Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 2.7


__ADS_3

Aish tersenyum tipis. Ayah pasti mendapatkan kabar dari Aira. Jika tidak, darimana Ayah tahu bila hari ini dia bolos sekolah?


"Aish sibuk kerja, Yah, makanya bolos sekolah." Aish tidak berniat menjelaskan lebih jauh.


"Kerja apa? Kamu mau membodohi, Ayah?! Mana ada kerja sampai jam segini? Ditambah lagi kamu masih pelajar ingusan yang tidak tahu apa-apa dan orang tidak akan bodoh memperkerjakan kamu di tempat mereka."


Ayah tidak mempercayai Aish bekerja karena selain masih remaja, Aish juga tidak bisa melakukan apa-apa. Dia adalah gadis yang manja dan suka membuat orang marah, jadi bagaimana mungkin ada orang yang mau memperkerjakan nya?


Aish terdiam. Dia tidak berminat lagi mengatakan apa-apa kepada Ayah karena toh, Ayah tidak akan mau mempercayainya.


Melihat Aish terdiam, Ayah lalu menghela nafas panjang. Dia berjalan mendekati putri pertamanya dengan tatapan yang sedikit melembut.


"Nak, Ayah mengharapkan yang terbaik untukmu. Ayah tidak suka kamu membolos karena pendidikan itu penting dan Ayah juga tidak suka kamu pulang larut malam karena kamu adalah seorang gadis. Kamu adalah mutiara Ayah, harta yang paling berharga dan harus dijaga. Jadi Ayah tidak mau harta yang telah Ayah besarkan dan jaga dengan hati-hati menjadi rusak karena kecerobohan Ayah sendiri." Ayah berbicara dengan nada yang sangat lembut kepada Aish.


Kata-kata Ayah memiliki makna yang dalam dan menyentuh, penuh akan kasih sayang yang hangat. Jujur Aish senang mendengarnya karena dia merasa diperhatikan oleh Ayah.

__ADS_1


"Maka Ayah menasehati kamu, Nak, agar jalan kamu benar. Ikutilah jejak adikmu, Aira. Dia telah menutup aurat sepenuhnya dan bahkan berani menggunakan cadar untuk melindungi diri. Dia tahu apa yang terbaik-"


Hati Aish berdenyut perih. Dia merasa cemburu dan sakit karena lagi-lagi dibandingkan oleh Aira.


"-Aira mengerti bahwa dengan menutup aurat hidupnya akan terlindungi dan dihormati oleh laki-laki yang bukan mahram diluar sana-"


Tidak ada yang salah dari kata-kata Ayah. Semuanya, menutup aurat dan menggunakan cadar itu memang memiliki dampak yang baik. Tapi Aish tidak suka bila kata-kata itu memiliki hubungan dengan Aira. Sebab dia tahu betul orang seperti apa Aira itu, dia munafik.


"Ayah, cukup!" Aish tidak kuasa lagi menahannya.


Matanya perih dan tatapannya buram. Air mata sudah mengepul di pelupuk matanya tapi dengan sekuat tenaga dia menahan air mata itu agar tidak jatuh.


"Aish suka kebebasan." Kata Aish seraya membawa langkahnya menaiki tangga. Membelakangi Ayah untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Tanpa menutup aurat atau menggunakan cadar, Aish bisa melindungi diri sendiri. Lagipula, apa hebatnya menutup aurat dan cadar jika hati seseorang masih busuk berbau bangkai? Bukankah Aira sia-sia?"

__ADS_1


"Aisha!" Murka Ayah.


Langkah Aish tertahan di tangga, hanya beberapa detik saja karena setelah itu Aish langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam kamar untuk bersembunyi. Di dalam kamar, seketika tubuhnya bersandar di sisi pintu. Jatuh merosot seiring dengan air mata yang kembali mengalir.


Dia menangis dalam diam, kedua tangannya meremas lelah pakaian di dadanya. Apa yang bisa dia lakukan untuk melampiaskan kesakitan nya?


Tidak ada. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain meratapi nasibnya di rumah ini. Dia rindu Mama dan menginginkan kehidupan yang hangat juga bahagia.


Tapi Tuhan yang Maha Adil nyatanya tidak mau memberikan itu kepadanya.


"Tuhan jangan hanya diam saja.." Kata Aish sedih.


"Lihat, aku menangis lagi karena Ayah tidak menyayangi ku. Tuhan jangan seperti ini karena aku lelah menahan semua siksaan batin ini. Saat itu aku masih kecil saat Engkau mengambil Mama jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Tapi sekarang... sekarang aku sudah besar dan sangat kesepian, jadi apakah aku boleh meminta agar Engkau memberikan aku kehangatan? Tolong...aku lelah terus seperti ini. Aku lelah.." Bisiknya parau.


Dia kelelahan, saat menangis mata sembabnya mulai terasa berat, perlahan-lahan kelopak matanya mulai menutupi sebagian pandangannya dan...

__ADS_1


Gelap.


Dia jatuh tertidur dalam duduknya. Memasuki alam mimpi tidak berujung sebagai pelipur lara kesedihannya di dunia nyata.


__ADS_2