk tidak membuka tirai saat malam hari.


Tapi tetap saja El selalu melakukan kebiasaannya itu.


Eh sebentar, apa yang tadi ia katakan ? El ? Tanyanya dalam hati.


Ia membulatkan matanya sempurna saat menyadari semalam ia menghabiskan malam yang begitu melelahkan bersama suaminya.


Dengan cepat Sandra menolehkan kepalanya ke kiri, dimana posisi suaminya tidur. Dan kosong, nampaknya El telah berangkat kerja


Sandra menatap jam dinding di atas televisi itu sembari mendesah kecewa. Jam itu menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Yang berarti suaminya telah berangkat satu jam yang lalu.


Seketika ia mendesah kecewa, padahal niat hati Sandra ingin bermanja-manja dengan suaminya dan ingin menikmati sarapan di atas kasur seperti ala-ala di hotel bintang lima.


"Hah..." ia menghela nafas panjang, lalu menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa aku tidak bisa sekali saja membuat El bangga ?" gumamnya.


Padahal ini adalah kesempatan bagus, karena jarang-jarang El akan menuruti permintaannya seperti semalam. Dan Sandra ingin memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.


Ia berdiri dari posisi tidurnya untuk memposisikan dirinya duduk dengan bersender di kepala ranjang.


"Pasti hari ini El tak akan pulang lagi ke mansion," ucapnya bersedih.


Sial! sepertinya kejadian seperti semalam bisa saja terjadi mungkin dua minggu atau bisa saja satu bulan lagi.


Karena saat mengetahui pria itu, entah apa yang membuat El selalu tak pulang ke mansion ini.


"Memang apa yang kurang dari aku El ? Bukankah aku sudah melakukan yang terbaik untuk kamu ? Aku juga semakin membuat citra mu baik di mata publik. Lalu apa yang membuat mu merasa kurang memiliki istri seperti ku ?" tanyanya dengan sakit hati yang luar biasa.


Namun setidaknya ia bahagia karena El semalam masih mau melakukan itu kepadanya. Dan El juga tidak menolak saat Sandra mengatakan jika dirinya ingin memiliki anak, itu artinya lampu hijau kan ?


Sandra tersenyum pedih, setidaknya El tidak menolak saat Sandra meminta anak. Wanita itu menganggukkan kepalanya mantap. "Baiklah! Semangat Sandra! Kamu pasti bisa," gumamnya.


Ia berdiri dari tidurnya dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh polosnya berjalan menuju kaca besar di walk ini closet miliknya.


"Jangan bersedih Sandra, tidak ada di cerita manapun ada seorang istri sah yang kalah dengan wanita perebut suaminya. Hukum alam pasti berlaku. Hanya pemeran utama yang akan menang, dan pemeran utama itu adalah kamu Sandra!" ucapnya sembari tersenyum di depan cermin.


...o0o...


Sandra berjalan keluar dari lift menuju meja makan. Kini ia sudah tampak fresh dan juga wangi setelah selesai mandi.


Hari ini ia berencana untuk bertemu dengan teman kuliahnya yang sudah lama tak ia temui. "Ahh.... pasti rasanya akan senang bertemu dengan teman-teman," gumamnya.


Setelah sampai di meja makan, ia menatap heran suasana di meja makan itu. Tampak banyak sekali maid yang sibuk memasak untuk membantu chef di dapur, ada juga yang merapikan isi kulkas, dan membersihkan dapur.


Namun Sandra merasakan ada yang kurang di sini. Tapi apa ? Ia bingung. Wanita itu duduk di salah satu kursi dan membuka piringnya yang terbalik.


"Maafkan saya terlambat, nyonya!" ucap Putri yang sudah berdiri tepat di sampingnya.


Dan ya, Sandra baru mengingat jika ia memiliki asisten baru. Pantas saja jika ia merasa ada yang kurang. Tak ada Putri yang selalu akan membuntutinya sepanjang waktu.


Sandra melirik Putri sembari bersidekap di atas dada. Ia tampak seperti bos yang siap meledak karena kelalaiannya anak buahnya.


"Bangun jam berapa kamu ? Bisa-bisa kamu datang terlambat! Harusnya kamu dulu yang datang baru saja, ini malah saya yang datang dulu," ucap Sandra garang.

