Wanita Surga Bidadari Dunia

Wanita Surga Bidadari Dunia
Bab 5.7


__ADS_3

Bibi dan Bunda sekarang benar-benar yakin jika orang yang merusak barang-barang Aira di dalam kamar adalah Aish. Orang yang memiliki perbuatan ini adalah Aish dan mereka benar-benar diyakinkan setelah melihat tumpukan cadar yang dirusak dengan gunting.


"Bun... semua cadar ku..." Aira tertegun melihat cadarnya yang rusak, mulutnya seolah tercekat tidak mampu menggambarkan betapa marahnya dia saat ini!


"Ayo ke bawah dan minta keadilan. Bibi ingin lihat, seberapa berat hukuman yang akan dia terima dari Ayah mu." Kata bibi dalam suasana hati yang baik.


Dia tidak sabar ingin melihat wajah angkuh Aish dipermalukan oleh semua orang.


...🌪️🌪️🌪️...


Sekarang, di sinilah Aish. Duduk di sofa single dengan semua pasang mata mengawasi. Aish takut, bohong jika dia mengatakan tidak takut. Hanya saja hari ini dia sangat puas karena akhirnya bisa melampiaskan amarahnya kepada Aira. Sebut saja semuanya setimpal.


"Tidak hanya menggunting buku-buku Aira tapi dia juga merusak semua cadar Aira. Kak, Aish sudah keterlaluan! Dia sama sekali tidak menganggap serius kita semua yang ada di sini. Apa dia pikir kita akan diam saja melihatnya berbuat salah?"


Aish mengangkat tangannya menutupi mulutnya yang menguap. Ah, mendengarkan orasi orang-orang ini bagaikan lagi Nina Bobo- yang amat sangat buruk di dalam hidupnya.


Aish tidak pernah mendengar lagu Nina Bobo seburuk ini sebelumnya.

__ADS_1


"Kakak harus berpikir jernih dan jangan memihak Aish!"


Memihak nya?


Cih, sejak kapan Ayah begitu baik kepadanya? Apalagi menyangkut Aira, jelaslah Ayah tidak akan ragu berdiri di sisi Aira daripada di sisinya, sekalipun dia berada di posisi yang benar.


"Benar, Kak. Jika bukan dia siapa lagi yang akan merusak barang-barang Aira? Soalnya dia selama ini tidak pernah turun ke bawah ataupun dan selalu berada di atas!"


Satu persatu keluarga Ayah memberikan orasi, berbicara seolah-olah mereka melihat sendiri apa yang Aish lakukan di kamar Aira. Hah, sedangkan Aira, sang objek yang coba mereka lindungi dan perjuangkan keadilannya hanya diam di sisi Bunda sambil menundukkan kepalanya menangis.


Dia tidak perlu susah-susah menyuarakan keberatan karena semua orang di rumah ini pasti berdiri di pihaknya. Bukankah ini sangat nyaman?


Ruang keluarga langsung menjadi senyap. Mereka menekan kata-kata mereka ke dalam tenggorokan sebelum Ayah kehilangan kendali.


Setelah tidak ada yang berbicara lagi, Ayah mengalihkan pandangannya kepada Aish.


"Nak, katakan kepada Ayah, apakah benar kamu yang telah merusak barang-barang adikmu?" Tanya Ayah dengan suara yang sangat sabar.

__ADS_1


Aish agak tidak terbiasa dengan perhatian Ayah. Dia pikir Ayah akan langsung menuduhnya seperti yang lain tapi ternyata dugaannya salah.


Aish, untuk beberapa alasan tiba-tiba merasa tidak nyaman kepada Ayahnya. Dia mengalihkan pandangannya tidak berani menatap mata Ayah.


"Tidak Ayah, aku tidak pernah melakukannya. Aku tidak pernah masuk ke dalam kamar Aira apalagi sampai merusak barang-barangnya." Aish berubah pikiran secepat kilat.


Awalnya dia berencana akan mengakui perbuatannya, tapi semuanya segera berubah saat melihat tatapan teguh Ayah kepadanya.


"Bohong! Kamu pasti yang melakukannya! Di rumah ini, satu-satunya orang yang tidak menyukai Aira adalah kamu jadi pelakunya pasti kamu-"


"Diam!" Potong Ayah sekali lagi.


Bibi segera menutup mulutnya muram. Jelas tidak mempercayai satupun kata Aish.


"Ayah bertanya sekali lagi, Nak. Apakah benar bukan kamu yang merusak barang-barang adikmu?"


Aish masih mengatakan kebohongan yang sama.

__ADS_1


"Bukan aku yang melakukannya, Ayah. Aku bahkan tidak tahu barang apa yang rusak di kamar Aira."


__ADS_2