Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 9.9


__ADS_3

"Ayah... Ayah..." Tangis menyedihkan Bunda menarik Ayah dari


"Aduh Ayah, sakit! Tangan Aish sakit, Ayah-"


Brak


Ketika sampai di ruang tengah Ayah langsung mendorong Aish dengan kasar ke sofa tanpa memperdulikan suara pekikan nya.


Aish tertangkap tidak siap. Dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat dilempar kasar ke arah sofa. Meskipun dia jatuh ke arah sofa, tapi lutut dan keningnya tidak bisa menghindar dari kayu keras sofa. Rasanya sangat menyakitkan ketika berbenturan langsung dengan kayu kuat itu. Aish merasakan ngilu parah di bagian lutut dan keningnya yang telah menjadi korban.


Sakit,


Aish menyentuh keningnya sambil mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Hiss, keningku sakit." Ringis Aish sambil memegang keningnya.


Dia marah dan sangat tidak puas dengan sikap Ayah. Jadi dia mengabaikan rasa sakit di lutut maupun keningnya dan bangun untuk bertanya langsung kepada Ayah apa maksudnya melakukan ini.


"Ayah apa-apaan sih-"


Plak


Belum selesai dia bertanya Ayah sekali lagi bertindak kasar kepadanya. Pipi kanannya ditampar tanpa ampun oleh Ayah. Mungkin karena terlalu marah Ayah tidak bisa menahan kekuatannya saat menampar Aish. Karena setelah menamparnya, Aish dengan linglung jatuh ke lantai.


Aish tidak menyangka bila akan ada hari dimana dia mendapatkan tamparan sekeras ini di dalam hidupnya. Dan bodohnya lagi orang yang menamparnya beberapa saat yang lalu tiada lain dan tiada bukan adalah Ayahnya sendiri. Tangan itu adalah milik Ayah.


Ayah, laki-laki kuat nan kokoh yang harusnya menjadi benteng untuk melindunginya. Laki-laki kuat nan kokoh yang harus menjadi tempat terkuat untuknya bersandar dan mengadu lelah dikala sedang sedih. Laki-laki kuat nan kokoh ini harusnya menjadi pahlawan di dalam hidupnya, cintai pertama di dalam hidupnya, tapi...

__ADS_1


Sayangnya Aish tidak mendapatkan semua itu. Dia tidak mendapatkannya. Dan puncaknya malam ini Ayah malah menghadiahinya sebuah tamparan yang tidak main-main kerasnya.


Ah hatinya sakit, kali ini rasanya benar-benar menyakitkan dan rasa sakitnya sungguh tidak tertahan.


"Bangun!" Bentak Ayah tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Dengan kaku Aish bangun dari lantai. Kedua matanya menatap sendu wajah dingin Ayah. Sempat melambung sebuah harapan bila ada penyesalan di kedalaman mata Ayah. Sedikit saja tidak apa-apa, Aish tetap akan bersyukur melihatnya.


Tapi nihil. Ayah hanya menatapnya dengan dingin tanpa rasa belas kasihan sedikitpun.


Oh malangnya. Air mata Aish akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis dalam diam. Meratapi semua angan-angannya akan keluarga ini.


Lihatlah orang-orang ini. Mereka menatapnya dengan penuh kebencian. Ada berbagai macam suara-suara menghakiman dari bibir mereka yang sangat menyayat hati Aish.

__ADS_1


Oh, ternyata semua ini karena...


"Kamu tidak bisa mengelak lagi karena Ayah sudah punya buktinya. Ayah dan yang lain sudah melihat rekaman cctv di pesta jika orang yang memberikan obat terlarang itu di minuman Aira adalah kamu sendiri. Aisha Rumaisha, kamu adalah orang yang memberikan obat terlarang kepada Aira! Katakan! Kenapa kamu begitu tega mencelakai Aira dan mempermalukannya di depan orang banyak! Bukankah dia adalah adikmu sendiri?! Bukankah kalian berdua bersaudara?! Jadi kenapa kamu masih begitu tega melakukan kejahatan ini kepadanya?!" Hardik Ayah tajam.


__ADS_2