__ADS_1


Putri tersenyum kikuk, tangannya masih setia mengolesi selai pada roti milik Sandra. "Sa–saya bangun jam setengah sembilan pagi nyonya," jawabnya tak semuanya berbohong.


Ia memang bangun jam 6 pagi, tapi El melakukannya dan memaksakan Putri untuk tidur kembali dan wanita itu terbangun pukul setengah sembilan pagi.


Jika El tak melakukannya sudah pasti Putri tak akan bangun kesiangan seperti ini. Belum lagi semua badannya terasa sangat sakit, tulang-tulang nya terasa remuk.


Bagaimana tak remuk jika selama hampir satu jam El melakukannya sembari berdiri! Putri mendengus kesal saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.


"Sekali lagi maafkan saya nyonya, saya masih jet lag. Mata dan otak saya masih belum terbiasa dengan perubahan waktu antara Jakarta dengan New York," alibi Putri.



Tak ingin melanjutkan perdebatan karena alasan Putri yang tampak masuk akal di telinga Sandra, wanita itu memilih untuk menganggukkan kepalanya saja.


"Kali ini aku maafkan, tapi tidak dengan besok dan seterusnya. Mulai sekarang stel alarm untuk membangunkan mu!" perintahnya dan diangguki cepat oleh Putri.


"Siap nyonya!"


Wanita itu melekatkan roti-roti yang sudah ia oles dengan selai favorit Sandra ke piring wanita itu.


Semula Sandra tak memperdulikan itu, namun saat ia ingin mengambil satu lembar roti itu tak sengaja ia melihat gelang yang melingkar dengan cantik di pergelangan tangan Putri.


Tubuh Sandra mematung, tangannya terasa keluh di gerakkan di atas piring itu. Jantungnya kini berdebar dengan kencang.


Sandra lupa akan satu hal. Gelang.


Bukankah kemarin ia memergoki suaminya tengah berada di toko perhiasan dan membeli sebuah gelang cantik berwarna putih untuknya ?


Lalu kenapa tak El berikan semalam ? Sandra juga lupa memintanya dari El.


Namun kini, bagaimana bisa jika Putri memakai gelang yang sama persis dengan apa yang di beli El di toko perhiasan itu.


Tidak, Sandra sangat yakin jika dirinya tak salah lihat. Itu gelang yang sama dengan apa yang di beli suaminya. Modelnya, ukirannya, bentuknya, motifnya. Semuanya sama persis.


Sandra memejamkan matanya untuk mengontrol emosinya yang seakan ingin meluap.


Sekali lagi Sandra melirik pergelangan tangan Putri dan kini ia melihat Putri yang menyantap makannya dengan tenang.


Dengan melihat wajah tenang dan tak bersalah milik Putri, membuat emosi Sandra menjadi naik. Padahal baru saja ia memenangkan dirinya.


"Bagus sekali gelang itu, beli di mana ?" tanyanya basa-basi.


Sesuai perkiraan Sandra, Putri terlihat diam mematung dengan wajah pucat seketika saat mendengar pertanyaan simpel Sandra.


Sementara Putri terdiam dan membisu dengan gugup, otaknya memikirkan jawaban apa yang pantas ia gunakan untuk membuat Sandra percaya dengan kata-katanya sekali lagi.


"Sa–saya beli di–" gugup Putri.


"El yang memberikannya padamu ?" tanya Sandra telak namun Putri dengan secepatnya menggelengkan kepalanya.


Setidaknya itu yang bisa Putri lalukan agar terlihat tidak berbohong di depan Sandra. "Bu–bukan nyonya," jawabnya sembari mengigit lidahnya di dalam mulut.


Sandra tersenyum miring, sembari menaikkan alisnya sebelah. "Kalau begitu, katakan padaku alasannya!" desak Sandra.


Bak mendapatkan ide brilian, Putri mengingat jika di depan Mall besar 7 lantai itu di sebrang jalan ada penjual perhiasan imitasi.


Putri tersenyum kecil, sepertinya Sandra akan percaya lagi kali ini. "Saya beli di depan Mall nyonya, anda ingat kan ada penjual perhiasan palsu di sana," jawabnya dengan lantang.


"Karena nyonya sangat lama keluar dari Mall jadi saya berinisiatif ke toko perhiasan palsu itu. Dan ini barang yang aku beli," sambungnya sembari tersenyum lebar memperlihatkan gelang itu di depan mata Sandra.


