Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 2.4


__ADS_3

Setelah menyusun rencana, Asri dan gadis yang lain lalu pergi untuk menjalankan misi. Meninggalkan Aish dan Dira di pinggir taman bersiap untuk bolos.


"Kasian, temen-temen lo ternyata cuma manfaatin uang lo doang." Cibir Aish tepat menusuk langsung ke hati Dira.


Dira tersenyum dingin,"Mau bagaimana lagi, jadi orang kaya itu gak seenak yang orang-orang pikirkan."


Karena uang, dia kesulitan mendapatkan teman yang setia dan karena uang pula dia seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang disekelilingnya.


Dira tidak tahan tapi mau bagaimana lagi, dia tidak sekuat Aish yang tahan tanpa teman.


Aish mencibir, memalingkan wajahnya tidak ingin berbicara lagi dengan Dira. Mereka berdua pada awalnya bukan teman jadi situasi mereka berdua saat ini sangat tertahankan.


“Pak..pak..Pak Ratib!” Itu suara Asri.


Misi mulai berjalan.


Aish dan Dira segera menegakkan punggung mereka, mengintip dari celah pepohonan bagaimana Asri menjalankan aksinya. Di depan gerbang Asri datang dengan wajah ngos-ngosan seperti habis berlari marathon. Ekspresinya yang panik sangat mendukung sandiwaranya.


“Wow, bakat yang hebat.” Kata Aish dengan nada mencela.


Dira mendengarnya tapi tidak mengatakan apa-apa untuk berkomentar. Lagipula apa yang dikatakan Aish benar adanya.


“Kamu kenapa?” Pak Ratib bergegas mendekati Asri yang tampak sangat panik.


Sambil menunjuk-nunjuk ke lorong sekolah yang baru saja dia lewati.

__ADS_1


“Teman saya Pak, teman saya lagi kesurupan!”


“Seriusan?” Pak Ratib tidak langsung percaya.


“Ih, seriusan atuh Pak. Dia ngamuk-ngamuk lho Pak di sana.” Asri berusaha meyakinkan.


Melihatnya sangat serius, Pak Ratib akhirnya percaya,“Dimana, bawa saya ke teman kamu.”


“Ikut saya, Pak.” Asri menarik tangan Pak Ratib untuk mengikutinya.


Gerbang kosong tanpa penjagaan. Melihat ke kiri dan kanan, tidak ada siapapun yang berpotensi menggagalkan rencana. Lantas, Aish dan Dira secara kompak langsung keluar dari persembunyian mereka begitu memastikan semuanya aman. Mereka berlari kecil sambil mengendap-ngendap keluar dari pintu gerbang sekolah


“Okay, selamat!” Desah Aish lega.


“Siapa kamu?” Teriakan penuh intimidasi dari lorong sekolah mengalihkan perhatian Aish dan Dira.


Kedua kuping mereka secara alami menjadi tegak karena rasa ingin tahu.


“Aing maung…aing maung..aing maung..” Suara serak Lina bergema di lorong sekolah.


Aish,”…”


Dira,”…” Dia sangat berbakat!


Lina masih melancarkan aksinya di tengah-tengah kerumunan banyak siswa dan guru. Perhatian semua orang saat ini tertuju pada kesurupan fantastik Lina yang tidak biasa dan tidak ada yang memperhatikan bila sekolah ini telah kehilangan dua siswa.

__ADS_1


Mengeong-ngeong seperti kucing terjepit tapi mengakui diri sebagai harimau. Aish dan Dira sontak geleng-geleng kepala saja melihat kebobrokan Lina.


...🌪️🌪️🌪️...


Aish dan Dira segera berpisah untuk menemukan tujuan masing-masing tanpa mengucapkan sepatah katapun sebagai salam basa-basi. Interaksi mereka kembali menjadi seperti semula, dingin dan tidak ramah.


Setelah bolos sekolah, Aish langsung pergi ke toko pakaian terdekat untuk membeli pakaian. Dia tidak bodoh menggunakan seragam sekolah di jam-jam ini karena siapapun pasti akan menebak jika dia sedang bolos sekolah.


Dia berganti pakaian dan langsung pergi ke studio Lotus di persimpangan jalan pusat di tengah kota. Kebetulan Aish bekerja di studio ini, bukan pekerja tetap karena dia masih pelajar tapi gajinya cukup tinggi untuk menghidupi dirinya sendiri.


Memiliki paras cantik yang menawan dan bentuk tubuh yang indah, kulit sintal nan lembut putih susu, mata yang indah bagaikan buah aprikot dewasa yang telah matang dan bibir ranum yang memiliki warna merah alami, dia, Aisha Rumaisha adalah perwujudan dari rasa cemburu dan iri dari para gadis.


Penampilannya terlalu menawan mengikuti namanya yang dirangkai dengan hati-hati.


Karena kelebihannya ini studio Lotus tanpa ragu menawarkan pekerjaan kepadanya sebagai model majalah remaja mereka, jadwalnya tidak sibuk tapi setiap kali Aish mengambil potret dia dapat memenuhi kantongnya kembali.


"Ini yang terakhir, aku harus fokus belajar karena sudah kelas 12 tahun." Dia murni sedang berbohong.


Dia ingin berhenti bekerja sebentar karena untuk saat ini dia sama sekali tidak kekurangan uang.


"Wah, Aish sekarang udah tahu namanya belajar yah?" Salah satu staf meledek.


Aish melambaikan tangannya sambil tertawa. Berbincang sebentar dengan staf sebelum keluar dari studio.


Hampir 3 jam dia berkubang dengan cahaya kamera di dalam. Walaupun bukan pekerjaan berat tapi dia masih merasa lelah melakukan berbagai macam pose. Dia butuh makan untuk mengisi tenaganya kembali.

__ADS_1


__ADS_2