
Aish turun dari kamarnya setelah memasuki waktu makan siang. Di bawah semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk makan siang dan tidak berniat memanggil Aish untuk bergabung. Bukan karena mereka kejam tapi karena mereka ingin Aish merenungi semua kesalahannya kemarin. Di samping itu mereka juga merasa canggung berbicara dengan Aish karena sikap dingin yang Aish tunjukkan kemarin.
"Keluarga harmonis, huh? Apa aku sudah bukan lagi anggota keluarga ini?" Ejek Aish dengan senyum pahit di wajahnya.
"Tapi ya sudahlah, aku juga tidak berniat untuk ikut bergabung dengan mereka. Mana sudi aku makan makanan dari tangan Nenek sihir itu, cih." Ejek Aish menekan perasaan sakit dihatinya.
Dia selalu seperti ini. Sebenarnya tidak benar-benar membenci Ayah maupun Ibu tirinya karena biar bagaimanapun dia tumbuh dan dibesarkan oleh mereka. Sikapnya seperti ini karena dia akhirnya mengerti mengapa Mamanya meninggal dan karena itu pula dia tidak mau menerima kenyataan jika orang yang telah menyakiti Mamanya adalah, Ayah dan Ibu tiri yang telah membesarkannya.
Aish kecewa. Mulai menjauhi mereka sampai akhirnya hati dan jiwanya seolah dikhianati ketika menyadari bila perhatian Ayah lebih besar untuk Aira.
__ADS_1
Dari sana Aish menjadi orang yang terpinggirkan dan asing di dalam keluarganya sendiri. Sikapnya berubah, dia suka membuat masalah dan dikucilkan banyak orang di sekolah maupun di sekitarnya. Semua orang memandangnya salah dan bahkan, Ayah pun tidak berbeda dengan mereka. Dia selalu disalah artikan dan dimarahi, namun...namun tidak pernah ada satupun orang yang bertanya kepadanya mengapa dia tiba-tiba berubah dan mengapa dia memiliki sikap yang sangat buruk?
Tidak ada yang mempertanyakannya, inilah yang membuat Aish amat sangat kecewa.
"Aish akhirnya bangun. Ayo, Nak, ke sini untuk makan siang." Suara lembut Bunda langsung membuyarkan lamunan Aish.
Aish hanya meliriknya dingin dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Bunda. Dia menghentikan taksi di depan komplek dan masuk setelah memberikan alamat tujuannya.
Sama seperti Bibi, yang lain juga dibuat kesal oleh kelakuan Aish yang belum menunjukkan tanda-tanda perubahan setelah diberikan tamparan keras oleh Nenek. Sebab bagi mereka Nenek adalah tetua yang paling dihormati selain Kakek di keluarga ini. Maka ketika salah satu anggota keluarga mendapatkan teguran dari Nenek ataupun Kakek, mereka pasti akan sangat malu dan segera memperbaiki sikap. Ini hanya teguran, belum termasuk tindakan fisik seperti yang dialami oleh Aish.
__ADS_1
Harusnya Aish langsung berubah menjadi gadis yang lebih baik- itu jika dia memiliki kesadaran diri yang baik.
"Berhenti membahasnya lagi. Jika kamu tidak mengganggunya lebih dulu, Aish tidak akan membuat masalah." Kata Nenek dengan rasa bersalah di hatinya.
Bibi cemberut,"Apa Ibu sekarang menyalahkan aku?"
"Lihatlah usiamu sekarang. Kamu bukan lagi seorang gadis tapi tingkah mu lebih buruk daripada seorang gadis. Jika kamu merasa sudah dewasa maka jangan mencari gara-gara dengan Aish di masa depan lagi. Dia menjadi seperti ini juga karena kesalahan kita semua. Baginya, kehilangan Mamanya adalah luka yang akan selalu membekas di dalam hatinya." Kakek akhirnya menyela pembicaraan istri dan putrinya.
Sejak awal dia diam saja melihat anak-anaknya menganggu sang cucu yang malang. Tapi tidak sekarang, dia sangat merasa bersalah saat melihat tatapan sendu di wajah Aish.
__ADS_1
Kata-kata Kakek segera memicu perasaan canggung dihati Ayah dan Bunda. Mereka adalah penyebab Mama Aish jatuh depresi dan berakhir pergi meninggalkan dunia ini.
"Ayah, itu bukan salah kita. Tapi salah Mamanya sendiri yang ngotot ingin menikahi Kakak. Padahal kan Kakak saat itu sedang berpacaran dengan Kakak ipar." Bibi enggan disalahkan dalam hal ini.