Sandra menghilang senyum miringnya mendengar penjelasan Putri. Memang benar jika di depan Mall itu ada toko perhiasan yang menjual perhiasan imitasi.


Namun kali ini ia harus cerdik, jangan sampai ia kalah dari perempuan di depannya ini.


Oh jadi begitu ?" tanyanya dan di jawab anggukan kepala oleh Putri sembari tersenyum. "Lepaskan gelang itu dan berikan padaku!" pinta Sandra.

__ADS_1


Putri menelan ludahnya susah payah, tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menuruti Sandra. Perlahan ia mencoba melepaskan gelang itu dan memberikannya pada Sandra.


Sandra menerima gelang milik Putri dan di periksanya dengan teliti. Beruntung El membeli perhiasan ini di toko langganannya, jadi dengan cepat Sandra bisa tahu ini gelang asli atau palsu seperti yang di katakan Putri.


Baru beberapa detik mengecek gelang itu, namun Sandra sudah mengetahui fakta jika gelang tersebut adalah asli berlian.


Dengan cepat wanita itu berdiri dari duduknya dan ikuti oleh Putri. Wanita cantik itu memilin-milin tangannya di depan pusarnya gugup.


Brakkk.....


Sandra membanting gelang dengan harga Miliyaran itu dengan keras. Hingga membuat gelang mahal itu tak berbentuk lagi.


Putri dan para maid serta chef yang berada di sana tentu saja kaget bukan main dengan apa yang dilakukannya nyonya mereka itu.


"Nyo–nyonya sa–saya....."


Plak.....


Plak......


Plak.....


Tiga tamparan Sandra berikan pada Putri dengan begitu kencangnya. "ITU PERHIASAN ASLI ***********!!!!" teriaknya tepat di telinga Putri.


Sandra menarik tangan Putri untuk berjalan menuju lift, dengan kasar dan juga begitu menyakitkan bagi Putri.


"A–aampun nyonya, sa–saya salah..." ucapnya. Pecah sudah tangisan Putri, entah apa yang akan di buat oleh Sandra.


Pikirannya kini menuju sang ibu dan juga adiknya yang berada di Indonesia. Ia sungguh belum siap jika mati secepat ini.


Mereka menaiki lift dengan Sandra yang memencet menuju lantai paling dasar.


Setelah pintu lift itu terbuka, segera Sandra menarik kembali tangan Putri kasar untuk menuju kolam renang yang berada di mansionnya.


"Nyonya ampuni sayaa...." pintanya sembari menangis. "Saya belum ingin mati, nyonya...hiks...hiks...."


Sandra tersenyum miring mendengar tangisan dan jeritan Putri. Sungguh ia juga tak tahu kenapa ia melakukan ini, tapi–tapi ia merasa cape dengan semua keadaan ini.


"Aku tidak kau mati, Put." Sandra kini sudah berada di tepi kolam renang, dengan Putri yang berada di depannya. Sekali ia mendorong Putri, wanita itu pasti langsung tenggelam.


Air mata Sandra luruh, ia sungguh tak ingin melakukannya tapi ia begitu sakit hati dengan apa yang dilakukan Putri di belakangnya.


"Aku kemarin sudah memperingatkan mu, Put. Tapi kamu sama sekali tak menghiraukan ucapan ku!" ucap Sandra dengan bergetar dan air mata yang turun membasahi wajahnya.


"A–ampun nyonya....hiks...hiks... saya salah..." jawabnya. "Saya tidak bisa berenang."


"Ini hukuman untuk kamu karena telah mengabaikan ucapan dari seorang istri yang suaminya telah kau tiduri!" ucapnya setelah itu mendorong keras tubuh Putri untuk jatuh ke dalam kolam.


Byurrr.....


Putri terjatuh dalam kolam bersamaan dengan Sandra yang berjalan keluar dari area kolam renang. Bisa ia dengar Putri meminta minta tolong dengan kencang.


"Jangan ada yang berani membantunya. Bantu dia saat nafasnya sudah mulai pendek," perintah Sandra pada kedua bodyguard yang berjaga di depan pintu.


"Baik, nyonya," jawab mereka serempak.


...o0o ...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2