
"Sialan!" Ringis nya kesakitan sambil memegang lengan yang dipikul laki-laki itu.
"Gadis ini adalah keluargaku jadi dia harus pulang bersamaku. Bila kamu bersikeras ingin mengambilnya, maka tidak ada salahnya menggunakan kekerasan untuk melawan tindak kejahatan." Laki-laki itu berkata dengan suara rendah.
Marah atau tidak marah, laki-laki bertatto itu tidak bisa membedakannya karena laki-laki di depannya ini hanya menatapnya datar tanpa ada emosi di wajahnya.
Sekali lihat saja laki-laki bertatto itu tahu jika laki-laki ini tidak pernah datang ke sini melihat dari cara berpakaiannya yang sopan dengan kain baju muslim menyelimuti. Dan laki-laki bertatto ini juga menyadari jika laki-laki ini tidak mudah diprovokasi melihat dari serangan cepatnya tadi. Tapi, dibandingkan dengan Aish yang memiliki wajah cantik nan menawan, laki-laki bertatto itu tidak rela melepaskannya begitu saja.
"Jangan sok belagu di sini. Kamu gak tahu jika kawasan ini adalah kawasan yang tidak mudah diprovokasi oleh polisi. Kalau kamu membuat masalah di sini maka jangan salahkan aku memanggil kawanan yang lain untuk mengajarimu bersikap 'patuh'. Tapi kamu masih belum terlambat. Berikan gadis itu maka kamu bisa pulang dengan selamat." Ancam laki-laki bertatto itu tidak main-main.
Lingkungan di sini bebas, banyak gangster tinggal di tempat-tempat yang tidak terjamah tangan polisi. Mereka berkuasa di sini dan dapat berbuat semau-mau mereka karena tempat ini adalah wilayah mereka yang tidak bisa diganggu gugat.
__ADS_1
"Aku sudah bilang, gadis ini adalah keluargaku. Aku tidak akan pernah melepaskannya apapun yang terjadi. Dan jika kamu masih bersikeras ingin mengambilnya, maka aku tidak masalah bertukar sapa dengan kawanan mu. Siapa tahu dengan pertemuan ini, Allah memberikan mereka hidayah." Laki-laki itu masih menjawab dengan suara rendah tanpa rasa gentar sedikitpun.
Seolah-olah lawannya bukanlah apa-apa.
Laki-laki bertatto itu mulai ragu dengan identitas laki-laki tinggi nan tampan ini. Dia ingin mengatakan beberapa kata provokasi lagi untuk menakut-nakutinya, akan tapi suara seorang laki-laki paruh baya lebih dulu menginterupsinya.
"Habib Thalib, habib Thalib, apa habib membutuhkan bantuan saya?" Laki-laki paruh baya itu tidak tahu apa yang dibicarakan habib Khalid di luar sana dan dia juga khawatir karena habib Thalib adalah tamu yang sangat penting.
"Habib Thalib?" Laki-laki itu menatap ngeri laki-laki tinggi nan tampan di depannya.
"Maaf, apa kamu mengenaliku?" Kata habib Khalid sopan.
__ADS_1
Laki-laki bertatto itu menggelengkan kepalanya panik. Dia tidak lupa dengan apa yang dikatakan pemimpin gangster di tempat ini untuk menghindari seorang laki-laki yang bernama habib 'Thalib'. Sebab habib Khalid suatu hari pernah bertikai dengan pemimpin gangster wilayah untuk suatu urusan yang berakhir dengan perkelahian. Jelas saja habib Khalid menang telak dalam pertarungan tersebut dan menyebabkan pemimpin gangster tersebut harus dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis.
"Tidak...tidak, anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya!" Teriak laki-laki bertatto itu sebelum melarikan diri.
Laki-laki bertatto itu pergi ketakutan. Kini hanya ada habib Khalid, Paman Amat, dan Aish yang tertidur di dalam pelukan habib Khalid. Entah sejak kapan Aish tertidur di dalam pelukan habib Khalid, namun yang pasti tidurnya terlihat sangat damai dan lelap.
"Habib Thalib, lalu apa yang harus kita lakukan kepada gadis ini?" Tanya Paman Amat ragu.
Dia agak ngeri melihat gadis pemabuk ini menempeli habib Khalid.
Habib Khalid tersenyum.
__ADS_1
"Dia adalah Aisha Rumaisha, gadis yang tinggal di komplek yang sama dengan kalian. Kita harus membawanya pulang ke rumahnya. Namun sebelum itu, minta istri dan putri-putri Paman keluar dari mobil untuk membawa Aish masuk ke dalam mobil."