Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 5.2


__ADS_3

Dia menyambung tidurnya lagi setelah subuh dan baru bangun hampir pukul 10 siang. Ketika keluar dari kamar Aish menatap heran dekorasi feminim di rumahnya. Semalam rumahnya tidak memiliki dekorasi ini, pikirnya bingung.


Barulah dia mengerti ketika bola matanya menangkap kata-kata penuh kebahagiaan di dinding aula rumah. Ternyata hari ini Aira berulang tahun yang ke 18, beberapa bulan lebih muda dariku.


"Aku tidak merayakannya karena aku tidak mau, namun rupanya ukhti kesayangan keluargaku sangat suka berpesta. Nah, sebenarnya ini tidak mengherankan sih..." Olok Aish mencela.


Dia ingin berbalik masuk ke kamarnya karena tidak ingin ikut campur ke dalam pesta Aira. Akan tetapi langkahnya tiba-tiba tertahan ketika kedua telinganya mendengar suara keras bibinya memanggil nama 'habib Thalib'.


"Kak Khalid ngapain ke sini?" Bingung Aish langsung membalikkan badannya 180 derajat dan bergegas menuruni anak tangga.


Dia tidak perduli dengan penampilannya saat ini karena yang terpenting adalah dia ingin tahu kenapa habib Khalid ada di sini.


Di ruang tamu sangat ramai ketika Aish mengintip. Ada Nenek dan Kakek yang duduk di antara seorang gadis bercadar, Aira. Dia sangat pemalu dan selalu menundukkan kepalanya. Lalu, Ayah dan Bunda duduk di sofa yang lain bersama Bibi juga Paman. Dan sisa anggota keluarga yang lain menduduki tempat duduk yang kosong.

__ADS_1


Sedangkan habib Khalid, sang bintang tamu duduk di sofa single dengan senyuman sopan di wajahnya yang tampan lagi meneduhkan. Bola mata hitamnya sama sekali tidak pernah bergerak melirik Aira maupun anggota keluarga muda yang lainnya.


Prilakunya yang sopan ini membuat semua orang di dalam rumah sangat nyaman sekaligus kagum. Karena langka sekali bertemu dengan laki-laki sesopan dan seramah habib Khalid.


"Nak habib, kenapa tidak pernah beritahu Nenek dan Kakek jika habib sudah ada di sini? Jika kami tahu, kami pasti akan menyiapkan tempat tinggal dan menyambut kedatangan habib Thalib di sini."


Aish tertegun. Dia buru-buru bersembunyi di pintu masuk ruang tamu untuk menguping pembicaraan mereka.


"Apa Nenek dan Kakek mengenal Kak Khalid?" Aish meragukannya.


Dari jawabannya Aish mengkonfirmasi jika habib Khalid hanya tinggal sementara saja di sini. Aish ingin bertanya sampai kapan dia akan tinggal dan dimana tempat tinggal habib Khalid yang sebenarnya.


Tapi semua rasa penasaran telah diwakilkan oleh Aira.

__ADS_1


"Em, habib Thalib?" Suara lembut Aira menarik perhatian semua orang di ruang tamu- termasuk Aish yang ada diluar.


"Sok lembut, cih!" Cibir Aish jijik.


Habib Khalid tidak menjawab juga tidak menoleh. Dia memberikan Aira waktu untuk melanjutkan ucapannya.


"Bolehkah Aira tahu sampai kapan habib Thalib tinggal di sini?" Tanyanya malu-malu..


Semua orang yang ada di ruang tamu praktis tersenyum simpul. Mereka agak geli melihat tingkah menggemaskan anak gadis mereka. Diantara banyak laki-laki yang pernah datang ke sini berkunjung, hanya habib Thalib yang mampu membuat Aira malu-malu.


Habib Thalib langsung menjawab,"Aku belum bisa memastikannya. Tapi mungkin tidak akan lama." Dia tidak bisa memastikan sampai kapan.


Jawaban ini menggantung hati Aish- yang buru-buru menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Aneh, hatinya merasa tidak nyaman dan juga marah. Dia merasa sangat keberatan melihat Aira berperilaku sebegitu pemalu nya di depan habib Khalid.


"Jika dipikir-pikir lagi, semua gadis yang mendekati Kak Khalid menggunakan jilbab panjang dan ditambah lagi sekarang Aira dengan cadarnya. Aku... sedangkan aku tidak menyukai jilbab, jadi sejak awal..." Dia enggan melanjutkan ucapannya.


__ADS_2